Normalkah Perut Bayi Besar? Penyebab, Gejala, dan Perawatan
Perut bayi besar normal bila kekenyangan dan kembung. Waspada bila perut buncit dengan diare, BAB kurang dari 3x seminggu, muntah warna kuning/hijau, dan demam.
Perut bayi besar dan buncit mungkin membuat Bapak Ibu bertanya-tanya, apakah ini pertanda masalah? Yuk, cari tahu penyebab perut si Kecil tampak besar dan bagaimana mengatasinya!
Perut Bayi Besar Normalkah?
Perut bayi baru lahir yang tampak besar dan buncit umumnya normal, terutama setelah menyusu. Perut bayi buncit karena otot-ototnya masih lemah.
Selama bayi masih ceria, aktif, tidak terlihat kesakitan, dan masih mau menyusu, Ibu tidak perlu terlalu khawatir dengan perutnya yang besar.
Berikut perbandingan perut bayi buncit yang normal dan tidak normal.
|
Kondisi |
Normal |
Tidak Normal |
|
Setelah menyusu |
Wajar |
Disertai muntah |
|
Konsistensi perut |
Lembut, tidak sakit |
Keras dan menangis saat perutnya disentuh |
|
BAB |
Normal |
Tidak BAB > 2–3 hari, feses keras atau diare |
|
Tanda tubuh |
Ceria, aktif |
Demam, lesu, muntah |
|
Durasi |
Perut segera kembali normal |
Perut membesar terus-menerus |
Kenapa Perut Bayi Bisa Besar?
Pada beberapa kasus, perut bayi besar mungkin disebabkan hal tertentu yang membutuhkan perhatian khusus. Lantas, kenapa perut bayi besar?
1. Bayi Kekenyangan
Saat bayi kekenyangan, otot-otot perut bayi belum begitu kuat sehingga perutnya akan tampak lebih keras dan bulat setiap kali habis menyusu.
Tak perlu khawatir, ini merupakan hal yang normal. Perut si Kecil akan kembali ke ukuran biasanya setelah buang air kecil atau buang air besar.
Selain perut membesar, bayi kekenyangan juga ditandai dengan menutup mulut, memalingkan wajah saat ada ASI/MPASI, tertidur setelah menyusu, tangannya rileks, dan buang air kecil >6 kali sehari.
2. Perut Kembung
Jika bukan karena kenyang minum ASI, perut besar bayi mungkin pertanda kembung.
Perut kembung pada bayi merupakan hal yang wajar terjadi sehabis menangis, sehabis menyusu terlalu cepat, atau mengisap empeng. Ketiganya membuat gas lebih banyak masuk ke perut.
3. Bayi Sembelit
Perut bayi besar dan terasa keras bisa jadi pertanda sembelit karena feses yang mengeras dan menumpuk di usus.
Kadang, Bapak Ibu bisa merasakan fesesnya yang terasa seperti benjolan keras dan padat saat mencoba menekan perutnya dengan lembut.
Bayi dapat dikatakan sembelit bila BAB kurang dari 3 kali seminggu dengan feses yang kering dan keras.
Bila Ibu mengkhawatirkan kesehatan pencernaan si Kecil, cek lewat AI Poop Tracker sekarang. Cukup dengan upload foto pup di atas popoknya dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik untuk dikonsultasikan lebih lanjut ke dokter.
Baca Juga: 10 Makanan Penyebab Sembelit pada Bayi dan Solusinya
4. Alergi Susu Sapi atau Intoleransi Laktosa
Perut bayi keras dan besar bisa menandakan alergi susu atau intoleransi laktosa. Reaksi alergi susu sapi atau intoleransi dapat menyebabkan peradangan dan gas berlebihan di perut bayi.
Selain perut bayi besar, alergi susu sapi ditandai dengan nyeri hingga punggung melengkung, muntah, ruam, dan BAB berdarah atau berlendir.
Sementara itu, intoleransi laktosa pada bayi juga diikuti dengan menangis saat perut disentuh, mual dan muntah, serta diare.
5. Pola MPASI yang Tidak Tepat
Bila sudah mulai MPASI, perut bayi yang besar bisa terjadi karena makanan tinggi serat, sayuran penghasil gas, atau MPASI yang berminyak.
Makanan tinggi serat dapat membuat perut bayi tampak besar karena serat diolah bakteri usus dan menghasilkan gas. Akibatnya, perut bayi bisa terlihat kembung.
Kubis dan brokoli mengandung senyawa yang menghasilkan gas saat dicerna, sedangkan MPASI berminyak butuh waktu cerna lebih lama. Kondisi ini membuat perut bayi buncit dan kembung.
6. Penyakit Pencernaan Serius
Beberapa penyakit kronis dapat menyebabkan perut bayi buncit dan mengkilap. Contohnya, penyakit Hirschsprung, enterokolitis nekrotikans, malrotasi, dan infeksi saluran cerna.
