8 Makanan Penyebab Alergi pada Anak & Cara Mengetahuinya
Penyebab alergi makanan yang paling umum adalah telur, susu sapi, gandum, kerang, ikan, kacang, dan wijen. Gejalanya bisa ringan berupa biduran hingga sesak napas dan pingsan.
Alergi makanan pada anak terjadi saat sistem kekebalan tubuh mengidentifikasi protein tertentu dalam makanan sebagai zat berbahaya. Akibatnya, tubuh melepaskan berbagai zat kimia, termasuk histamin, yang memunculkan reaksi alergi. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya adalah riwayat alergi dalam keluarga, perkembangan sistem pencernaan yang belum sempurna, serta paparan terhadap makanan pemicu alergi sejak usia dini.
Apa Itu Alergi Makanan pada Anak?
Alergi makanan adalah reaksi sistem imun yang keliru menganggap suatu zat dalam makanan sebagai zat berbahaya bagi tubuh. Akibatnya, melepaskan senyawa histamin yang menimbulkan gejala alergi.
Umumnya, gejala alergi, meliputi mual dan muntah, gatal, pembengkakan di wajah atau bibir, sesak napas, diare, hingga reaksi alergi berat yang mengancam nyawa atau anafilaksis.
Makanan yang Paling Sering Menyebabkan Alergi pada Anak
Alergi makanan pada anak terjadi ketika sistem imun salah menganggap protein tertentu dalam makanan sebagai ancaman, sehingga tubuh memproduksi antibodi IgE dan melepaskan histamin. Pemicu yang umum antara lain susu sapi, telur, kacang tanah, kacang-kacangan pohon, seafood, gandum, kedelai, dan ikan. Risiko meningkat jika ada riwayat alergi dalam keluarga.
Berikut adalah pemicu utama alergi makanan pada anak:
1. Telur
Anak bisa alergi putih telur, kuning telur, atau keduanya. Namun, anak-anak lebih sering memiliki alergi pada putih telur.
Ciri ciri alergi telur pada anak adalah:
- Ruam kemerahan pada kulit yang terasa gatal dan tampak bengkak.
- Sesak napas yang disertai bunyi ngik.
- Batuk-batuk atau wheezing cough alias mengi atau napas berbunyi.
- Hidung tersumbat atau pilek dan bersin.
- Mata gatal, berair, kemerahan.
- Sakit atau kram perut.
- Mual dan muntah.
- Diare.
2. Susu Sapi
Alergi susu sapi pada anak terjadi saat sistem imun bereaksi terhadap protein dalam susu sapi, umumnya dialami anak di bawah usia 3 tahun. Alergi susu juga terjadi saat si Kecil konsumsi produk olahannya, seperti krim, keju, mentega, es krim, dan yoghurt.
Secara umum, reaksi alergi terhadap susu sapi yang biasanya muncul adalah:
- Mengi.
- Kesulitan bernapas.
- Batuk.
- Suara serak.
- Tenggorokan seperti terasa menyempit.
- Sakit perut.
- Muntah.
- Diare.
- Mata gatal, berair, atau bengkak.
- Gatal-gatal.
- Bintik merah.
- Pembengkakan pada beberapa bagian tubuh.
- Penurunan tekanan darah yang menyebabkan pusing.
Reaksi alergi bisa muncul cepat, umumnya 30 menit sampai 1 jam setelah si Kecil terpapar protein susu sapi. Tingkat keparahan reaksi alergi terhadap susu juga dapat bervariasi, Bu.
Di satu kejadian, reaksi yang dialami si Kecil ringan. Namun, pada paparan berikutnya, reaksi alergi si Kecil bisa lebih parah dan bahkan mengancam jiwa.
Baca Juga: 5 Cara Meningkatkan Daya Tubuh Anak yang Alergi
3. Kacang Tanah dan Tree Nuts
Kacang-kacangan juga merupakan penyebab alergi makanan yang umum pada anak. Jenis kacang-kacangan yang bisa menimbulkan alergi di antaranya kacang tanah, mete, kenari, hingga almon.
Berbeda dengan alergi makanan lainnya, alergi kacang umumnya tidak menunjukkan gejala bersin atau pilek. Anak yang mengalami alergi kacang seringkali menunjukkan gejala berikut:
- Sesak napas.
- Batuk-batuk.
- Mual dan muntah.
- Ruam kulit.
