Intoleransi Laktosa pada Anak: Ciri & Cara Mengatasi
Intoleransi laktosa pada anak ditandai dengan kembung, diare, mual muntah, atau sakit perut habis minum susu atau produk olahannya. Ibu sebaiknya segera bawa anak ke dokter.
Intoleransi laktosa pada anak adalah kondisi ketika usus halus tidak mampu memecah laktosa (gula dalam susu) karena produksi enzim laktase yang tidak mencukupi. Tanda-tandanya antara lain diare, perut terasa kembung, sering buang gas, nyeri di area perut, hingga mual. Keluhan ini biasanya muncul setelah anak mengonsumsi susu atau olahannya. Penanganannya umumnya dilakukan dengan mengurangi asupan laktosa atau mengganti dengan susu formula khusus yang lebih mudah dicerna.
Apa Itu Intoleransi Laktosa?
Intoleransi laktosa adalah gangguan pencernaan yang terjadi karena tubuh anak kekurangan laktase, enzim yang bertugas untuk mencerna dan mengurai laktosa.
Laktosa adalah jenis gula alami yang terdapat dalam susu hewani dan produk olahannya, seperti keju, es krim, yogurt, dan mentega (butter).
Siapa saja, terlebih orang Asia, bisa mengalami intoleransi terhadap laktosa. Dalam banyak kasus, anak yang lahirnya prematur atau punya riwayat kondisi ini di keluarga juga jadi lebih rentan.
Penyebab Intoleransi Terhadap Laktosa pada Anak
Gangguan pencernaan ini bisa disebabkan oleh berbagai hal. Simak penjelasannya di bawah, yuk.
1. Kekurangan Enzim Laktase
Beberapa anak, misalnya anak yang lahir prematur, kekurangan enzim laktase dalam tubuhnya. Anak yang lahir cukup bulan bisa juga kekurangan enzim laktase sehingga tubuhnya tak bisa mencerna laktosa dengan baik.
2. Faktor Genetik (Intoleransi Primer)
Faktor genetik atau keturunan juga bisa menyebabkan anak sulit mencerna laktosa. Kondisi ini juga dikenal dengan istilah intoleransi primer.
Menurut sejumlah penelitian, secara genetik orang-orang Asia memang lebih berisiko mewarisi kondisi ini.
3. Gangguan Pencernaan (Intoleransi Sekunder)
Intoleransi sekunder bisa terjadi karena kerusakan pada jaringan yang melapisi usus. Pemicunya yang umum adalah infeksi pada saluran pencernaan anak.
Pada kasus lainnya, kerusakan ini juga bisa terjadi karena gangguan pencernaan yang belum terdiagnosis pada si Kecil seperti penyakit Celiac dan radang usus (IBD).
Baca Juga: 6 Tanda Pencernaan Anak Sehat dan Normal
4. Pengobatan Tertentu
Pengobatan kanker dengan radioterapi, terutama yang menargetkan area di sekitar lambung, bisa meningkatkan risiko ketidakmampuan mencerna laktosa pada anak.
Komplikasi pengobatan kemoterapi di area usus juga membuat si Kecil lebih rentan mengalami gangguan pencernaan yang satu ini.
Jenis Intoleransi Laktosa yang Perlu Diketahui
Karena penyebabnya berbeda-beda, intoleransi terhadap laktosa juga dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu:
1. Intoleransi Laktosa Primer
Ini adalah jenis intoleransi yang paling umum terhadap laktosa. Biasanya, gejala baru akan muncul belakangan, yaitu ketika anak mulai usia sekolah.
Berkurangnya produksi laktase dalam tubuh terjadi pelan-pelan seiring pertumbuhan anak. Jadi, wajar saja bila waktu kecil anak masih bisa minum susu sapi, tapi lama-lama muncul gejala.
2. Intoleransi Laktosa Sekunder
Jenis yang satu ini terjadi akibat adanya gangguan pada sistem pencernaan anak, misalnya karena infeksi bakteri maupun virus.
Jadi, Ibu harus perhatikan kalau sehabis sakit, si Kecil jadi susah minum susu atau menunjukkan gejala-gejala intoleransi.
3. Intoleransi Laktosa Kongenital
Beda dengan intoleransi primer yang umumnya baru muncul ketika anak sudah besar, intoleransi kongenital sudah dialami sejak bayi baru lahir.
Bila bayi baru lahir alami diare yang encer habis minum ASI, kemungkinan ia punya intoleransi terhadap laktosa jenis kongenital. Kabar baiknya, kondisi ini sangat jarang ditemui.
Baca Juga: 10 Jenis Susu dan Manfaatnya yang Harus Ibu Tahu
Ciri-Ciri Anak Intoleransi Terhadap Laktosa
Supaya bisa mengenali kondisi ini sejak awal, Ibu harus tahu apa saja gejala intoleransi terhadap laktosa pada anak berikut ini:
- Diare setelah minum susu
- Perut kembung atau begah
- Sakit perut
- Mual atau muntah
- Banyak gas (anak sering buang angin)
Seberapa parahnya gejala yang dialami sangat tergantung seberapa banyak laktosa yang dikonsumsi anak serta seberapa toleran anak terhadap laktosa.
Sedangkan tanda-tanda di atas bisa muncul sekitar 30 menit hingga 2 jam setelah anak mengonsumsi susu atau makanan yang mengandung laktosa.
