anak muntah

Anak Muntah? Bisa Jadi Dia Alergi

detail-fb detail-wa detail-twitter

Melihat si Kecil muntah, Ibu pasti khawatir. Pertanyaan besar pun memenuhi benak Ibu, kira-kira apa penyebabnya? Jangan keburu panik Bu, coba raba kening si Kecil. Bila ia tidak demam, bisa jadi muntah yang dialaminya adalah gejala alergi makanan1.

Alergi makanan menjadi masalah kesehatan yang terus meningkat, khususnya di negara maju. Sekitar 2-8% anak mengalaminya, terutama pada bayi, dan anak hingga usia 3 tahun2. Alergi makanan lebih banyak dialami anak ketimbang orang dewasa, karena sistem kekebalan mereka belum sempurna. Zat pemicu alergi (alergen) yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh, oleh sistem imun disalahartikan sebagai zat berbahaya, dan muncullah respons berupa reaksi atau gejala alergi3. Jadi anak alergi bukan karena tubuhnya lemah, tapi karena sistem kekebalan mereka terlalu berlebihan atau hipersensitif4.

Yuk, Kenali Gejala Alergi

Seperti telah disebutkan, salah satu gejala alergi makanan adalah si Kecil gumoh atau muntah tanpa disertai demam. Selain muntah-muntah, biasanya ada beberapa gejala lain yang sering menyertai, yaitu:

  • Ruam atau gatal-gatal pada kulit
  • Hidung meler
  • Kesulitan bernafas atau asma
  • Kolik, perut kembung, dan sakit perut
  • Diare
  • Konstipasi

Meskipun begitu, gejalanya bisa berbeda-beda pada tiap anak ya, Bu4. Nah, untuk gejala alergi yang lebih detil bisa Ibu baca di sini.

Jika Ibu masih ragu, apakah keluhan yang dialami si Kecil disebabkan oleh alergi ataukah infeksi, ada tiga pertanyaan penting yang bisa Ibu jadikan rujukan untuk mengenali gejala alergi. Bila ketiga jawabannya adalah “tidak”, maka kemungkinan besar gejala yang dirasakan si Kecil disebabkan oleh alergi. Sebaliknya, bila ada jawaban “ya”, maka kemungkinan besar penyebabnya adalah infeksi4.

Berikut adalah tiga pertanyaannya:

Apakah disertai demam?

Demam adalah tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi. Alergi tidak disertai demam karena tubuh tidak mengalami infeksi. Gejala alergi muncul berasal dari pelepasan histamin, akibat reaksi sistem imun yang terlalu sensitif3.

Apakah keluhan pada siang hari lebih dominan daripada malam hari?

Umumnya, gejala alergi berkurang atau hilang di siang hari karena hormon kortisol dan adrenalin banyak diproduksi4. Sedangkan di malam hari, gejala seperti gatal-gatal dan perut tidak nyaman yang dipicu oleh alergi bisa mempengaruhi kualitas tidur yang mengarah pada insomnia pada anak maupun dewasa 6.

Jika anak pilek atau batuk, apakah ingus atau dahaknya kental dan berwarna?

Salah satu ciri khas alergi, ingus dan dahak bening dan encer. Ingus yang kental dan berwarna (kuning atau hijau) adalah tanda telah terjadi infeksi, Bu.

Mendiagnosis Alergi

Untuk melakukan diagnosis, dokter anak akan menanyakan kepada Ibu, sebelum si Kecil muntah dan gejala lainnya muncul, apakah ia mengonsumsi makanan tertentu, seperti susu, telur, ikan laut, seafood, atau kacang-kacangan? Salah satu bahan makanan yang paling sering menyebabkan alergi pada anak adalah susu sapi2.

Dokter juga akan menanyakan riwayat alergi dalam keluarga. Apakah Ayah, Ibu, saudara kandung si Kecil, atau kakek dan nenek punya alergi? Riwayat alergi di keluarga akan makin menguatkan kecurigaan alergi pada si Kecil4. Bila diperlukan, tes alergi bisa dilakukan. Misalnya dengan melakukan tes tusuk kulit untuk memastikan apa saja yang menjadi pemicu alergi (alergen) pada anak atau tes darah untuk melihat kadar antibodi IgE si Kecil3.

Apakah Alergi bisa Sembuh?

