Benarkah Usus Adalah Otak Kedua? Kenali Hubungannya dengan Imunitas dan Kecerdasan Anak
Perut disebut otak kedua karena memiliki sistem saraf enterik (ENS) yang berkomunikasi langsung dengan otak. Sistem ini berfungsi mengatur pencernaan, mood, imun, hingga perkembangan otak.
Perut sering disebut sebagai otak kedua karena usus memiliki sistem saraf enterik (ENS) yang dapat bekerja secara mandiri dan terus berkomunikasi dengan otak melalui gut-brain axis. Hubungan ini memengaruhi pencernaan, suasana hati, sistem imun, hingga perkembangan otak anak.
Mengapa Perut Disebut Otak Kedua?
Perut disebut sebagai otak kedua karena usus memiliki sistem saraf yang sangat kompleks. Sistem ini mampu mengatur sebagian besar fungsi pencernaan tanpa harus bergantung pada perintah langsung dari otak.
1. Ada Peran Sistem Saraf Enterik (ENS), “Otak” di Dalam Usus
Sistem pencernaan disebut sebagai otak kedua karena memiliki jaringan sistem saraf enterik (ENS) dengan lebih dari 100 juta sel saraf yang bekerja mandiri mengatur pergerakan usus.
ENS mengontrol pencernaan secara mandiri tanpa perlu instruksi langsung dari otak. Ini dari masuknya makanan, sekresi enzim, penyerapan nutrisi, pergerakan usus, hingga pembuangan sisa pencernaan.
Namun, sistem saraf enterik (ENS) tidak berfungsi untuk berpikir, belajar, atau membuat keputusan selayaknya otak yang ada di kepala.
2. Ada Jalur Komunikasi antara Usus dan Otak (Gut-Brain Axis)
Usus dikenal sebagai otak kedua manusia karena memiliki jalur komunikasi khusus yang terhubung langsung dengan otak di kepala melalui saraf, hormon, dan mikrobiota usus (gut microbiome).
Koneksi ini disebut dengan gut-brain axis. Berkat hubungan langsung ini, kondisi pencernaan anak bisa memengaruhi suasana hati, emosi, dan kesehatannya secara keseluruhan.
Misalnya, ketika anak stres, usus bisa bereaksi dengan masalah pencernaan seperti sakit perut atau diare.
Sebaliknya, pencernaan anak yang sehat dapat bantu menjaga keseimbangan hormon dan meningkatkan suasana hati.
3. Sebagian Besar Serotonin Diproduksi di Usus
Menurut studi dari Turkish Journal of Gastroenterology, sekitar 90% hormon serotonin dalam tubuh diproduksi oleh sel khusus yang ada di usus, bukan di otak. Hormon ini memengaruhi suasana hati atau perasaan gembira.
Serotonin di usus memiliki fungsi utama mengatur gerakan usus, sekresi cairan pencernaan, dan komunikasi antara sistem pencernaan dan sistem saraf.
Perlu dipahami bahwa serotonin yang diproduksi di usus berbeda dengan serotonin di otak. Serotonin usus tidak langsung masuk ke otak karena dipisahkan oleh blood-brain barrier.
Apa Peran “Otak Kedua” bagi Tumbuh Kembang Anak?
Istilah perut adalah otak kedua tidak lepas dari perannya dalam mengatur berbagai fungsi yang berkaitan dengan tumbuh kembang utamanya pada anak sebagai berikut:
1. Mengatur Proses Pencernaan
ENS mengatur kontraksi otot usus agar makanan bergerak dengan baik dari lambung hingga usus.
Sistem ini juga mengendalikan produksi enzim dan cairan pencernaan sehingga makanan dapat dipecah menjadi zat gizi yang mudah diserap tubuh.
Penyerapan nutrisi yang optimal bantu penuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan si Kecil selama masa pertumbuhan.
2. Mendukung Sistem Imun Anak
Menurut UCLA Health, sekitar 70% sel imun tubuh berada di saluran pencernaan. Maka itu, kesehatan usus sangat berkaitan dengan daya tahan tubuh anak.
