Gejala Diare pada Anak, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Penyebab diare pada anak yang paling umum adalah infeksi virus dan bakteri. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, diare dapat menyebabkan dehidrasi yang membahayakan si Kecil.

Ditulis oleh : Tim Penulis

4 min
19 Jul 2022
Cari tahu apa saja penyebab diare pada anak.


Diare pada anak tidak boleh disepelekan karena bisa menyebabkan dehidrasi. Yuk, cari tahu gejala dan penyebab diare anak hingga cara mengatasinya di sini!

Gejala Diare pada Anak

Anak dikatakan diare jika BAB lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan tekstur feses cair. BAB kurang dari 3 kali sehari dengan konsistensi cair juga sudah dapat dikatakan diare. 

Namun, ada gejala lain yang juga dapat dialami anak diare seperti:

  • Selalu merasa “kebelet pup” (bolak-balik ke kamar mandi) karena mulas.

  • Sakit perut disertai kembung.

  • Rasa nyeri di bagian rektum atau ujung usus besar.

  • Anak merasa mual dan ingin muntah. 

  • Kehilangan selera makan. 

  • Demam.

Pada beberapa kasus, gejala diare dapat menyebabkan anak kehilangan berat badan.

Agar lebih yakin, Ibu dapat cek kondisi pupnya lewat tools Poop Tracker di Bebe Journey, ya! Hasilnya bisa Ibu dapatkan secara cepat untuk dikonsultasikan lebih lanjut dengan dokter terpercaya.

Baca Juga: Anak Sering BAB Tapi Bukan Diare, Apa Sebabnya?

Apa Saja Penyebab Diare pada Anak?

Diare adalah gangguan pencernaan yang dapat disebabkan oleh banyak hal, yaitu:

1. Infeksi Virus

Penyebab diare yang paling umum adalah infeksi rotavirus karena si Kecil makan atau minum sesuatu yang sudah terkontaminasi. 

Diare yang disebabkan rotavirus juga umum terjadi jika anak kurang bisa menjaga kebersihan dirinya dengan baik.

Misalnya, jarang cuci tangan setelah main dari luar lalu memasukkan tangan yang kotor ke dalam mulut. 

Diare akibat infeksi virus biasanya berlangsung selama 1-2 hari sejak paparan pertama. Diare karena infeksi virus bisa sembuh sendiri tanpa perlu minum antibiotik jika imun anak cukup kuat.

2. Alergi Susu Sapi

Penyebab diare bisa juga karena gejala alergi susu sapi.

Biasanya, diare akibat alergi atau intoleransi muncul beberapa menit atau jam setelah si Kecil mengonsumsi makanan atau minuman tertentu. 

Bila diare disebabkan oleh alergi makanan, si Kecil mungkin akan mengalami ruam atau gatal pada kulit, mual, muntah, dan sakit perut. Diare akibat alergi biasanya tidak disertai demam.

3. Infeksi Bakteri 

Diare pada anak yang disertai muntah-muntah bisa jadi penyebabnya adalah infeksi bakteri Salmonella, E.coli, Campylobacter, atau Shigella.

Diare yang disertai muntah disebut juga muntaber atau gastroenteritis atau flu perut. 

4. Infeksi Parasit

Parasit Giardia lamblia (G.lamblia) yang menginfeksi usus dapat menyebabkan diare yang disertai muntah pada anak

Infeksi giardiasis dapat melalui konsumsi air dan makanan yang terkontaminasi parasit, atau langsung melalui rute fekal-oral ( dari feses atau tinja ke mulut).

Ini dapat terjadi bila orang tua atau pengasuh tidak cuci tangan dengan bersih setelah dari toilet kemudian langsung menyiapkan atau menyuapkan makanan pada anak.

Bisa juga terjadi jika si Kecil memasukkan mainan atau suatu benda yang terkontaminasi parasit ke dalam mulutnya.

Umumnya, anak akan mengalami muntah dan diare beberapa jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar. 

