Waspadai Weight Faltering, Penyebab BB Bayi Tidak Naik Sama Sekali

Weight faltering terjadi ketika kenaikan berat badan bayi melambat dan tidak mengikuti kurva pertumbuhan WHO. Kondisi ini sering muncul perlahan sehingga sulit disadari tanpa pemantauan rutin.

Profile Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH
Weight faltering - Bebeclub


Weight faltering adalah kondisi berat badan bayi melambat atau tidak naik sesuai standar usianya, yang menjadi faktor risiko awal stunting. Kondisi ini biasanya terlihat dari pertambahan berat yang selalu di bawah rata-rata atau grafik berat badan yang datar/menurun selama beberapa bulan. Weight faltering dapat terjadi sejak bayi hingga masa kanak-kanak, dan sering terdeteksi saat periode MPASI.

Apa itu Weight Faltering?

Weight faltering adalah kondisi pertambahan berat badan bayi yang melambat atau tidak sesuai standar usia, terlihat dari kenaikan berat yang selalu di bawah rata-rata atau grafik berat badan yang datar/menurun selama selama 3 bulan berturut-turut.

Weight faltering dapat terjadi pada bayi, balita, dan anak-anak yang sudah lebih besar. Akan tetapi kondisi ini biasanya lebih sering terlihat di usia 6 bulan, pada masa MPASI pertama.

Kondisi ini menunjukkan hambatan pada laju pertumbuhan, bukan sekadar anak tampak kurus. Weight faltering juga dikenal sebagai growth faltering. Dulu, kondisi ini disebut dengan failure to thrive (gagal tumbuh).

Apa Bedanya Weight Faltering dan Failure to Thrive?

Failure to thrive (FTT) adalah istilah lama yang cenderung bersifat “menghakimi,” seolah-olah anak “gagal” tumbuh.

Sementara itu, weight faltering adalah istilah yang lebih netral dan deskriptif, menekankan proses pertumbuhan yang melambat, bukan “kegagalan.”

FTT biasanya digunakan ketika anak sudah berada pada kondisi berat badan sangat rendah atau jatuh di bawah persentil tertentu.

Weight faltering lebih ke sinyal atau tanda awal masalah berat badan yang memicu evaluasi lanjutan, sehingga intervensi bisa dilakukan lebih cepat.

Weight Faltering Apakah Sama dengan Stunting?

Weight faltering tidak sama dengan stunting, tetapi keduanya berkaitan. Weight faltering bisa menjadi tanda awal dari stunting.

Weight faltering terjadi ketika kenaikan berat badan bayi melambat atau tidak mengikuti standar usia. Kondisi ini biasanya terlihat lebih awal melalui grafik berat badan.

Sementara itu, stunting terjadi ketika tinggi badan anak jauh di bawah standar akibat kekurangan gizi kronis jangka panjang. 

Jadi, weight faltering muncul lebih dulu dan dianggap sebagai peringatan dini sebelum anak berisiko mengalami stunting. Stunting adalah dampak jangka panjang dari masalah gizi yang tidak tertangani.

Baca Juga: Berat Badan Ideal Bayi 0-12 Bulan Menurut WHO

Kapan Anak Dikatakan Mengalami Weight Faltering?

Anak dikatakan mengalami weight faltering ketika pola kenaikan berat badannya tidak sesuai standar usianya dalam beberapa waktu.

Biasanya terlihat dari berat yang tidak naik sesuai target bulanan atau grafik berat badan yang mulai mendatar bahkan menurun.

Tanda ini biasanya dipastikan saat pemantauan rutin di Posyandu, dokter anak, atau fasilitas kesehatan, di mana berat badan anak dibandingkan dengan kurva pertumbuhan.

Jika tren pertambahannya terus berada di bawah rata-rata selama beberapa kali penimbangan, barulah anak dinilai mengalami weight faltering.

Ciri-Ciri Weight Faltering pada Bayi

Ciri utama weight faltering adalah kenaikan berat badan bayi yang sangat lambat atau tidak bertambah selama beberapa bulan. Pada sebagian kasus, kondisi ini ditandai dengan penurunan berat badan yang cukup signifikan.

