Melatih Otak Kedua Anak untuk Tumbuh Kembang Optimal

Para ilmuwan menyebutkan bahwa manusia bisa jadi memiliki otak kedua, loh, Bu. Iya, otak kedua. Ibu mungkin tidak menyangka, sistem penc...

Ditulis oleh : Tim Penulis

4 min
21 Apr 2022


Para ilmuwan menyebutkan bahwa manusia bisa jadi memiliki otak kedua, loh, Bu. Iya, otak kedua. Ibu mungkin tidak menyangka, sistem pencernaan makanan kita ternyata tidak hanya bertugas mencerna makanan dan menyerap nutrisi. Lebih dari itu, sistem pencernaan kita berperan sebagai pusat komunikasi dengan otak, serta merupakan garda depan pencegahan penyakit1. Tak heran bila sistem pencernaan makanan disebut sebagai otak kedua.

Istimewanya Otak Kedua

Sistem pencernaan makanan memiliki sistem saraf sendiri, yang disebut Sistem Saraf Enterik (SSE). Inilah sesungguhnya otak kedua kita karena SSE dapat mengatur fungsi sistem pencernaan secara mandiri tanpa bergantung pada saraf pusat (otak), sekaligus berkomunikasi secara dua arah dengan otak2. Bila diibaratkan, sistem saraf kita itu seperti negara, dengan otak sebagai pemerintahan pusat, dan SSE sebagai daerah otonomi khusus.

Otak kedua begitu istimewa karena selain mengatur fungsi pencernaan, ia juga mengatur fungsi imun dan hormonal3. SSE merespons tiap perubahan yang terjadi di saluran cerna kita. Isyarat dari saluran cerna kemudian diubahnya menjadi impuls saraf yang disebarkan ke usus dan organ lain, termasuk otak4.

Keterkaitan antara pencernaan dan otak ini dikenal dengan istilah gut-brain axis10. Saluran pencernaan akan memengaruhi otak untuk memproduksi hormon, salah satunya hormon serotonin yang menghasilkan perasaan senang dan nyaman. Maka asupan apa pun yang dikonsumsi oleh anak tidak hanya memperkuat saluran pencernaannya, melainkan juga otak dan kebesaran hatinya 5,10.

Menariknya lagi, kondisi saluran cerna, terutama usus, berperan besar dalam tumbuh kembang anak. Sebuah studi terhadap anak kerdil usia 2-5 tahun di daerah sub-Sahara Afrika menemukan bahwa stunting (kondisi gagal pertumbuhan pada anak) kemungkinan besar terkait dengan ketidakseimbangan bakteri di usus kecil4.

Cara Optimalkan Sistem Pencernaan Makanan si Kecil

Orang tua manapun pasti mendambakan anak tumbuh sehat, cerdas, dan kuat. Begitu besarnya peran otak kedua bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak, menjaga sistem pencernaan makanan pun menjadi kunci penting untuk tumbuh kembang si Kecil. Beberapa hal di bawah ini bisa Ibu lakukan, agar saluran cerna dan otak kedua buah hati senantiasa sehat.

Cukupi Kebutuhan Serat Pangan Anak

Serat pangan berperan besar dalam memelihara kesehatan saluran cerna. Selain membantu proses pencernaan dan mencegah sembelit, sebagian jenis serat pangan juga berperan sebagai prebiotik yang merangsang pertumbuhan bakteri baik di usus6. Anak usia 1–3 tahun membutuhkan 19gram serat setiap hari7. Ibu bisa memberi si Kecil Bebelac Core yang mengandung FOS:GOS dengan rasio tepat 1:9, serta 13 vitamin dan 5 mineral. Ingat ya Bu, nutrisi yang tepat mampu mendukung saluran pencernaan si Kecil tetap sehat (happy tummy).

Beri Asupan Probiotik

Probiotik berbeda dengan prebiotik, ya, Bu. Jika prebiotik merupakan makanan yang merangsang pertumbuhan bakteri baik di usus, probiotik merupakan bakteri baik yang terdapat pada makanan atau minuman. Ketika dikonsumsi, probiotik akan membantu menjaga keseimbangan bakteri di usus.

Saluran cerna kita mengandung triliunan mikroba yang saling bersimbiosis, sebagian besarnya adalah bakteri baik. Mikroba ini melindungi pencernaan dari bakteri patogen alias bakteri jahat, membantu penyerapan nutrisi, hingga membantu fungsi imun. Mikroba bermanfaat ini juga berperan besar dalam komunikasi antara saluran cerna dengan otak8. Jadi, biasakan untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung probiotik seperti susu fermentasi atau yogurt untuk menjaga keseimbangan mikroba dalam sistem pencernaan makanan si Kecil.

