Kembali ke Pencernaan & Alergi

Kenali 7 Penyebab Diare pada Bayi, dan Cara Tepat Mengatasinya

Diare bisa menyerang siapa saja, tak terkecuali pada bayi, Bu. Maka dari itu, Ibu perlu mengetahui penyebab diare pada bayi dan cara men...

4 min
14 Oct 2022
Ibu menggendong bayi yang sakit perut karena diare

10 ibu tandai artikel ini informatif

Diare bisa menyerang siapa saja, tak terkecuali pada bayi, Bu. Maka dari itu, Ibu perlu mengetahui penyebab diare pada bayi dan cara mengatasinya dengan tepat kalau-kalau hal ini dialami sang buah hati. 

Ibu perlu tahu juga, bayi yang mengalami diare sangat rentan mengalami dehidrasi. Jadi, jangan biarkan diare yang menyerang si Kecil tidak tertangani dengan tepat. Dehidrasi yang disebabkan diare bisa berdampak negatif bagi tumbuh kembang si Kecil, lho!

Yuk, kita kupas tuntas segala hal tentang diare pada bayi, mulai dari penyebab, gejala, ciri-ciri, sampai cara mengatasinya yang tepat!

Penyebab Diare pada Bayi 

Bayi yang diare umumnya akan jadi lebih sering BAB. Sampai sekitar usia 6 minggu, kebanyakan bayi bisa BAB sampai 2-5 kali dalam sehari. Beberapa bayi mungkin suka buang air besar setelah setiap makan. Kemudian ketika sudah menginjak usia 3 bulan, frekuensi BAB bayi biasanya menurun. Biasanya bayi di atas 3 bulan BAB hanya sekali sehari dan mungkin sesering seminggu sekali.

Jika si Kecil BAB lebih dari 3 kali dalam sehari dengan tekstur tinja yang cair dan berwarna kuning kehijauan atau cokelat gelap, ini mungkin pertanda ia sedang diare. 

Selain itu, ciri-ciri bayi diare juga dapat dilihat dari gerak-geriknya yang tampak lebih rewel dan gelisah, dan bahkan tidak mau menyusu.

Melihat gejala-gejala ini, Ibu pasti jadi bertanya-tanya. Sebenarnya, apa ya yang membuat si Kecil diare?

Nah, yuk kita kenali penyebabnya terlebih dahulu! Berikut penjelasannya. 

1. Infeksi Virus pada Saluran Pencernaan

Sebagian besar diare pada bayi yang berusia kurang dari 2 tahun disebabkan oleh infeksi rotavirus. Lalu, apa yang menyebabkan infeksi virus ini pada bayi?

Diare akibat rotavirus umumnya terjadi di lingkungan yang sanitasinya kurang baik, Bu. Bayi dan anak-anak juga rentan terkena infeksi virus ini ketika makan atau minum hal-hal yang sudah terkontaminasi, juga ketika memasukkan mainan atau tangannya yang kotor ke dalam mulut.

Diare pada bayi yang disebabkan oleh infeksi virus biasanya akan berkurang intensitasnya dalam kurun waktu 24 jam. Akan tetapi, Ibu sebaiknya tetap waspada. Sebab, diare yang tidak teratasi dengan baik bisa menyebabkan dehidrasi dan berat badan bayi menurun. 

Untungnya, risiko bayi terkena diare mulai berkurang jauh berkat pemberian imunisasi rotavirus. Jadi, jangan sampai si Kecil melewatkan imunisasi wajibnya, ya Bu!

2. Intoleransi Laktosa 

Si Kecil jadi sering buang angin, perutnya keras, dan diare setiap kali habis minum susu sapi? Ini mungkin tanda bayi Ibu memiliki masalah pencernaan seperti intoleransi laktosa.

Intoleransi laktosa itu sendiri adalah kondisi yang membuat pencernaan bayi tidak bisa mencerna laktosa, jenis gula alami di dalam susu sapi.

Nah jika ini yang dialami bayi Ibu dan ia sudah mulai MPASI, baiknya segera hentikan pemberian susu sapi dan makanan olahan susu sapi.

Kalau si Kecil masih menyusu ASI, Ibu juga perlu mengerem konsumsi susu sapi dan olahannya, ya! Sebab, laktosa dari makanan mungkin bisa terserap ke dalam ASI.

3. Perubahan Pola Makan

Jika si Kecil sudah menginjak usia 6 bulan, Ibu mungkin akan mulai memperkenalkan ia dengan MPASI. 

Ketika bayi yang sudah lama terbiasa minum ASI mulai diberikan makanan padat, sistem pencernaannya bisa ‘kaget’. Perubahan pola makan inilah yang bisa membuat bayi MPASI mengalami diare. 