Beberapa ciri berikut perlu Ibu perhatikan agar evaluasi dapat dilakukan sejak dini.

1. Berat badan Stagnan atau Naik Sangat Lambat

Anak tidak mengalami kenaikan berat badan selama 2–3 bulan, bahkan ketika nafsu makan terlihat normal.

Kondisi stagnasi ini merupakan tanda awal bahwa asupan atau penyerapannya tidak mencukupi kebutuhan tubuh.

Ibu bisa monitor berat dan tinggi si Kecil per bulan secara langsung lewat AI Growth Tracker secara gratis.

2. Pertambahan Panjang Badan dan Lingkar Kepala Terhambat

Ketika berat badan berhenti naik, komponen pertumbuhan lain seperti lingkar kepala dan panjang badan biasanya ikut melambat.

Hal ini menunjukkan adanya defisit energi yang memengaruhi pertumbuhan linear dan perkembangan otak.

3. Bayi sering mengantuk saat menyusu

Salah satu tanda weight faltering yang belum banyak diketahui adalah bayi tampak mudah lelah dan berhenti menyusu lebih cepat dari biasanya.

Padahal, durasi menyusu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori hariannya.

4. Rewel dan Menangis Lebih Sering

Anak tampak tidak nyaman atau kurang puas setelah menyusu atau makan. Perut kosong terlalu lama dapat membuat bayi menjadi lebih sensitif dan mudah rewel.

5. Kurang responsif terhadap lingkungan

Anak tampak kurang aktif, jarang tersenyum, dan minim kontak mata. Interaksi sosial yang menurun bisa menjadi tanda berkurangnya energi dan stimulasi.

Jika berat badan tidak bergerak selama 3 bulan, segera konsultasikan ke dokter anak untuk pemeriksaan kurva pertumbuhan dan penyebab medis lain.

Pemantauan teratur penting karena weight faltering sering tidak tampak jelas tanpa pengukuran berkala.

Ciri-ciri ini mungkin akan sulit dilihat dengan mata telanjang. jika Ibu curiga BB si Kecil selalu stagnan atau tidak ada perubahan dalam 3 bulan, sebaiknya segera konsultasi ke dokter. 

Penyebab Weight Faltering

Penyebab kondisi ini berbeda-beda, tergantung usia si Kecil. Berikut beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab masalah berat badan ini pada bayi:

1. Perlekatan yang Kurang Tepat

Bayi di bawah usia 6 bulan bergantung pada ASI untuk memenuhi kebutuhan kalori dan gizinya. Kekurangan ASI berkepanjangan dapat menyebabkan masalah pada kenaikan berat badannya.

Salah satu hal yang membuat bayi kekurangan ASI adalah posisi perlekatan dan cara menyusui yang kurang tepat.

Posisi mulut bayi yang melekat pas pada puting Ibu membantunya mengisap dan menelan ASI.

2. Produksi ASI Ibu Belum Lancar

Selain karena perlekatan yang kurang tepat, bayi yang kurang minum ASI juga bisa disebabkan oleh produksi ASI Ibu yang belum lancar. 

Kurang lancarnya produksi ASI bisa dipengaruhi oleh faktor psikologis Ibu yang masih kurang percaya diri, stres, atau gelisah dalam menyusui. 

Bisa juga disebabkan kondisi fisik Ibu yang kurang fit seperti kurang gizi, merokok, atau menggunakan alat KB hormonal. 

Baca Juga: Penyebab Bayi Tidak Mau Menyusu dan Cara Ampuh Mengatasinya

3. Pemberian MPASI yang Kurang Tepat

Bayi yang sudah berusia 6 bulan memerlukan tambahan nutrisi dari makanan pendamping ASI (MPASI) supaya tumbuh kembangnya optimal. 

Nah, pemberian MPASI dengan kandungan nutrisi, porsi, atau tekstur yang kurang tepat dalam jangka panjang dapat membuat si Kecil mengalami masalah berat badan. 

