Penyebab Diare pada Bayi dan Cara Mengatasinya

Diare sebenarnya bisa sembuh sendiri. Namun, diare pada bayi berisiko komplikasi berbahaya jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Ditulis oleh : Tim Penulis

Ditinjau oleh : dr. Attila Dewanti, SpA (K)

4 min
14 Oct 2022
Profile dr. Attila Dewanti, SpA (K)
Diare pada bayi


Diare pada bayi adalah masalah umum yang sering membuat Ibu khawatir. Bukan tanpa alasan, si Kecil biasanya cenderung lebih rewel, gelisah, bahkan menolak menyusu saat mengalami diare.

Umumnya, diare disebabkan oleh infeksi virus, bakteri dan parasit. Kebanyakan kasus diare bisa sembuh sendiri, tapi bayi sangat rentan mengalami dehidrasi. Dehidrasi yang disebabkan diare bisa berdampak negatif bagi kesehatan dan tumbuh kembang si Kecil.  

Karena itu, Ibu tetap perlu memahami penyebab dan penanganan yang tepat untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Ini penting, karena pencernaan yang sehat bisa membuat si Kecil tumbuh hebat, dan jadi awal semua kehebatannya. 

 Yuk, baca terus artikel ini untuk informasi lengkap seputar diare pada si Kecil. 

Ciri-Ciri Bayi Diare

Salah satu tanda diare pada bayi yang paling khas bisa ditunjukkan lewat frekuensi BAB yang lebih sering dari biasanya. Umumnya, frekuensi BAB bayi akan berbeda-beda tergantung usia. Namun, berikut adalah frekuensi normalnya:

  • Usia 0-28 hari : 4 kali/hari
  • Usia 1-3 bulan : 3 kali/hari
  • Usia 6-12 bulan : 2 kali/hari

Nah, jika BAB si Kecil melebihi frekuensi normal, besar kemungkinan ia mengalami diare. Selain itu, ciri-ciri diare pada bayi juga dapat diperhatikan dari poin-poin berikut:

  • Feses berair dengan bau menyengat. 
  • Perut kembung.
  • Demam.
  • Rewel dan gelisah. 
  • Tidak mau menyusu. 

Penyebab Diare pada Bayi 

Tahukah Ibu? Ternyata penyebab diare itu bermacam-macam, mulai dari infeksi hingga reaksi alergi. Yuk kenali faktor-faktor penyebab diare berikut ini: 

1. Infeksi Rotavirus

Sebagian besar penyebab diare pada bayi adalah infeksi rotavirus. Virus ini penularannya melalui feses ke mulut.

Rotavirus yang keluar bersama feses dari orang yang sakit diare dapat mencemari air, makanan, minuman, dan benda-benda di sekitar bayi, seperti mainan atau handuk. Hal ini sering terjadi jika kebersihan lingkungan dan kebersihan diri penderita diare di rumah tidak dijaga dengan baik.

Bayi rentan tertular infeksi virus ini dari mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi, atau ketika memasukkan mainan atau tangannya yang kotor ke dalam mulut. 

Diare yang disebabkan oleh infeksi virus biasanya akan berkurang intensitasnya dalam kurun waktu 24 jam. Akan tetapi, diare akibat infeksi rotavirus dapat menyebabkan bayi cepat kehilangan cairan sehingga rentan mengalami dehidrasi.

Midbanner diare pada bayi

2. Infeksi Bakteri atau Parasit

Jika diare bayi disertai muntah-muntah, penyebabnya bisa jadi adalah flu perut atau yang lebih dikenal dengan nama muntaber.

Muntaber alias gastroenteritis adalah infeksi pencernaan akibat bakteri. Beberapa jenis bakteri yang dapat menyebabkan muntaber adalah E. coli, Salmonella, Campylobacter, dan Shigella. Infeksi akibat parasit juga bisa menjadi penyebab diare pada bayi.

