7 Cara Mengatasi Anak yang Tidak Mau Berbagi Tanpa Emosi
Anak tidak mau berbagi itu normal dan biasanya baru memahami konsep ini di usia 3-4 tahun. Ajarkan anak berbagi dengan memberi contoh, memvalidasi perasaannya, dan beri pujian.
Ditulis oleh :
Tim Penulis
Ditinjau oleh :
dr. Mikhael Yosia, DTM&H, BMedSci, PGCert, MKK
Diterbitkan: 29 September 2023
Diperbarui: 28 Januari 2026
Bu, penting untuk mengetahui cara mengatasi anak yang tidak mau berbagi, terutama bila ia belum paham konsep berbagi dan masih fokus pada dirinya sendiri. Yuk, simak tipsnya!
Anak Tidak Mau Berbagi, Normalkah?
Normal, Bu. Jika saat ini usianya belum mencapai 3 tahun, wajar bila ia masih enggan untuk berbagi atau bergantian dengan temannya.
Ini bisa dikarenakan anak belum siap secara perkembangannya untuk berbagi. Kebanyakan anak dinilai baru siap belajar berbagi di sekitar usia 3-4 tahun.
Bahkan, beberapa anak mungkin baru memahami konsep berbagi dan belajar cara melakukannya di atas usia 4 tahun.
Apakah Anak yang Tidak Mau Berbagi Berarti Pelit?
Tidak, bukan berarti anak pelit bila ia belum mau berbagi. Di usia balita, anak masih berada pada fase egosentris, yaitu melihat dunia dari sudut pandangnya sendiri.
Jadi, wajar bila ia ingin mempertahankan barangnya. Rasa kepemilikan anak juga cenderung masih sangat kuat, sehingga berbagi dapat terasa seperti “kehilangan” sesuatu yang ia miliki.
Oleh sebab itu, Ibu harus pahami cara mengatasi anak yang tidak mau berbagi untuk melatih empati dan kemampuan sosial emosionalnya.
Baca Juga: 9 Manfaat Bermain yang Penting untuk Tumbuh Kembang Anak
Kapan Anak Mulai Bisa Berbagi?
Berikut perkembangan kemampuan berbagi anak berdasarkan perkiraan usianya:
|
Usia |
Kemampuan Berbagi |
|
1-2 tahun |
Belum memahami konsep berbagi, masih sangat egosentris. |
|
2-3 tahun |
Mulai mengenali konsep “punya”, tetapi masih sulit bergantian. |
|
3-4 tahun |
Mulai bisa berbagi, tapi tetap membutuhkan bimbingan. |
|
4-5 tahun |
Lebih memahami empati dan mampu berbagi dengan senang hati. |
Penyebab Anak Tidak Mau Berbagi
Sebelum membahas cara mengatasi anak yang tidak mau berbagi, pahami terlebih dahulu penyebab anak enggan untuk berbagi, di antaranya:
1. Rasa Kepemilikan yang Kuat
Anak sulit berbagi karena memiliki rasa kepemilikan yang kuat, Bu. Si Kecil merasa benda itu adalah bagian dari dirinya, sehingga enggan memberikannya pada orang lain, sekali pun untuk bergantian.
Menurut psikolog Paul Coleman, pada usia sekitar 2 tahun kebahagiaan anak lebih banyak ditentukan oleh apa yang mereka miliki, bukan dari bagaimana membuat orang lain bahagia.
Jadi, konsep berbagi belum mereka pahami. Pada usia ini, anak juga masih egosentris, yakni fokus pada kebutuhan dan keinginannya sendiri. Maka, wajar bila ia belum siap berbagi.
2. Empati yang Masih Terbatas
Anak umumnya belum mengembangkan keterampilan empati untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, Bu. Mereka masih fokus pada perasaan dan pikirannya sendiri.
Jadi, jangan heran bila si Kecil akan mengatakan semua benda yang ia sukai adalah miliknya dan tidak boleh dibagi dengan orang lain.
Seiring bertambahnya usia si Kecil, Ibu perlu melatih kemampuannya dalam berempati. Jadi perlahan ia akan paham bahwa berbagi tidak akan mengurangi kebahagiannya, justru bisa menambah.
3. Takut Benda Tidak Dikembalikan atau Rusak
Anak biasanya belum mengerti konsep berbagi karena yang mereka tahu, benda miliknya adalah miliknya dan orang lain tidak boleh meminjam atau meminta.
Hal ini pun akhirnya bisa saja menimbulkan rasa khawatir berlebih pada si Kecil saat ia harus berbagi benda kesukaannya dengan orang lain, Bu.
Si Kecil berpikir, “Aduh, mainan kesukaanku diambil, bakal dikembalikan lagi tidak, ya?”. Anak juga mungkin khawatir apakah benda kesukaannya akan rusak jika dimainkan oleh orang lain.