Mikrobiota usus (gut microbiome) bantu melatih sistem imun mengenali bakteri dan virus berbahaya sekaligus menjaga keseimbangan respons peradangan.
Jika keseimbangan mikrobiota terganggu, risiko infeksi dan gangguan kesehatan juga dapat meningkat.
Baca Juga: Hubungan Kesehatan Saluran Pencernaan dengan Daya Tahan Tubuh Anak
3. Memengaruhi Mood dan Respons Emosi
Kesehatan usus dapat berpengaruh terhadap suasana hati anak. Stres atau kecemasan dapat menyebabkan iritasi pada lambung dan mengganggu penyerapan nutrisi.
Sebaliknya, gejala gangguan pada usus, seperti sakit perut, dapat memicu perubahan suasana hati yang membuat anak lebih mudah cemas atau rewel.
Itu sebabnya usus sering disebut sebagai otak kedua. Sistem saraf enterik (ENS)-lah yang membuat anak bisa merasakan emosi, seperti mulas saat gugup.
4. Mendukung Fungsi Otak dan Kemampuan Belajar
Usus yang sehat dapat mengurangi peradangan dalam tubuh yang pada gilirannya mendukung fungsi kognitif anak.
Penelitian yang dipaparkan pada IBRO Neuroscience Reports menunjukkan keseimbangan mikrobiota yang baik berhubungan dengan perkembangan kognitif, perhatian, memori, dan kemampuan belajar pada anak.
Di tengah aktivitas bermain dan eksplorasi si Kecil setiap hari, kesehatan pencernaan tetap perlu diperhatikan, Bu. Gunakan AI Poop Tracker dari Bebeclub untuk membantu mengenali kondisi pup si Kecil. Cukup upload foto pup di atas popok dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik. Ibu juga bisa mencoba fitur AI Poop Tracker di Aplikasi Bebeclub Mobile untuk membantu memantau kesehatan pencernaan si Kecil setiap hari.
Apa yang Terjadi Jika Kesehatan Anak Terganggu?
Kesehatan usus yang terganggu dapat memengaruhi pencernaan, penyerapan nutrisi, sistem imun, dan suasana hati si Kecil, Bu. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.
1. Gangguan Pencernaan
Diare, konstipasi, dan perut kembung merupakan beberapa gangguan pencernaan yang dapat membuat anak merasa tidak nyaman.
Ketidaknyamanan tersebut dapat memengaruhi pola tidur, nafsu makan, dan keinginan si Kecil untuk bermain atau beraktivitas.
Pada kondisi tertentu, gangguan pencernaan juga dapat memengaruhi kemampuan anak untuk fokus dan berkonsentrasi karena tubuh sedang merespons rasa sakit atau tidak nyaman.
2. Penyerapan Nutrisi Tidak Optimal
Anak membutuhkan energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral untuk mendukung pertumbuhan serta perkembangan otaknya.
Jika sistem pencernaan bekerja optimal, nutrisi dapat diserap dengan baik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Gangguan pada saluran cerna dapat menghambat proses ini.
3. Anak Lebih Rentan Sakit
Saluran pencernaan memiliki hubungan yang erat dengan sistem imun. Mikrobiota usus membantu menjaga lingkungan saluran cerna dan berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh.
Ketika keseimbangan mikrobiota terganggu, fungsi perlindungan tersebut dapat ikut berubah, sehingga risiko infeksi dan peradangan penyakit bisa meningkat.
4. Mood dan Nafsu Makan Anak Bisa Berubah
Pencernaan berkomunikasi dengan otak untuk mengatur nafsu makan anak. Sinyal dari usus memberi tahu kapan anak harus makan karena merasa lapar atau kapan harus berhenti karena kenyang.
Selain itu, hubungan gut-brain axis membuat kondisi psikologis dan kesehatan pencernaan dapat saling berkaitan. Misalnya, stres dapat memengaruhi gerakan dan sensitivitas saluran cerna.