Tentu ini jadi pertanyaan besar bagi semua Ibu dan Ayah. Inginnya sih, tentunya si Kecil terbebas dari gejala alergi apa pun, termasuk alergi makanan. Sayangnya, alergi tidak bisa sembuh, Bu. Tapi jangan khawatir, meski tidak bisa sembuhkan,  Ibu dapat mengendalikan supaya gejala alergi tersebut tidak muncul. Prinsip utamanya adalah menghindari faktor pencetus atau pemicu.

Jika si Kecil masih mendapat ASI eksklusif, maka Ibu yang harus menghindari makanan tersebut. Jadi, sangat penting bagi Ibu untuk mengenali makanan apa saja yang jadi pencetus alergi pada si Kecil. Catatlah semuanya dalam buku khusus, beserta reaksi apa saja yang dialami sang anak, misalnya si Kecil muntah atau mengalami gatal-gatal. Catatan ini tak hanya berguna untuk menjawab pertanyaan dokter saat melakukan diagnosis, tapi juga akan membantu Ibu dalam mengatur pola makan si Kecil terhindar dari gejala alergi.

Kabar baiknya, seiring berjalannya waktu, sistem kekebalan tubuh anak yang semakin baik akan membuat alergi yang dideritanya perlahan hilang sendiri. Menurut penelitian, sekitar 80-90% gejala alergi akibat protein susu sapi dan telur, akan hilang di saat anak berusia 5 tahun. Namun memang, ada juga alergi makanan yang menetap hingga dewasa bahkan seumur hidup. Misalnya alergi kacang tanah, ikan, dan seafood2.

Bawalah si Kecil kontrol secara rutin ke dokter. Jangan lupa, bawa juga buku catatan alerginya ya, Bu, agar dokter lebih mudah untuk mengevaluasi kondisi si Kecil.   

Satu hal penting yang perlu Ibu ketahui, alergi harus dicegah jangan sampai terlalu sering terjadi ya Bu. Bila sering kambuh, alergi akan makin berat, dan makin sulit diatasi.  Anak yang alergi susu sapi harus benar-benar dihindarkan dari susu sapi dan produk olahannya. Untuk tetap memenuhi kebutuhan zat gizinya si Kecil, Ibu bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mencari alternatif susu selain susu sapi.

Ada beberapa alternatif yang dapat disesuaikan dengan kondisi si Kecil sesuai dengan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonedia (IDAI), yaitu formula hidrolisat ekstensif, formula asam amino, formula kedelai (soya), formula hidrolisat parsial7. Untuk formula pertumbuhan soya sendiri, dikenal mengandung isolat protein kedelai yang sama baiknya dengan susu sapi. Dimana protein adalah salah satu komponen esensial dalam proses tumbuh kembang anak. Nah, untuk formula pertumbuhan soya ini, Ibu bisa berikan pada si Kecil sebanyak tiga gelas sehari sehingga kebutuhan nutrisinya makin terlengkapi.

Nah, setelah memahami tentang beberapa gejala alergi, penyebab, dan cara pencegahannya, kini Ibu tak perlu panik lagi jika tiba-tiba si Kecil muntah tanpa demam ya!

 


Referensi

 

  1. (2019). Why is My Child Throwing Up With No Fever? Retrieved from: https://www.webmd.com/children/guide/child-throw-up-no-fever#1 [Diakses 18 Januari 2021]
  2. Nedeljko Radlovic, et al. (2016). Food Allergy in Children. Retrieved from: http://srpskiarhiv.rs/global/pdf/articles-2016/januar-februar/18.pdf [Diakses 19 Januari 2021]
  3. Raising Children. (2020). Allergies in Children and Teenagers. Retrieved from: https://raisingchildren.net.au/guides/a-z-health-reference/allergies-kids-teens [Diakses 19 Januari 2021]
  4. Anang Endaryanto. (2012). Apakah Anak Alergi bisa Sembuh. Retrieved from: https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/apakah-anak-alergi-bisa-sembuh [Diakses 19 Januari 2021]
  5. (2021). Food allergies in babies and young children. Retrieved from: https://www.nhs.uk/conditions/baby/weaning-and-feeding/food-allergies-in-babies-and-young-children/ [Diakses 19 Januari 2021]
  6. Sound Sleep Health. (2016). Insomnia and food allergies = food-allergy insomnia. Retrieved from: https://www.soundsleephealth.com/insomnia-and-food-allergies-food-allergy-insomnia/ [Diakses 19 Januari 2021]
  7. (2016). Susu Formula Alternatif untuk Alergi Susu Sapi. Retrieved from: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/susu-formula-alternatif-untuk-alergi-susu-sapi [Diakses 11 Februari 2021]
Tag