Kenali Feses Bayi MPASI yang Normal dari Warna, Tekstur, dan Frekuensinya
Feses bayi MPASI bertekstur padat, berbau lebih menyengat, dan berwarna cokelat gelap. Frekuensi BAB lebih jarang menjadi 2–3 kali sehari.
Feses bayi MPASI cenderung bertekstur lebih padat, warnanya lebih gelap, dan baunya lebih menyengat. Frekuensi BAB bayi setelah MPASI juga berkurang, dulu bisa 2-5 kali per hari, sekarang hanya 2-3 kali per hari.
Seperti Apa Pup Bayi yang Sudah MPASI?
Feses bayi MPASI umumnya berbau lebih menyengat dan tajam dan warnanya menjadi cokelat tua. Teksturnya pun berubah menjadi lebih padat, tetapi masih berampas atau belum terlalu padat. Namun, feses tidak sampai encer.
Warna pup bayi MPASI bisa menyerupai warna makanan yang dikonsumsi. Biasanya, kondisi ini muncul saat konsumsi buah dan sayur dengan warna pekat.
Perubahan pola makan dan asupan makanan padat setelah fase MPASI memengaruhi cara kerja pencernaan bayi saat mengolah sisa makanan menjadi feses.
Feses Bayi MPASI Berwarna Apa?
Secara umum, warna feses bayi setelah MPASI adalah cokelat muda hingga cokelat tua.
Namun, warnanya juga bisa tampak kuning, oranye, hijau, bahkan merah karena dipengaruhi warna makanan. Berikut beberapa contoh makanan yang bisa memengaruhi warna pup bayi MPASI.
|
Warna Pup |
Penyebab Umum |
Normal/Tidak |
|
Hijau |
Konsumsi bayam, brokoli, atau MPASI yang diperkaya zat besi |
Normal |
|
Oranye |
Konsumsi wortel |
Normal |
|
Merah |
|
Normal |
|
Bercak darah merah |
Sembelit, perdarahan di saluran cerna bawah |
Tidak, segera ke dokter |
|
Putih pucat |
Gangguan liver atau masalah pada kantung empedu |
Tidak, segera ke dokter |
|
Abu-abu |
Masalah liver atau pencernaan |
Tidak, segera ke dokter |
|
Hijau gelap |
Konsumsi suplemen zat besi |
Aman |
|
Hitam |
|
Aman bila konsumsi zat besi, segera ke dokter jika tidak konsumsi zat besi |
Bagaimana Tekstur Bab Bayi yang Sudah MPASI?
Tekstur BAB bayi MPASI 6 bulan sudah lebih padat, berampas, agak lengket, dan tidak terlalu cair. Hal ini terjadi karena makanan padat lebih lama dicerna dan mengandung serat. Jadi, kepadatan feses bayi MPASI meningkat.
Ingat, pup MPASI yang padat bukan berarti keras. Feses keras menandakan si Kecil sembelit. Tanda pup terlalu keras, yaitu tekstur feses seperti kerikil dan terasa kering.
Sementara itu, tanda pup terlalu cair, yaitu feses seperti air, bahkan tanpa tekstur atau ampas sama sekali. Bapak Ibu juga bahkan perlu ganti popok lebih dari tiga kali sehari.
Berapa Kali Bayi Pup Setelah MPASI?
Frekuensi BAB bayi setelah MPASI yang normal adalah 2–3 kali sehari. Ada pula beberapa bayi yang cenderung sering BAB setelah MPASI.
Penyebab bayi sering BAB setelah diberi MPASI, di antaranya:
- Meningkatnya asupan serat.
- Gula alami pada buah-buahan yang melancarkan BAB.
- Saluran cerna masih sensitif terhadap bahan tertentu, seperti susu hewani, gluten dari olahan terigu.
- Makanan tinggi lemak.
- Makanan asam.
Namun, frekuensi BAB bisa lebih jarang, tetapi tidak kurang dari 2 kali seminggu, asalkan ia tidak tampak mengejan hingga kesakitan saat BAB.
