Ciri-Ciri Sembelit pada Anak Serta Cara Mengatasinya

Si Kecil belakangan suka menahan BAB atau menghindar ke kamar mandi? Ini bisa menjadi salah satu ciri-ciri sembelit pada anak, Bu. Ketik...

Ditulis oleh : Tim Penulis

4 min
09 Aug 2024
Ciri-Ciri Sembelit pada Anak dan Cara Mengatasinya - Bebeclub


Si Kecil belakangan suka menahan BAB atau menghindar ke kamar mandi? Ini bisa menjadi salah satu ciri-ciri sembelit pada anak, Bu. Ketika anak sembelit, kondisi ini pasti membuatnya merasa tidak nyaman. Maka itu, yuk kenali ciri-ciri, penyebab, dan cara mengatasinya pada anak!

Ciri-Ciri Sembelit pada Anak

Sebagian orang tua mungkin belum begitu mengetahui secara jelas seperti apa ciri-ciri sembelit pada anak. Padahal, penting, lho, Bu, untuk mengenali gejala sembelit pada anak sedini mungkin agar Ibu bisa segera menanganinya. 

Nah, berikut ini adalah beberapa gejala sembelit pada anak yang perlu Ibu ketahui:

  • Susah BAB, frekuensi buang air besar kurang dari 3 kali dalam seminggu.

  • Sering mengejan.

  • Merasa nyeri saat buang air besar.

  • Sakit perut tidak seperti biasanya.

  • Keluarnya kotoran (feses) di celana dalam tanpa ia sadari.

  • Muncul kotoran berukuran besar seperti gumpalan sosis atau terpisah-pisah seperti kacang.

  • Si Kecil menghindari saat ingin buang air besar. Ini ditandai dengan anak yang menyilangkan kakinya, memegangi perutnya, dan wajahnya tegang.

Kalau anak sudah bisa bicara, Ibu mungkin bisa langsung tahu apa yang ia alami karena anak sudah bisa langsung menyampaikan gejala yang dirasakannya. 

Lalu, bagaimana kalau anak belum terlalu lancar bicara? Ibu bisa perhatikan dari gerak-gerik yang ia tunjukkan. Misalnya, anak jadi sering menangis atau lebih rewel dari biasanya, tidak ingin bermain, tidak mau makan dan minum, meringkuk sambil menggosok bagian perut, atau ekspresi wajah kesakitan.

Ibu bisa juga cek langsung gejala sembelit pada anak dengan tools  Poop Tracker di Bebe Journey, ya! Hasilnya bisa Ibu ketahui langsung, lho, untuk dikonsultasikan ke dokter anak atau Tim Bebecare yang hadir 24 jam untuk menjawab pertanyaan Ibu.

Baca Juga: Tanda-Tanda Pencernaan Si Kecil Lancar dan Tidak Bermasalah

Penyebab Sembelit pada Anak

Konstipasi atau sembelit dapat terjadi ketika feses bergerak secara lambat pada saluran pencernaan anak, serta terasa kering dan keras saat mengeluarkannya. Adapun beberapa penyebab sembelit adalah sebagai berikut.

1. Sering Menahan BAB

Salah satu penyebab sembelit pada anak bisa jadi karena kebiasaan anak dalam menahan buang air besar. 

Anak-anak mungkin mengabaikan keinginan untuk BAB karena takut ke toilet atau sedang asyik bermain, sehingga mereka takut tertinggal dengan kesenangan saat bermain. Jadi, lebih memilih menahan BAB. 

Beberapa anak mungkin juga menahan BAB karena alasan tidak nyaman saat menggunakan toilet umum di luar rumah. 

Selain itu, trauma BAB juga bisa menjadi penyebab anak menahan buang air besar. Perasaan ini bisa muncul akibat pengalaman anak susah BAB karena feses terlalu keras dan besar sehingga menimbulkan rasa sakit saat mengeluarkannya. 

2. Perubahan Pola Makan

Tahukah, Ibu? Umumnya, anak-anak yang mengalami sembelit ketika mereka beralih dari makanan serba cair ke makanan padat. 

Perubahan bentuk makanan yang dikonsumsi anak dari bertekstur cair menjadi padat membuat sistem pencernaan anak harus beradaptasi. Alhasil, anak bisa saja akan mengalami susah makan dan menyebabkan sembelit. 

3. Pola Makan Kurang Serat

Di samping itu, bila Ibu tidak membiasakan anak untuk mengonsumsi buah dan sayuran dalam menu hariannya, maka berisiko membuatnya kekurangan serat dan menyebabkan sembelit pada anak. 