4. Penyerapan Nutrisi Tidak Optimal

Weight faltering pada bayi bisa juga dipengaruhi oleh ketidakmampuan tubuh si Kecil dalam menyerap nutrisi dari ASI dan MPASI. 

Biasanya hal ini disebabkan oleh kondisi kesehatan tertentu seperti alergi susu, intoleransi makanan, inflammatory bowel disease (penyakit radang usus), atau penyakit Celiac. 

Untuk mengetahui kondisi kesehatan apa yang mungkin dimiliki si Kecil, Ibu perlu berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis anak.

5. Metabolisme Tubuh Meningkat

Ada sejumlah kondisi kesehatan yang dapat membuat metabolisme tubuh si Kecil meningkat sehingga ia memerlukan lebih banyak asupan kalori agar dapat berfungsi.

Kenaikan metabolisme tubuh ini biasanya dipengaruhi oleh kondisi kesehatan yang cukup serius, seperti penyakit jantung bawaan, kelainan paru bawaan, hipertiroidisme, hingga ginjal. 

Baca Juga: Bolehkah Bayi 0-3 Bulan Diberi Makanan Selain ASI untuk Naikkan BB?

Dampak Weight Faltering pada Anak

Kondisi ini harus segera ditangani agar tidak meningkatkan risiko bayi mengalami gagal tumbuh alias stunting. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini juga bisa menyebabkan: 

1. Sistem Imun Bayi Melemah

Asupan nutrisi yang kurang dalam jangka waktu panjang akan menyebabkan malnutrisi. Hal ini ternyata membuat respon imun tubuh si Kecil terganggu.

Dengan demikian, sistem imun tubuh bayi tidak segera bertindak ketika ada virus dan bakteri yang mencoba menginfeksi. Akibatnya, ia menjadi lebih mudah sakit. 

2. Menghambat perkembangan otak

Kekurangan energi berdampak pada pembentukan jaringan otak dan koneksi saraf.

Penelitian dari American Academy of Pediatrics menunjukkan bayi yang mengalami weight faltering berisiko memiliki performa kognitif lebih rendah saat usia sekolah.

Saat dilakukan tes pada usia 8 tahun, hasilnya menunjukkan nilai IQ anak bisa lebih rendah hingga 2,71 poin daripada IQ rata-rata. 

3. Meningkatkan Risiko Stunting

Jika berat badan bayi tidak naik 2 bulan berturut turut, ini dapat menjadi awal gejala stunting, 

Stunting yang tidak ditangani sebelum usia 2 tahun berisiko memengaruhi perkembangan kognitif dan psikomotor, aktivitas fisik, perilaku, kemampuan belajar, hingga gangguan emosional.

Cara Mengatasi Weight Faltering pada Bayi

Pendekatan pertama adalah mencari penyebabnya melalui pemeriksaan klinis dan riwayat makan anak. Berikut langkah yang dianjurkan.

1. Konsultasi dengan Dokter Anak

Jika berat badan bayi tidak naik 2 bulan berturut turut, sebaiknya segera ke dokter untuk cari tahu penyebab dan cara mengatasinya yang tepat sasaran

Dokter akan memeriksa perubahan grafik pertumbuhan, pola makan, dan kemungkinan kondisi medis penyerta. 

Kadang mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan seperti tes darah atau evaluasi saluran cerna.

2. Perbaiki Perlekatan Menyusu

Bayi yang menyusu langsung dapat dibantu dengan konselor laktasi untuk memastikan latch efektif.

Perlekatan yang benar membantu bayi mengisap ASI lebih maksimal sehingga asupan kalori meningkat.

Ibu juga bisa mengunjungi ahli laktasi untuk bantu memperbaiki cara menyusui yang efektif. 

3. Buat Jadwal Makan Teratur 

Untuk bayi yang sudah mulai MPASI, keberadaan jadwal makan yang teratur akan memudahkan pengaturan porsi dan frekuensi makan.