Sebaliknya, susah BAB atau sakit perut pada anak dapat membuatnya lebih mudah rewel dan sulit mengikuti aktivitas.
Cara Menjaga Kesehatan Perut sebagai Otak Kedua Anak
Ada beberapa cara yang bisa Ibu lakukan untuk bantu jaga kesehatan pencernaan anak. Berikut daftarnya:
1. Berikan Makanan Tinggi Serat
Otak kedua manusia bergantung pada makanan yang baik untuk pencernaan, seperti serat serta vitamin dari buah dan sayur.
Serat bantu dukung fungsi saluran pencernaan dan dapat menjadi sumber makanan bagi sebagian mikroorganisme yang hidup di usus.
Sumber serat yang baik antara lain sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.
2. Lengkapi dengan Prebiotik dan Probiotik
Untuk meningkatkan kesehatan usus sebagai otak kedua anak, Ibu bisa berikan makanan sumber probiotik dan prebiotik setiap hari. Probiotik adalah bakteri baik yang bermanfaat bagi kesehatan.
Sementara itu, prebiotik adalah jenis serat khusus yang menjadi makanan bagi mikrobiota usus agar bisa bertahan hidup. Fruktooligosakarida (FOS), galaktooligosakarida (GOS), dan inulin adalah beberapa contoh prebiotik.
Baca Juga: Perbedaan Prebiotik vs Probiotik, dan Manfaatnya untuk Anak
3. Pastikan Anak Minum Air Putih yang Cukup
Memastikan anak minum air putih sesuai kebutuhan hariannya adalah cara yang bagus untuk menjaga kesehatan perut sebagai otak kedua manusia. Langkah ini dapat bantu cegah sembelit dan memelihara koloni bakteri baik di usus.
Sebuah penelitian tahun 2022 menunjukkan bahwa orang yang minum banyak air putih cenderung memiliki risiko lebih rendah terkena gangguan pencernaan.
Selain air putih, Ibu bisa penuhi kebutuhan cairan si Kecil dengan memberikan segelas susu Bebelac 3 NutriGreat+ yakni Nutrisi Terbaik dari Bebelac yang diperkaya dengan 3 serat penting FOS:GOS dan Inulin, DHA 2x lebih tinggi, dan 0gr sukrosa. Bantu dukung tumbuh kembang optimalnya agar si Kecil tumbuh bersinar dari dalam.
4. Biasakan Anak Aktif Bergerak
Bu, anak-anak juga perlu aktif secara fisik, lho. Aktif bergerak bisa jadi salah satu cara menjaga kesehatan pencernaan dan mencegah sembelit.
Olahraga kardio, seperti jalan kaki dan bersepeda secara rutin dapat membantu meningkatkan pergerakan usus, sehingga makanan dapat dicerna dan diserap dengan baik.
Tak hanya itu, olahraga berperan penting dalam menjaga kesehatan dan keragaman bakteri baik yang hidup di dalam usus.
5. Kelola Stres Anak dengan Aktivitas Positif
Stres dapat memengaruhi komunikasi antara otak dan saluran cerna melalui gut-brain axis. Stres yang berlangsung lama atau kronis dapat memicu pelepasan hormon ini dan menyebabkan masalah pada usus.
Untuk mengurangi stres, Ibu bisa ajak si Kecil bermain bersama hewan peliharaan, jalan-jalan di luar, atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga.
Pencernaan yang sehat bantu si Kecil lebih nyaman beraktivitas, bermain, dan belajar setiap hari. Jadi member Bebeclub sekarang untuk mendapatkan berbagai edukasi seputar kesehatan pencernaan anak, lengkap dengan tips dari para ahli. Selain mendapatkan akses ke berbagai artikel dan panduan dari para ahli, Ibu juga dapat mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan berbagai hadiah menarik sebagai member Bebeclub.
_GUM_KATALOG (2).png)
_GUM_AI POOP TRACKER.png)
_GUM_CARELINE.png)