Perbedaan Intoleransi Laktosa vs Alergi Susu Sapi
Sekilas, intoleransi terhadap laktosa sangat mirip dengan alergi susu sapi. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Simak perbedaannya di tabel berikut:
|
Aspek |
Intoleransi Laktosa |
Alergi Susu Sapi |
|
Penyebab |
Gangguan pencernaan |
Reaksi imun |
|
Gejala |
Diare, kembung, sakit perut |
Ruam atau biduran, sesak napas, gatal-gatal, bengkak |
|
Risiko |
Tidak berbahaya |
Bisa berat hingga mengancam nyawa |
|
Pencegahan |
Batasi konsumsi minuman dan makanan yang mengandung laktosa atau minum suplemen enzim laktase |
Hindari susu sapi dan segala produk olahannya |
Keduanya memang agak mirip, Bu. Selain itu, ada banyak penyebab lain anak diare, sakit perut, atau gatal-gatal setelah mengonsumsi susu atau makanan yang mengandung laktosa.
Bila Ibu masih ragu yang mana yang si Kecil alami, sebaiknya langsung periksakan ke dokter.
Baca Juga: Alternatif Susu untuk Anak yang Alergi Susu Sapi
Cara Mengetahui Anak Sensitif Terhadap Laktosa
Agar yakin apakah si Kecil betul-betul intoleran terhadap laktosa, Ibu bisa mencoba berbagai cara di bawah ini.
1. Observasi Gejala
Catat semua yang dikonsumsi si Kecil, termasuk bahan-bahan kandungannya. Perhatikan reaksi tubuh anak setelah mengonsumsi masing-masing makanan dan minuman.
Dari situ, Ibu bisa mengeliminasi mana saja bahan yang aman dan mana yang berpotensi membuat anak merasakan gejala-gejalanya.
2. Tes Toleransi Laktosa
Tes ini mengukur kadar gula dalam darah sebelum dan sesudah anak minum cairan yang mengandung laktosa dan biasanya dilakukan lewat beberapa kali pengambilan darah.
Kalau anak tak bisa mencerna laktosa, kadar gula darah biasanya tidak banyak naik setelah minum cairan tersebut.
3. Tes Hidrogen Napas
Dokter mungkin menyarankan si Kecil untuk tes hidrogen napas. Anak akan minum larutan laktosa, lalu napasnya diperiksa.
Kalau tubuh si Kecil tidak bisa mencerna laktosa, kadar gas hidrogen di napasnya akan jauh lebih tinggi.
Baca Juga: 12 Manfaat Susu Soya untuk Anak dan Rekomendasi Merknya
Cara Mengatasi Intoleransi Laktosa pada Anak
Berikut beberapa cara yang bisa Ibu lakukan untuk bantu si Kecil mengelola gejala dan kondisi intoleransi pada laktosa.
1. Ganti Susu Sapi ke Susu Soya
Berikan susu nabati sebagai pengganti susu sapi, tapi konsultasi dulu ke dokter, ya. Salah satu pilihannya yaitu susu soya.
Susu soya mengandung protein kedelai yang lebih murni dan cocok untuk anak yang tak bisa minum susu sapi, serta diperkaya berbagai vitamin serta mineral penting untuk tumbuh kembang si Kecil.
Bebelac Gold Soya adalah susu soya dengan prebiotik yang terbukti klinis, diperkaya kandungan serat FOS inulin dan formula 100% bebas laktosa. Nutrisi tepat untuk dukung pencernaan si Kecil yang tidak cocok susu sapi.
2. Berikan Asupan Tinggi Probiotik dan Prebiotik
Probiotik adalah bakteri baik, sedangkan prebiotik adalah serat yang jadi makanan bagi bakteri baik di usus. Keduanya dapat membantu menjaga pencernaan anak tetap sehat.
Dengan rutin konsumsi probiotik dan prebiotik, gejala akibat gangguan pencernaan ini bisa berkurang atau tidak semakin parah.
3. Hindari atau Batasi Laktosa
Si Kecil sebaiknya membatasi atau menghindari susu hewani dan olahannya. Bisa juga minum susu sedikit saja dan dikonsumsi bersama makanan agar lebih mudah dicerna.
Ibu bisa pilih produk yang rendah atau bebas laktosa, serta makanan yang tinggi kalsium selain susu. Contohnya sayuran hijau, ikan, susu nabati, buah, dan kacang-kacangan.
4. Perbanyak Vitamin D dan Kalsium
Vitamin D bantu tubuh menyerap kalsium, jadi pastikan kebutuhan harian si Kecil terpenuhi. Sumbernya bisa dari makanan seperti telur, ikan laut, atau suplemen vitamin D.
Ibu dan si Kecil juga bisa rutin berjemur di pagi hari untuk bantu pembentukan vitamin D. Kalsium juga dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perbaikan tulang.
Sumber kalsium dalam makanan seperti sayuran hijau, ikan salmon, sarden, dan tahu. Biasanya dokter akan meresepkan suplemen kalsium jika anak tidak mendapat asupan kalsium dari makanan.
Kapan Harus ke Dokter?
Kalau anak menunjukkan ciri-ciri ketidakmampuan mencerna laktosa, sebaiknya bawa ke dokter untuk diperiksakan. Selain itu, Ibu juga perlu bawa si Kecil ke dokter kalau:
- Diare berkepanjangan
- Berat badan turun
- Lemas
Bisa jadi ada kondisi lain yang menyebabkan keluhan-keluhan tersebut. Lebih baik dicek langsung ya, Bu.
Itu dia serba-serbi gangguan pencernaan akibat laktosa dalam susu. Ibu masih punya pertanyaan lain seputar si Kecil?
Daftar jadi member Bebeclub untuk baca ratusan artikel parenting dan pemenuhan gizi anak terlengkap dan terverifikasi ahli. Gratis!
Ibu juga bisa dapat akses eksklusif ke berbagai fitur monitor kesehatan pencernaan anak, hingga kesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk Bebelac.
_GUM_KATALOG (2).png)
_GUM_AI POOP TRACKER.png)
_GUM_CARELINE.png)
