Bayi Susah BAB: Penyebab, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasinya

Bayi bisa jarang BAB tanpa mengalami sembelit. Sembelit lebih ditandai feses yang keras, kering, sulit dikeluarkan, atau terasa menyakitkan.

Profile Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K)
bayi susah BAB-bebeclub


Untuk bantu mengatasi bayi susah BAB di rumah, coba pijat lembut perut dengan gerakan memutar searah jarum jam atau gerakkan kedua kakinya seperti mengayuh sepeda. Pastikan kebutuhan ASI tercukupi. Saat mulai MPASI, berikan makanan berserat secara bertahap sesuai kemampuan makan si Kecil. Jika feses sangat keras atau berdarah, bayi tampak kesakitan, muntah berulang, demam, atau perutnya keras dan membuncit, segera periksakan ke dokter.

Apakah Bayi Jarang BAB Selalu Berarti Sembelit?

Tidak selalu, Bu. Pola BAB bayi dapat berbeda-beda, terutama berdasarkan usia dan jenis asupan yang diterima.

Bayi yang mendapat ASI dapat BAB beberapa hari sekali bahkan hingga sekitar seminggu, dan tetap normal jika fesesnya lunak, bayi menyusu dengan baik, berat badannya bertambah sesuai usia, dan tidak tampak sakit.

Jadi, BAB yang jarang tidak otomatis berarti sembelit. Namun, feses yang keras, kering, sulit dikeluarkan, atau BAB yang terasa menyakitkan lebih mengarah pada sembelit.

Mengejan, wajah memerah, atau menangis saat BAB juga belum tentu berarti sembelit jika feses yang keluar tetap lunak. Kondisi yang disebut diskezia bayi ini wajar terjadi karena bayi masih belajar mengoordinasikan otot-ototnya saat BAB.

Ciri-Ciri Bayi Susah BAB

Beberapa tanda yang dapat Ibu perhatikan ketika bayi susah BAB antara lain sebagai berikut.

  • Feses keras, kering, atau berbentuk seperti butiran.
  • Bayi mengejan dan terlihat kesakitan saat BAB.
  • BAB lebih jarang dari pola biasanya disertai perubahan konsistensi feses.
  • Perut terlihat penuh, kembung, atau terasa lebih keras.
  • Bayi menjadi lebih rewel atau tidak nyaman.
  • Bayi mengencangkan bokong atau menarik kaki saat ingin BAB.
  • Bayi menolak menyusu atau makan.
  • Bayi tampak kesulitan mengeluarkan feses.

Perubahan pola BAB sebaiknya dinilai bersama konsistensi feses dan kondisi bayi, bukan hanya berdasarkan berapa kali bayi BAB.

Dukung kesehatan pencernaan si Kecil dengan pemantauan yang lebih mudah. Gunakan AI Poop Tracker dari Bebeclub untuk membantu mengenali kondisi pup si Kecil. Cukup upload foto pup di atas popoknya dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik. Ibu juga bisa mencoba fitur AI Poop Tracker di Aplikasi Bebeclub Mobile untuk bantu memantau kesehatan pencernaan si Kecil dengan lebih mudah.

Apa penyebab Bayi Susah BAB?

Bayi susah BAB dapat dipengaruhi oleh perubahan asupan, kurang cairan, mulai mengenal MPASI, hingga kondisi kesehatan tertentu. Simak ragam penyebabnya berikut, Bu.

1. Kurang Asupan Cairan

Asupan cairan yang kurang atau dehidrasi dapat membuat feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.

Untuk bayi yang masih menyusu, pastikan kebutuhan ASI tetap tercukupi. Jika bayi sudah berusia 6 bulan dan mulai MPASI, kebutuhan cairannya juga perlu diperhatikan sesuai usianya.

2. Baru Mulai MPASI

Sembelit dapat muncul saat bayi mulai mengenal makanan padat karena sistem pencernaannya sedang beradaptasi memproses perubahan pola makan baru.

Perubahan menu juga dapat memengaruhi konsistensi feses. Oleh sebab itu, kenalkan makanan baru secara bertahap dengan tekstur yang sesuai dengan kemampuan makannya.

3. Kurang Serat dalam MPASI

Kurangnya makanan berserat dapat membuat feses lebih sulit dikeluarkan. Setelah bayi siap MPASI, berikan sumber serat seperti pir, pepaya, brokoli, dan oatmeal yang sesuai tekstur usianya.

Tambahkan makanan berserat secara bertahap dan pastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi.

4. Perubahan Pola Makan atau Asupan Susu

Perubahan pola makan dapat memengaruhi kebiasaan BAB bayi. Kondisi ini dapat terjadi ketika bayi mulai MPASI atau mengalami perubahan pola asupan susu.

Amati apakah perubahan tersebut diikuti feses yang lebih keras, bayi tampak kesakitan, atau muncul keluhan lain.