Keteraturan ini membantu memenuhi kebutuhan energi harian anak secara konsisten.

Baca Juga: 10 Cara Menaikkan Berat Badan Bayi yang Efektif

4. Berikan MPASI Bergizi Seimbang

Jika Membuat MPASI berkualitas yang mengandung nutrisi seimbang. 

Gunakan kombinasi karbohidrat, protein hewani, protein nabati, lemak sehat, sayur, dan buah.

Penambahan lemak sehat seperti mentega, alpukat, atau minyak zaitun dapat membantu menaikkan kalori.

5. Tangani Kondisi Medis Penyerta

Jika ditemukan gangguan penyerapan atau alergi, dokter dapat memberikan rencana penanganan khusus. Penanganan tepat dapat memperbaiki pertumbuhan anak dalam waktu yang lebih cepat.

Beberapa bayi mungkin perlu di rawat di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih optimal.

Cara Mencegah Weight Faltering pada Bayi

Ada beberapa hal yang dapat Ibu lakukan sebagai upaya pencegahan masalah berat badan ini, yakni: 

1. Cek Perlekatan yang Tepat

Supaya asupan ASI si Kecil cukup, pastikan Ibu belajar posisi menyusui yang tepat.

Perlekatan yang tepat adalah ketika mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bagian bawah tertekuk keluar, pipi bayi terlihat menggembung, dagu menempel pada payudara Ibu, dan tidak terdengar bunyi sedotan.

Ibu juga tidak merasa nyeri saat bayi menyusu.

2. Perbanyak Produksi ASI

Salah satu kunci kelancaran ASI eksklusif adalah suplai ASI yang sebanding dengan permintaan bayi.

Jadi, jagalah suplai ASI dengan lebih banyak beristirahat, minum air putih, dan selalu mengonsumsi makan bergizi seimbang.

Lengkapi juga dengan konsumsi ASI booster alami, seperti oatmeal, daun katuk, susu almond, salmon, bayam, dan ubi jalar.

3. Pastikan Bayi Cukup ASI

Supaya pertumbuhan bayi optimal, Ibu perlu memastikan si Kecil mengonsumsi cukup ASI setiap kali menyusu.

Tanda bayi cukup ASI adalah minimal 6 popok basah dalam sehari, urine jernih, BAB bayi lebih dari 4 kali dalam sehari dengan feses kuning berbintik putih (seedy milk), serta kenaikan berat badan sesuai grafik.

Jika sempat turun, berat badan bayi seharusnya kembali ke berat lahir pada usia 10–14 hari jika ia cukup ASI.

4. Pastikan Tekstur MPASI Tepat

Berat badan bayi mulai usia 6 bulan ke atas juga sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas MPASI-nya.

Jadi selain memastikan menu MPASI 6 bulan bergizi lengkap dan seimbang, pahami juga seperti apa tekstur MPASI yang tepat dan seberapa banyak porsi idealnya.

Contohnya, MPASI pertama bayi 6 bulan teksturnya adalah puree (bubur kental halus) dengan porsi 2-3 sendok makan. Secara perlahan, porsi bisa Ibu tingkatkan menjadi setengah mangkuk 250 ml.

5. Melakukan Skrining Rutin

Untuk mencegah si Kecil tidak mengalami masalah ini, sangat penting untuk melakukan skrining tumbuh kembang secara rutin. Berikut jadwal yang direkomendasikan IDAI: 

  • Usia 0-12 bulan : 1 bulan sekali. 
  • Usia 12-24 bulan : 3 bulan sekali. 
  • Usia 24-72 bulan : 6 bulan sekali.

Kapan Harus ke Dokter?