Perlu Ibu ketahui bahwa kebutuhan serat per hari anak berbeda-beda tiap usia. Untuk anak usia 1-3 tahun membutuhkan 16 gram serat setiap hari atau setara dengan 2 kilogram wortel rebus.[3]

Beberapa jenis makanan mengandung serat yang baik dikonsumsi anak-anak adalah apel, berry, pasta gandum, pisang, pir, oatmeal, roti gandum, ubi jalar, dan wortel.[4] 

4. Adanya Perubahan Kebiasaan

Penyebab sembelit pada anak berikutnya adalah adanya perubahan kebiasaan atau rutinitas kesehariannya. Misalnya, perubahan cuaca, sedang dalam perjalanan, atau anak mengalami perubahan mood. Kondisi-kondisi tersebut ternyata sangat berpengaruh pada fungsi kerja usus, Bu. 

5. Kondisi Medis Tertentu

Sembelit pada anak juga bisa disebabkan oleh pengaruh kondisi medis tertentu. Ini dapat terjadi ketika ia mengalami masalah saluran pencernaan dan sistem metabolismenya terganggu.

6. Toilet Training Belum Waktunya

Sejak dini, anak memang harus diajarkan untuk menggunakan toilet sendiri atau dikenal dengan istilah toilet training. Namun, Bu, jika dilakukan terlalu cepat bisa membuat si Kecil jadi merasa tidak nyaman dan menahan dirinya untuk buang air besar. Sebaiknya, fase ini dilakukan orang tua pada ketika si Kecil menginjak usia 18-24 bulan.[5]

7. Faktor Genetik atau Keturunan

Faktor genetik atau keturunan ternyata bisa menjadi penyebab sembelit pada anak. Jadi, bila anggota keluarga Ibu atau Ayah ada yang mengalami riwayat sembelit, kemungkinan besar kondisi ini akan menurun pada si Kecil.

Cara Mengatasi Sembelit pada Anak

Pertolongan pertama sembelit pada anak tentu saja harus dilakukan dengan tepat demi kenyamanan si Kecil. Jadi, apa yang harus Ibu lakukan saat anak sembelit? Ada beberapa cara mudah untuk mengatasi sembelit pada anak di rumah, Bu, yaitu:

1. Melatih Anak Rutin BAB

Melatih anak rutin BAB bisa menjadi salah satu cara mengatasi sembelit pada anak. Ibu bisa meminta si Kecil untuk duduk atau berjongkok di kloset selama 10 menit tiap dua kali sehari setiap harinya. Usahakan cara ini dilakukan setelah makan, ya. 

Jika perlu, sediakan bangku di bawah kloset agar anak bisa duduk dengan nyaman di toilet dan mengeluarkan fesesnya dengan mudah. 

Ibu dan Ayah juga bisa mengajarkan buah hati ke kamar mandi saat pertama kali ia merasakan keinginan untuk BAB. 

2. Berikan Makanan Kaya Serat

Ibu perlu menyediakan makanan kaya serat, seperti sayuran-sayuran dan buah-buahan, tiap harinya sebagai salah satu cara mengobati konstipasi pada anak.

Serat sendiri berfungsi untuk membuat usus terus bergerak dan mengeluarkan feses secara teratur, membantu membuat feses menjadi lebih lunak, dan mampu menghindari konstipasi.

Cobalah rutin sajikan makanan tinggi serat berupa sayuran hijau, seperti bayam dan brokoli, serta buah-buahan, seperti apel, jeruk, dan pepaya. Batasi anak untuk mengonsumsi makanan cepat saji karena bisa memperlambat kerja pencernaannya. 

Melansir dari Medical News Today, Ibu juga bisa memberikan makanan mengandung probiotik atau bakteri baik yang terbukti dapat menjaga pencernaan anak dan melunakkan feses. 

Ibu juga bisa bantu melengkapi kebutuhan serat harian si Kecil dengan Bebelac Gold 3 untuk anak usia 1-5 tahun yang diperkaya dengan FOS:GOS 1:9 tinggi serat. 

Bebelac Gold juga mengandung fish oil dengan Omega-3 dan Omega-6, dan 13 vitamin dan 7 mineral yang dapat membantu tumbuh kembang anak sehingga si Kecil bisa menjadi anak hebat.

Bebelac Gold dapat diminum 3 kali sehari untuk membantu memenuhi hampir 50% kebutuhan serat harian si Kecil.

3. Cukupi Asupan Cairan Tubuh

Mencukupi asupan cairan tubuh si Kecil bisa menjadi cara mengatasi konstipasi pada anak, Bu. Air putih dianggap baik bagi usus karena bisa membantu merangsang fungsi usus bergerak normal. Dengan demikian, kotoran dalam tubuh dapat lebih mudah dikeluarkan.

Umumnya, anak memerlukan sekitar 3-4 gelas air putih tiap hari. Maka itu, selalu ingatkan ia agar tetap minum air putih di sela-sela aktivitasnya, ya, Bu.

