Kembali ke Ibu Perlu Tahu

Air Minum dan Jajanan, Ini 4 Penyebab Diare Pada Anak yang Ada di Sekitar Rumah

Si Kecil mengeluh sakit perut dan bolak-balik ke toilet untuk buang air besar (BAB)? Bisa jadi ia mengalami diare, Bu! Dan tahukah Ibu, ...

4 min
19 Jul 2022
Cari tahu apa saja penyebab diare pada anak.

Artikel ini belum diulas

Si Kecil mengeluh sakit perut dan bolak-balik ke toilet untuk buang air besar (BAB)? Bisa jadi ia mengalami diare, Bu! Dan tahukah Ibu, penyebab diare ternyata sebagian besar ada di sekitar kita, lho! Yuk, cari tahu apa saja penyebab diare pada anak agar bisa dicegah dan tak terulang lagi! Simak penjelasannya di bawah ini, ya!

Gejala Diare

Frekuensi si Kecil bolak-balik ke toilet dalam sehari bisa jadi petunjuk apakah ia mengalami diare atau tidak. Si Kecil bisa dibilang diare jika ia BAB 3 kali atau lebih dalam sehari, dengan konsistensi feses yang lebih encer daripada biasanya.1

Tapi, gejala diare tak hanya dilihat dari konsistensi feses yang cair, ya, Bu. Ada gejala lain yang juga menyertainya, yang beberapa di antaranya mungkin membuat si Kecil jadi rewel, di antaranya:2

  • Keinginan untuk segera ke kamar mandi untuk mengeluarkan feses,

  • Sakit perut yang disertai kembung,

  • Rasa nyeri di bagian rektum atau ujung usus besar,

  • Anak merasa mual dan ingin muntah,

  • Kehilangan selera makan,

  • Kehilangan berat badan,

  • Demam,

  • Dehidrasi.

Waspada dehidrasi yang ditandai dengan anak menjadi lemas.

Di antara gejala penyerta di atas, Ibu perlu memberi perhatian pada gejala dehidrasi. Apa saja gejala dehidrasi yang perlu Ibu tahu?3

  • Si Kecil jadi jarang buang air kecil,

  • Bibir dan mulut menjadi kering,

  • Tampak kehausan,

  • Lemas,

  • Mata tampak cekung,

  • Kekenyalan kulit melambat (kalau dicubit, butuh waktu lebih dari tiga detik untuk kembali ke posisi semula),

  • Lebih mudah mengantuk.

Ibu, ketika si Kecil sudah menunjukkan gejala dehidrasi seperti yang disebutkan di atas, jangan menunggu lama, segeralah bawa si Kecil ke dokter untuk mendapatkan pertolongan, ya!

Penyebab Diare pada Anak

Diare merupakan penyakit pencernaan yang bisa umumnya akan sembuh dengan sendirinya, Bu! Durasi diare bervariasi, mulai dari beberapa hari hingga dalam hitungan minggu.4 

Dilihat dari durasinya, diare dibagi menjadi dua jenis, yaitu diare akut dan kronis. Disebut diare akut jika berlangsung 5-7 hari, atau bisa juga lebih lama lagi, namun kurang dari 14 hari. Sedangkan diare yang berlangsung lebih lama, yaitu hingga lebih dari 14 hari, disebut sebagai diare kronis.4 

Nah, sekarang Ibu pasti penasaran, kan, apa penyebab diare pada anak? Sebagian besar diare pada anak disebabkan oleh infeksi virus, seperti rotavirus, norovirus, and sapovirus. Penyebab lainnya adalah infeksi bakteri seperti Escherichia coli, dan parasit.4 

Lalu, dari mana si Kecil mendapat infeksi virus, bakteri, dan parasit di atas? Ternyata tidak jauh-jauh, Bu, yaitu dari lingkungan di sekitar si Kecil, terutama rumah. Yuk, cari tahu lebih jauh kondisi apa saja yang menjadi pemicu utama diare pada anak, yang ternyata ada di sekitar kita. Ini dia, Bu!

1. Air Minum

Jika selama ini kita berpikir bahwa diare hanya dipicu oleh makanan, itu adalah anggapan yang salah, Bu! Diare juga bisa dipicu dari air yang diminum si Kecil sehari-hari, lho!

Air minum berkualitas rendah bisa mengandung bakteri Escherichia coli, yang jika terminum, terutama oleh anak-anak, dapat memicu diare. Bakteri ini bisa ditemukan pada air tanah yang lingkungannya tercemar.

Air minum bisa jadi salah satu penyebab diare pada anak.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk menghindari pencemaran dari air minum? Merebus air hingga mendidih bisa jadi salah satu cara untuk menghilangkan kontaminasi bakteri E. coli.6 Atau, jika Ibu memilih untuk mengonsumsi air minum dalam kemasan, pilih merek yang berkualitas, ya. 

2. Jajanan

Penyebab diare pada anak umumnya terjadi karena faktor makanan yang dikonsumsi, terutama makanan jajanan yang kebersihan dan keamanannya tidak terjamin.  Misalnya saja, menggunakan bahan makanan yang tidak dicuci bersih, dimasak tidak sampai matang, disajikan terbuka sehingga terkontaminasi oleh lalat, polusi, dan debu.5 

Pada makanan jajanan yang diolah dengan tidak memerhatikan kebersihan dan keamanan seperti di atas, bisa saja mengandung bakteri E. Coli yang dapat menyebabkan si Kecil terjangkit diare.5

Untuk menghindarinya, pastikan si Kecil untuk tidak jajan sembarangan, ya, Bu. jauh lebih baik bagi si Kecil untuk mengonsumsi makanan yang Ibu masak sendiri di rumah sehingga lebih terjaga kebersihannya. Dan jangan lupa, biasakan si Kecil untuk selalu mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun sebelum makan untuk meminimalkan risiko terkontaminasi bakteri ataupun virus yang berasal dari tangannya, ya, Bu.

