Diare pada Anak: Kenali Penyebab, Ciri, dan Cara Penanganannya
Diare pada anak di bawah usia 3 tahun paling sering disebabkan oleh infeksi virus. Namun, anak yang sering BAB belum tentu pasti karena diare.
Diare pada anak adalah kondisi ketika anak BAB tiga kali atau lebih dalam sehari dengan konsistensi feses yang cair atau lembek. Penting untuk tahu penyebab dan ciri-ciri diare pada anak agar Ibu bisa memberikan pertolongan pertama yang tepat.
Apa Itu Diare pada Anak?
Diare pada anak adalah kondisi ketika BAB menjadi lebih encer atau cair dari biasanya dan/atau frekuensinya lebih sering dibandingkan pola BAB normal.
Diare tidak hanya ditentukan dari berapa kali anak BAB, tetapi juga dari perubahan konsistensi dan pola BAB yang biasanya.
Selain perubahan pada BAB, diare dapat disertai gejala lain, seperti muntah, sakit atau kram perut, demam, dan kehilangan nafsu makan.
Seperti Apa Gejala Diare pada Anak?
Berikut beberapa gejala diare pada anak yang perlu Ibu perhatikan.
1. Konsistensi BAB Berubah
Salah satu tanda utama diare pada anak adalah feses menjadi lebih cair atau encer dari biasanya.
Kondisi ini terjadi karena feses mengandung lebih banyak air sehingga bentuknya berbeda dari pola BAB normal si Kecil.
2. Perhatikan Frekuensi BAB
Frekuensi BAB setiap anak dapat berbeda, sehingga tidak ada satu angka yang otomatis berarti diare untuk semua anak.
Sebaiknya, bandingkan antara seberapa sering si Kecil BAB dan pola BAB yang biasanya. Jika BAB menjadi lebih sering sekaligus lebih cair dari biasanya, kondisi tersebut mengarah pada diare.
3. Gejala Lain yang Bisa Menyertai
Selain perubahan pada BAB, diare pada anak dapat disertai keluhan lain di bawah ini.
- Sakit atau kram perut
- Perut kembung
- Mual atau muntah
- Demam
- Lemas
- Nafsu makan menurun
- Rewel
4. Apakah BAB Hijau Selalu Berarti Diare?
BAB berwarna hijau pada anak tidak selalu berarti diare. Warna hijau dapat menjadi warna feses yang normal.
Jadi untuk mengenali diare, Ibu perlu memperhatikan perubahan konsistensi dan frekuensi BAB dibandingkan pola normal si Kecil.
Apa Penyebab Diare pada Anak?
Anak-anak di bawah usia 3 tahun bisa 2-3 kali kena diare setiap tahun. Berikut beberapa kemungkinan penyebabnya yang paling umum.
1. Infeksi Virus
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penyebab diare pada anak yang paling sering adalah infeksi rotavirus. Hampir 60–70% kasus diare anak disebabkan oleh rotavirus.
Adenovirus dan astrovirus juga dapat menyebabkan diare. Virus ini menular secara fekal-oral (kontaminasi feses ke mulut) melalui konsumsi makanan atau air minum yang terkontaminasi.
Virus penyebab diare dapat menular dari satu anak ke anak lainnya akibat buruknya kebersihan diri dan lingkungan, juga fasilitas sanitasi yang buruk.
2. Infeksi Bakteri
Sekitar 10-20% kasus diare yang menyerang anak disebabkan oleh infeksi bakteri, terutama Campylobacter, Salmonella, Shigella, dan E. coli.
Bakteri penyebab diare menyebar lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi, kebersihan diri yang kurang terjaga, dan sanitasi lingkungan yang buruk.
3. Infeksi Parasit
Parasit tertentu juga dapat menyebabkan diare, terutama ketika anak terpapar air atau makanan yang terkontaminasi. Contohnya antara lain Giardia, Cryptosporidium, dan Entamoeba.
Risiko infeksi parasit dapat meningkat pada lingkungan dengan akses sanitasi dan air bersih yang terbatas.
4. Keracunan Makanan
Keracunan makanan dapat menyebabkan diare setelah anak mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Penyebabnya dapat berupa virus, bakteri, atau parasit yang masuk melalui makanan dan minuman.
5. Alergi atau Intoleransi Makanan
Diare dapat terjadi ketika tubuh bereaksi terhadap makanan tertentu. Contohnya alergi protein susu sapi, intoleransi laktosa, fruktosa, atau sukrosa.
Alergi makanan terjadi akibat respons sistem imun terhadap protein makanan tertentu. Sedangkan intoleransi makanan terjadi ketika tubuh kesulitan mencerna atau menyerap komponen makanan tertentu.
6. Efek Obat atau Antibiotik
Beberapa obat dapat menyebabkan diare sebagai efek samping, termasuk antibiotik.