Baca Juga: Makanan Penyebab Sembelit pada Bayi + Solusinya

bebe journey

5. Bayi Menahan BAB

BAB yang terasa sakit dapat membuat bayi menahan atau menghindari BAB berikutnya. Feses yang tertahan lebih lama di usus dapat kehilangan lebih banyak air sehingga menjadi semakin keras.

Jika hal ini berulang, sembelit dapat semakin sulit diatasi. Itu sebabnya, penting membantu bayi tetap nyaman saat ingin BAB.

6. Perubahan Rutinitas

Perubahan rutinitas, seperti bepergian atau perubahan jadwal makan, dapat memengaruhi pola BAB bayi.

Jika setelah perubahan rutinitas bayi menjadi susah BAB, tetap perhatikan asupan cairan, pola makan, konsistensi feses, dan kondisi umumnya.

7. Alergi Protein Susu Sapi

Alergi protein susu sapi dapat menjadi salah satu kondisi yang berhubungan dengan sembelit pada sebagian anak. Namun, sembelit saja tidak cukup untuk memastikan adanya alergi.

Pada alergi protein susu sapi, sembelit dapat menjadi salah satu gejala, terutama jika keluhan menetap dan tidak membaik dengan penanganan sembelit biasa. 

Jika Ibu mencurigainya, jangan langsung menghilangkan makanan tertentu dari menu tanpa arahan tenaga kesehatan. Segera konsultasikan kondisinya dengan dokter.

8. Gangguan Kesehatan Tertentu

Meski jarang, sembelit dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti hipotiroidisme, penyakit Hirschsprung, atau gangguan saluran pencernaan lainnya.

Jika sembelit terus berulang, tidak membaik, atau disertai gejala lain, dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mencari penyebabnya.

Bagaimana Cara Mengatasi Bayi Susah BAB?

Jika bayi masih tampak sehat dan tidak memiliki tanda bahaya, beberapa cara mengatasi bayi sembelit berikut ini yang dapat dicoba di rumah.

1. Pastikan Asupan ASI atau Susu Formula Cukup

ASI adalah sumber nutrisi utama terbaik untuk mendukung tumbuh kembang bayi. Sementara itu, formula dapat diberikan sebagai alternatif yang aman sesuai anjuran medis.

Kecukupan asupan dapat dipantau melalui pertambahan berat badan dan frekuensi popok basah harian. Segera hubungi dokter atau konselor laktasi jika muncul tanda-tanda kekurangan cairan atau nutrisi.

2. Berikan Cairan Sesuai Usia

Bayi di bawah 6 bulan umumnya tidak membutuhkan tambahan air putih sebagai minuman rutin. Utamakan ASI sesuai kebutuhan.

Setelah bayi berusia sekitar 6 bulan dan mulai MPASI, Ibu dapat menawarkan sedikit air saat makan sesuai kebutuhan dan kemampuan minum si Kecil.

3. Berikan MPASI Tinggi Serat

Jika bayi sudah mulai MPASI, beberapa makanan yang dapat menjadi sumber serat antara lain sebagai berikut.

  • Pir, dapat diberikan matang dan dilumatkan.
  • Pepaya, pilih yang matang dan bertekstur lembut.
  • Plum atau prune, dapat diberikan dalam bentuk yang sesuai kemampuan makan.
  • Brokoli, kukus hingga lunak lalu haluskan atau sesuaikan teksturnya.
  • Bayam, masak hingga lunak dan campurkan ke menu MPASI.
  • Ubi, kukus atau rebus hingga lunak.
  • Oatmeal, pilih tekstur yang sesuai kemampuan makan bayi.

4. Tips Memberikan Makanan Berserat pada Bayi

Agar pencernaan si Kecil dapat beradaptasi dengan baik, simak tips di bawah ini.

  • Berikan asupan makanan berserat secara bertahap.
  • Pastikan asupan cairan sesuai usia tetap terpenuhi.
  • Pilih tekstur makanan yang sesuai kemampuan makan bayi.
  • Variasikan buah dan sayuran, bukan hanya satu jenis makanan.

5. Lakukan Gerakan Kayuh Kaki

Baringkan bayi dengan posisi telentang. Gerakkan kedua kakinya perlahan seperti sedang mengayuh sepeda.

Gerakan lembut ini dapat membantu bayi lebih nyaman dan mendorong pergerakan di area perut.

6. Pijat Perut Bayi dengan Lembut

Ibu dapat memijat bayi pada bagian perutnya dengan gerakan melingkar searah jarum jam menggunakan tangan yang lembut.

Hentikan pijatan jika bayi tampak tidak nyaman atau menangis. Hindari menekan perut si Kecil terlalu kuat.

7. Mandikan Bayi dengan Air Hangat

Mandi air hangat dapat membantu bayi merasa lebih rileks. Pastikan suhu air nyaman dan bayi selalu diawasi selama mandi.

8. Hindari Memberikan Obat Pencahar Tanpa Anjuran Dokter

Jangan memberikan obat pencahar, supositoria, atau memasukkan sesuatu ke anus bayi tanpa anjuran dokter.