- Penyakit Hirschsprung: tidak adanya sel saraf yang mendorong feses sehingga usus tersumbat dan perut membesar.
- Enterokolitis nekrotikans: peradangan berat hingga jaringan usus rusak, gejalanya perut buncit, BAB berdarah, dan bayi tampak lemas.
- Malrotasi: posisi usus tidak normal sehingga perut bayi membengkak
- Infeksi saluran cerna: infeksi mengganggu keseimbangan bakteri baik sehingga memicu perut kembung dan bergas.
Baca Juga: Bayi Mengejan tapi BAB Tidak Keluar, Penyebab dan Solusinya
Cara Mengatasi Perut Bayi yang Besar dan Keras
Pada dasarnya, cara mengatasi perut bayi besar dan keras disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Berikut adalah beberapa caranya:
1. Perbaiki Posisi Menyusu
Pastikan posisi bayi saat menyusu sudah tepat, yakni posisikan kepala si Kecil lebih tinggi untuk memudahkan ASI masuk ke dalam perut.
Perhatikan pula apakah areola Ibu masuk ke mulut bayi dengan tepat atau tidak, serta perut si Kecil berhadapan langsung dengan perut Ibu.
Posisi tersebut bisa mencegah banyak udara yang masuk dan membuat ASI masuk lebih lancar ke perut. Jika menyusu menggunakan botol, pastikan ukuran lubang dot pas atau tidak terlalu besar.
2. Bantu Bayi Bersendawa
Setelah bayi selesai menyusu atau saat akan beralih ke payudara lainnya, bantu si Kecil bersendawa untuk mengatasi perut bayi besar.
Caranya, posisikan tubuh bayi tegak menghadap Bapak Ibu, lalu kepala di atas bahu atau pangkuan Bapak Ibu.
Tepuk-tepuk punggung si Kecil dengan lembut menggunakan cekungan telapak tangan Bapak Ibu agar bayi bersendawa.
3. Gerakan “Kayuh Sepeda”
Cara mengatasi perut buncit pada bayi berikutnya adalah dengan menggerakkan kaki bayi seperti “mengayuh sepeda”.
Cukup baringkan bayi dalam posisi telentang, kemudian angkat kedua kakinya ke atas secara perlahan dan gerakkan kedua kakinya.
Baca Juga: Frekuensi BAB yang Normal pada Bayi Usia 9 Bulan
4. Pijat ILU
Coba pijat perut bayi sembelit dengan gerakan I Love You. Pertama, usap tangan Bapak Ibu ke perut si Kecil seraya membuat huruf “I”.
Usap kembali perut bayi membentuk huruf “L” terbalik dari perut sebelah kiri ke kanan. Sudahi dengan membentuk huruf “U” terbalik dari perut sisi sebelah kiri bawah, naik ke pusar, menuju perut sebelah kanan.
Cara lain, yaitu pijat perut bayi dengan lembut dalam gerakan melingkar searah jarum jam. Gerakkan tangan Bapak Ibu dari perut bayi sebelah kiri ke kanan untuk menggerakkan gas menuju usus besar.
5. Mandikan Air Hangat
Mandi air hangat juga menjadi cara mengatasi perut buncit pada bayi. Langkah ini membantu si Kecil nyaman dan rileks.
Selain mandi, cobalah kompres perut si Kecil dengan botol berisi air hangat untuk meredakan perut bayi besar dan keras.
6. Evaluasi MPASI
Untuk mengatasi perut bayi yang besar, coba cek lagi MPASI-nya. Coba kurangi porsi makanan tinggi serat serta kol atau brokoli.
Saat ingin mengolah makanan, sebaiknya kukus, rebus, atau panggang tanpa minyak. Menggoreng makanan membutuhkan minyak yang tinggi lemak dan justru memicu perut bayi besar.
Perut Bayi Keras dan Besar: Kapan Harus Khawatir?
Perut bayi buncit sebetulnya tidak mengkhawatirkan. Meski demikian, Bapak Ibu tetap perlu memantau kondisi kesehatan dan perubahan yang dialami si Kecil.
Segera periksa ke dokter apabila perut bayi membesar diikuti tanda-tanda berikut:
- Mengalami muntah terus-menerus.
- Diare parah.
- Demam tinggi.
- Tidak BAB selama beberapa hari.
- Berat badan menurun.
- Perut keras dan besar disertai rasa nyeri.
- BAB berdarah atau berlendir.
- Muntah hijau/kuning.
Jika Ibu butuh saran atau punya pertanyaan seputar kesehatan, tumbuh kembang, dan nutrisi anak, yuk langsung hubungi BebeCare.
Tim careline kami terdiri dari para ahli berlatar belakang keperawatan dan pendidikan gizi yang siap menjadi teman berbagi dan sumber informasi terpercaya untuk Ibu, 24 jam gratis tanpa perlu buat janji!
_IFFO_MICROMOMENT.png)
_GUM_AI POOP TRACKER.png)
_GUM_CARELINE.png)
