Tabel Berat Badan Ideal Bayi 0–12 Bulan Menurut WHO

Berat badan ideal bayi berada di titik terdekat dengan garis hijau menurut kurva pertumbuhan WHO. Cukupi gizi dan hindari infeksi agar berat badannya selalu naik.

Profile dr. Attila Dewanti, SpA (K)
Berat badan ideal bayi-bebeclub


Berat badan ideal bayi bisa menandakan tumbuh kembang optimal. Berat badan bayi jadi salah satu indikator yang menggambarkan kondisi kesehatan, nutrisi, dan perkembangan otak.

Apa yang Dimaksud Berat Badan Ideal?

Berat badan ideal bayi adalah berat yang paling dekat dengan garis hijau 0 pada kurva pertumbuhan WHO. Kurva ini juga dipakai pada Kartu Menuju Sehat (KMS) dengan standar internasional bernama Z-score.

Garis pada KMS ada 3 jenis, yaitu merah, kuning, dan hijau. Merah berarti bahaya, kuning berarti waspada, dan hijau berarti berat badan ideal.

Z-score menunjukkan seberapa jauh berat badan bayi dari rata-rata ideal (garis hijau 0) sesuai usia dan jenis kelamin. 

Dua bayi dengan angka timbangan sama belum tentu sama-sama ideal karena ada faktor usia dan jenis kelamin.

Tabel Berat Badan Ideal Bayi 0–12 Bulan

Berdasarkan kurva WHO, berikut berat badan ideal bayi yang dibedakan berdasarkan usia dan jenis kelaminnya.

Bayi Laki-Laki

Usia

Berat Badan Ideal (kg)

Baru lahir

2,5–3,9 kg

1 bulan

3,4–5,1 kg

2 bulan

4,3–6,3 kg

3 bulan

5,0–7,2 kg

4 bulan

5,6–7,8 kg

5 bulan

6,0–8,4 kg

6 bulan

6,4–8,8 kg

7 bulan

6,7–9,2 kg

8 bulan

6,9–9,6 kg

9 bulan

7,1–9,9 kg

10 bulan

7,4–10,2 kg

11 bulan

7,6–10,5 kg

12 bulan

7,7–10,8 kg

 

Bayi Perempuan

Usia

Berat Badan Ideal (kg)

Baru lahir

2,4–3,7 kg

1 bulan

3,2–4,8 kg

2 bulan

3,9–5,8 kg

3 bulan

4,5–6,6 kg

4 bulan

5,0–7,3 kg

5 bulan

5,4–7,8 kg

6 bulan

5,7–8,2 kg

7 bulan

6,0–8,6 kg

8 bulan

6,3–9,0 kg

9 bulan

6,5–9,3 kg

10 bulan

6,7–9,6 kg

11 bulan

6,9–9,9 kg

12 bulan

7,0–10,1 kg

Jika Ibu mau tahu apakah pertumbuhan si Kecil sudah sesuai dengan standar WHO, Ibu bisa pantau panjang dan berat badan si Kecil tiap bulan langsung di BebeJourney! Ada AI Poop Tracker juga untuk bantu Ibu monitor kesehatan pencernaan si Kecil serta panduan tumbuh kembang eksklusif yang dirancang sesuai kebutuhan!

Berapa Kenaikan Berat Badan Bayi Tiap Bulan?

Kenaikan berat badan bayi setiap bulan bisa berbeda-beda, tergantung usia, asupan gizi, kualitas tidur, hingga kondisi kesehatannya.

Secara umum, berikut kenaikan berat badan ideal bayi sesuai usianya.

  • Usia 0–6 bulan: 560–800 gram per bulan
  • Usia 6–12 bulan: 340–560 gram per bulan.

Baca Juga: Tahap Perkembangan Bayi 0-12 Bulan yang Harus Ibu Perhatikan

Mengapa Berat Badan Ideal Penting untuk Bayi?

Berat badan ideal bayi menggambarkan tumbuh kembang dan kesehatan si Kecil secara menyeluruh. Dalam hal ini, berat badan ideal menunjukkan:

  • Status gizi yang baik.
  • Perkembangan otak yang optimal.
  • Daya tahan tubuh yang kuat.
  • Pertumbuhan panjang badan dan lingkar kepala yang sesuai.

Ketika berat badan di bawah atau di atas batas normal, bayi berisiko lebih sering sakit, gangguan kognitif, hingga stunting. Itulah mengapa pemantauan setiap bulan menjadi sangat penting.