4. Alergi Makanan

Jika bayi sudah MPASI, diare juga mungkin terjadi karena si Kecil ternyata punya alergi atau intoleransi terhadap suatu jenis makanan atau minuman tertentu. 

Beberapa jenis makanan penyebab alergi di antaranya adalah susu, telur, kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, atau kerang. 

Reaksi alergi biasanya akan muncul beberapa menit atau jam setelah si Kecil makan atau minum. Jika penyebab diare pada bayi karena risiko alergi makanan, ia juga akan mengalami gejala ruam atau gatal pada area mata dan hidung.

5. Infeksi Bakteri atau Parasit

Jika Bayi mengalami diare yang disertai dengan muntah-muntah, ini mungkin karena flu perut, Bu. Nah, pernah dengar tentang flu perut?

Orang Indonesia sejak zaman dulu mungkin lebih akrab dengan istilah muntaber. Penyebab diare yang disertai dengan muntah-muntah ini juga infeksi, lho!

Paparan infeksi akibat parasit juga bisa menjadi penyebab diare yang disertai muntah pada bayi, Bu. Hal ini dapat terjadi apabila makanan, minuman, tangan, mainan, atau objek benda si Kecil terkontaminasi oleh jenis parasit tertentu, kemudian masuk ke dalam mulutnya

Beberapa jenis bakteri yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan, termasuk diare dan keracunan makanan, adalah E. coli, Salmonella, Campylobacter, dan Shigella. 

Umumnya, si Kecil akan mengalami diare dan muntah beberapa jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Muntaber pada bayi gejala utamanya adalah diare yang berlangsung selama 3-5 hari yang disertai demam ringan dan mual muntah. 

6. Efek Minum Antibiotik

Apakah Ibu sedang minum antibiotik selama menyusui si Kecil? Jika iya, Ibu perlu tahu juga bahwa obat-obatan yang Ibu konsumsi bisa berpengaruh pada bayi. Sebagai contoh, antibiotik nyatanya bisa menimbulkan efek samping berupa diare pada si Kecil. Begitu pula dengan beberapa suplemen atau vitamin yang sedang Ibu konsumsi.  

Kenapa begitu? Hal ini bisa terjadi, karena apa pun yang Ibu konsumsi sehari-hari sangat bisa memengaruhi rasa, tekstur, dan bahkan kandungan dari ASI yang diminum si Kecil yang perutnya masih sensitif.

Sebab, untuk itu, Ibu perlu memperhatikan apa yang sedang dikonsumsi agar tidak memengaruhi ASI.  

Baca Juga: Penyebab Bayi Sering BAB Tapi Sedikit-Sedikit (Wajarkah?)

Kini, Ibu juga bisa mengecek kesehatan pencernaan si Kecil lewat tools TummyPedia. Hasilnya seperti apa, nanti bisa langsung di-download untuk dikonsultasikan lagi dengan dokter anak atau Tim Bebecare yang hadir 24 jam untuk menjawab pertanyaan Ibu.

Cara Mengatasi Diare pada Bayi 

Ketika si Kecil mengalami diare, sangat wajar bila Ibu merasa gelisah melihatnya rewel dan lesu. Ibu mungkin bertanya-tanya, berapa lama diare bayi akan sembuh? Bu, biasanya bayi yang diare dapat sembuh kurang lebih selama 5-14 hari. 

Nah, Ibu juga tak perlu khawatir karena ada banyak cara, kok, untuk mengatasi diare pada si Kecilpada bayi yang bisa dicoba dengan mudah di rumah. 

1. Berikan ASI Lebih Sering

Menurut dokter spesialis pencernaan anak di Rady Children's Hospital in San Diego, Rebecca Cherry, M.D., cara mengatasi diare pada bayi berusia di bawah 6 bulan sudah cukup dengan menyusui lebih sering. 

Hal ini karena karena ASI mengandung nutrisi yang dibutuhkan si Kecil untuk menggantikan cairan dan nutrisi yang hilang akibat diare. 

Pada bayi berusia di atas 6 bulan dan bila dokter mengizinkan, pemberian ASI bisa didampingi dengan cairan rehidrasi oral atau cairan oralit. 

2. Hindari Memberikan Sembarang Cairan

Walaupun perlu memberikan cairan lebih banyak untuk si Kecil agar mencegah dehidrasi, Ibu sebaiknya menghindari pemberian cairan tanpa saran dari dokter. Misalnya, memberikan air putih dan minuman jus. 

Memberikan jus kepada bayi yang diare bisa memperburuk gejala diare. Ini karena beberapa anak tidak atau belum dapat mencerna gula dengan baik. 

