Makanan Mengandung Zat Besi untuk Bayi dan Cara Membuat MPASI Tinggi Zat Besi
Makanan mengandung zat besi untuk bayi dapat berasal dari sumber hewani seperti hati, daging, ikan, dan telur serta sumber nabati seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
Ditulis oleh :
Tim Penulis
Ditinjau oleh :
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH
Diterbitkan: 21 April 2022
Diperbarui: 29 Oktober 2026
Makanan mengandung zat besi untuk bayi antara lain hati ayam, daging sapi, ikan, telur, tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Setelah mulai MPASI sekitar usia 6 bulan, bayi membutuhkan tambahan zat besi dari makanan karena kebutuhan meningkat sementara cadangan zat besi mulai berkurang. Sumber hewani menyediakan zat besi heme yang lebih mudah diserap, sedangkan sumber nabati dapat dikombinasikan dengan makanan sumber vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi.
Mengapa Zat Besi Penting untuk Bayi?
Bayi membutuhkan zat besi untuk membentuk sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh, mendukung perkembangan otak, serta menjaga daya tahan tubuh.
Kekurangan zat besi bisa memicu anemia defisiensi besi, yang berdampak pada fokus, perilaku, hingga kemampuan belajar si Kecil untuk menyerap stimulasi-stimulasi yang Ibu berikan.
Jika dibiarkan, kondisi ini juga membuat sistem imunnya melemah. Si Kecil yang tadinya aktif bisa tiba-tiba menjadi tampak pucat, mudah lelah, lemas, tidak nafsu makan, sulit menyusu, dan mudah sakit.
Berapa Kebutuhan Zat Besi Bayi Setiap Hari?
Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kemenkes RI yang tertuang dalam Permenkes RI Nomor 28 Tahun 2019, jumlah kebutuhan zat besi harian anak adalah sebagai berikut:
- Usia 0-5 bulan: 0,3 miligram (mg)/hari.
- Usia 6-11 bulan: 11 mg/hari.
- Usia 12 bulan: 7 mg/hari.
Sebelum bayi berusia 6 bulan, kebutuhan zat besi masih bisa dipenuhi dari cadangan zat besi tubuh dan ASI. Namun, setelah usia lebih dari 6 bulan, cadangan zat besi si Kecil mulai berkurang sehingga ASI saja tidak lagi mencukupi.
Maka itu, penting memberikan MPASI bayi yang kaya zat besi agar kebutuhan nutrisi si Kecil terpenuhi.
Baca Juga: Zinc untuk Bayi: 5 Manfaat + Sumber Terbaik
Apa Saja Bahan MPASI yang Tinggi Zat Besi Hewani untuk Bayi?
Zat besi terbagi menjadi dua jenis, yaitu heme dari sumber hewani serta nonheme dari tumbuhan. Berikut berbagai makanan mengandung zat besi untuk bayi dari sumber hewani (heme):
1. Hati Ayam
Hati ayam merupakan salah satu sumber makanan mengandung zat besi paling tinggi yang bisa Ibu berikan pada si Kecil. Dalam ¼ ons (28 gram), hati ayam mengandung 3,6 mg zat besi heme.
Sekarang tak perlu ragu lagi memasukkan hati ayam ke dalam menu MPASI si Kecil ya, Bu. Ibu bisa membuat MPASI bubur hati ayam atau nasi tim hati ayam jamur.
Tak ada salahnya menambahkan bahan makanan yang mengandung nutrisi lain untuk memaksimalkan asupan dan manfaat zat besi untuk bayi.
2. Hati Sapi
Selain hati ayam, hati sapi juga cukup tinggi kandungan zat besinya. Per 28 gram (½ potong) hati sapi mengandung 1,7 mg zat besi heme. Ibu bisa mengolahnya menjadi berbagai menu MPASI yang lezat.
Walaupun mungkin perlu waktu bagi si Kecil untuk bisa menerima cita rasa hati sapi, tapi teruslah berusaha, Bu.
Untuk mengurangi rasa amisnya, pilihlah hati sapi yang segar dibandingkan yang beku dan pilihlah hati sapi yang tidak berlubang.
3. Daging Sapi
Makanan yang mengandung zat besi untuk bayi berikutnya adalah daging merah. Kandungan zat besi dalam daging merah diketahui cukup tinggi. Per 28 gram daging sapi atau daging kambing mengandung zat besi sebanyak 0,8 mg.
Namun, tekstur daging yang agak keras dan berserat membuat menu berbahan dasar daging merah ini mungkin belum bisa dikunyah dengan baik oleh si Kecil yang usianya belum genap 1 tahun.