Hindari Dehidrasi

Pastikan si Kecil cukup minum, agar terhindar dari dehidrasi. Selain serat, asupan cairan dalam sebuah studi dikatakan dapat membantu aktivitas saluran cerna, sekaligus memberi energi bagi sel-sel usus besar1. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Kementerian Kesehatan, anak usia
1 – 3 tahun memerlukan 1.150 ml air/hari7. Cairan bisa didapat dari air, susu, jus buah buatan sendiri, dan makanan berkuah

Ajak si Kecil Berolahraga Bersama

Seperti orang dewasa, anak pun perlu aktif bergerak. Anak yang aktif memiliki saluran cerna yang sehat9. Aktivitas seperti berjalan kaki ringan akan membantu mencegah sembelit dan kembung, lho, Bu. Ajaklah si Kecil berjalan-jalan ke taman atau berkeliling perumahan setiap pagi, sambil menikmati sinar matahari yang akan mengaktifkan vitamin D di tubuh. Tentu dengan tetap menjalankan protokol kesehatan, ya.

Di dalam rumah, dorong anak untuk aktif bergerak. Ibu bisa yoga, menari, atau membuat konten aplikasi medsos video musik yang sedang viral bersama si Kecil. Libatkan juga ia dalam pekerjaan rumah tangga yang sederhana. Misalnya, membereskan mainan, dan menyiram tanaman. Bonusnya, ikatan ibu dengan buah hati makin dekat, anak belajar mandiri, dan otak kedua pun ikut sehat karena aktif bergerak.

Setelah mengetahui keistimewaan dari otak kedua, saatnya mengoptimalkan sistem pencernaan si Kecil. Dengan pencernaan yang sehat, anak juga bisa tumbuh hebat dengan berkembangnya akal yang kreatif (happy brain) dan hati yang besar (happy heart).

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Ibu


Temukan Topik Lainnya

  1. NYU Langone Health. Your Gut Feeling: A Healthier Digestive System Means a Healthier You. Diambil dari https://med.nyu.edu/medicine/gastro/about-us/Gastroenterology-news-archive/your-gut-feeling-healthier-digestive-system-means-healthier [Diakses 19 November 2020].
  2. Meenakshi Rao dan Michael D Gershon. (2016). The bowel and beyond: the enteric nervous system in neurological disorders. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5005185/#:~:text=The%20enteric%20nervous%20system%20(ENS)%20is%20a%20large%20division%20of,the%20brain%20and%20spinal%20cord) [Diakses 19 November 2020].
  3. Subhash Kulkarni, et al. Advances in Enteric Neurobiology: The “Brain” in the Gut in Health and Disease. Diambil dari https://www.jneurosci.org/content/38/44/9346 [Diakses 18 November 2020]
  4. Bryan B. Yoo dan Sarkis K. Mazmanian. (2017). The Enteric Network: Interactions between the Immune and Nervous Systems of the Gut. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5551410/ [Diakses 20 November 2020]
  5. Rita Ramayulis. (2020). Mengenal Istilah Gut-Brain Axis untuk Tumbuh Kembang Anak. Diambil dari https://kumparan.com/kumparanmom/mengenal-istilah-gut-brain-axis-untuk-tumbuh-kembang-anak- 1usDOkFVgZN/full
  6. Renee Korczak, et al. (2017). Dietary fiber and digestive health in children. Diambil dari https://academic.oup.com/nutritionreviews/article/75/4/241/3747768 [Diakses 20 November 2020]
  7. Kementrian Kesehatan. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Retrieved from http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf. [Accessed April 25, 2020]
  8. Ygor Parladore Silva, et al. (2020). The Role of Short-Chain Fatty Acids From Gut Microbiota in Gut-Brain Communication. Diambil dari https://www.frontiersin.org/journals/endocrinology/articles/10.3389/fendo.2020.00025/full [Diakses 20 November 2020]
  9. 8 AV Costa , G Leite , A Resende , F Blachier and AH Lancha Jr. (2017) Exercise, Nutrition and Gut Microbiota: Possible Links and Con- sequences. Diambil dari https://clinmedjournals.org/articles/ijsem/international-journal-of-sports-and-exercise-medicine-ijsem-3-069.php?jid=ijsem. [Diakses 22 November 2020]
  10. Rita Ramayulis. (2020). Mengenal Istilah Gut-Brain Axis untuk Tumbuh Kembang Anak. Diambil dari: https://kumparan.com/kumparanmom/mengenal-istilah-gut-brain-axis-untuk-tumbuh-kembang-anak-1usDOkFVgZN [Diakses 22 Januari 2021]


Artikel Terkait