3. Beri Makanan Lunak

Jika si Kecil sudah berusia di atas 6 bulan dan mengonsumsi makanan padat, Ibu bisa memberikan makanan lunak. 

Sebagai contoh, Ibu bisa memberikan pisang yang dihaluskan, bubur, atau saus apel sampai diare berhenti. Makanan-makanan ini bisa menjadi pengganti nutrisi dan tenaga si Kecil yang hilang akibat diare. 

Hindari memberikan makanan yang dapat memperburuk gejala diare, seperti makanan manis, makanan berserat, makanan berminyak, atau produk olahan susu. 

Perlu diingat, memberikan makanan padat maupun halus pada anak usia di bawah 6 bulan dapat membahayakan bayi. Selama usia tersebut, cukup berikan ASI lebih sering untuk mencegah dehidrasi dan memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

4. Beri Asupan Probiotik

Jika si Kecil mengalami diare, Ibu mungkin terburu-buru untuk memberikannya obat. Eits, jangan dulu, ya, Bu. Memberikan obat diare untuk bayi perlu resep dan pengawasan dari dokter, lho!

Sebagai gantinya, Ibu bisa memberi asupan probiotik untuk si Kecil yang berusia 6 bulan ke atas dan sudah bisa makan MPASI, misalkan dari puree pisang, asparagus, rumput laut, dan buncis-buncisan. Probiotik dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan bayi. 

5. Sering Mengganti Popok Bayi

Ketika si Kecil mengalami diare, Ibu tentu harus sering-sering mengganti popok, ya. Pastikan Ibu membersihkan area pantat bayi menggunakan air bersih. 

Jika sudah dibersihkan, tunggu sampai area pantat bayi kering dengan sempurna. Selanjutnya, gunakan krim pelembap untuk melembapkan kulitnya.

Jangan lupa untuk mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun sesaat setelah mengganti popok si Kecil guna mencegah penyebaran penyakit. 

Baca Juga: Deretan Makanan untuk Anak Diare agar Cepat Pulih dan Sehat

Kapan Bayi Kena Diare Harus Dibawa ke Dokter?

Walaupun umumnya diare pada bayi dapat berangsur membaik sendiri, Ibu tetap perlu waspada bila si Kecil mengalami tanda-tanda sebagai berikut:

  • Feses berwarna merah atau putih. Warna putih menandakan bahwa ada masalah pada organ hati bayi. Sementara itu, feses berwarna merah menunjukkan bahwa ada perdarahan dalam sistem cerna si Kecil. 

  • Si Kecil BAB lebih dari 10 kali dalam sehari. 

  • BAB berdarah dan berlendir.

  • Muntah berulang kali. 

  • Mual.

  • Ruam kulit.

  • Demam tinggi.

  • Berat badan menurun.

  • Mengalami tanda-tanda dehidrasi, seperti mulut kering, lesu, lemas, sering mengantuk.

  • Tidak mau menyusu, minum, atau makan.

  • Tidak buang air kecil. 

Dokter akan memberikan penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi si Kecil. Selain itu, jangan lupa Ibu tetap perlu mendukung kesehatan saluran cernanya tiap hari. Sebab, sistem pencernaan yang baik dapat menentukan tumbuh kembang optimalnya.

Semoga si Kecil cepat sembuh dan bisa kembali ceria, ya, Bu!


Referensi:

  1. KidsHealth. https://kidshealth.org/en/parents/diarrhea.html. Diakses pada 15 Agustus 2022.
  2. John Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/diarrhea-in-children. Diakses pada 15 Agustus 2022.
  3. Parents. https://www.parents.com/baby/health/diarrhea/diarrhea-101/. Diakses pada 15 Agustus 2022.
  4. Baby Centre. https://www.babycentre.co.uk/a82/diarrhoea-in-babies. Diakses pada 15 Agustus 2022.
  5. Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000691.htm. Diakses pada 15 Agustus 2022.
  6. WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/baby-diarrhea-causes-treatment. Diakses pada 15 Agustus 2022. 
  7. Healthline. https://www.healthline.com/health/baby/baby-diarrhea. Diakses pada 15 Agustus 2022. 
  8. Clinical and Experimental Gastroenterology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3108653/. Diakses pada 15 Agustus 2022.
  9. Seattle Children. https://www.seattlechildrens.org/conditions/a-z/diarrhea-0-12-months. Diakses pada 15 Agustus 2022.


 
alt

Kenali apa itu

Kalkulator Nutrisi

Cek nutrisi si Kecil yuk! Sudah sesuaikah dengan kebutuhannya?

Artikel Terkait