Sebagai solusinya, Ibu bisa memberikan daging merah ini dalam bentuk cincang, atau daging sapi bagian has dalam (tenderloin) yang memiliki serat lebih halus. Tumbuk daging hingga halus dan olah menjadi nasi tim yang lembut dan lezat.
4. Daging Kambing
Daging kambing bisa jadi salah satu pilihan makanan yang mengandung zat besi untuk bayi. Per 100 gram daging kambing menawarkan sekitar 2,6 mg zat besi.
Selain zat besi, daging kambing juga kaya kandungan protein, vitamin B12, seng, dan kalium. Bahkan, kandungan lemak total dan lemak jenuhnya cenderung lebih rendah bila dibandingkan dengan jenis daging merah lainnya.
Agar mudah dimakan bayi, pastikan Ibu mengolah daging kambing sampai benar-benar empuk dan bau khasnya hilang.
5. Ayam
Sumber zat besi heme lainnya ada daging ayam yang dalam 100 gramnya terdapat 1 mg zat besi. Daging ayam terdiri dari beberapa bagian yang setiap bagiannya menawarkan jumlah kalori berbeda.
Namun, selain mengandung zat besi, setiap bagian ini punya kandungan protein yang cukup tinggi untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil.
Daging ayam juga mudah diolah jadi aneka masakan untuk memperkaya pengalaman si Kecil dalam mengenal berbagai rasa makanan.
6. Ikan
Berbagai ikan laut rendah merkuri, seperti salmon, serden, serta tuna, tak kalah baik sebagai sumber makanan yang mengandung zat besi untuk bayi.
Terbukti, salmon mengandung 0,56 mg zat besi, sarden memiliki 2,92 mg zat besi, dan tuna menawarkan 0,73 mg zat besi dalam 100 gramnya.
Ikan-ikan laut ini juga kaya omega-3 untuk optimalkan perkembangan otak bayi serta vitamin B12 untuk memproduksi sel darah merah sekaligus mendukung kerja sistem saraf pusat.
7. Telur
Telur adalah makanan dengan kandungan nutrisi yang melimpah, termasuk kuningnya. Telur umumnya mengandung 2,7 mg zat besi dalam 100 gramnya.
Kuning telur juga dilengkapi kalori, protein, lemak, serta berbagai vitamin dan mineral seperti kalsium, magnesium, fosfor, kalium, dan lainnya.
Kabar baiknya, telur merupakan satu dari beragam makanan sumber zat besi heme yang mudah sekali diolah jadi aneka makanan, termasuk dimasak bersama sumber zat besi lainnya.
8. Kerang dan Makanan Laut
Aneka makanan laut juga termasuk makanan mengandung zat besi untuk bayi. Contohnya, ada kerang seperti kerang darah seberat 3,5 ons (100 gram) dapat mengandung hingga 3 mg zat besi.
Ada pula udang yang dalam 100 gramnya mengandung zat besi sebanyak 0,51 mg. Selain itu, udang juga punya kandungan selenium dan omega-3 yang baik untuk bayi.
Supaya tidak ada bau amis yang mungkin membuat si Kecil tidak menyukainya, sebaiknya pilih kerang dan udang yang segar dan tidak berbau.
Makanan laut pun bisa diolah menjadi beragam masakan, mulai dari dimasak jadi omelette, ditumis, hingga kuah asam manis.
Apa Saja Makanan Mengandung Zat Besi Nabati untuk Bayi?
Makanan mengandung zat besi untuk bayi juga bisa berasal dari sumber nabati, atau dikenal dengan sebutan zat besi non-heme. Lengkapi makanan harian si Kecil dengan sumber zat besi nabati ini:
1. Tahu dan Tempe
Tahu dan tempe, sebagai sumber protein nabati, ternyata juga punya kandungan zat besi yang cukup baik untuk si Kecil. Terbukti dari per 85 gram tahu terdapat sekitar 1,4 mg zat besi, dan tempe memiliki 1,8 mg zat besi.
Memberikan makanan ini juga membantu si Kecil belajar rasa makanan lainnya sekaligus mengoptimalkan kemampuannya saat menggenggam bila disajikan dalam bentuk finger food.
2. Kacang-kacangan
Kacang merah, kacang hijau, dan lentil merupakan sumber zat besi non-heme yang juga kaya serat dan protein nabati.
Dalam 100-202 gram lentil, kacang merah, dan kacang hijau mengandung sekitar 2,8-3,9 gram zat besi.
