penyebab-anak-tantrum

6 Penyebab Anak Tantrum yang Sering Terjadi di Malam Hari

detail-fb detail-wa detail-twitter

Mencari dan menangani penyebab anak tantrum di malam hari memang tidak mudah, ya, Bu. Selain butuh kesabaran ekstra, diperlukan waktu dan perhatian lebih agar Ibu dan Ayah dapat mencermati berbagai kemungkinan penyebabnya. Dengan mengetahui penyebabnya, barulah Ibu dan Ayah dapat mencari cara untuk meredakan tantrum pada anak yang terjadi di malam hari. Yuk, kita cari tahu bersama.

Mengenal Tantrum pada Anak

Tantrum, atau sering disebut “temper tantrum”, merupakan perilaku anak sebagai respons terhadap sesuatu yang ia anggap tidak menyenangkan. Reaksi ini bisa berupa marah, lebih agresif, hingga frustasi. Ekspresi tantrum pada balita, misalnya, dapat berupa menangis, berteriak, memukul, melempar benda, menahan napas, mendorong orang atau benda, sampai menggigit1

Tantrum umumnya hanya terjadi sesekali. Waktunya bisa kapan saja, termasuk di malam hari. Kabar baiknya, durasi dan tingkat keparahan tantrum secara alami akan menurun seiring bertambahnya usia anak. Pada anak usia 18—60 bulan, umumnya anak berpotensi tantrum selama setengah hingga 1 menit1.

Penyebab Anak Tantrum

Anak tantrum di malam hari bisa disebabkan oleh beberapa kondisi berikut, di antaranya:

“Teror Malam”

“Teror malam” yang dimaksud adalah respons ekstrem anak terhadap lingkungan dan suasana baru yang ia hadapi. Respons ini bisa berupa tangisan atau teriak ketakutan hingga gelisah sepanjang malam. Kondisi ini dapat terjadi ketika si Kecil pertama kali tidur di kamar yang terpisah dari orangtua atau mengalami mimpi buruk hingga sulit dibangunkan2.

“Teror malam” juga dapat disebabkan kelelahan berlebih yang dialami anak. Berdasarkan sisi etiologi (cabang ilmu kedokteran tentang sebab dan asal penyakit), diketahui adanya kaitan antara aktivitas fisik yang berlebih dan kelelahan dengan “teror malam” yang dialami anak4.

Kolik

Kolik diperkirakan memengaruhi 5%-40% anak di seluruh dunia dan sering terjadi di malam hari. Kondisi ini biasanya muncul pada minggu kedua atau ketiga usia bayi, dan mencapai puncaknya sekitar 6 minggu. Biasanya mereda antara 12-16 minggu. Ciri-ciri kolik: tangisan yang tiba-tiba, sulit untuk ditenangkan, mudah marah, teriak tanpa penyebab yang jelas, wajahnya kemerahan, menarik kaki dan menegangkan perutnya6.

Penyebabnya antara lain alergi protein susu sapi. Kemungkinan bisa diturunkan dari riwayat alergi keluarga (ayah, ibu, paman, bibi, nenek dan kakek). Gejalanya berupa ruam pada bagian pipi bayi. Bila si Kecil mendapatkan ASI, Ibu disarankan berhenti mengonsumsi produk turunan sapi, seperti: yogurt, mentega, keju, dan lain-lain. Dan jika bayi minum susu formula, sebaiknya beralih ke susu formula hipoalergenik7.

Anak Sedang Sakit atau Cedera

Kemampuan berbahasa anak di bawah usia 3 tahun baru mencapai 75%3. Tidak heran jika ia mengekspresikan ketidaknyamanannya dengan tangisan. Ini adalah cara si Kecil memberitahu ke orang di sekitarnya, “Tolong, aku sedang merasa tidak nyaman dengan tubuhku.”

Gangguan di Sekitar Area Tempat Tidur Anak

Cek dengan saksama apakah ada hal yang dapat membuat si Kecil tiba-tiba terbangun, seperti gigitan nyamuk, suhu pendingin ruangan maupun popok si Kecil. Ketiganya bisa membuat anak merasa tidak nyaman dan tenang.

Kurangnya Waktu Tidur

Waktu tidur kurang dapat membuat anak berisiko tantrum.  Balita kurang dari 1 tahun membutuhkan waktu tidur 14—17 jam tidur, termasuk tidur siang. Balita usia 1–2 tahun membutuhkan waktu tidur 11—14 jam. Sementara itu, balita  usia 3—4  tahun membutuhkan waktu tidur 10—13 jam.5

Durasi Screen Time yang Tidak Sesuai Usianya

Durasi screen time yang berlebihan dapat membuat anak lebih berisiko tantrum menjelang waktu tidur. Anak di usia 1—4 tahun sebaiknya tidak menggunakan gawai lebih dari 1 jam. Makin singkat durasinya akan lebih baik5.