Baca Juga: Mengenal Manfaat Susu Soya untuk Kesehatan Anak
2. Ikan
Ikan termasuk penyebab umum alergi makanan, terutama ikan bersirip seperti kod, tuna, salmon, dan lele. Reaksi ini dipicu oleh protein parvalbumin yang dianggap berbahaya oleh sistem imun sehingga menimbulkan gejala alergi.
Gejala alergi ikan yang umum adalah:
- Mengi.
- Sesak napas.
- Batuk.
- Suara serak.
- Tenggorokan terasa menyempit.
- Sakit perut.
- Muntah.
- Diare.
- Mata gatal, berair, atau bengkak.
- Gatal-gatal.
- Bintik merah.
- Pembengkakan pada beberapa bagian tubuh.
- Penurunan tekanan darah yang menyebabkan pusing.
Gejala alergi dapat terjadi dalam 2–3 jam setelah anak makan makanan yang berbahan seafood.
Ikan yang tidak segar bisa menimbulkan gejala mirip alergi karena kadar histidin tinggi yang diubah bakteri menjadi histamin. Histamin inilah yang dapat memicu reaksi seperti alergi, sehingga konsumsi ikan tidak segar sering menyebabkan gejala serupa alergi makanan.
5. Kerang (Shellfish)
Tiram, kerang-kerangan, cumi, gurita, teripang, lobster, udang, dan kepiting juga menjadi penyebab alergi makan.
Ingat, ada anak yang hanya alergi terhadap ikan, tapi masih bisa makan kerang-kerangan atau sebaliknya. Ada pula beberapa anak yang memang alergi terhadap keduanya.
Gejalanya pun tidak jauh berbeda dengan alergi ikan.
6. Gandum
Gandum dikenal sebagai sumber karbohidrat kompleks yang baik menghasilkan energi yang bertahan lebih lama di dalam tubuh.
Namun, protein dalam gandum dapat memicu reaksi alergi. Beberapa jenis protein gandum pemicu alergi atau alergen, di antaranya albumin, globulin, gliadin, maupun gluten.
Ciri-ciri alergi gandum meliputi:
- Urtikaria atau biduran.
- Asma.
- Rhinitis alergi.
- Sakit perut.
- Muntah.
7. Wijen
Wijen merupakan salah satu penyebab alergi makanan yang paling sering dijumpai selama 2 dekade belakangan. Saat anak alergi terpapar wijen, protein pada wijen akan menempel pada antibodi.
Proses ini memicu sistem imun dan membuatnya menyalahartikan wijen sebagai zat berbahaya. Jadi, alergi wijen pun muncul.
Gejala alergi wijen, meliputi:
- Kulit bentol kemerahan dan gatal.
- Pembengkakan pada wajah, bibir, atau mata.
- Mulut terasa gatal atau perih.
- Tenggorokan terasa menyempit.
- Sakit perut, muntah, atau diare.
8. Makanan Olahan dengan Bahan Tersembunyi
Penyebab alergi makanan sering kali sulit terdeteksi karena sudah tercampur dengan bahan makanan lain. Bahkan, makanan tertentu bisa “tercemar” pencetus alergi karena diolah dengan alat masak yang sama.
Contohnya, susu, kacang, dan telur terkandung dalam biskuit, bolu, dan cokelat batang. Beberapa jenis kandungan makanan yang berasal dari susu sapi, yaitu:
- Whey.
- Kasein.
- Kaseinat.
- Laktosa.
- Padatan susu tanpa lemak.
- Laktoglobulin.
- Nougat.
- Dadih.
- Natrium kaseinat.
- Laktalbumin.
Baca Juga: Perbedaan Alergi Susu Sapi dengan Intoleransi Laktosa
Cara Mengetahui Anak Alergi Makanan
Bapak Ibu perlu membedakan mana yang gejala alergi dan bukan. Dengan begitu, si Kecil bisa mendapatkan penanganan alergi yang tepat dan menghindari penyebab alergi makanan.
Berikut cara mengetahui anak memiliki alergi makanan:
1. Amati Reaksi Setelah Anak Makan
Gejala alergi makanan yang paling umum, meliputi gatal-gatal dan biduran, mata berair serta gatal dan kemerahan, bibir gatal dan bengkak, serta sakit perut dan diare.
Gejala yang timbul bisa dalam hitungan beberapa menit setelah konsumsi makanan pencetus alergi. Namun, tanda-tanda tersebut bisa muncul dalam rentang hingga 72 jam setelah makan.
Dalam kasus alergi berat, muncul gejala yang bisa mengancam nyawa, yang disebut juga anafilaksis. Gejalanya meliputi:
- Kulit gatal dan bentol-bentol kemerahan.