5. Intoleransi Laktosa

Penyebab diare pada anak berikutnya adalah intoleransi laktosa. Kondisi ini kerap ditandai dengan sering buang angin, perut kencang, dan diare setelah minum susu sapi. 

Intoleransi laktosa merupakan kondisi pencernaan yang membuat si Kecil tidak mampu mencerna laktosa, jenis gula alami di dalam susu sapi. 

6. Irritable Bowel Syndrome (IBS) dan Penyakit Celiac

Pada kasus tertentu, diare dapat disebabkan oleh gangguan pencernaan kronis seperti irritable bowel syndrome (IBS) dan penyakit Celiac

Diare pada IBS seringkali disertai dengan perut kembung, kram, dan sensasi tidak nyaman di area perut.

Sementara penyakit Celiac ditandai dengan diare berulang, khususnya setelah mengonsumsi makanan yang mengandung gluten.

Baca Juga: Apakah Normal Jika BAB Anak Berlendir?

Cara Mengatasi Diare pada Anak

Pada dasarnya, anak diare tidak dapat dianggap remeh. Kondisi ini perlu ditangani dengan tepat dan cepat agar si Kecil tidak mengalami dehidrasi. 

Berikut beberapa cara mengatasi anak diare yang bisa Ibu dan Ayah lakukan di rumah:

1. Perbanyak Minum

Diare yang dibiarkan berlarut-larut dapat menyebabkan anak kehilangan banyak cairan tubuh. Jadi, Ibu perlu terus berikan air putih atau sup kaldu untuk mencegah si Kecil dehidrasi.

Untuk sementara, tunda dulu pemberian susu sapi karena enzim dan laktosa dalam susu sapi dapat memperparah diare si Kecil. Terutama jika ia alergi atau intoleran terhadap laktosa

Nah, susu Bebelac Gold Soya dapat menjadi pilihan tepat untuk mencukupi nutrisi anak saat sedang diare.

Bebelac Gold Soya adalah satu-satunya formula soya bebas laktosa dengan kandungan serat FOS inulin yang terbukti klinis dukung kesehatan pencernaan si Kecil.

2. Hindari Makanan Pemicu Diare

Selain susu sapi, hindari dulu memberikan makanan yang digoreng, berminyak, makanan olahan atau cepat saji, minuman manis kemasan, dan jus buah karena dapat memperparah kondisi anak. 

Tunda juga memberikan makan buah dan sayuran penyebab perut kembung, seperti brokoli, bawang bombai, brokoli, keju, kacang-kacangan, kubis, kembang kol, dan jamur.

3. Beri Cairan Oralit

Oralit adalah obat diare alami berupa larutan air garam dan gula untuk menggantikan elektrolit dan cairan tubuh yang hilang. Oralit juga bisa bantu meredakan mual muntah saat diare.

Oralit mudah didapatkan di toko obat atau warung, jadi sebisa mungkin jangan membuatnya sendiri, ya. Sebab, takaran gula, garam, dan airnya tidak pasti dan rawan keliru.

Biasanya, satu bungkus oralit kemasan dapat dilarutkan dalam 1 gelas air matang (200 cc). 

Apabila usia anak sudah 1 tahun atau lebih, berikan 100-200 cc cairan oralit. 

4. Berikan Makanan Berserat 

Saat anak diare, berikanlah makanan mengandung tinggi serat atau pati dengan rasa hambar dan bertekstur lembut. Misalnya, kentang rebus, bubur gandum (oatmeal), pisang, nasi putih, dan roti. 

Selain itu, anak diare sebaiknya makan: 

  • Daging ayam, sapi, dan ikan yang direbus atau dipanggang tanpa banyak bumbu maupun rempah.

  • Telur rebus. 

  • Pasta (spaghetti atau makaroni)

  • Sereal gandum tanpa gula tambahan. 

  • Biskuit cracker tawar. 

  • Ragam sayuran yang dimasak matang sempurna seperti wortel, jamur, buncis, kacang panjang, asparagus. 

Serat dari makanan bisa membantu memadatkan feses anak. 

