Cara Meningkatkan EQ Anak agar Lebih Mampu Mengelola Emosi
Cara meningkatkan EQ anak adalah dengan mengenali emosi dan mengajarkannya empati, terutama di lingkungan sosial. Anak akan lebih mudah menyerap lewat contoh dari Ibu dan Bapak.
Kecerdasan emosional, alias emotional quotient (EQ), tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Maka, tahu cara meningkatkan EQ anak akan membantu tumbuh kembangnya yang optimal.
Apa Itu Emotional Quotient (EQ)?
Emotional quotient (EQ), alias kecerdasan emosional adalah kemampuan anak untuk mengenali, memahami, menerima, mengelola, serta mengendalikan emosi dan perasaan pada diri sendiri maupun orang lain.
EQ adalah jenis kecerdasan yang tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Kabar baiknya, ada banyak cara meningkatkan EQ anak karena ini bukanlah bakat bawaan.
Menurut UNICEF (2020), anak dengan kecerdasan emosional tinggi punya pengendalian diri yang baik, sekaligus dapat mengenali emosi atau perasaan orang lain. Ini membuatnya lebih dewasa dalam menghadapi tantangan sehari-hari.
Baca Juga: Sudah Lebih Ekspresif, Yuk Kenali Perkembangan Emosi Anak Usia 3 Tahun
Tanda EQ Anak Masih Perlu Dilatih
Perkembangan emosional anak umumnya dimulai ketika ia berusia 1 tahun. Pada awal masa perkembangan ini, Ibu dapat menjumpai anak mudah marah dan tantrum.
Hal ini normal karena kecerdasan emosi anak masih dalam perkembangan dan perlu dilatih. Beberapa tanda EQ anak masih perlu dilatih dan dikembangkan, yaitu:
1. Anak Mudah Tantrum atau Sulit Menenangkan Diri
Anak 1 tahun mulai mengalami dan memahami emosi baru, seperti marah, kesal, malu, gembira, dan kepemilikan. Saat merasakan emosi baru ini, anak tantrum adalah hal yang wajar.
Meski wajar, ini adalah tanda bahwa perkembangan emosi anak perlu dilatih sampai akhirnya ia benar-benar memahami apa yang dirasakannya.
Mereka juga cenderung belum dapat mengendalikan emosinya, sehingga sering kali tumpah dalam bentuk berteriak, menangis, menendang, memukul, atau menggigit.
2. Anak Kesulitan Mengekspresikan Perasaan dengan Kata-Kata
Wajar jika anak berusia 1 tahun belum dapat mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Sebab, kemampuan berbahasanya pun masih dalam perkembangan.
Namun, anak berusia 3-4 tahun seharusnya sudah mulai mampu menerjemahkan apa yang ia rasa ke dalam kata-kata.
Jika si Kecil belum bisa, ini adalah tanda Ibu perlu melatihnya, dengan cara berbicara dengan lembut sambil menanyakan perasaan dan memberikan penjelasan atas apa yang ia rasakan.
3. Anak Belum Peka pada Perasaan Orang Lain
Anak biasanya akan mulai belajar empati ketika memasuki usia 2 tahun, ketika ia mulai terdorong untuk berinteraksi dengan teman sebayanya.
Apabila Ibu mencoba cara-cara meningkatkan EQ anak sesuai dengan usianya, pada usia 3-4 tahun, ia akan mulai menunjukkan sikap empati dan kasih sayang pada orang lain.
Ibu bisa melihat apakah anak sudah mulai menunjukkan tanda-tanda itu atau belum. Jika masih tampak sulit, Ibu dapat mencoba melatihnya.
Baca Juga: 10 Kegiatan Seru untuk Menumbuhkan Perilaku Empati Anak
Apa Penyebab EQ Anak Belum Berkembang Optimal?
Sangat normal jika anak 1-5 tahun belum memiliki EQ yang baik karena masih dalam perkembangan. Namun, penting untuk Ibu tahu penyebab EQ anak belum berkembang optimal, seperti:
1. Anak Belum Punya Kosakata Emosi
Sebagai cara meningkatkan EQ anak, salah satu hal yang penting adalah si Kecil bisa memahami nama berbagai emosi.
Penelitian dalam jurnal Affective Science (2021) menyebutkan, melabeli emosi bisa membantu si Kecil memahami, menerima, dan mengekspresikannya dengan baik.
Ketika belum mengetahui nama dari masing-masing emosi, ia akan sulit mengungkapkan perasaannya. Ia jadi menunjukkan perilaku agresif dalam mengekspresikan emosinya.