Penyebab Berat Badan Bayi Sulit Naik

Berat badan ideal bayi akan sulit tercapai bila ia mengalami kondisi berikut:

1. Frekuensi Menyusu Kurang

ASI merupakan asupan utama pada bayi sejak baru lahir hingga usia 6 bulan. Bila jumlah menyusu kurang dari 8–12 kali sehari, asupan nutrisinya berkurang.

Akibatnya, si Kecil kesulitan mencapai kebutuhan gizi harian dan membuat berat badannya sulit naik. 

Frekuensi menyusu berkurang disebabkan oleh produksi susu turun, ASI sulit keluar, hingga Ibu terpisah dengan bayi.

2. Perlekatan Menyusu Kurang Tepat

Kesulitan meraih berat badan ideal bayi juga terjadi karena kesulitan melekat pada payudara. si Kecil sulit mengisap ASI dengan benar dan menyebabkan puting lecet.

Ibu pun enggan menyusui, produksi ASI berkurang, dan bayi pun malas menyusu. Akibatnya, bayi kekurangan asupan gizi. 

3. GTM (Gerakan Tutup Mulut)

Berat badan ideal bayi 6 bulan ke atas sulit diraih bila si Kecil terus menolak MPASI. Kondisi ini bisa terjadi akibat kondisi fisik, seperti tumbuh gigi, sariawan, atau bayi sedang sakit.

GTM pun bisa disebabkan masalah psikologis, seperti terlalu banyak distraksi saat makan, lingkungan saat makan tidak menyenangkan akibat terlalu dipaksa, dan bosan dengan MPASI.

4. MPASI Rendah Energi

MPASI tidak berkualitas juga meningkatkan risiko berat badan bayi turun atau berlebih. MPASI ini rendah protein hewani, lemak sehat, dan karbohidrat yang cukup.

Jadi, kalorinya terlalu rendah dan sulit meningkatkan berat badan bayi.

Beberapa MPASI juga tinggi karbohidrat, gula, serta lemak jenuh dan trans. Akibatnya, kalori MPASI terlalu tinggi untuk usianya, tetapi rendah vitamin dan mineral sehingga berat badannya berlebih.

5. Refluks Bayi (Gumoh Berlebihan)

Gumoh adalah kondisi yang membuat ASI atau MPASI mengalir kembali ke kerongkongan bayi. Hal ini membuat asupannya keluar dari saluran cerna dan tidak tertelan dengan sempurna.

Gumoh tentu menyebabkan asupan nutrisi tidak maksimal dan membuat berat badan bayi turun.

Gumoh muncul akibat ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil dan katup lambung yang belum kuat atau masalah pencernaan, seperti GERD.

6. Tongue Tie

Tongue tie adalah gerak lidah yang tidak fleksibel akibat adanya jaringan yang terikat di bawah lidah. Kondisi ini membuat si Kecil kesulitan melakukan perlekatan.

Efeknya, jumlah ASI yang dikonsumsi berkurang dan rentan menyebabkan berat badan ideal bayi sulit dicapai.

7. Infeksi Berulang

Berat badan bayi sulit naik bila ia terkena infeksi berulang-ulang, seperti diare, ISPA (batuk pilek), cacingan, hingga malaria.

Saat infeksi, si Kecil akan sakit dan nafsu makannya menurun. Tak hanya itu, metabolismenya akan meningkat sehingga butuh asupan gizi lebih banyak daripada biasanya.

Diare dan cacingan pun mengurangi asupan gizi yang sudah dikonsumsi sebelumnya. Kombinasi efek infeksi ini membuat berat badan si Kecil turun.

8. Alergi atau Intoleransi Makanan

Intoleransi terjadi karena tubuh kesulitan mencerna kandungan tertentu. Akibatnya, asupan gizi sulit diserap dan timbul diare atau muntah.

Sementara itu, alergi membuat si Kecil harus menghindari makanan yang mungkin bergizi tinggi, seperti protein pada susu. 

Gejala alergi juga menyebabkan diare yang bisa mengganggu penyerapan gizi. Akibatnya, berat badan ideal bayi susah dicapai.

Cara Efektif Menaikkan Berat Badan Bayi

Ada beberapa cara agar berat yang rendah bisa menuju berat badan ideal bayi, bagaimana?

1. Menyusui Lebih Sering dan Lebih Lama

Agar berat badan bayi ideal sesuai grafik pertumbuhan WHO, cara paling efektif dan harus diutamakan adalah meningkatkan frekuensi serta durasi menyusui.

Usahakan susui bayi setiap 2-3 jam dengan durasi 20 menit pada setiap sisi.

Jika si Kecil terlihat mengantuk atau berhenti menyusu sebelum 20 menit, coba ganti posisi atau menggelitik kakinya dengan lembut agar bayi mau bangun untuk menyusu kembali.