Antibiotik dapat mengubah keseimbangan bakteri di saluran pencernaan sehingga meningkatkan risiko diare, termasuk infeksi Clostridioides difficile.
7. Kondisi Medis Tertentu
Pada sebagian anak, terutama jika diare berlangsung lama atau berulang, penyebabnya dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu.
Contohnya gangguan penyerapan, penyakit celiac, dan inflammatory bowel disease (IBD) seperti penyakit Crohn atau kolitis ulseratif.
Baca Juga: 10 Probiotik Alami untuk Diare pada Anak
Jenis dan Lama Waktu Diare pada Anak
Berapa lama normalnya anak diare tergantung dari jenisnya. Secara umum, diare terbagi menjadi diare akut, diare persisten, dan diare kronis. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.
1. Diare Akut
Diare akut adalah kondisi diare yang berlangsung kurang dari 14 hari dan terjadi dalam waktu singkat sehingga berisiko menyebabkan dehidrasi.
Penyebabnya yaitu infeksi saluran cerna yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit. Penularannya dapat terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
2. Diare Persisten
Diare persisten adalah diare yang berlangsung 14 hari atau lebih. Kondisi ini perlu diperhatikan karena diare yang berkepanjangan dapat menyebabkan masalah nutrisi pada anak.
Diare persisten dapat berkaitan dengan infeksi, termasuk infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit.
3. Diare Kronis
Diare kronis adalah BAB cair atau lembek yang terjadi tiga kali atau lebih dalam sehari selama setidaknya empat minggu. Kondisi ini dapat berlangsung terus-menerus atau muncul dan menghilang.
Penyebabnya infeksi, penyakit celiac, gangguan gastrointestinal fungsional, alergi atau intoleransi makanan, dan penyakit radang usus (IBD).
Saat si Kecil mengalami diare, penting untuk memantau perubahan kondisi pencernaannya. Gunakan AI Poop Tracker dari Bebeclub untuk membantu mengenali kondisi pup si Kecil. Cukup upload foto pup di atas popok atau toilet dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik. Ibu juga bisa mencoba fitur AI Poop Tracker di Aplikasi Bebeclub Mobile untuk membantu memantau kesehatan pencernaan si Kecil setiap hari.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Diare?
Diare merupakan salah satu gangguan pencernaan yang paling sering menyerang anak. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan saat anak diare.
1. Berikan Oralit untuk Mencegah Dehidrasi
Journal of Cochrane (2016) menyebutkan bahwa oralit membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang selama diare sehingga membantu mencegah dehidrasi.
Jika anak mual atau muntah, berikan oralit sedikit-sedikit tetapi sering. Pastikan Ibu melarutkan oralit dengan mengikuti petunjuk pada kemasan atau anjuran tenaga kesehatan.
2. Tetap Berikan ASI
Untuk bayi yang masih menyusu, ASI tetap diberikan selama diare. Pemberian ASI tidak perlu dihentikan karena ASI tetap bantu memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi anak selama sakit.
3. Tetap Berikan Makanan Sesuai Usia
Anak yang mengalami diare tetap perlu mendapatkan makanan sesuai usia dan tidak perlu dipuasakan. Berikan makanan yang mudah diterima dalam porsi sesuai kemampuan anak.
Pastikan Ibu tetap memprioritaskan makanan bergizi untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi si Kecil selama sakit.
4. Pastikan Anak Cukup Minum
Pastikan anak mendapatkan cukup cairan untuk mengganti cairan yang hilang selama diare. Selain oralit, berikan air putih, kaldu, atau sup dapat diberikan sesuai usia dan kondisi anak.
Namun, oralit merupakan pilihan utama untuk bantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare.
5. Berikan Suplementasi Zinc
Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut sesuai rekomendasi IDAI. Dosis zinc disesuaikan dengan usia anak.
Zinc bermanfaat untuk memperbaiki dinding saluran cerna dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada anak yang mengalami diare.
6. Hindari Minuman yang Terlalu Manis
Hindari minuman yang mengandung banyak gula saat anak diare, seperti soda, jus, atau minuman kemasan.
Kandungan gula dalam jumlah besar dapat memperburuk diare pada sebagian kondisi, sehingga minuman tidak disarankan sebagai pengganti oralit.
Apakah Probiotik Diperlukan?
Probiotik, seperti yogurt atau suplemen probiotik dapat membantu memulihkan keseimbangan bakteri baik di usus.
Probiotik dengan strain tertentu mungkin membantu mempersingkat durasi diare, tetapi manfaatnya bergantung pada strain dan kondisi anak.
Oleh karena itu, probiotik tidak dapat dianggap sebagai obat diare pada anak.