2. Tidak Mendapatkan Cukup Contoh dari Lingkungan Sekitar
Anak adalah peniru yang ulung. Itu sebabnya, perilaku sehari-hari yang ia lihat dari orang tua, saudara kandung, atau orang di sekitarnya akan sangat menentukan EQ anak.
Jika orang di sekitar belum menunjukkan regulasi emosi yang cukup, si Kecil pun jadi kekurangan referensi sehingga tidak benar-benar mengetahui seperti apa seharusnya ia mengendalikan diri.
3. Emosi Anak Sering Ditekan, Bukan Dipahami
Menekan emosi anak, alih-alih memahaminya, juga jadi penyebab EQ anak tidak berkembang secara optimal.
Sebab, menekan emosi anak justru bisa menyebabkan ia stres dan menurunkan atau menguras kemampuan kognitif anak, yang sangat berperan dalam interaksi sosial.
Cara Meningkatkan EQ Anak yang Bisa Dilakukan Sehari-hari
Jika Ibu merasa perkembangan emosional anak belum optimal, ada beberapa cara meningkatkan EQ anak yang bisa Ibu praktikkan sehari-hari di rumah, seperti:
1. Ajari Anak Mengenali dan Menamai Emosinya
Meski tampak sepele, mengenali dan menamai emosi adalah cara meningkatkan EQ anak yang cukup efektif. Mengetahui nama-nama emosi membantunya dalam memberi tahu Ibu apa yang ia rasakan.
Ibu bisa mencoba membantunya. Misalnya, anak kesal karena kalah bermain. Cobalah katakan, "Adik sedih, ya, tadi kalah bermain?" Validasi kesedihannya lewat ucapan, sambil menghiburnya.
Jangan lupa juga untuk memperkenalkannya dengan emosi yang lain, seperti gembira, kecewa, atau kesal.
2. Contohkan Cara Mengekspresikan Emosi yang Sehat
Cara terbaik mengoptimalkan emotional quotient anak adalah memberikan contoh dalam mengekspresikan emosi secara sehat.
Misalnya, saat anak bersikap agresif, seperti memukul, ini adalah kesempatan Ibu untuk memberitahunya bahwa tindakan itu salah. Ajari cara mengungkapkan kemarahan dengan kata-kata, seperti, “Aku sedih karena kalah bermain.”
Di waktu lain, Ibu juga perlu menerapkan hal yang sama ketika berhadapan dengan si Kecil agar ia bisa mencontoh, misalnya, “Ibu sedih tadi Adik memukul saat Ibu ajak makan siang.”
Baca Juga: Melatih EQ dan Otak Cepat Tanggap agar Anak-anak Hebat
3. Ajari Strategi Menenangkan Diri
Setelah berhasil memahami emosi, cara meningkatkan EQ anak selanjutnya adalah dengan mengajari mereka cara menghadapi emosi tersebut dengan sehat.
Cobalah ajarkan si Kecil untuk menggunakan teknik bernapas dalam saat ia merasa marah. Jelaskan bahwa cara ini akan membantu meredakan amarah dan menenangkan diri.
Ibu juga bisa mengajarkannya berhitung dulu sebelum marah agar kemarahannya dapat mereda. Cara ini bisa menggantikan perilaku agresifnya dan membantunya mengendalikan emosi.
4. Libatkan Anak dalam Kerja Sama dan Tanggung Jawab Kecil
Kerja sama adalah keterampilan penting untuk meningkatkan EQ anak, Bu. Ibu bisa libatkan si Kecil dalam tugas rumah sederhana, seperti merapikan mainan atau meletakkan pakaian kotor di keranjang.
Selain merasa dilibatkan dalam kerja sama, anak juga akan belajar soal tanggung jawab. Setelah menyelesaikan tugas, berikan ia apresiasi karena telah membantu Ibu.
Langkah kecil seperti ini dapat membangkitkan motivasi pada anak untuk menjadi lebih empati dan merasa senang saat membantu orang lain.
Aktivitas Sederhana untuk Melatih EQ Anak di Rumah
Selain dengan berbagai cara meningkatkan EQ anak di atas, ada beberapa aktivitas yang bisa Ibu lakukan untuk membantu melatih perkembangan emosi anak, di antaranya:
1. Bermain Peran (Pretend Play)
Penelitian dalam jurnal Acta Psychologica (2023) menyebutkan bermain peran bisa membantu perkembangan emosional anak.
Ini karena saat bermain peran, ia dapat berkenalan dengan berbagai macam emosi dan mengekspresikannya, seperti bahagia, sedih, marah, atau takut.