Perubahan Feses Bayi MPASI yang Masih Normal
Meski umumnya feses berwarna cokelat dan lebih padat, ada perubahan pup yang masih tergolong normal. Apa saja?
1. Pup Bayi MPASI Berwarna Hijau
BAB bayi MPASI berwarna hijau biasanya muncul akibat makanannya berwarna hijau, seperti brokoli dan bayam. Feses bayi juga tampak hijau gelap jika mengonsumsi suplemen zat besi.
Warna feses hijau gelap juga dapat disebabkan oleh cairan empedu di feses. Cairan empedu berfungsi untuk mencerna lemak.
2. Pup Bayi Berbau Lebih Menyengat
Feses bayi MPASI juga berbau lebih menyengat karena bakteri di saluran cernanya sedang beradaptasi untuk memecah makanan. Proses ini menghasilkan gas dan aroma yang lebih menyengat.
Beberapa jenis makanan bisa memicu bau feses yang menyengat, seperti telur, daging, ikan, susu hewani, dan sayur-sayuran hijau.
3. Ada Ampas Makanan pada Pup
Ada ampas makanan juga wajar ditemukan pada pup bayi MPASI yang normal. Pasalnya, saluran pencernaan bayi masih belajar memproses makanan padat.
Jadi, ada beberapa bagian makanan yang tidak sempat terurai, lalu langsung bergerak cepat melalui usus. Kondisi ini kerap terjadi apabila si Kecil konsumsi satu jenis makanan dengan jumlah banyak.
4. Bayi BAB Lebih Jarang
Setelah konsumsi MPASI, bayi BAB relatif lebih jarang. Si Kecil bisa pup hingga dua kali seminggu.
Makanan padat memerlukan waktu lebih lama untuk dicerna. Jadi, feses akan lebih padat dan lebih sulit keluar sehingga frekuensi BAB lebih jarang.
Saluran cerna bayi juga masih berkembang sehingga perlu waktu untuk mencerna asupan yang baru selain ASI atau susu formula.
Apakah Wajar Bayi MPASI Sembelit?
Sembelit memang sering terjadi pada bayi karena makanan padat lebih sulit dicerna daripada ASI. Tubuhnya sedang beradaptasi mencerna asupan baru sehingga bayi mengalami sembelit.
Ciri-ciri bayi sembelit saat MPASI, yaitu:
- Feses keras dan kering.
- Perut terasa kembung.
- Feses besar dan lebar.
- Feses tampak seperti kerikil.
- Timbul darah pada feses.
- BAB kurang dari 3 kali seminggu.
- Rewel dan tampak mengejan dan kesakitan saat BAB.
Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Sembelit pada Bayi MPASI
Kapan Bayi MPASI Dikatakan Diare?
Bayi MPASI mengalami diare apabila ditemukan gejala-gejala berikut:
- Tekstur feses cair seperti air.
- BAB lebih dari 3 kali sehari.
- Feses bayi MPASI mengalir hingga ke punggung.
- Bau feses lebih tajam atau berbeda daripada biasanya.
- Terkadang disertai demam atau muntah.
Ibu bisa cek kesehatan pencernaan si Kecil lewat AI Poop Tracker sekarang. Cukup dengan upload foto pup di atas popoknya dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik untuk dikonsultasikan lebih lanjut ke dokter.
Ibu juga bisa mencoba fitur AI Poop Tracker langsung di Aplikasi Bebeclub Mobile untuk bantu memantau kesehatan pencernaan si Kecil dengan lebih mudah.
Baca Juga: BAB Bayi Cair Tanpa Ampas, Apakah Harus ke Dokter?
Cara Melancarkan BAB Bayi MPASI
Feses bayi MPASI memang bertekstur lebih padat, tetapi bukan berarti keras sehingga si Kecil susah BAB. Untuk itu, berikut cara melancarkan BAB bayi MPASI.
1. Berikan Makanan Tinggi Serat
Mulai usia 6–11 bulan, sajikanlah MPASI yang mengandung serat dan prebiotik agar bayi tidak sembelit.