Bakteri atau parasit penyebab diare dapat masuk ke dalam tubuh bayi dari konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi. Jalur penularan juga bisa dari si Kecil yang memasukkan tangan kotornya ke dalam mulut setelah memegang benda yang terkontaminasi. 

Diare akibat muntaber biasanya berlangsung selama 3-5 hari, yang disertai juga dengan demam ringan. 

3. Perubahan Pola Makan

Jika si Kecil sudah menginjak usia 6 bulan, dia biasanya mulai diperkenalkan dengan dengan MPASI. 

Ketika bayi yang sudah lama terbiasa minum ASI mulai mengonsumsi makanan padat, sistem pencernaannya mungkin akan ‘kaget’ akibat perubahan pola makan yang terjadi. 

Nah, kondisi inilah yang dapat menyebabkan diare pada bayi. Oleh karena itu, pastikan pemberian MPASI pada si Kecil dilakukan bertahap agar ia bisa menyesuaikan, ya.

Ibu juga bisa memanfaatkan fitur Panduan MPASI dari BebeJourney sebagai pedoman tepat untuk pemberian nutrisi si Kecil.

Baca Juga: 5 Penyebab Bayi Mencret Setelah Minum ASI dan Cara Mengatasinya

4. Intoleransi Laktosa 

Jika diare si Kecil disertai dengan perut kembung (teraba keras atau padat) dan sering buang angin, ini mungkin dapat disebabkan oleh intoleransi laktosa. 

Intoleransi laktosa adalah kondisi yang membuat pencernaan bayi tidak bisa mencerna laktosa, yaitu jenis gula alami di dalam susu sapi. 

Nah, jika si Kecil sudah mulai MPASI, sebaiknya hentikan pemberian MPASI yang menggunakan olahan susu sapi ya, Bu.

Namun, jika si Kecil masih menyusu, Ibu perlu membatasi konsumsi susu sapi dan olahannya. Sebab, laktosa dari makanan yang Ibu konsumsi bisa ikut terserap ke dalam ASI dan memengaruhi si Kecil.

5. Alergi Makanan

Jika bayi sudah MPASI, diare juga mungkin terjadi karena si Kecil memiliki intoleransi atau alergi terhadap makanan atau minuman tertentu. Beberapa jenis makanan penyebab alergi di antaranya adalah susu, telur, kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, atau kerang. 

Reaksi alergi biasanya akan muncul beberapa menit atau jam setelah si Kecil makan atau minum. Jika penyebab diare pada bayi adalah alergi makanan, biasanya akan disertai dengan gejala ruam atau gatal pada area mata dan hidung.

6. Efek Minum Antibiotik

Jika Ibu sedang minum antibiotik selama menyusui, efek samping obatnya bisa berpengaruh pada bayi, termasuk potensi munculnya diare pada si Kecil. Begitu pula dengan beberapa suplemen atau vitamin yang sedang Ibu konsumsi.  

Hal ini terjadi karena apa pun yang Ibu konsumsi sehari-hari dapat memengaruhi rasa, tekstur, dan bahkan kandungan ASI yang diminum si Kecil. Jadi, silakan konsultasi ke dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat atau suplemen, ya.

Baca Juga: Penyebab Bayi Sering BAB Tapi Sedikit-Sedikit

Cara Mengatasi Diare pada Bayi 

Jika si Kecil mengalami diare, berikut beberapa pertolongan pertama yang dapat Ibu lakukan untuk mengatasinya:

1. Terus Berikan ASI

Menurut dokter spesialis pencernaan anak di Rady Children's Hospital di San Diego, Rebecca Cherry, M.D., cara mengatasi diare pada bayi berusia di bawah 6 bulan dapat dilakukan dengan menyusui lebih sering. 

Saat diare, bayi akan lebih rentan mengalami dehidrasi. Nah, ASI dapat membantu menggantikan cairan yang hilang karena memiliki kandungan air sekitar 90%.