Baca Juga: 10 Makanan untuk Anak Diare dan Pantangannya

5. Berikan Makan Porsi Kecil Tapi Sering

Kondisi diare pada anak bisa membuatnya hilang nafsu makan karena merasa mual atau cepat sakit perut.

Jadi, berikanlah makan seperti biasa tapi sajikan dalam porsi yang lebih kecil sehingga bisa diberikan lebih sering tiap 3-4 jam sepanjang hari.

Cara ini membuat pekerjaan sistem pencernaan si Kecil yang sedang bermasalah jadi lebih enteng.

Kalau Ibu memberinya makanan dalam porsi banyak, hal ini justru dapat membuat perutnya menjadi lebih sakit. 

6. Berikan Anak Makanan Prebiotik

Prebiotik adalah jenis serat yang tidak bisa dicerna sehingga akan menjadi pakan bagi bakteri baik dalam usus yang bernama bifidobacteria.

Semakin banyak bakteri baik dalam pencernaan, sistem imun bekerja semakin baik untuk melawan kuman penyebab diare pada anak.

Contoh makanan prebiotik yang aman untuk anak diare adalah pisang, apel, roti gandum utuh, oatmeal, yogurt tawar, dan tempe

Baca Juga: 6 Cara Tepat Mencegah Anak Diare agar Tidak Muncul Lagi

Kapan Harus ke Dokter?

Waspadai gejala dehidrasi akibat diare. Terlebih jika diare pada anak disebabkan infeksi parasit giardiasis. Infeksi ini berisiko tinggi menyebabkan anak dehidrasi karena diare parah.

Apa saja gejala dehidrasi pada anak yang perlu Ibu tahu?

  • Jarang buang air kecil. 

  • Bibir dan mulut menjadi kering.

  • Tampak kehausan.

  • Lemas.

  • Mata tampak cekung.

  • Kulit sangat kering (kalau dicubit, butuh waktu lebih dari tiga detik untuk membal kembali ke posisi semula). 

  • Lebih mudah mengantuk.

Ketika si Kecil sudah menunjukkan gejala dehidrasi seperti yang disebutkan di atas, jangan menunggu lama, segera bawa si Kecil ke dokter untuk mendapatkan pertolongan, ya!

Ibu juga bisa sambil bertanya ke tim Bebecare seputar cara menangani diare dan dehidrasi pada si Kecil.

 

Temukan Topik Lainnya

Referensi:

  1. Clinic, C. (2023). Diarrhea: Causes, Symptoms & Treatment. Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4108-diarrhea
  2. Diarrhea - Diagnosis and treatment - Mayo Clinic. (2023). Mayoclinic.org; https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diarrhea/diagnosis-treatment/drc-20352246
  3. Diarrhea - Symptoms and causes. (2023). Mayo Clinic; https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diarrhea/symptoms-causes/syc-20352241
  4. Diarrhea in Children. (2021, August 8). Hopkinsmedicine.org. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/diarrhea-in-children
  5. Diarrhea (for Parents) - Nemours KidsHealth. (2021). Kidshealth.org. https://kidshealth.org/en/parents/diarrhea.html
  6. Diarrhea in Children | ACG. (2023, August 4). American College of Gastroenterology. https://gi.org/topics/diarrhea-in-children/
  7. humas.rsugm. (2024). DIARE PADA ANAK, AYAH BUNDA HARUS BAGAIMANA ? – Rumah Sakit Akademik UGM. Ugm.ac.id. https://rsa.ugm.ac.id/2022/03/diare-pada-anak-ayah-bunda-harus-bagaimana/
  8. When your child has diarrhea: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2022). Medlineplus.gov. https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000693.htm
  9. IDAI | Bagaimana Memberi Makan Anak Saat Sedang Diare. (2017). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/bagaimana-memberi-makan-anak-saat-sedang-diare
  10. Chaitali Bajait, & Vijay Thawani. (2011). Role of zinc in pediatric diarrhea. Indian Journal of Pharmacology, 43(3), 232–232. https://doi.org/10.4103/0253-7613.81495


Artikel Terkait