Untuk bayi, kacang-kacangan perlu dimasak hingga sangat lunak atau dihaluskan agar mudah dicerna.
3. Bayam dan Sayuran Hijau
Bayam dan sayuran hijau tua, seperti brokoli, menjadi sumber zat besi non-heme untuk si Kecil. Bayam mengandung sekitar 3,6 mg zat besi per 100 gram setelah dimasak, sedangkan brokoli mengandung sekitar 0,2 mg per 28 gram.
Selain zat besi, sayuran hijau juga mengandung vitamin C yang membantu penyerapan zat besi non-heme. Brokoli juga menyediakan folat, serat, dan vitamin K, sementara bayam mengandung karotenoid yang berperan sebagai antioksidan.
Bayam dan brokoli dapat diolah menjadi berbagai menu, seperti bubur, sup, sayur bening, atau dicampurkan dengan bahan makanan lain agar lebih mudah diterima si Kecil.
4. Serealia atau Makanan yang Difortifikasi Zat Besi
Serealia, seperti oatmeal dan sereal sarapan, bisa menjadi pilihan sumber zat besi non-heme, terutama jika sudah difortifikasi zat besi.
Untuk si Kecil, pilih produk yang sesuai usia dan perhatikan kandungan gula serta bahan tambahan pada label.
Sumber serealia ini bisa dikombinasikan dengan buah-buahan seperti stroberi, jeruk, pepaya, dan lainnya agar asupan si Kecil lebih bervariasi.
Baca Juga: 16 Sayur untuk MPASI 6-12 Bulan yang Aman
Apa Perbedaan Zat Besi Heme dan Non-Heme?
Meski sama-sama mengandung zat besi, tapi zat besi heme dan non-heme berbeda baik dari sumber hingga proses penyerapannya di dalam tubuh.
Zat Besi Heme
Zat besi heme berasal dari pangan hewani, seperti daging sapi, daging ayam, hati sapi, hati ayam, telur, udang, ikan, kerang, dan lainnya.
Jenis zat besi ini umumnya lebih mudah diserap oleh tubuh anak.
Zat Besi Non-Heme
Sebaliknya, zat besi non-heme umumnya ditemukan dalam pangan nabati, seperti tahu, tempe, kacang-kacangan, dan sayuran hijau.
Berbeda dengan zat besi hewani, penyerapan zat besi nabati cenderung lebih sulit sehingga perlu dioptimalkan dengan sumber makanan lain, seperti vitamin C.
Melansir dari laman Detik Health, Menurut dr. Yoga Devaera, Sp.A(K) selaku dokter spesialis anak di RSIA Kebayoran Baru, “Sumber zat besi dari hewani umumnya lebih mudah diserap tubuh anak. Jangan lupa juga cukupi kebutuhan vitamin C karena vitamin C membantu memperbaiki penyerapan besi dari nabati.”
Bagaimana Membuat MPASI Tinggi Zat Besi?
Membuat MPASI tinggi zat besi untuk bayi tidak harus fokus pada satu sumber bahan makanan saja. Supaya kandungan gizinya semakin lengkap, Ibu bisa mengombinasikan sumber zat besi, energi, lemak, serta sayur atau buah.
Sumber zat besi bisa berasal dari pangan hewani seperti daging, hati, ikan, dan telur, maupun pangan nabati seperti tahu dan tempe.
Berikut beberapa contoh kombinasi menu MPASI tinggi zat besi untuk bayi:
- Nasi + hati ayam + brokoli + minyak zaitun
- Nasi + daging sapi + tahu + tomat
- Nasi + ikan + bayam + minyak zaitun
- Kentang + telur + tempe + brokoli
Kombinasi bahan tersebut membantu si Kecil mendapatkan zat besi sekaligus nutrisi lainnya dari berbagai sumber makanan dalam satu menu.
Bagaimana Cara Meningkatkan Penyerapan Zat Besi dari MPASI?
Mengingat begitu pentingnya fungsi zat besi untuk perkembangan bayi, Ibu bisa optimalkan penyerapan zat besi dari makanan sehari-hari dengan cara berikut:
1. Padukan Sumber Zat Besi dengan Vitamin C
Vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi non-heme yang berasal dari sumber nabati.
IDAI juga merekomendasikan konsumsi makanan tinggi vitamin C bersama sumber zat besi dari serealia atau sayuran untuk membantu meningkatkan absorpsi zat besi.
Ibu bisa memadukan sumber zat besi dengan buah atau sayuran yang mengandung vitamin C, seperti tomat, brokoli, paprika, jeruk, dan stroberi.