ASI juga dilengkapi lemak, protein enzim, antibodi dan sel darah putih untuk memperkuat sistem kekebalan tubuhnya dalam melawan berbagai virus, penyakit, dan infeksi.

2. Berikan Oralit

Jika bayi berusia di atas 6 bulan dan dokter sudah mengizinkan, pemberian ASI bisa didampingi dengan air putih atau cairan oralit untuk membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang. 

Hindari memberikan minuman jus karena bisa memperburuk gejala diare bayi. Sebab, beberapa anak tidak atau belum dapat mencerna gula dengan baik. 

3. Beri Makanan Lunak

Jika si Kecil sudah berusia di atas 6 bulan dan mampu mengonsumsi makanan padat, Ibu dapat memberikan makanan lunak selama ia diare. Contohnya, pisang yang dihaluskan, bubur, atau saus apel untuk menggantikan nutrisi dan tenaga si Kecil yang hilang. 

Hindari memberikan makanan yang dapat memperburuk gejala diare, seperti makanan manis, makanan berserat, makanan berminyak, atau MPASI dari olahan susu.

Jika si Kecil masih di bawah 6 bulan, cukup berikan ASI lebih sering untuk mencegah dehidrasi dan memenuhi kebutuhan gizi yang hilang akibat diare.

4. Tambah Asupan Probiotik

Eits, jangan terburu-buru memberikan obat untuk mengobati diare si Kecil ya, Bu. Pemberian obat diare untuk bayi perlu resep dan pengawasan dari dokter, lho!

Sebagai alternatif, Ibu bisa memberikan MPASI yang mengandung probiotik seperti puree dari pisang, asparagus, rumput laut, dan buncis-buncisan untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan bayi yang berusia 6 bulan ke atas.

5. Sering Ganti Popok Bayi

Ketika si Kecil mengalami diare, Ibu tentu harus menjaga kebersihan si Kecil, misalnya dengan sering mengganti popok untuk mencegah penularan. Pastikan Ibu membersihkan area pantat bayi menggunakan air bersih juga, ya. 

Jika sudah dibersihkan, tunggu sampai area pantat bayi kering dengan sempurna. Selanjutnya, gunakan krim pelembap agar kulitnya tetap lembap.

6. Berikan Suplemen Zinc

Suplemen zinc juga dapat diberikan sebagai cara mengatasi diare pada bayi. Menurut WHO dan IDAI, bayi yang mengalami diare akut dapat diberikan suplemen zinc selama 10–14 hari.

Dosis pemberian suplemen zinc pada bayi berusia di bawah 6 bulan adalah sekitar 10 mg per hari. Untuk menentukan dosis dan cara pemberian suplemen yang benar, Ibu bisa berkonsultasi ke dokter anak terlebih dahulu, ya.

Baca Juga: Bayi Baru Lahir Sering BAB, Apa Pertanda Diare?

Kapan Bayi Diare Harus Dibawa ke Dokter?

Segera bawa si Kecil ke dokter jika ia menunjukkan tanda-tanda di bawah ini:

  • Feses bayi berwarna merah atau putih. 
  • Bayi BAB lebih dari 10 kali dalam sehari. 
  • BAB berdarah dan berlendir.
  • Muntah berulang kali. 
  • Mual.
  • Ruam kulit.
  • Demam tinggi.
  • Berat badan menurun.
  • Tidak mau menyusu, minum, atau makan.
  • Tidak buang air kecil. 
  • Mengalami tanda-tanda dehidrasi, seperti mulut kering, lesu, lemas, sering mengantuk.