4. Ajak Anak Bergerak Aktif

Apakah anak kurang bergerak aktif akhir-akhir ini, Bu? Jika ia kurang bergerak aktif, makanan yang dikonsumsinya tidak bisa banyak bergerak di dalam sistem pencernaan. 

Sebagai solusinya, Ibu bisa mengajak anak bergerak aktif sehari-hari dengan melakukan aktivitas fisik. Tidak perlu yang ribet-ribet, kok, Ibu bisa mengajak anak bersepeda, jalan kaki, jogging, berlari, atau bermain bola di sekitar rumah.

Jika kegiatan fisik ini dilakukan secara rutin, kesehatan pencernaan anak dapat terjaga sehingga memudahkan ia untuk buang air besar dengan lancar. 

5. Berikan Pijatan Lembut

Memijat perut si Kecil secara lembut ternyata bisa jadi cara mengatasi sembelit pada anak. Alasannya, langkah ini dapat mengendurkan otot-otot yang menopang kandung kemih dan usus, sekaligus membantu meningkatkan aktivitas ususnya. 

Baca Juga: Ragam Nutrisi Penting untuk Kesehatan Pencernaan Anak

Kapan Anak Sembelit Harus Diperiksakan ke Dokter?

Sebenarnya, sembelit pada anak bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, kok, Bu. Sembelit umumnya berlangsung 3-7 hari pada anak usia sekolah. Namun, bila dibiarkan, kondisi tersebut bisa berlanjut pada sembelit kronis.

Konstipasi kronis bisa terjadi ketika frekuensi BAB kurang dari 3 kali seminggu dan telah berlangsung selama minimal 6 bulan. Bila sudah demikian, sembelit pada si Kecil perlu segera diobati supaya tidak menjalar ke dampak buruk lainnya.

Ibu bisa memeriksakan anak ke dokter apabila sembelit terjadi lebih dua minggu lamanya yang disertai dengan gejala-gejala sebagai berikut:

  • Demam.

  • Tidak mau makan.

  • BAB berdarah.

  • Perut membengkak.

  • Berat badan anak menurun.

  • Sakit saat buang air besar.

Selain pemeriksaan fisik, dokter mungkin akan memastikan ciri-ciri sembelit yang anak alami lewat beberapa tes dan prosedur untuk menemukan penyebabnya. Jadi, si Kecil bisa mendapatkan perawatan yang tepat.

Hal yang tak kalah penting, pastikan Ibu mendukung kesehatan pencernaannya setiap hari, karena pencernaan yang baik menentukan tumbuh kembang yang optimal.

Jangan lupa, Bu, gabung bersama Bebeclub untuk menggunakan berbagai macam fitur yang tersedia dan nikmati juga berbagai penawaran menarik dari Bebelac! Daftar di sini yuk, Bu.

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Ibu


Temukan Topik Lainnya

  1. Mulyani, N. S., Khazanah, W., & Febrianti, S. (2019). ASUPAN SERAT DAN AIR SEBAGAI FAKTOR RISIKO KONSTIPASI DI KOTA BANDA ACEH. Majalah Kesehatan Masyarakat Aceh (MaKMA), 2(1), 75-82. Retrieved from http://ojs.serambimekkah.ac.id/index.php/MaKMA/article/view/884/745
     
  2. Constipation in Children - Symptoms and causes. (2017, August 12). Retrieved from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation-in-children/symptoms-causes/syc-20354242
     
  3. Website Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. Retrieved from http://kesmas.kemkes.go.id/perpu/konten/permenkes/pmk-75-2013-456
     
  4. Campbell, L. (n.d.). (March 8, 2016). High-Fiber Foods for Kids: 10 Tasty Ideas. Retrieved from https://www.healthline.com/health/parenting/high-fiber-foods-for-kids#3
     
  5. Musfiroh, M., & Wisudaningtyas, B. L. (2014). PENYULUHAN TERHADAP SIKAP IBU DALAM MEMBERIKAN TOILET TRAINING PADA ANAK. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(2), 157-166. Retrieved from https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas/article/view/2844/2900
     
  6. Pentingnya Serat dan Kesehatan Saluran Cerna pada Anak – Bebelac file
     
  7. What to Do If Your Child Is Constipated. (2017, April 4). Retrieved from https://www.webmd.com/children/child-constipated#1
     
  8. Kids Health. https://kidshealth.org/en/kids/constipation.html. Diakses pada 8 September 2022.
     
  9. Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322382#7-foods-and-drinks-to-ease-constipation. Diakses pada 8 September 2022.
     
  10. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation-in-children/symptoms-causes/syc-20354242. Diakses pada 18 September 2022


Artikel Terkait