Penyebab-konstipasi-anak

Kenali 5 Penyebab Konstipasi pada Anak yang Perlu Diwaspadai

detail-fb detail-wa detail-twitter

Penyebab konstipasi pada anak dipengaruhi banyak hal. Tak hanya karena makanan saja, lho. Ibu perlu tahu ciri-ciri hingga penyebabnya agar si Kecil dapat terhindar dari konstipasi atau sembelit.

Gejala konstipasi  ditandai dengan berkurangnya frekuensi BAB, feses lebih keras, lebih besar dan nyeri saat hendak BAB, serta bila dilakukan perabaan pada area sekitar perut, akan terasa massa feses1. Kondisi ini membuat anak merasa tidak nyaman. Maka, wajar jika saat mengalami konstipasi, anak-anak jadi rewel, ya Bu. Berikut 5 penyebab konstipasi pada anak yang perlu diwaspadai oleh orang tua. Simak, yuk, Bu!

1. Kurang Makanan Berserat

Salah satu penyebab utama dari konstipasi pada anak adalah kurangnya konsumsi makanan berserat. Sebuah studi menemukan bahwa anak-anak usia TK yang mengonsumsi lebih banyak serat mengalami kasus konstipasi yang lebih sedikit dibanding anak-anak seusianya yang kurang makan makanan berserat2.

Makanan tinggi serat contohnya adalah buah, sayuran dan kacang-kacangan. Jangan langsung menyerah bila anak sulit sekali makan sayur. Coba alternatif lain, make over sayuran menjadi sajian yang menggugah selera anak, seperti Resep Green Smoothie Bowl yang terbuat dari pisang, mangga dan daun kale. Teksturnya yang creamy dan disajikan saat dingin membuat anak serasa menikmati ice cream. Wah, anak-anak pasti tidak keberatan menyantap semangkuk penuh green smoothies-nya!

2. Faktor Psikologis: Stres

Konstipasi yang disebabkan oleh faktor psikologis lebih banyak dialami pada anak usia sekolah. Tuntutan yang besar pada prestasi anak di sekolah, pelajaran yang sulit, ujian naik kelas, perundungan (bullying) di sekolah, hubungan anak dengan teman-teman di sekolah, hingga masalah orang tua yang diketahui oleh anak, dapat memicu stres pada anak. Ternyata, stres pada anak bisa menyebabkan konstipasi yang berkelanjutan. Faktanya, stres pada anak dapat memengaruhi fungsi usus sehingga menyebabkan konstipasi pada anak3.

Bagaimana stres bisa berujung konstipasi? Pencernaan dan otak saling berkaitan dan memengaruhi atau disebut dengan gut-brain axis. Pencernaan memengaruhi otak dalam hal mengatur perilaku, emosi dan logika. Sedangkan otak memengaruhi pencernaan saat menyerap nutrisi yang dikonsumsi tubuh4.

Ketika otak anak memiliki beban pikiran yang sulit diselesaikannya, maka hal itu akan memengaruhi kesehatan sistem pencernaannya. Bila Ibu melihat gejala stres terjadi pada si Kecil, segera ajak ia bicara. Jika perlu, komunikasikan dengan ahlinya agar kondisi stres si Kecil tidak berlarut.

3. Obesitas

Berlarian, melompat, bersepeda dan segudang permainan outdoor lainnya sering kali membuat Ibu kewalahan menjaga si Kecil. Tapi, tahu kah, Bu, ternyata, aktivitas fisik tersebut sangat berguna untuk mencegah si Kecil dari obesitas yang bisa berujung pada konstipasi?

Anak-anak dengan obesitas memiliki resiko lebih tinggi mengalami konstipasi dibandingkan dengan yang memiliki berat badan ideal. Hal ini dipengaruhi oleh pola makan yang buruk, aktivitas fisik yang kurang dan masalah kepatuhan5.

Sesekali ibu juga bisa ikut bersama si Kecil melakukan aktivitas outdoor bersama-sama. Pasti seru!