4. Tidak Memahami Konsep Giliran
Anak sering menolak berbagi karena belum sepenuhnya memahami konsep “menunggu giliran”. Bagi mereka, berbagi mainan berarti kehilangan sesuatu yang penting.
Bahkan meski Ibu atau Bapak mengatakan, “Boleh tidak gantian sama teman 5 menit saja, Kak? Nanti kalau sudah selesai, Kakak bisa main lagi”.
Mereka bingung apa itu “menunggu giliran” karena belum paham maksud “sebentar” atau “nanti”. Akibatnya, berbagi tampak tidak punya batas waktu jelas, jadi terasa sulit dilakukan.
Baca Juga: Manfaat dan Cara Menerapkan Positive Attention pada Anak
5. Kondisi Emosional (Lelah, Cemas, Overstimulation)
Ketika anak sedang lelah, cemas, atau terlalu banyak stimulasi, mereka menjadi lebih sensitif dan sulit mengendalikan emosi.
Hal ini membuatnya lebih mudah terpicu emosi, dan semakin cenderung mempertahankan barang miliknya dan menolak meminjamkannya.
Dalam kondisi emosional yang tidak nyaman, anak lebih fokus pada dirinya, sehingga berbagi terasa semakin berat bagi mereka.
Singkatnya, berikut beberapa penyebab anak tidak mau berbagi dan cara mengatasi sesuai kondisinya:
|
Penyebab |
Penjelasan |
Cara Mengatasinya |
|
Rasa kepemilikan kuat |
Anak merasa benda yang ia pegang/miliki adalah bagian dari dirinya. |
Beri waktu, hindari memaksa, validasi perasaan anak, dan setelahnya minta untuk bergiliran bila ia sudah tidak mau menggunakannya. |
|
Empati belum berkembang |
Anak belum bisa membayangkan apa yang dirasakan orang lain. |
Beri contoh dan lebih banyak paparkan kondisi-kondisi yang akan mengasah empatinya, misalnya dengan membaca buku. |
|
Takut mainannya rusak atau tidak kembali |
Ketidakpastian membuat anak cemas. |
Tunjukkan contoh meminjamkan dan tunjukkan bahwa benda tersebut akan kembali. |
|
Belum memahami konsep berbagi |
Tahap perkembangan atau pemahaman belum matang. |
Ajarkan lewat permainan, buku cerita, atau kegiatan kelompok. |
|
Sedang tidak dalam mood yang bagus |
Kondisi emosional yang tidak stabil memengaruhi kemampuan berbagi. |
Hindari memaksa dan alihkan ke permainan lainnya. |
Cara Mengatasi Anak yang Tidak Mau Berbagi
Setelah memahami penyebab anak sulit berbagi, berikut cara mengatasi anak yang tidak mau berbagi:
1. Jelaskan Makna Berbagi dengan Bahasa Sederhana
Anak perlu memahami konsep berbagi lewat contoh konkret, bukan penjelasan yang sulit dipahami. Gunakan bahasa sederhana sesuai usianya agar ia bisa menangkap maksud Ibu.
Ibu bisa menjelaskan bahwa berbagi bukan berarti kehilangan, tetapi gantian memakai. Penjelasan yang tenang membantu anak merasa aman dan tidak terancam.
Misalnya sampaikan, “Adik suka sekali ya sama mobil-mobilan ini? Ibu paham, kok. Tapi kalau nanti adik sudah selesai main, boleh ya kita pinjamkan ke teman sebentar? Teman juga mau coba main mobil seperti punya adik. Pasti dia akan senang.”
2. Jadilah Contoh (Role Model)
Ibu, anak adalah peniru yang hebat. Maka itu, memberikan contoh adalah salah satu kunci tips melatih anak berbagi.
Ibu dapat mencontohkan perilaku berbagi kepada si Kecil untuk mendorongnya memahami konsep berbagi itu sendiri.
Misalnya, sekarang adalah waktunya makan. Nah, Ibu dapat menawarkan makanan kepada si Kecil dan berkata lembut, “Sayang, kamu mau tidak mencicipi makanan Ibu?”
3. Gunakan Konsep “Giliran” daripada “Berbagi”
Coba beri pemahaman bahwa bergiliran artinya setiap orang punya kesempatan yang sama. Ini bisa jadi upaya mengatasi anak yang tidak mau berbagi mainan atau barang lainnya, Bu.
Pendekatan “giliran” lebih mudah dipahami anak karena memiliki batas waktu yang jelas, sehingga mereka tidak merasa mainannya akan hilang selamanya.
