Penyebab Bayi Muntah Kuning, Bahaya, dan Cara Mengatasinya
Bayi muntah kuning bisa normal, tapi waspada jika sering, banyak, demam, perut buncit, lemas, atau kulit/mata kuning. Segera konsultasi ke dokter karena ini dapat menandakan sumbatan usus.
Ditulis oleh :
Tim Penulis
Ditinjau oleh :
Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K)
Diterbitkan: 04 Oktober 2024
Diperbarui: 14 April 2026
Bayi muntah kuning berarti ada cairan empedu yang ikut keluar, umumnya karena perut kosong atau gangguan pencernaan seperti refluks, infeksi, atau alergi. Biasanya masih bisa normal, tetapi harus diwaspadai jika muntah sering, banyak, atau disertai demam, perut buncit, lemas, atau kulit/mata menguning.
Apa Itu Muntah Kuning?
Muntah kuning pada bayi berarti cairannya berasal dari empedu, cairan yang diproduksi hati untuk mencerna lemak.
Cairan empedu bisa keluar saat muntah akibat perut kosong atau refluks empedu (cairan mengalir balik ke atas karena katup lambung-usus tidak bekerja dengan baik).
Bahayakah Bayi Muntah Berwarna Kuning?
Muntah kuning pada bayi tidak selalu berbahaya dan bisa terjadi karena perut kosong terlalu lama atau gumoh. Terkadang, penyebabnya adalah infeksi virus.
Namun, waspada jika bayi muntah kuning sering, banyak, disertai demam, cairannya berubah jadi hijau, perut buncit terasa keras, lemas dan sangat, mata/kulit berubah kuning, nafsu makan menurun, ada tanda dehidrasi, dan susah BAB.
Kondisi ini dapat mengarah pada penyumbatan usus atau terpelintir. Kalau ada penyumbatan atau usus terpelintir, darah tidak bisa sampai ke organ, yang bisa merusak organ bahkan menyebabkan kematian jaringan.
Penyumbatan usus termasuk kondisi darurat medis dan mengancam nyawa.
Penyebab Bayi Muntah Kuning dari yang Umum hingga Berbahaya
Bayi muntah kuning bisa dikatakan normal atau berbahaya, tergantung dari penyebab dan ada tidaknya gejala penyerta. Berikut beberapa penyebab muntah kuning pada bayi yang harus Ibu ketahui:
1. Refluks Gastroesofagus
Refluks gastroesofagus adalah reflek naiknya isi lambung ke kerongkongan yang keluar lewat mulut menjadi gumoh atau muntah. Ini adalah penyebab bayi muntah kuning yang paling sering terjadi.
Refluks empedu dapat disebabkan oleh:
- Posisi bayi saat menyusu kurang tepat.
- Bayi minum terlalu cepat/kebanyakan.
- Bayi kekenyangan lalu langsung dibaringkan setelah menyusu (gumoh).
- Bedong terlalu kencang sehingga menekan perut bayi.
- Saat membersihkan lidah, jari Ibu masuk terlalu dalam dan membuat bayi muntah.
Cairan gumoh bisa berwarna kuning karena perut bayi kosong sehingga yang keluar hanya empedu, atau ASI sudah bercampur dengan cairan asam lambung, sekresi pankreas, dan cairan empedu.
Baca Juga: 5 Penyebab Bayi Muntah ASI Kental dan Penanganannya
2. Diare
Muntah kuning dan berlendir yang sering terjadi pada bayi baru lahir bisa menjadi tanda gangguan pencernaan, seperti diare.
Sebagian besar kasus diare pada bayi disebabkan oleh Rotavirus, dan selebihnya disebabkan bakteri dan parasit.
Kuman penyebab diare dapat masuk melalui makanan atau minuman terkontaminasi, termasuk susu yang disiapkan, diolah, atau disimpan dengan cara yang tidak tepat.
Infeksi dapat memicu muntah dan diare (muntaber) yang berisiko menyebabkan dehidrasi berat. Segera periksakan bayi ke dokter jika tampak lesu, jarang pipis, atau menangis tanpa air mata.
3. Keracunan Makanan
Muntah bayi berwarna kuning bisa terjadi juga karena keracunan makanan. Bayi mengalami muntah sebagai respon tubuh untuk mengeluarkan zat beracun dari lambung.
Muntah yang disebabkan keracunan makanan dapat terjadi 1-8 jam setelah mengonsumsi makanan pemicu keracunan. Gejala lainnya adalah perut kembung, diare, dan tubuh lemas.