2. Perbaiki Perlekatan

Berat badan bayi ideal bisa diraih dari cara menyusui yang benar, bagaimana?

  • Dekatkan puting Ibu ke mulut bayi agar bibirnya terbuka.
  • Segera letakkan kepala bayi ke payudara Ibu, pastikan puting dan areola masuk ke mulutnya.
  • Pastikan dagu bayi menempel payudara Ibu.
  • Biarkan mulut bayi terbuka lebar.
  • Pastikan sebagian areola Ibu (terutama di bagian bawah) masuk ke mulut bayi.
  • Pastikan bibir bayi terlipat keluar.
  • Pipi bayi jangan sampai tampak kempot dan muncul bunyi decak.
  • Pastikan Ibu tidak kesakitan dan bayi tenang.

3. Pijat Bayi Secara Rutin

Menurut Journal of Public Health Research, pijat bayi dapat merangsang peredaran darah, meningkatkan metabolisme tubuh, dan memperbaiki fungsi peristaltik usus si Kecil. 

Dengan begitu, pengosongan lambung si Kecil menjadi lebih cepat, mendorong timbulnya rasa lapar, dan meningkatkan nafsu makan agar kebutuhan ASI bayi terpenuhi.

Jika Ibu ingin memijat si Kecil, pastikan melakukannya dengan lembut tanpa tekanan yang terlalu kuat. Jangan lupa melakukan kontak mata untuk menciptakan bonding dan rasa nyaman. 

4. Hindari Empeng

Memberikan empeng sebagai pengganti menyusui dapat membuat bayi menolak menyusu langsung dari payudara.

Pasalnya, menyedot empeng dalam waktu panjang bisa membuat si Kecil lelah, kembung, dan bingung puting. Jadi, ia merasa tidak nyaman dan menolak menyusu.

Bila berlangsung dalam waktu panjang, pertambahan berat badannya tidak akan optimal. Si Kecil jadi kesulitan mencapai angka ideal pada tabel berat badan bayi menurut WHO. 

5. MPASI Tinggi Kalori

Jika si Kecil sudah mengonsumsi MPASI, Ibu bisa menyiapkan menu MPASI tinggi kalori untuk mempercepat kenaikan berat badannya.

Beberapa rekomendasi bahan tinggi kalori yang dapat Ibu manfaatkan untuk menu MPASI si Kecil di antaranya adalah telur, keju, full-fat yogurt, daging merah, dan kentang.

Ibu juga bisa menambahkan minyak kelapa, minyak jagung, atau santan sebanyak ½-1 sendok teh ke dalam MPASI yang hendak dimakan si Kecil.

Baca Juga: Apa Boleh Memberikan Makanan pada Bayi 0-3 Bulan?

6. Naik Tekstur Tepat Waktu

Selain memengaruhi perkembangan oromotor si Kecil, kenaikan tekstur juga memengaruhi jumlah nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya. 

Sebab, semakin cair MPASI semakin sedikit kandungan kalori dan zat gizi lainnya. Oleh karena itu, si Kecil perlu dinaikkan level teksturnya secara bertahap sesuai kelompok usianya. 

Awali dengan puree saring, kemudian puree kasar, finger foods, makanan lunak dengan lauk cincang, dan akhirnya perkenalkan pada makanan keluarga.

7. Terapkan Feeding Rules

Tidak sedikit bayi MPASI yang melakukan gerakan tutup mulut (GTM). Hal ini kerap membuat Ibu khawatir karena dapat membuat BB tidak sesuai tabel berat badan bayi menurut WHO. 

Untuk menghindari hal tersebut, coba terapkan feeding rules. Caranya, buat jadwal makan yang konsisten dan membatasi waktu makan maksimal 30 menit. 

Pastikan tidak hanya fokus menyuapkan makanan, selalu lakukan responsive feeding supaya si Kecil lebih termotivasi untuk makan.

8. Minimalkan Distraksi

Perhatian bayi masih sangat mudah teralihkan oleh hal-hal yang dianggapnya menarik.

Misalnya di depan si Kecil ada kipas angin yang bergerak memutar dan menimbulkan suara. Bisa jadi, ia lebih memilih memperhatikan kipas tersebut dan menolak menyusu atau tidak mau makan. 

Maka, ciptakan lingkungan makan yang positif dengan menyingkirkan benda yang berpotensi mendistraksi si Kecil seperti TV menyala, smartphone, dan mainan. 

Baca Juga: Apa itu Weight Faltering, Penyebab, Ciri, Solusi, & Pencegahan

9. Observasi Indikasi Medis

Bila berat badan si Kecil susah naik mengikuti tabel berat badan bayi menurut WHO, bisa jadi si Kecil memiliki masalah medis. Misalnya tongue tie, gangguan pencernaan, atau alergi makanan tertentu. 