Misalnya, saat ia bermain dengan boneka, ia akan mencoba membantu menenangkan bonekanya yang tengah sedih. Cara ini juga bisa membantu melatih empati anak.
2. Membaca Cerita dan Mendiskusikannya
Membaca cerita adalah salah satu cara meningkatkan EQ anak yang bisa Ibu coba. Saat anak mendengarkan cerita, ia akan ikut membayangkan yang terjadi di dalam cerita.
Anak mungkin akan mengajukan pertanyaan seputar yang terjadi di dalam cerita. Namun, jika tidak, ini adalah waktu yang tepat untuk Ibu bertanya dan melatih keterampilan berpikir kritis anak.
Diskusi saat bercerita membuat si Kecil terlibat aktif mengetahui emosi yang dirasakan oleh tokohnya, memahaminya, serta menangkap pesannya. Tak hanya sekadar mendengarkan.
3. Permainan Bergiliran dan Berbagi
Cara meningkatkan EQ anak juga dengan permainan yang mengharuskan ia bergiliran atau berbagi, seperti bermain kartu, board game, petak umpet atau lempar tangkap bola.
Bergiliran dan berbagi adalah cara penting agar anak bisa membangun hubungan dengan teman sebayanya. Anak juga sekaligus bisa belajar mengendalikan emosinya.
Ibu bisa menjelaskan apa yang orang lain dan si Kecil dapatkan dengan berbagi. Jangan lupa untuk memuji si Kecil ketika ia berhasil melakukannya dengan baik ya, Bu.
4. Berbicara dengan Anak Setelah Ia Sedih atau Marah
Untuk melatih EQ anak, Ibu juga bisa berbicara dengan si Kecil setelah ia merasa sedih atau marah. Lakukan ini setelah kondisinya tenang ya, Bu.
Ajak ia bicara mengenai emosi yang ia rasakan. Sebutkan apakah ia marah, kesal, atau kecewa dan bantu ia mengenali perbedaannya.
Membicarakan perasaannya setelah mengalami suatu emosi yang kuat akan membantunya memahami perasaan itu sendiri. Jadi, ia bisa mengutarakan perasaannya dengan lebih baik di kemudian hari.
Baca Juga: Mengenal Gentle Parenting dan Tips Menerapkannya pada si Kecil
Kapan Orang Tua Perlu Khawatir dengan Perkembangan EQ Anak?
Di usia-usia awal, sangat wajar jika si Kecil masih sulit mengendalikan emosinya. Namun, Ibu perlu waspada jika anak menunjukkan tanda-tanda keterlambatan perkembangan emosi, seperti:
- Tidak tertarik melakukan interaksi sama sekali
- Tidak merespons saat namanya dipanggil
- Anak sangat agresif dan sulit ditenangkan
- Anak tidak menunjukkan perasaannya
- Tidak mau melakukan kontak mata sama sekali
- Selalu tidak mau terlibat dalam permainan pretend play
- Tantrum pada hal-hal remeh
- Tidak menunjukkan empati
Jika Ibu ragu dengan perkembangan emosional anak, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter anak segera ya, Bu. Ini akan membantu mendeteksi dini masalah perkembangan dan mendapatkan penanganan segera.
Peran Orang Tua dalam Membentuk EQ Anak ke Depan
Tumbuh kembang anak dimulai dari rumah, termasuk perkembangan emosional anak.
Untuk itu, cara meningkatkan EQ anak yang pertama dan utama adalah dengan menciptakan lingkungan yang aman sehingga ia berani untuk mengekspresikan emosinya.
Saat ia merasa aman dan nyaman, latihlah kecerdasan emosinya secara konsisten. Tidak perlu menuntut hasilnya langsung sempurna ya, Bu, karena tiap anak berkembang dalam kecepatan yang berbeda.
Baca Juga: Anak 3 Tahun Harus Sudah Bisa Apa Secara Sosio-Emosional?
Selain berlatih, Ibu juga dapat membantu mengoptimalkan perkembangan emosional si Kecil dari dalam dengan memberikan Bebelac 3 NutriGreat+. Ini adalah susu pertumbuhan dengan nutrisi terbaik yang diperkaya dengan 3 serat penting FOS:GOS dan Inulin, DHA 2x lebih tinggi, dan 0gr sukrosa.
Bantu dukung tumbuh kembang optimalnya agar si Kecil tumbuh bersinar dari dalam. Yuk, dapatkan lebih banyak informasi dan tips seputar perkembangan tumbuh kembang si Kecil dengan mendaftar member Bebeclub.