Misalnya, daging dengan tomat, hati dengan brokoli, tahu dengan paprika, atau tempe dengan buah sumber vitamin C.
Baca Juga: Cara Menghangatkan MPASI yang Benar agar Tetap Aman dan Bernutrisi
2. Utamakan Sumber Hewani secara Rutin
Sumber zat besi hewani, seperti daging, hati, dan ikan, cenderung lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi non-heme dari sumber nabati.
Namun, bukan berarti sumber nabati seperti tahu, tempe, kacang-kacangan, dan sayuran perlu dihilangkan.
Keduanya tetap bisa dikombinasikan agar bayi mendapatkan makanan yang bervariasi dan melengkapi kebutuhan zat gizi hariannya.
3. Jangan Memberikan Teh kapada Bayi
Teh bisa menghambat penyerapan zat besi karena mengandung tanin. Sebaiknya hindari memberi keduanya bersamaan dengan makanan utama si Kecil.
Jadi, sebisa mungkin hindari memberikan menu MPASI tinggi zat besi yang diolah bersama susu atau produk turunan susu, seperti krim, yogurt, atau keju.
Jangan pula berikan bayi minum teh saat makan. Cukup tawarkan minum air putih jika si Kecil haus di tengah waktu makannya.
4. Perhatikan Pemberian Susu saat Makan
Selain kandungan tanin, kalsium juga bisa memengaruhi penyerapan zat besi. Jika Ibu khawatir si Kecil belum cukup mendapatkan zat besi, hindari memberikan makanan sumber zat besi dan susu di waktu makan utama.
Jadi, bukan berarti produk susu harus dihindari, tetapi waktu pemberiannya dapat diperhatikan agar tidak mengganggu upaya memenuhi kebutuhan zat besi si Kecil.
Tips Menyajikan Makanan Tinggi Zat Besi untuk Bayi
Memberikan makanan mengandung zat besi untuk bayi sebenarnya sama seperti makanan-makanan lainnya.
Beberapa tips yang bisa Ibu terapkan dalam hal memilih, mengolah, dan menyajikan sumber zat besi yakni:
- Sesuaikan tekstur makanan dengan usia dan kemampuan makan bayi.
- Masak daging, hati, telur, dan makanan laut hingga matang.
- Berikan hati secukupnya, tidak perlu dalam jumlah berlebihan meski kandungan zat besinya tinggi.
- Periksa dan pisahkan tulang ikan dengan teliti sebelum disajikan.
- Olah kacang-kacangan hingga menjadi tekstur yang aman, seperti dihaluskan atau dibuat menjadi pasta encer sesuai kemampuan makannya agar tidak membuat bayi tersedak.
- Hindari menambahkan garam dan gula berlebihan pada MPASI.
- Jangan berikan madu sebelum usia 12 bulan karena berisiko menyebabkan botulisme.
- Variasikan sumber zat besi, baik dari pangan hewani maupun nabati, agar menu si Kecil lebih beragam.
Kebutuhan gizi anak terus berkembang. Bergabung sebagai member Bebeclub untuk mendapatkan insight nutrisi, tips makan seimbang, dan edukasi berbasis ahli.
Baca Juga: Prebiotik untuk Bayi: 5 Manfaat yang Wajib Tahu
Apakah Bayi Perlu Suplemen Zat Besi?
Tidak semua bayi butuh suplemen zat besi, tapi pemberian suplemen juga tidak selalu hanya ditujukan untuk bayi yang sudah mengalami kekurangan zat besi.
Kebutuhan suplementasi dapat berbeda pada setiap bayi tergantung usia, prematuritas, berat lahir, pola pemberian susu, asupan makanan, kondisi medis, dan faktor risiko lainnya.
IDAI menekankan bahwa bayi prematur, bayi dengan berat lahir rendah, serta bayi dengan asupan zat besi yang tidak memadai termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami kekurangan zat besi.
Maka dalam hal ini, suplemen zat besi bisa saja dianjurkan dokter bila si Kecil memiliki faktor risiko kekurangan zat besi.
Selain memperhatikan asupan nutrisi, penting juga memantau respons pencernaan bayi. Gunakan AI Poop Tracker dari Bebeclub untuk membantu mengenali kondisi pup si Kecil. Cukup dengan upload foto pup di atas popoknya dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik. Ibu juga bisa mencoba fitur AI Poop Tracker di Aplikasi Bebeclub Mobile untuk bantu memantau kesehatan pencernaan si Kecil dengan lebih mudah.
_IFFO_MICROMOMENT.png)
_GUM_AI POOP TRACKER.png)
_GUM_CARELINE.png)