Untuk memastikannya, segera menghubungi dokter spesialis anak dan berkonsultasi lebih lanjut. 

Kapan Harus Dibawa ke Dokter?

Bawa si Kecil ke dokter jika:

  • Berat badan tidak naik 2 bulan berturut-turut.
  • Berat badan tidak naik setiap bulannya.
  • Berat badan berada di atas garis kuning atau di bawah garis merah.
  • Tidak mau menyusu/makan sama sekali.
  • Gumoh berlebihan hingga mengganggu asupan.
  • Tanda dehidrasi, seperti lelah, pipis dengan air sedikit dan berbau menyengat, tampak lemas.
  • Diare atau infeksi berulang.
  • Tampak lemah, mudah lelah.
  • Tidak bertambah panjang badan.

Jika Ibu butuh saran atau punya pertanyaan seputar kesehatan, tumbuh kembang, dan nutrisi anak, yuk langsung hubungi BebeCare.

Tim careline kami terdiri dari para ahli berlatar belakang keperawatan dan pendidikan gizi yang siap menjadi teman berbagi dan sumber informasi terpercaya untuk Ibu, 24 jam gratis tanpa perlu buat janji!

Informasi yang Wajib Ibu Ketahui

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Ibu

  1. Editorial Staff. (n.d.). Weight-for-age GIRLS. World Health Organization. https://cdn.who.int/media/docs/default-source/child-growth/child-growth-standards/indicators/weight-for-age/cht-wfa-girls-z-0-2.pdf?sfvrsn=d6ab1ab8_14
  2. Editorial Staff. (n.d.). Weight-for-age BOYS. World Health Organization. https://cdn.who.int/media/docs/default-source/child-growth/child-growth-standards/indicators/weight-for-age/cht-wfa-boys-z-0-2.pdf?sfvrsn=e5bfbbee_12
  3. Tim Penulis. (2021). Petunjuk Teknis Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita Repository. Kementerian Kesehatan. https://repository.kemkes.go.id/book/96
  4. Editorial Staff. (2015, November 19). Stunting in a nutshell. World Health Organization. https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell
  5. Patel JK, Rouster AS. Infant Nutrition Requirements and Options. [Updated 2023 Aug 8]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560758/
  6. Smith AE, Shah M, Badireddy M. Failure to Thrive. [Updated 2023 Nov 12]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459287/
  7. Tim Penulis. (2019). ASI Sebagai Pencegah Malnutrisi pada Bayi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/asi-sebagai-pencegah-malnutrisi-pada-bayi
  8. Suradi, Rulina. (2019). Posisi dan Perlekatan Menyusui dan Menyusu yang Benar. Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/posisi-dan-perlekatan-menyusui-dan-menyusu-yang-benar
  9. Tim Penulis. (2025, March 21). Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Anak. Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada. https://rsa.ugm.ac.id/gerakan-tutup-mulut-gtm-pada-anak/
  10. Ninditya, Lina, Fadhila, Siti Rayhani. (2016). Memberi Makan pada Bayi: Kapan, Apa, dan Bagaimana? Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memberi-makan-pada-bayi-kapan-apa-dan-bagaimana
  11. Hegar, Badriul. Gumoh pada Bayi. (2019). Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/gumoh-pada-bayi
  12. Yolanda, Natharina. (2016). Bedanya “Gumoh” dan Muntah pada Bayi. Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/bedanya-%E2%80%98gumoh%E2%80%99-dan-muntah-pada-bayi
  13. Editorial Staff. (2025). Tongue-tie (ankyloglossia) - Symptoms and causes. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tongue-tie/symptoms-causes/syc-20378452
  14. Jones, K. D., Thitiri, J., Ngari, M., & Berkley, J. A. (2014). Childhood malnutrition: Toward an understanding of infections, inflammation, and antimicrobials. Food and Nutrition Bulletin, 35(2 0), S64. https://doi.org/10.1177/15648265140352S110
  15. Harbeson, D., Francis, F., Bao, W., Amenyogbe, N. A., & Kollmann, T. R. (2018). Energy Demands of Early Life Drive a Disease Tolerant Phenotype and Dictate Outcome in Neonatal Bacterial Sepsis. Frontiers in immunology, 9, 1918. https://doi.org/10.3389/fimmu.2018.01918
  16. Smith, A. E., Shah, M., & Madhu Badireddy. (2023, November 12). Failure to Thrive. Nih.gov; StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459287/


Temukan Topik Lainnya

Artikel Terkait