Prebiotik adalah jenis serat yang tidak bisa dicerna lambung sehingga langsung turun ke usus besar untuk memperbaiki konsistensi feses bayi MPASI.
Sayur yang kaya kaya serat, antara lain:
- Brokoli.
- Bayam.
- Wortel.
- Ubi.
- Kentang.
Sementara itu, buah yang bantu BAB bayi lebih lancar, di antaranya:
- Tomat.
- Labu.
- Alpukat.
- Pir.
- Persik.
- Pepaya.
2. Penuhi Cairan Harian Bayi
Feses bayi MPASI tidak akan keras apabila kebutuhan cairan harian si Kecil terpenuhi. Lanjutkan pemberian ASI dan selingi pemberian air putih secara rutin sekitar 29–59 ml sehari.
Mencukupi kebutuhan cairan dan serat bantu lancarkan pencernaan bayi dan membuat tekstur BAB bayi MPASI 6 bulan lunak sehingga mudah dikeluarkan.
Jangan berikan air putih lebih banyak dari yang dianjurkan karena air mudah membuat bayi merasa kenyang dan menolak MPASI. Hindari juga pemberian jus buah.
3. Tambahkan Makanan Probiotik
Memenuhi kebutuhan probiotik menyeimbangkan kadar bakteri baik di usus sehingga menyehatkan pencernaan. Efeknya, feses bayi MPASI keluar lebih lancar.
Contoh makanan kaya probiotik untuk bayi antara lain, yoghurt, keju, acar timun, sup miso, dan tempe.
4. Hindari Makanan Pemicu Sembelit
Ada beberapa jenis makanan penyebab sembelit yang perlu dihindari, di antaranya pisang yang belum matang sempurna dan ultra-processed food.
Pisang mentah mengandung pati resisten dan zat tanin yang sifatnya menyerap air sehingga feses lebih keras.
Sementara itu, ultra-processed food memicu atau memperparah sembelit karena rendah serat, tetapi tinggi gula dan lemak jahat.
5. Ajak Bayi Aktif Bergerak
Bergerak aktif ternyata mempercepat pergerakan usus besar si Kecil. Dengan begitu, feses bayi MPASI lebih lancar dikeluarkan.
Ajak si Kecil bergerak dengan memanfaatkan mainan berwarna cerah, mainan yang menimbulkan bunyi, cermin, bola, dan benda menarik lainnya.
Letakkan agak jauh dari si Kecil supaya ia mau berusaha merentangkan tangan, menjejakkan kaki, berguling, merangkak, hingga duduk untuk meraihnya.
Baca Juga: 5 Penyebab Bayi 6 Bulan Susah BAB dan Cara Mengatasinya
Kapan Harus ke Dokter?
Segera bawa ke dokter bila bayi mengalami tanda-tanda berikut:
- Demam.
- Feses berwarna putih atau abu-abu.
- Feses berdarah.
- Diare berkepanjangan.
- Sembelit hingga si Kecil tampak kesakitan.
- Feses berlendir.
- BAB hitam tanpa konsumsi obat atau suplemen zat besi.
- Muntah.
- Tidak BAB lebih dari seminggu.
- Berat badan tidak naik atau turun dalam waktu sebulan.
Segera bawa ke dokter atau klinik terdekat agar mendapatkan penanganan sesegera mungkin. Dengan begitu, risiko masalah kesehatan bisa segera teratasi dan tidak menimbulkan kondisi yang lebih berbahaya.
Pencernaan yang sehat membantu si Kecil lebih nyaman beraktivitas, bermain, dan belajar setiap hari. Jadi member Bebeclub sekarang untuk mendapatkan berbagai edukasi seputar kesehatan pencernaan anak, lengkap dengan tips dari para ahli. Selain mendapatkan akses ke berbagai artikel dan panduan dari para ahli, Ibu juga dapat mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan berbagai hadiah menarik sebagai member Bebeclub.

_IFFO_MICROMOMENT.png)
_GUM_CARELINE.png)