Weight faltering tidak boleh disepelekan, karena ini adalah tanda awal dari stunting. Segera ke dokter jika:

  • Berat badan tidak naik sama sekali selama 1 bulan pada bayi < 6 bulan.
  • Berat badan bayi tidak naik 2 bulan berturut turut atau lebih pada bayi ≥ 6 bulan.
  • Berat badan tidak kembali ke berat lahir setelah 14 hari, atau malah terus turun.
  • Masuk garis bawah (z-score < -2 SD) pada kurva WHO, atau grafiknya melengkung turun.
  • Bayi tampak sangat mengantuk saat menyusu, tidak kuat menyusu >5 menit.
  • Frekuensi pipis berkurang (<6 popok basah per hari) tanda asupan kurang.
  • Bayi tampak lemas, kurang responsif, atau jarang tersenyum sesuai usia.
  • Rewel berlebihan, sulit tidur, atau tampak lapar terus namun berat badan tidak naik.
  • Muncul tanda dehidrasi: bibir kering, ubun-ubun cekung, atau kulit kembali lambat saat dicubit (turgor menurun).
  • Ada gejala gangguan pencernaan kronis: diare >2 minggu, feses berminyak, muntah terus-menerus.
  • Orang tua sudah mencoba memperbaiki pola menyusu/MPASI selama 2–4 minggu, tetapi berat badan tetap stagnan.

Intervensi dini yang tepat dan sejak dini di bawah pengawasan dokter dapat membantu masalah kesehatan yang lebih serius.

Jika Ibu butuh saran atau punya pertanyaan seputar kesehatan, tumbuh kembang, dan nutrisi anak, yuk langsung hubungi BebeCare.

Tim careline kami terdiri dari para ahli berlatar belakang keperawatan dan pendidikan gizi yang siap menjadi teman berbagi dan sumber informasi terpercaya untuk Ibu, 24 jam gratis tanpa perlu buat janji!

Informasi yang Wajib Ibu Ketahui

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Ibu

  1. ‌Failure To Thrive (Growth Faltering) Signs & Treatment. (2024, July). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/failure-to-thrive
  2. Caulfield, L. E., Richard, S. A., Rivera, J. A., Musgrove, P., & Black, R. E. (2016). Stunting, Wasting, and Micronutrient Deficiency Disorders. Nih.gov; The International Bank for Reconstruction and Development / The World Bank. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK11761
  3. ‌Crider, C. (2020, October 27). Breastfed Baby Gas: What Causes It and What Doesn’t, Plus How to Deal. Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/baby/breastfed-baby-gas#causes
  4. IDAI | ASI Sebagai Pencegah Malnutrisi pada Bayi. (2019). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/asi-sebagai-pencegah-malnutrisi-pada-bayi
  5. IDAI | ASI Kurang. (2019). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/asi-kurang
  6. Emond, A. M., Blair, P. S., Emmett, P. M., & Drewett, R. F. (2007). Weight Faltering in Infancy and IQ Levels at 8 Years in the Avon Longitudinal Study of Parents and Children. PEDIATRICS, 120(4), e1051–e1058. https://doi.org/10.1542/peds.2006-2295
  7. IDAI | Bagaimana menyusui dengan benar? (2019). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/bagaimana-menyusui-dengan-benar
  8. IDAI | Manajemen Laktasi. (2019). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/manajemen-laktasi
  9. IDAI | ASI Sebagai Pencegah Malnutrisi pada Bayi. (2019). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/asi-sebagai-pencegah-malnutrisi-pada-bayi
  10. IDAI | Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). (2018). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-makanan-pendamping-air-susu-ibu-mpasi?utm_source=newsletter&utm_medium=email&utm_campaign=idai-newsletter&utm_content=Booklet+Pemberian+Makanan+Pendamping+Air+Susu+Ibu+%28MPASI%29
  11. IDAI | Pentingnya Pemantauan Tumbuh Kembang 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak. (2017). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pentingnya-pemantauan-tumbuh-kembang-1000-hari-pertama-kehidupan-anak
  12. World Health Organization (WHO). Child Growth Standards. 2019.
  13. American Academy of Pediatrics (AAP). Failure to Thrive: Clinical Report. Pediatrics. 2017.
  14. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Child Growth Tracking Guidelines. 2020.


Temukan Topik Lainnya

Artikel Terkait