Penyebab Bayi Muntah yang Perlu Diketahui
Ada berbagai penyebab bayi muntah, mulai dari yang umum seperti gumoh hingga kondisi medis serius. Mengetahui pertolongan pertamanya membantu Ibu lebih tenang.
Penyebab bayi muntah ada banyak, mulai dari kondisi normal karena sistem pencernaannya belum matang hingga kondisi medis yang membutuhkan penanganan dokter. Gumoh setelah menyusu, mabuk perjalanan, atau menelan udara terlalu banyak adalah penyebab yang tak perlu Ibu khawatirkan. Namun, infeksi saluran cerna hingga alergi makanan perlu diwaspadai.
Bayi Muntah, Apakah Normal?
Pada sekitar tiga bulan pertama kehidupannya, bayi mungkin akan sering muntah. Ini merupakan hal yang normal karena sistem pencernaannya masih berkembang.
Meski begitu, Ibu mesti mengetahui perbedaan antara gumoh dan muntah terlebih dahulu.
Bedanya Gumoh dan Muntah pada Bayi
|
Gumoh |
Muntah |
|
Isi lambung keluar sedikit |
Isi lambung keluar lebih banyak/kuat |
|
Biasanya mengalir tanpa tekanan |
Dapat keluar dengan tekanan atau dorongan kuat |
|
Sering terjadi setelah menyusu |
Dapat terjadi karena berbagai kondisi |
|
Bayi umumnya tetap terlihat nyaman |
Bayi bisa terlihat tidak nyaman |
Kapan Muntah pada Bayi Masih Bisa Dianggap Normal?
Muntah pada bayi tidak selalu membahayakan. Agar mudah mengenalinya, berikut beberapa indikator muntah pada bayi yang dianggap normal.
- Terjadi sesekali
- Terjadi setelah menyusu
- Bayi tetap aktif
- Masih mau menyusu
- Berat badan bertambah sesuai kurva pertumbuhan.
- Tidak ada tanda dehidrasi atau gejala bahaya lainnya
Baca Juga: Bayi Muntah dari Hidung: 5 Penyebab & Cara Atasi
Penyebab Bayi Muntah yang Umum
Penyebab muntah pada bayi umumnya dapat membaik sendiri tanpa pengobatan khusus. Apa yang menyebabkan bayi tiba-tiba muntah?
1. Gumoh setelah Menyusu
Gumoh setelah menyusu adalah penyebab bayi muntah yang cukup umum. Ini terjadi karena otot sfingter di antara kerongkongan dan lambung bayi yang masih lemah.
Padahal seharusnya, otot sfingter ini akan menutup agar susu tidak kembali naik karena fungsinya belum sempurna, susu dapat mengalir begitu saja dari mulut bayi.
Gumoh biasanya mengalir begitu saja dalam jumlah sedikit dan tanpa tekanan. Sementara itu, muntah terlihat dipaksakan, mengalir dalam jumlah yang cukup banyak, dan membuat bayi rewel atau menangis.
2. Minum Susu Terlalu Banyak atau Terlalu Cepat
Si Kecil yang belum dapat mengendalikan seberapa kuat isapannya mungkin saja menelan susu terlalu banyak sehingga dapat menjadi faktor penyebab bayi muntah.
Selain itu, menyusu terlalu cepat membuat bayi menelan banyak udara, apalagi jika ditambah alirannya yang deras.
Karena ukuran lambungnya masih sangat kecil, ini membuatnya lebih cepat penuh sehingga isinya mudah mengalir balik ke kerongkongan.
3. Banyak Menelan Udara saat Menyusu
Saat menyusu terlalu cepat, bayi akan menelan banyak udara. Udara yang terperangkap di dalam saluran pencernaan membuat si Kecil kembung.
Akibatnya, hal ini bisa membuat si Kecil rewel. Kondisi inilah yang akhirnya memicu gumoh atau muntah pada bayi.
4. Batuk atau Pilek
Hidung berair bisa membuat ingus mengalir ke belakang tenggorokan, sehingga bisa memicu batuk berlebihan.
Ini dapat memicu refleks muntah, karena si Kecil masih kesulitan mengontrol batuknya.
5. Mabuk Perjalanan
Bayi yang berusia kurang dari 24 bulan lebih rentan mengalami mabuk perjalanan ketika naik kendaraan seperti mobil, motor, atau bus. Terutama jika si Kecil baru saja makan.
Mabuk perjalanan menjadi penyebab bayi muntah karena ada perbedaan antara gerakan yang dirasakan oleh mata dan organ keseimbangan di telinga selama perjalanan.
Selain itu, bayi mungkin lebih rentan mabuk perjalanan karena perut kembung atau sembelit yang membuat perutnya tidak nyaman.
6. Setelah Mencoba Makanan Baru
Saat bayi memulai fase MPASI, perubahan tekstur juga bisa jadi penyebab ia sering muntah setelah makan.