4. Kebiasaan Menahan BAB

Salah satu penyebab konstipasi pada anak yang sering dijumpai adalah akibat sering menahan BAB. Entah itu karena anak sedang asyik bermain, takut ke toilet sendirian, atau mengalami trauma toilet. Trauma toilet bisa disebabkan karena kondisi toilet yang kurang bersih, bau tak sedap, atau ada binatang kecil yang membuatnya takut. Akibat trauma tersebut, anak jadi menahan BAB sehingga tinjanya akan semakin keras dan semakin sulit dikeluarkan. Trauma ini harus diatasi agar anak merasa nyaman saat BAB6. Temani si Kecil di toilet dan pastikan kondisi toilet sudah bersih dan nyaman untuk membuatnya pelan-pelan bisa melupakan traumanya.

5. Kurang minum air putih

Meski konstipasi lebih banyak ditemukan pada anak usia sekolah, tetapi anak-anak di bawah usia 2 tahun juga kerap mengalami konstipasi. Penyebabnya adalah kurang minum air putih. Bila si Kecil sudah anteng bermain atau menonton film kesukaan, kita memang kerap lengah dan lupa memberikan air putih, ya, Bu.

Saat anak mengalami konstipasi yang disebabkan oleh kurang minum air putih, pastikan kebutuhan cairannya terpenuhi, ya, Bu. Berikan pula buah-buahan selain pisang dan apel7.

Nah, setelah mengetahui penyebab konstipasi pada anak, kini Ibu bisa lebih berjaga-jaga agar si Kecil tidak mengalami konstipasi. Untuk mendukung perut hebat si Kecil, Ibu juga bisa mengunjungi tummypedia untuk mengecek kondisi pup si Kecil dengan detektor pup, mengecek asupan serat dan nutrisinya dengan kalkulator nutrisi tummypedia. Hasilnya bisa diunduh dan dikonsultasikan kepada dokter. Praktis dan mudah, ya, Bu!

Tak hanya itu, Ibu juga bisa menambahkan asupan gizi untuk si Kecil dengan memberikan Bebelac Gold, satu-satunya susu tinggi serat yang mengandung FOS GOS untuk mendukung kesehatan pencernaannya. Bebelac Gold juga mengandung minyak ikan yang kaya omega-3, omega-6, 13 vitamin, dan 7 mineral. Semua kehebatan yang ada dalam Bebelac Gold ini akan melengkapi kebutuhan nutrisi harian si Kecil sekaligus mendukung saluran pencernaannya.Yuk, selalu dampingi si Kecil agar gangguan pencernaan pada anak tak lagi mengintai!


 

  1. Dr Muzal Kadim, SpA(K). (2015). Sembelit (Konstipasi) pada Anak. Retrieved from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/sembelit-konstipasi-pada-anak [Accessed on April 20, 2020]
  2. I Xinias and A Mavroudi. (2015). Constipation in Childhood. An update on evaluation and management. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4574579/ [Accessed on April 20, 2020]
  3. I Xinias and A Mavroudi. (2015). Constipation in Childhood. An update on evaluation and management. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4574579/ [Accessed on April 20, 2020]
  4. Marilia Carabotti, Annunziata Scirocco, Maria Antonietta Maselli, Carola Severi. (2015). The gut-brain axis: interactions between enteric microbiota, central and enteric nervous systems. Retrieved fromhttps://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4367209/ [Accessed on April 20, 2020]
  5. Nadeem A Afzal, Mark P Tighe, Mike A Thomson. (2011). Constipation in children. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3143086/ [Accessed on April 20, 2020]
  6. Dr Muzal Kadim, SpA(K). (2015). Sembelit (Konstipasi) pada Anak. Retrieved from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/sembelit-konstipasi-pada-anak [Accessed on April 20, 2020]
  7. Muzal Kadim. (2017). Gangguan Pencernaan pada Bayi. Retrieved from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/gangguan-pencernaan-pada-bayi-2 [Accessed on April 21, 2020