Cara Mengatasi Anak Tantrum

Setelah mengetahui penyebabnya, bagaimana cara orangtua untuk menenangkan anak yang tantrum?1 Mari kita simak bersama. 

1. Menenangkan Diri Sendiri  

Tenangkan diri terlebih dahulu sebelum  menenangkan anak yang tantrum. Caranya, tarik napas panjang beberapa kali dan embuskan, setelah itu minum air hangat. 

2. Pahami Tantrumnya

Hindari terbawa emosi atau mengiyakan tuntutan anak yang tidak wajar. Katakan, “Iya” hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik dan keamanan si Kecil. 

Selain itu, Ayah dan Ibu bisa meninggalkan si Kecil sejenak di kamar sampai ia berhenti tantrum. Namun, pastikan anak berada di posisi yang aman dan tidak ada benda yang dapat melukainya, ya, Bu. 

3. Hindari Hukuman Fisik

Dalam menangani anak tantrum, tidak disarankan untuk melakukan hukuman fisik1. Hal ini sebaiknya disepakati juga dengan pasangan, agar terjadi keselarasan nilai-nilai dalam mendidik anak. 

Hukuman fisik hanya akan meningkatkan perilaku tantrum, baik dari tingkat keparahan maupun durasinya. Selain itu, hukuman fisik sama saja mengajarkan anak bahwa ketika marah dan frustasi, mereka boleh melakukan kekerasan, seperti memukul dan mencubit.

Mencegah Terjadinya Tantrum

Pencegahan tantrum terkait erat dengan manajemen amarah1. Oleh karena itu, Ayah dan Ibu bisa mempelajari 4 keterampilan di bawah ini.

1. Berkomunikasi dengan Baik

Usahakan tidak berteriak dan berdebat di depan anak. Selain itu, tiap hari, sempatkan bertanya tentang perasaan mereka. Memvalidasi perasaan anak akan membuatnya merasa nyaman dan dianggap penting.

2. Dengarkan Pendapat dan Perasaannya

Hindari terlalu sering melarang anak, kecuali untuk urusan yang menyangkut kesehatan dan keselamatannya. Selain itu, berikan perhatian positif, misalnya, membacakan buku, bermain bersama, dan melibatkan dia dalam kegiatan rutin di rumah, seperti memasak, bersih-bersih, dan berkebun. 

3. Konsultasi ke Pakar

Meski tantrum pada anak balita dikategorikan sebagai bagian dari perilaku normal balita1, Ibu dan Ayah tidak perlu ragu berkonsultasi ke dokter atau psikolog jika anak menunjukkan ciri tantrum yang tidak biasa. 

4. Mencukupi Kebutuhan Fisik Anak

Mencukupi kebutuhan tidur dan pola makan teratur anak dapat mengurangi risiko tantrum. Ibu dapat  menyediakan makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam menu makan harian si Kecil.

Setelah mengetahui cara mengatasi tantrum pada anak, Ibu bisa melatih berbagai cara pencegahannya juga. Tidak lupa, lengkapi kebutuhan gizi dan nutrisi si Kecil dengan susu Bebelac 3 yang mengandung FOS GOS, minyak ikan dengan kandungan Omega-3 dan Omega-6, serta 13 vitamin dan 9 mineral. Dengan memberikan asupan kaya nutrisi setiap harinya, pencernaan si Kecil terjaga (happy tummy), sehingga mood-nya akan lebih baik (happy heart), dan bisa berpikir optimal agar bisa mengungkapkan emosinya dan meminimalisir terjadinya tantrum.


Referensi

  1. Laura L. Sisterhen; Paulette Ann W. Wy. (update terakhir Juli 2021) Temper Tantrums. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544286/ (Diakses 6 Oktober 2021)
  2. Sean D Boyden, Martha Pott, and Philip T Starks (2018). An Evolutionary Perspective on Night Terrors. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5941156/  (Diakses 6 Oktober 2021)
  3. Sevan S. Misirliyan; Annie P. Huynh.  (update terakhir Juli 2021). Development Milestones. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557518/  (Diakes 6 Oktober 2021)
  4. Ngoc L. Van Horn; Megan Street.  (update terakhir Juli 2021). Night Terrors. Diambil dari: .https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK493222/ (Diakes 7 Oktober 2021)
  5. World Health Organization (2019). Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children under 5 Years of Age. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK541169/ (Diakses 7 Oktober 2021)
  6. J B. Banks; Audra S. Rouster; J Chee. (update terakhir Juli, 2021).Colic. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK518962/ (Diakses 12 Oktobr 2021)
  7. Agus Firmasyah (2015). Kolik pada Bayi (bagian 1). Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kolik-pada-bayi-bagian-1   (Diakses 13 Oktober 2021)
Tag