Baca Juga: Anak Diare Susah Makan? 6 Cara Mengatasi
Apakah Anak Boleh Minum Obat Diare?
Diare pada anak tidak boleh sembarangan diberikan obat, terutama obat antidiare yang dijual bebas. Perlu konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk pemberian obat.
Antibiotik tidak diperlukan untuk semua kasus diare karena penggunaannya bergantung pada penyebab infeksi.
Zinc dapat menjadi terapi tambahan pada anak yang mengalami diare, tetapi pemberiannya harus mengikuti anjuran dokter atau tenaga kesehatan.
Makanan dan Minuman yang Baik untuk Anak Saat Diare
Berikut beberapa pilihan makanan dan minuman yang aman diberikan untuk anak saat diare.
Makanan yang Bisa Diberikan
Anak dapat tetap makan makanan yang biasa dikonsumsi sesuai usia, selama mampu menerimanya. Contohnya:
- Nasi atau bubur
- Kentang
- Telur
- Daging atau ikan
- Sayuran yang biasa diterima anak
- Buah seperti pisang
Makanan tidak perlu dibatasi hanya pada makanan tertentu untuk menghentikan diare. Pastikan kebutuhan nutrisi si Kecil tetap terpenuhi saat sakit.
Minuman yang Sebaiknya Diberikan
ASI sebaiknya tetap diberikan pada bayi yang menyusu. Pemberian cairan tambahan perlu disesuaikan dengan usia dan kondisinya serta harus dengan rekomendasi tenaga kesehatan atau dokter.
Sementara itu, untuk anak usia lebih besar yang mengalami diare, berikan cukup cairan. Salah satunya oralit (oral rehydration solution) untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang.
Makanan dan Minuman yang Sebaiknya Dibatasi
Saat anak diare, tidak semua makanan perlu dihindari. Namun, makanan atau minuman tinggi gula dan makanan tinggi lemak perlu dibatasi karena berpotensi memperburuk diare.
Jika ada makanan atau minuman tertentu yang membuat gejala si Kecil semakin berat, pemberiannya juga perlu dikurangi untuk sementara waktu.
Pencernaan yang sehat membantu si Kecil lebih nyaman beraktivitas, bermain, dan belajar setiap hari. Jadi member Bebeclub sekarang untuk mendapatkan berbagai edukasi seputar kesehatan pencernaan anak, lengkap dengan tips dari para ahli. Selain mendapatkan akses ke berbagai artikel dan panduan dari para ahli, Ibu juga dapat mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan berbagai hadiah menarik sebagai member Bebeclub.
Kapan Anak Diare Harus Dibawa ke Dokter?
Sebagian besar diare pada anak dapat membaik dengan perawatan di rumah, tetapi segera bawa si Kecil ke dokter jika diare disertai tanda-tanda di bawah ini.
- Anak sangat lemas atau sulit dibangunkan
- Anak sulit makan/minum
- Tanda dehidrasi berat
- Terdapat darah pada feses
- Muntah terus-menerus sehingga cairan sulit masuk
- Nyeri perut hebat
- Perut membuncit
- Kondisi anak memburuk
- Diare tidak membaik
- Diare berlangsung lama
- Diare berulang
- Berat badan turun/tidak bertambah
- Bayi masih sangat kecil dan mengalami diare
Baca Juga: 11 Buah yang Tidak Boleh Dimakan Anak Saat Diare
Bagaimana Mencegah Diare pada Anak?
Beberapa kebiasaan yang bisa dilakukan untuk membantu mencegah diare pada anak, antara lain sebagai berikut.
- Cuci tangan dengan sabun, terutama sebelum makan, setelah dari toilet, setelah mengganti popok, dan sebelum menyiapkan makanan.
- Pastikan makanan dan air yang dikonsumsi bersih serta dimasak dengan matang.
- Jaga kebersihan peralatan makan dan minum anak, termasuk botol, dot, sendok, dan gelas.
- Simpan makanan dengan benar agar tidak mudah terkontaminasi bakteri.
- Lengkapi imunisasi anak sesuai jadwal, termasuk vaksin rotavirus sesuai rekomendasi dokter.
- Jaga kebersihan lingkungan dan toilet untuk mengurangi penyebaran kuman penyebab diare pada anak.
Setelah diare si Kecil sembuh total, Ibu juga bisa memberikan susu yang baik untuk pencernaan anak.
Bebelac 1 NutriGreat+ adalah Nutrisi Terbaik dari Bebelac yang diperkaya dengan 3 serat penting FOS:GOS dan Inulin, DHA 2x lebih tinggi, dan 0gr sukrosa. Bantu dukung tumbuh kembang optimalnya agar si Kecil tumbuh bersinar dari dalam.
_GUM_KATALOG (2).png)
_GUM_AI POOP TRACKER.png)
_GUM_CARELINE.png)