Selain itu, si Kecil juga kerap mengalami gagging atau refleks muntah. Ini adalah cara tubuh menjaga agar tidak tersedak.
Tersedak terjadi ketika benda atau makanan tersangkut di saluran pernapasan. Biasanya ditandai dengan wajah yang berubah warna dan si Kecil tidak mengeluarkan suara.
Baca Juga: 5 Penyebab Bayi Muntah ASI Kental dan Penanganannya
Penyebab Bayi Muntah yang Perlu Diwaspadai
Selain beberapa kondisi di atas, sejumlah penyebab bayi sering muntah yang perlu Ibu waspadai, antara lain sebagai berikut.
1. Gastroenteritis atau Infeksi Saluran Cerna
Gastroenteritis, alias muntaber, adalah kondisi diare berat yang disebabkan oleh infeksi virus, seperti Rotavirus dan Norovirus.
Selain diare, gejalanya juga bisa menyebabkan bayi muntah, demam, dan rewel. Kombinasi gejala ini bisa menyebabkan dehidrasi. Jangan tunda untuk pergi ke dokter ya, Bu.
2. Alergi atau Reaksi terhadap Makanan
Penyebab bayi muntah lainnya adalah alergi makanan. Alergi muncul ketika sistem kekebalan tubuh bayi salah mengartikan protein dalam makanan atau minuman sebagai ancaman.
Kesalahpahaman ini membuat tubuh bayi melepaskan senyawa kimia yang menimbulkan reaksi alergi, seperti muntah, ruam kemerahan, batuk/mengi, hingga pembengkakan di sekitar wajah.
Jika si Kecil mengalami kesulitan bernapas, segera bawa ke rumah sakit terdekat karena ini gejala syok anafilaktik.
3. Keracunan atau Infeksi dari Makanan/Minuman
Jika ASIP (ASI yang sudah dipompa atau diperah) tidak disimpan dengan benar, bakteri dapat tumbuh dan berkembang sehingga mudah terkontaminasi.
Itu sebabnya ASIP yang terkontaminasi bisa jadi penyebab muntah pada bayi. Pasalnya, bakteri dapat menghasilkan senyawa yang mengiritasi pencernaan bayi.
4. Stenosis Pilorus
Stenosis pilorus bawaan adalah kelainan bawaan lahir yang membuat jalur dari lambung menuju ke usus menebal dan menyempit.
Penyempitan saluran lambung ke usus membuat makanan sulit bergerak melalui saluran tersebut, sehingga sering kali menjadi penyebab bayi muntah menyembur.
Kondisi ini umumnya terjadi pada bayi yang lahir prematur. Meski banyak menyusu, bayi terus merasa lapar karena muntah menyembur yang berulang.
5. Intususepsi
Intususepsi merupakan kelainan usus yang jarang sekali terjadi, tapi bisa dialami oleh bayi, terutama yang berusia lebih dari tiga bulan.
Salah satu tanda utamanya yaitu nyeri perut episodik ditandai dengan si Kecil menangis keras secara tiba-tiba serta menarik lututnya ke arah dada saat menangis.
Hal tersebut terjadi saat bagian usus yang rusak akibat virus “masuk” ke dalam bagian usus lain.
Selain muntah, gejala lain akibat intususepsi meliputi bayi menangis hebat, lemas, serta adanya darah atau lendir pada feses.
6. Infeksi Berat seperti Meningitis
Meningitis juga jadi salah satu penyebab bayi muntah. Meningitis merupakan peradangan yang terjadi pada selaput otak karena infeksi virus ataupun bakteri.
Salah satu gejalanya adalah muntah-muntah. Meski cukup jarang terjadi, Ibu perlu segera memeriksakan si Kecil ke dokter karena ini adalah kondisi darurat
7. Kondisi Medis Lainnya
Dalam kasus yang jarang, radang usus buntu juga dapat menyebabkan bayi muntah menyembur. Biasanya, si Kecil juga akan rewel terus karena perutnya terasa sakit.
Selain itu, keracunan makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi bakteri seperti Salmonella dan E. coli bisa jadi penyebab bayi muntah.
Jika si Kecil mengalami muntah menyembur, sebaiknya jangan tunda ke rumah sakit ya, Bu.
Selain memantau kesehatan bayi, penting juga memperhatikan kondisi pencernaannya sehari-hari. Gunakan AI Poop Tracker dari Bebeclub untuk membantu mengenali kondisi pup si Kecil dengan lebih mudah. Cukup dengan upload foto pup di atas popoknya dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik. Ibu juga bisa mencoba fitur AI Poop Tracker di Aplikasi Bebeclub Mobile untuk bantu memantau kesehatan pencernaan si Kecil dengan lebih mudah.