Contoh, “Sekarang giliran Kakak. Setelah 5 menit, tolong gantian sama teman, ya.” Jika ia belum memahami konsep waktu, coba gunakan timer agar anak melihat bahwa waktunya tidak hilang begitu saja.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Ketahui Jenis-Jenis Pola Didik Orang Tua dan Pengaruhnya Terhadap Anak!
4. Validasi Perasaan Anak, Jangan Memaksa
Ketika anak menolak meminjamkan mainan, hindari memarahi atau menyalahkannya. Misalnya dengan berkata, “Kok kamu pelit? Ibu nggak ajari kamu untuk bersikap pelit sama teman!”
Sebaliknya, validasi dulu perasaan anak tanpa memaksanya, misalnya katakan, “Kamu belum mau bergantian sama teman, ya? Oke nggak apa-apa, kita pilih mainan lain dulu, yuk”
Memvalidasi perasaan membantu anak merasa aman dan dihargai, sehingga ia lebih terbuka untuk berbagi tanpa tekanan. Ini jadi cara mengatasi anak yang tidak mau berbagi yang efektif.
5. Buat Zona Mainan Khusus yang Tidak Harus Dibagi
Cara mengatasi anak yang tidak mau berbagi bisa dimulai dengan membuat zona mainan khusus miliknya. Ini memberi anak rasa aman bahwa benda kesayangannya tidak akan diambil orang lain.
Strategi ini juga membantu mengurangi konflik dan membuat anak lebih rela berbagi benda lain yang tidak termasuk dalam zona mainannya.
Ibu dan Bapak bisa memberi label “mainan pribadi” dan “mainan bersama” agar anak lebih mudah memahami.
6. Ajarkan Empati Melalui Cerita atau Bermain Peran
Jika Ibu masih bingung bagaimana cara mengatasi anak yang tidak mau berbagi, coba mulai dari kegiatan sehari-hari yang paling disukai anak.
Ajak ia membaca buku cerita dan bermain peran dari boneka, mobil-mobilan, atau permainan lainnya sembari mengajarkan empati.
Misalnya, mainkan skenario dengan dua boneka yang saling meminjam mainan, ini bisa menjadi contoh konkret bagaimana berbagi membuat permainan lebih seru.
Cerita dan role play membantu anak memahami perasaan orang lain dengan cara yang sederhana. Pendekatan ini efektif karena anak belajar tanpa merasa dihakimi.
7. Beri Pujian Saat Anak Mau Berbagi
Ketika anak mau berbagi, jangan lupa untuk beri pujian atas sikap baiknya, Bu. Pujian dapat memberikan anak motivasi untuk mengulanginya.
Cara mengatasi anak yang tidak mau berbagi ini juga akan memperkuat perilaku positif.
Fokuskan apresiasi pada usahanya, bukan hasil, sehingga ia merasa bangga atas prosesnya. Misalnya sampaikan, “Ibu senang kamu mau gantian, kamu hebat sudah mencoba.”
Kesalahan Orang Tua yang Harus Dihindari
Selama mengajarkan dan menerapkan cara mengatasi anak yang tidak mau berbagi, pastikan Bapak dan Ibu menghindari beberapa kesalahan berikut ini:
- Memaksa anak berbagi secara langsung.
- Memarahi atau mempermalukan anak ketika menolak berbagi.
- Mengabaikan perasaan anak saat ia belum mau berbagi.
- Memberikan label negatif seperti “pelit” atau “nggak mau berbagi.”
- Mengambil paksa mainan dari tangan anak.
- Membandingkan anak dengan teman atau saudaranya yang sudah mau berbagi.
- Tidak memberi contoh berbagi.
- Tidak membuat aturan yang jelas tentang giliran.
- Langsung menyalahkan anak tanpa melihat kondisinya, misalnya apakah ia sedang lelah, baru bangun, atau terlalu banyak stimulasi.
Itulah penyebab dan cara mengatasi anak yang tidak mau berbagi, Bu. Jadi, perlu diingat bahwa anak tidak mau berbagi itu adalah hal wajar dan bukan berarti ia pelit.
Jangan memaksanya untuk berbagi bila ia belum mau, ajarkan si Kecil konsep berbagi melalui pendekatan yang santai, positif, dan menyenangkan ya, Bu.
Di samping itu, pastikan juga kebutuhan nutrisi anak terpenuhi, misalnya dari susu formula yang mengandung AA dan DHA untuk mendukung perkembangan kognitif dan kemampuan sosialnya.
Daftar jadi member Bebeclub untuk baca ratusan artikel parenting dan pemenuhan gizi anak terlengkap dan terverifikasi ahli. Dengan jadi member, Ibu juga bisa dapatkan akses eksklusif ke berbagai fitur monitor kesehatan pencernaan anak, hingga kesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk Bebelac. Daftar gratis, sekarang!