4. Volvulus
Volvulus adalah kondisi usus yang terpelintir dan menyebabkan sumbatan.
Ciri-cirinya adalah bayi muntah kuning atau kehijauan disertai perut kembung, sembelit, dan BAB berdarah. yang membuat bayi tampak kesakitan.
Bayi yang ususnya tersumbat atau terpuntir bisa saja terlihat sehat, padahal sebenarnya ususnya sedang mengalami kerusakan. Ini adalah kondisi medis darurat.
Baca Juga: 8 Penyebab Bayi Sering Muntah dan Cara Mengatasinya
5. Intususepsi
Intususepsi adalah kondisi ketika bagian usus masuk atau “melipat” ke dalam bagian usus lain yang ada di sebelahnya.
Gejala umumnya adalah mual muntah, BAB merah jeli (karena bercampur darah dan lendir), dan terasa ada benjolan panjang seperti sosis di perut bagian kanan atas.
Bayi bisa menangis dan rewel secara tiba-tiba lalu tenang lagi, karena sakit perutnya datang dan pergi. Lambat laun, bayi menjadi lesu karena rasa sakitnya semakin parah.
6. Atresia Usus
Atresia usus pada bayi adalah kelainan sejak lahir di mana bagian usus tidak terbentuk dengan baik atau tertutup, sehingga makanan dan cairan tidak bisa lewat seperti normal dari lambung ke usus.
Tanda-tandanya antara lain muntah berwarna hijau setelah lahir, perut tampak bengkak, bayi sulit menyusu, dan tidak BAB setelah mengeluarkan mekonium pertama.
Kondisi ini paling sering terjadi di usus dua belas jari (duodenum). Atresia duodenum harus ditangani segera, biasanya lewat operasi untuk memperbaiki sambungan usus.
7. Penyakit Hirschsprung (HD)
Penyakit Hirschsprung adalah kelainan bawaan pada usus besar, di mana bagian tertentu dari usus tidak memiliki sel saraf yang membantu menggerakkan kotoran.
Karena itu, orang tua perlu waspada terhadap tanda-tanda penyakit Hirschprung. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan:
- Bayi tidak mengeluarkan mekonium (tinja pertama) lebih dari 48 jam setelah lahir
- Sering sembelit
- Perut tampak kembung
- Mual atau muntah
- Kadang juga diare
Jika muncul gejala seperti ini, sebaiknya segera periksakan ke dokter.
8. Stenosis Pilorus
Stenosis pilorus (atau IHPS) adalah kondisi ketika otot di bagian keluarnya lambung menebal, sehingga makanan sulit lewat dan lambung tersumbat.
Biasanya terjadi pada bayi usia 3–6 minggu. Tanda utamanya adalah muntah kuat seperti “menyembur”, yang bisa membuat bayi cepat kekurangan cairan dan berisiko syok.
9. Fistula Trakeoesofagus (TEFs)
Bayi muntah kuning bisa disebabkan oleh Fistula trakeoesofagus (TEFs), yakni kondisi di mana hubungan abnormal antara esofagus dan trakea, yang mengarah ke paru-paru.
Bayi dengan fistula trakeoesofagus biasanya mengalami kesulitan makan, penolakan makan secara oral, GERD, tersedak, dan gangguan pernapasan akibat aspirasi, sesak, kulit menjadi biru, bahkan kematian.
Berikut adalah ringkasan penyebab muntah kuning pada bayi dari yang umum sampai berbahaya:
|
Kategori |
Penyebab |
Penjelasan |
Bahaya? |
|
Ringan |
Refluks / gumoh |
ASI bercampur cairan lambung |
Tidak berbahaya bila bayi tetap aktif |
|
Ringan |
Minum terlalu cepat / kebanyakan |
ASI kembali naik karena aliran terlalu cepat |
Aman, cukup atur posisi dan ritme menyusu |
|
Ringan – sementara |
MPASI terlalu dini |
Usus belum siap sehingga muntah kuning |
Harus dihentikan dulu |
|
Sedang – serius |
Infeksi saluran cerna |
Disebabkan rotavirus atau bakteri |
Bisa menyebabkan dehidrasi |
|
Serius |
Keracunan makanan |
Muntah kuning disertai diare |
Perlu pemeriksaan medis |
|
Gawat Darurat |
Volvulus |
Usus terpuntir |
Risiko kematian tinggi jika terlambat ditangani |
|
Gawat Darurat |
Intususepsi |
Usus masuk ke bagian usus lain |
Butuh tindakan segera |
|
Gawat Darurat |
Atresia usus |
Kelainan bawaan yang menyebabkan sumbatan |
Muntah empedu + tidak BAB |
|
Gawat Darurat |
Stenosis pilorus |
Muntah menyembur kuat |
Cepat menyebabkan dehidrasi |
|
Gawat Darurat |
Fistula trakeoesofagus |
ASI masuk ke saluran napas |
Bayi bisa sesak dan membiru |
Jika Ibu butuh saran atau punya pertanyaan seputar kesehatan pencernaan anak, yuk langsung hubungi BebeCare.