3. Sampah

Setiap harinya, rumah kita menghasilkan sampah rumah tangga yang jumlahnya cukup besar. Sampah rumah tangga ini bisa berupa sisa makanan, popok bekas pakai, bekas kemasan, dan lainnya. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah-sampah rumah tangga ini bisa mengontaminasi lingkungan rumah yang menjadi tempat bermain si Kecil, lho, Bu.

Misalnya saja, pembuangan sampah yang terbuka berpotensi mengundang lalat datang dan berkembang biak, yang kemudian akan mencemari tak hanya makanan dan minuman, tapi juga peralatan masak dan peralatan makan.7 Dan ini bisa memicu si Kecil jadi diare, lho, Bu!

Jadi, pastikan sampah rumah tangga selalu dikelola dengan baik, ya, Bu. Pastikan tempat sampah selalu tertutup dan kering, agar tidak menimbulkan bau busuk yang mengundang lalat. 

4. Banjir

Apakah daerah tempat tinggal Ibu sering kebanjiran? Jika ya, maka Ibu harus berhati-hati, ya. Pasalnya, curah hujan yang tinggi dan banjir dapat meningkatkan kasus diare. Ya, saat banjir, bakteri patogen yang mungkin ada di sumber air bawah tanah, meluap ke permukaan dan menginfeksi semua yang tersentuh air banjir.8 

Tak hanya menginfeksi makanan dan minuman, tetapi juga berbagai perabotan dan peralatan yang digunakan sehari-hari, seperti piring, sendok, gelas, dan lainnya. Banjir juga dapat mengontaminasi air kran, sehingga mencuci perabotan dan peralatan makan dengan air kran juga tidak disarankan. 

Di saat seperti ini, yang harus dilakukan adalah menyediakan air bersih, yang tidak berasal dari area yang terkena banjir. Tak hanya untuk memasak dan minum, air bersih ini juga dibutuhkan untuk mencuci dan mandi. 

Nah, diare pada si Kecil dapat Ibu cegah dengan memastikan ia tak terpapar dengan keempat penyebab diare pada anak di atas. Selain itu, Ibu juga bisa membantu menjaga pencernaannya dengan Bebelac Gold sebagai satu-satunya susu tinggi serat yang mengandung kombinasi 4 jenis serat (FOS, GOS, Inulin, dan pati jagung), minyak ikan yang mengandung omega 3 dan omega 6, serta 13 vitamin dan 7 mineral.

Fructo-oligosaccharides (FOS), galacto-oligosaccharides (GOS), dan inulin merupakan serat tidak larut yang dapat merangsang pertumbuhan bakteri baik di usus. Sedangkan pati jagung lebih banyak mengandung karbohidrat sebagai sumber energi bagi si Kecil.8

Tak hanya baik untuk pencernaan si Kecil, Bebelac Gold juga mengandung omega 3 dan omega 6 yang dapat membantu daya pikir. Sementara kandungan vitamin dan mineral yang lengkap dapat membantu menjaga fisik, termasuk meningkatkan kekebalan tubuh si Kecil agar tak mudah sakit. 

Mulai sekarang, selain memastikan si Kecil terhindar dari empat penyebab diare pada anak di atas, jangan lupa sertakan juga tiga gelas Bebelac Gold setiap harinya, ya! Jika mau mencobanya terlebih dahulu untuk si Kecil, Ibu bisa mendapatkan free sample-nya di Bebeclub!   


Reference:

  1. Laura M Lamberti, et al. 2012. Systematic review of diarrhea duration and severity in children and adults in low- and middle-income countries. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3364857/ [Diakses 30 Juni 2022]
     
  2. Lukman Zulkifli Amin. 2015. Tatalaksana Diare Akut. Diambil dari: http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/article/viewFile/986/711 [Diakses 30 Juni 2022]
     
  3. WHO. 2013. Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines for the Management of Common Childhood Illnesses. 2nd edition. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK154434/ [Diakses 30 Juni 2022]
     
  4. Antonietta Giannattasio, et al. 2016. Management of children with prolonged diarrhea. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4765715/ [Diakses 30 Juni 2022]
     
  5. Michel Drancourt. 2017. Acute Diarrhea. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7148607/ [Diakses 30 Juni 2022]
     
  6. Alasdair Cohen dan Jr. John M. Colford. 2017. Effects of Boiling Drinking Water on Diarrhea and Pathogen-Specific Infections in Low- and Middle-Income Countries: A Systematic Review and Meta-Analysis. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5817760/ [Diakses 30 Juni 2022]
     
  7. Getachew Yismaw Workie, et al. 2019. Environmental factors affecting childhood diarrheal disease among under-five children in Jamma district, South Wello zone, Northeast Ethiopia. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6743097/ [Diakses 30 Juni 2022]
     
  8. Yvan Vandenplas, et al. 2014. Prebiotics in infant formula. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4615227/ [Diakses 11 Juli 2022]

 



Artikel Terkait