Cara Mencegah Diare pada Bayi

Untuk mencegah diare pada bayi, Ibu dapat melakukan beberapa cara berikut:

  • Melengkapi 3 dosis imunisasi rotavirus mulai usia 2 bulan dan maksimal usia 4 bulan.
  • Menyusui si Kecil secara eksklusif.
  • Mencuci tangan sebelum menyusui, menyiapkan makanan, dan setelah mengganti popok si Kecil.
  • Mengajak si Kecil cuci tangan setelah bermain dan memegang benda kotor.
  • Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, termasuk mainan dan barang-barang yang sering disentuh si Kecil.
  • Membersihkan dan mensterilisasi peralatan MPASI secara rutin.
  • Mencuci bersih bahan-bahan makanan yang diolah menjadi MPASI.
  • Memerhatikan makanan yang Ibu konsumsi agar tidak memengaruhi kandungan ASI. 

Oh iya, kini Ibu bisa mengecek kesehatan pencernaan si Kecil sekaligus mencari tahu arti poop-nya dengan mudah lewat Poop Checker di tool BebeJourney, lho. Cukup registrasi di Bebeclub, maka Ibu bisa mendapatkan akses ke Poop Checker, dan hasilnya bisa langsung diunduh untuk dikonsultasikan lagi dengan dokter anak atau Tim Bebecare yang hadir 24 jam untuk menjawab pertanyaan Ibu. 

Yuk Bu, jaga terus kesehatan pencernaan si Kecil agar dia tumbuh sehat dan jadi awal untuk mengawali semua kehebatannya! 

 


 

Referensi:

  1. Chow, Chung Mo. “Acute Gastroenteritis: From Guidelines to Real Life.” Clinical and Experimental Gastroenterology, 2010, 97. https://doi.org/10.2147/ceg.s6554. 
  2. Gavin, Mary L., ed. “Diarrhea for Parents.” KidsHealth, May 2021. https://kidshealth.org/en/parents/diarrhea.html. 
  3. Herrmann, Sara. “Q&A: Constipation in Children.” Mayo Clinic Health System, June 14, 2023. https://www.mayoclinichealthsystem.org/hometown-health/speaking-of-health/qa-constipation-in-children. 
  4. Iftikhar, Noreen. “Baby Diarrhea: Causes, Treatments, and When to Worry.” Healthline, July 30, 2020. https://www.healthline.com/health/baby/baby-diarrhea. 
  5. Moninger, Jeannette. “Baby Diarrhea: A Parent’s Guide to Causes and Treatments.” Parents, October 19, 2022. https://www.parents.com/baby/health/diarrhea/diarrhea-101/. 
  6. Thawani, Vijay, and Chaitali Bajait. “Role of Zinc in Pediatric Diarrhea.” Indian Journal of Pharmacology 43, no. 3 (2011): 232. https://doi.org/10.4103/0253-7613.81495. 
  7. Watson, Stephanie. “Baby Diarrhea: Causes, Treatment, and More.” WebMD, April 17, 2023. https://www.webmd.com/parenting/baby/baby-diarrhea-causes-treatment. 
  8. “Berbagai Penyebab Diare Pada Bayi.” Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, August 25, 2023. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2720/berbagai-penyebab-diare-pada-bayi. 
  9. “Diarrhea (0-12 Months).” Seattle Children’s Hospital, December 30, 2022. https://www.seattlechildrens.org/conditions/a-z/diarrhea-0-12-months. 
  10. “Diarrhea in Children.” Johns Hopkins Medicine, August 8, 2021. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/diarrhea-in-children.
  11. “Diarrhea in Infants.” Medline Plus, July 1, 2023. https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000691.htm. 
  12. “Diarrhea in Babies”. BabyCentre UK, June 1, 2023. https://www.babycentre.co.uk/a82/diarrhoea-in-babies
  13. “Nilai Nutrisi Air Susu Ibu.” IDAI, August 27, 2023. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/nilai-nutrisi-air-susu-ibu. 
  14. “Virus Rotavirus.” Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, July 28, 2022. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/633/virus-rotavirus. 

Temukan Topik Lainnya



Artikel Terkait