- Lidah dan tenggorokan bengkak.
- Sesak napas dan mengi.
- Denyut jantung sangat cepat.
- Mual, muntah, diare.
- Tampak sangat lemas.
- Kulit dingin saat disentuh.
- Kulit dan bibir tampak pucat dan kebiruan.
- Pingsan.
- Anak tidak merespons apa-apa.
2. Catat Makanan dengan Food Diary
Untuk mengetahui jenis penyebab alergi makanan, catatlah makanan yang dikonsumsi setiap hari. Terlebih, jika si Kecil mengonsumsi makanan yang baru dicoba pertama kali.
Catatlah jenis makanan dan komposisi makanan yang dikonsumsi. Tuliskan waktu makan dan waktu saat gejala alergi mulai muncul. Catat juga tanda-tanda alergi yang terjadi pada tubuh si Kecil secara spesifik.
Mencatat makanan dalam food diary berguna untuk menemukan pencetus alergi, memperkirakan waktu timbulnya gejala alergi, dan mempermudah diagnosis bagi dokter.
3. Lakukan Tes Alergi di Dokter
Untuk menemukan penyebab alergi makanan, anak bisa tes skin prick, tes tempel, dan tes darah. Tes skin prick dilakukan dengan menusuk beberapa titik di lengan atau punggung, lalu ditetes beragam pencetus alergi.
Sementara, tes tempel dilakukan hanya dengan menempelkan bahan makanan yang sudah dihaluskan. Anak akan terdeteksi alergi saat tes tusuk dan tempel jika kulitnya membentol.
Tes darah dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk mengecek kadar antibodi yang muncul saat alergi. Tes alergi dilakukan saat:
- Gejala tidak reda setelah konsumsi obat alergi.
- Gejala alergi mengganggu kegiatan harian anak.
- Sesak napas yang mengganggu.
- Gejala muncul berkepanjangan.
- Anak infeksi sinus terus-menerus.
Nutrisi dan kesehatan pencernaan saling berkaitan dalam mendukung tumbuh kembang anak. Pantau kondisi pup si Kecil dengan AI Poop Tracker dari Bebeclub. Cukup dengan upload foto pup di atas popoknya dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik.
Ibu juga bisa lebih mudah memahami arti pup si Kecil dengan mencoba fitur AI Poop Tracker di Aplikasi Bebeclub Mobile. Melalui aplikasi ini, Ibu juga dapat mengumpulkan poin membership dan menukarkannya dengan berbagai hadiah menarik. Yuk, coba sekarang!
Cara Mengatasi Alergi Makanan pada Anak
Jika si Kecil menunjukkan reaksi alergi setelah makan makanan tertentu, ada beberapa cara mengatasi gejala yang timbul, yakni:
- Hindari makanan pemicu alergi: Ini merupakan satu-satunya cara untuk mencegah dan mengatasi gejala alergi yang semakin parah.
- Baca label komposisi makanan kemasan dengan teliti: Biasanya, produsen mencetak tebal keterangan bahan yang bersifat alergen.
- Cari pengganti makanan dengan nutrisi setara: Penting untuk mencegah anak kekurangan gizi.
- Konsultasikan ke dokter jika gejala berkepanjangan atau memburuk: Untuk menjalani serangkaian tes dan mengobati gejala.
Penyebab alergi makanan yang paling umum, yaitu telur, susu sapi, kacang-kacangan, ikan-ikanan, kerang dan makanan laut bercangkang lainnya, gandum, dan wijen.
Beberapa jenis makanan juga memiliki bahan tersembunyi yang memicu reaksi alergi. Perkenalkan makanan baru satu per satu agar bisa melacak pencetus alergi dengan mudah.
Bebelac Gold Soya adalah susu soya dengan prebiotik yang terbukti klinis, diperkaya kandungan serat FOS inulin dan formula 100% bebas laktosa. Nutrisi tepat untuk dukung pencernaan si Kecil yang tidak cocok susu sapi.
Daftar jadi member Bebeclub untuk baca ratusan artikel parenting dan pemenuhan gizi anak terlengkap dan terverifikasi ahli. Dengan jadi member, Ibu juga bisa dapatkan akses eksklusif ke berbagai fitur monitor kesehatan pencernaan anak, hingga kesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk Bebelac. Daftar gratis, sekarang!
_GUM_KATALOG (2).png)
_GUM_AI POOP TRACKER.png)
_GUM_CARELINE.png)