Bayi yang mengejan tetapi mengeluarkan feses lunak umumnya tidak membutuhkan obat atau tindakan khusus. Jika ragu apakah si Kecil mengalami sembelit, konsultasikan kondisinya dengan dokter.

Bayi Susah BAB tapi Sering Kentut, Apakah Normal?

Bayi susah BAB dapat disertai kentut karena feses yang tertahan dan perubahan proses pencernaan dapat membuat perut terasa tidak nyaman.

Jika bayi masih mau menyusu, tetap aktif sesuai kondisinya, dan tidak memiliki gejala lain, kentut sesekali biasanya tidak perlu dikhawatirkan.

Namun, perhatikan jika kentut disertai perut yang sangat membuncit, muntah, darah pada feses, demam, bayi menolak menyusu, atau kondisi bayi semakin lemas.

Baca Juga: Kentut Bayi Bau Busuk: 9 Penyebab + Cara Atasi

Kapan Bayi Susah BAB Harus Dibawa ke Dokter?

Segera konsultasikan kondisi bayi jika susah BAB disertai beberapa kondisi di bawah ini.

  • Feses berdarah
  • Perut sangat keras atau membuncit
  • Muntah, terutama jika berulang
  • Demam
  • Bayi lemas atau sulit dibangunkan
  • Bayi menolak menyusu
  • Berat badan tidak bertambah atau menurun
  • Sembelit tidak membaik dengan perawatan di rumah
  • Sembelit terus berulang

Darah pada feses, perut membuncit, muntah, atau penurunan berat badan merupakan tanda yang perlu mendapat evaluasi medis.

Jangan menunggu terlalu lama jika kondisi bayi memburuk atau Ibu merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada si Kecil.

Bagaimana Cara Mencegah Bayi Sembelit?

Beberapa kebiasaan dapat membantu menjaga pola BAB bayi tetap nyaman. Berikut langkah-langkah mencegah si Kecil sembelit.

  • Penuhi kebutuhan ASI dan cairan sesuai usia.
  • Berikan variasi makanan bergizi setelah bayi mulai MPASI.
  • Tambahkan makanan berserat secara bertahap.
  • Sesuaikan tekstur makanan dengan kemampuan makan bayi.
  • Ajak bayi aktif bergerak sesuai tahap perkembangannya.
  • Pantau konsistensi dan pola BAB, bukan hanya frekuensinya.

Masalah pencernaan bisa memengaruhi kenyamanan si Kecil. Daftar sebagai member Bebeclub sekarang untuk akses lengkap ke panduan menjaga kesehatan saluran cerna anak yang terverifikasi ahli.

Informasi yang Wajib Ibu Ketahui

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Ibu

  1. Ho, J. M. D., & How, C. H. (2020). Chronic constipation in infants and children. Singapore medical journal, 61(2), 63–68. DOI: 10.11622/smedj.2020014
  2. National Library of Medicine. (2025). Constipation in infants and children: MedlinePlus Medical Encyclopedia. MedlinePlus. medlineplus.gov – 003125
  3. ‌Editorial Team. (2025). Drinks and cups for babies and young children. NHS UK. NHS UK – Drinks And Cups For Babies And Young Children
  4. ‌Editorial Team. (2026). Your baby’s first solid foods. NHS UK. NHS UK – Babys First Solid Foods
  5. ‌Iftikhar, N. M. (2020). Your Baby’s Not Pooping but Passing Gas? Here’s What You Should Know. Healthline; Healthline Media. Healthline – Newborn Not Pooping But Passing Gas
  6. ‌Editorial Team. (2025). When to take your child to the doctor for constipation. Riley Children’s Health. rileychildrens.org – What Happens When Your Child Is Constipated


Temukan Topik Lainnya

Artikel Terkait

Keuntungan Daftar Bebeclub

Keuntungan Daftar Bebeclub

Icon Info Tumbuh Kembang di WA
 Desktop

Info Tumbuh Kembang di WA

Panduan bulanan untuk si Kecil, langsung kami kirim ke Ibu!

Icon Bantuan untuk Ibu & si Kecil
 Desktop

Bantuan untuk Ibu & si Kecil

Punya pertanyaan? Tenang Bu, BebeCare siap bantu 24 jam, khusus untuk Ibu!

Icon Info Tumbuh Kembang di WA
 Mobile

Info Tumbuh Kembang di WA

Panduan bulanan untuk si Kecil, langsung kami kirim ke Ibu!

Icon Bantuan untuk Ibu & si Kecil
 Mobile

Bantuan untuk Ibu & si Kecil

Punya pertanyaan? Tenang Bu, BebeCare siap bantu 24 jam, khusus untuk Ibu!

Gabung Bebeclub

Minimal 8 karakter, memiliki 1 angka (0-9), dan karakter spesial (@#$%^&)

Tidak
Ya

*Usia si Kecil Maksimal 12 Tahun