Tim careline kami terdiri dari para ahli berlatar belakang keperawatan dan pendidikan gizi yang siap menjadi teman berbagi dan sumber informasi terpercaya untuk Ibu, 24 jam gratis tanpa perlu buat janji.
Baca Juga: 5 Penyebab Bayi Muntah dari Hidung dan Cara Mengatasinya
Cara Mengatasi Muntah Kuning pada Bayi
Muntah kuning pada bayi bisa menandakan masalah pada saluran cerna. Kondisi ini perlu ditangani dengan langkah yang tepat dan pemantauan ketat.
Penanganan awal muntah kuning pada bayi yang bisa Ibu lakukan di antaranya:
1. Pastikan Bayi Tetap Mendapatkan Cairan
Pemberian cairan sangat penting untuk mencegah dehidrasi. Berikan ASI lebih sering dengan jumlah sedikit agar lebih mudah diterima perut bayi.
Menurut AAP, pemberian ASI lebih sering membantu menjaga keseimbangan cairan saat bayi muntah.
2. Selalu Sendawakan Setelah Menyusu
Sendawa membantu melepaskan udara berlebih yang masuk saat menyusu. Udara yang terperangkap dapat memicu muntah sehingga bayi perlu disendawakan setiap selesai minum.
KidsHealth menyebutkan bahwa posisi sendawa yang tepat dapat mengurangi risiko gumoh dan muntah.
3. Posisikan Bayi Tegak Setelah Minum ASI
Menjaga posisi bayi tetap tegak 20–30 menit bisa membantu makanan turun dengan baik. Posisi ini mengurangi refluks yang dapat memicu muntah.
Cara ini juga direkomendasikan oleh Mayo Clinic untuk bayi dengan gejala refluks ringan.
4. Hindari Langsung Menidurkan bayi
Langsung berbaring setelah menyusu dapat menyebabkan isi lambung naik kembali ke kerongkongan. Tahan waktu sebelum menidurkan bayi untuk memberi kesempatan makanan dicerna.
Ini sejalan dengan panduan NHS bahwa bayi sebaiknya tidak ditidurkan segera setelah makan.
5. Hindari Menekan Perut Bayi
Tekanan pada perut, misalnya saat menggendong terlalu ketat, bisa memicu muntah lebih banyak. Longgarkan pakaian dan pastikan tidak ada tekanan eksternal pada area perut.
Penelitian pada BMC Pediatrics mencatat bahwa tekanan abdomen dapat memicu reflux episode pada bayi.
6. Jangan Berikan Makanan Selain ASI Tanpa Saran Dokter
Sistem cerna bayi masih sangat sensitif. Memberikan makanan padat atau cairan selain ASI/Formula dapat memperparah muntah.
IDAI menegaskan bahwa bayi < 6 bulan hanya membutuhkan ASI atau formula sesuai anjuran dokter.
Kapan Harus ke Dokter
Kondisi muntah kuning bisa mengarah ke masalah serius pada saluran cerna.
AAP merekomendasikan orang tua segera ke IGD terdekat bila bayi tampak sangat lemas, tidak aktif, sulit dibangunkan, kurang responsif terhadap lingkungan, dan tidak mau minum.
Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah berikut:
- Muntah berwarna hijau (tanda obstruksi usus)
- Muntah menyembur
- Bayi tidak mau minum sama sekali
- Bayi tampak lesu atau kebiruan
- Perut membesar atau keras, tampak sangat kembung
- Bayi newborn tidak BAB mekonium > 48 jam
- Muntah terus-menerus selama > 12 jam
- Muntah disertai darah
- Rewel dan menangis terus
- Ubun-ubun menonjol
- Kejang
- Laju pernapasan cepat
- Demam
- BAB bercampur darah
- Bayi tampak sangat lemah
- Tidak BAB
Jika bayi muntah kuning disertai dengan tanda dan gejala serius, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
_IFFO_MICROMOMENT.png)
_GUM_CARELINE.png)