Arti Warna Muntahan Bayi, Mana yang Normal dan Berbahaya?
|
Warna/Bentuk Muntahan |
Kemungkinan |
Perlu Waspada? |
|
Putih seperti susu |
Sisa ASI/ susu |
Biasanya tidak jika bayi baik-baik saja |
|
Kekuningan |
Bisa berasal dari isi lambung, tetap perlu melihat konteks |
Perhatikan jika berulang |
|
Hijau |
Bisa mengandung cairan empedu |
Segera diperiksa |
|
Merah/ berdarah |
Bisa menunjukkan perdarahan saluran cerna atas |
Segera diperiksa |
|
Cokelat seperti kopi |
Dapat mengindikasikan darah yang telah berubah |
Perlu segera diperiksa |
Apa yang Harus Dilakukan saat Bayi Muntah?
Mengatasi muntah pada bayi bisa dilakukan dengan beberapa langkah praktis. Berikut beberapa di antaranya.
1. Tetap Berikan ASI/Susu Sesuai Toleransi
Untuk mengatasi penyebab bayi muntah, jangan beri ASI langsung banyak dalam sekali menyusu. Berikan dalam jumlah sedikit tetapi lebih sering.
Setelah itu, amati apakah si Kecil masih memuntahkannya atau sudah lebih stabil. Jika sudah lebih stabil, Ibu bisa meningkatkan asupannya untuk si Kecil.
2. Sendawakan Bayi setelah Menyusu
Setelah menyusu, pastikan Ibu menyendawakan si Kecil dulu sebelum buru-buru membaringkannya.
Membuat bayi bersendawa setelah menyusui dapat bantu mengurangi gas di perut yang menyebabkan ASI kembali mengalir keluar melalui mulut.
Dudukkan bayi di pangkuan, gunakan satu tangan untuk menopang badan bayi supaya tegak, kemudian tepuk punggungnya perlahan untuk menyendawakannya.
3. Hindari Memberi Asupan dalam Jumlah Banyak Sekaligus
Usahakan untuk memberikan susu dalam jumlah sedikit tetapi sering. Cara ini membantu si Kecil agar tidak mudah muntah karena sistem pencernaannya masih berkembang.
4. Pantau Tanda Dehidrasi
Jika terlambat ditangani, dehidrasi bisa mengakibatkan masalah kesehatan serius. Untuk itu, perhatikan tanda dehidrasi pada bayi sebagai berikut.
- Frekuensi buang air kecil berkurang
- Mulut kering
- Tidak keluar air mata saat menangis
- Sangat lemas atau mengantuk
- Sulit dibangunkan
- Ubun-ubun terlihat cekung
5. Jangan Memberikan Obat Muntah atau Obat Lain tanpa Arahan Dokter
Hindari memberikan obat tanpa berkonsultasi ke dokter. Ini karena penyebab bayi muntah dapat sangat beragam.
Oleh karenanya, obat hanya dapat diberikan jika penyebabnya sudah diketahui secara pasti. Memberikan obat sembarangan justru bisa memperparah kondisi si Kecil.
Cara Mencegah Bayi Sering Muntah
Untuk membantu mengurangi risiko bayi muntah, Ibu dapat melakukan beberapa kebiasaan sederhana di bawah ini.
- Pastikan posisi menyusu nyaman. Tujuannya agar bayi lebih mudah menelan dan tidak banyak menelan udara.
- Hindari memberikan susu terlalu banyak sekaligus. Sesuaikan jumlah dan frekuensi menyusu dengan kebutuhan serta usia bayi.
- Sendawakan bayi setelah menyusu. Bantu bayi bersendawa untuk mengeluarkan udara yang tertelan selama menyusu.
- Hindari mengguncang atau mengajak bayi bermain aktif setelah menyusu agar susu turun dengan baik sebelum bayi banyak bergerak.
- Jaga kebersihan saat menyiapkan ASI, susu, dan MPASI untuk mengurangi risiko infeksi saluran cerna.
- Kenali tanda alergi saat bayi mulai MPASI. Perhatikan muntah muncul setelah makan makanan tertentu, terutama jika disertai ruam, bengkak, batuk, atau sesak.
Baca Juga: Bayi Muntah Kuning: 10 Penyebab + Cara Mengatasi
Kapan Bayi Muntah Harus Dibawa ke Dokter?
Jangan tunda ke dokter jika si Kecil mengalami satu atau lebih gejala berikut.
- Muntah hijau atau berdarah
- Muntah menyembur berulang
- Sulit bernapas
- Sangat lemas atau sulit dibangunkan
- Tidak mampu minum
- Menunjukkan tanda dehidrasi
- Perut membuncit atau tampak sangat nyeri
- Kejang
- Demam, terutama pada bayi usia sangat muda
- Muntah terus-menerus atau kondisinya semakin memburuk
Saat si Kecil muntah, tetap tenang dan pantau gejala lainnya. Jika Ibu ragu, periksakan ke dokter untuk tahu penyebab bayi muntah.
Dengan informasi kesehatan yang tepat, Ibu bisa lebih tenang menghadapi berbagai kondisi si Kecil. Daftar sebagai member Bebeclub sekarang, yuk.

_IFFO_MICROMOMENT.png)
_GUM_CARELINE.png)
