Kenapa Bayi Mengejan tapi BAB Tidak Keluar? Ini Penyebab dan Solusinya
Bayi mengejan tapi BAB tidak keluar adalah normal. Hal ini tidak selalu disebabkan sembelit, tapi bisa jadi karena si Kecil masih belajar mengatur kerja otot-otot di sekitar anus.
Ditulis oleh :
Tim Penulis
Ditinjau oleh :
Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K)
Diterbitkan: 27 November 2024
Diperbarui: 07 Oktober 2026
Bayi yang sering mengejan tetapi tidak BAB tidak selalu mengalami sembelit. Kondisi ini dapat terjadi karena bayi masih belajar mengatur kerja otot perut dan panggul saat buang air besar, yang dikenal sebagai infant dyschezia. Selain itu, mengejan juga bisa dipicu oleh sistem pencernaan yang belum matang, perut kembung akibat gas, atau feses yang keras dan sulit dikeluarkan.
Apakah Bayi Mengejan tapi Tidak BAB Itu Normal?
Ya, bayi mengejan tetapi belum BAB sering kali masih normal, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupan. Bayi masih belajar mengatur kerja otot perut, diafragma, dan otot di sekitar anus saat buang air besar.
Akibat koordinasi otot yang belum sempurna, ia belum sepenuhnya paham cara mengejan dan merelaksasikan otot secara bersamaan sehingga bayi bisa tampak mendengus, wajah memerah, menangis beberapa menit, lalu akhirnya berhasil mengeluarkan feses.
Perlu diketahui bahwa frekuensi BAB bukan satu-satunya penentu sembelit, Bu. Bayi BAB hanya beberapa hari sekali belum tentu konstipasi apabila fesesnya tetap lunak, tidak keras, dan berat badannya bertambah baik.
Jika Bayi Mengejan tetapi Feses Tetap Lunak
Apabila bayi mengejan cukup lama tetapi akhirnya mengeluarkan feses lunak, kemungkinan besar ia mengalami infant dyschezia.
Menurut Cleveland Clinic, infant dyschezia adalah kondisi ketika bayi masih belajar menyelaraskan tekanan dari otot perut dengan relaksasi otot dasar panggul dan anus.
Kondisi ini umum terjadi pada bayi dan biasanya akan membaik sendiri saat berusia 6-8 minggu seiring matangnya koordinasi otot.
Jika Bayi Mengejan dan Feses Keras
Sebaliknya, bila bayi mengejan disertai feses keras, kering, atau berbentuk butiran kecil, kondisi ini lebih mengarah pada konstipasi (sembelit).
Pada konstipasi, bayi biasanya tampak kesakitan saat BAB, frekuensi BAB berkurang, bahkan dapat muncul sedikit darah akibat robekan kecil di sekitar anus (fisura ani).
Baca Juga: Normalkah Bayi ASI Tidak BAB? Kenali Penyebab dan Solusinya
Kenapa Bayi Mengejan tapi BAB Tidak Keluar?
Bayi mengejan tapi BAB umumnya karena si Kecil masih belajar BAB, Bu. Berikut kondisi yang paling sering terjadi:
1. Bayi Masih Belajar BAB (Infant Dyschezia)
Bayi baru lahir tidak pup secara sengaja karena ia belum tahu caranya buang air. Supaya bisa pup, bayi perlu mengoordinasikan tekanan dari otot perut dengan relaksasi otot panggul.
Pada sebagian bayi, koordinasi ini belum sempurna sehingga ia terlihat mengejan dan menangis sebelum berhasil BAB, karena sedang mencoba menciptakan tekanan pada perut untuk BAB.
Seiring waktu, otot perut jadi lebih kuat dan si Kecil akan belajar meregangkan otot-otot untuk mengeluarkan feses. Proses belajar ini bisa Ibu amati ketika bayi mengejan tapi BAB-nya tidak keluar.
2. Sembelit (Konstipasi)
Konstipasi terjadi ketika feses menjadi keras sehingga lebih sulit dikeluarkan. Beberapa tanda sembelit pada bayi meliputi:
- feses keras atau kering;
- berbentuk bulatan kecil;
- bayi tampak kesakitan saat BAB;
- BAB sulit keluar meski sudah mengejan;
- terdapat sedikit darah pada feses akibat luka kecil di anus.
Pada bayi berusia 6 bulan lebih, susah BAB bisa karena kurang makan MPASI tinggi serat.
3. Perut Kembung atau Banyak Gas
Selain sembelit, bayi mengejan tapi kentut juga merupakan keluhan yang cukup sering dialami. Perut kembung pada bayi dapat menimbulkan rasa penuh sehingga bayi mengejan seperti ingin BAB.
Padahal, yang keluar hanyalah kentut karena tidak ada feses yang siap dikeluarkan. Namun, sensasi perut penuh ini diakibatkan oleh gas.
Baca Juga: Bayi Susah BAB & Sering Kentut: Penyebab + Solusi
4. Asupan Susu Tidak Cukup
Kurangnya asupan cairan bisa membuat usus menjadi lebih kering sehingga bayi mengejan tapi BAB tidak keluar. Pada bayi, cairan terutama sebagian besar berasal dari ASI.
Ibu perlu memperhatikan apabila bayi juga menunjukkan tanda seperti:
- frekuensi pipis berkurang;
- sulit menyusu;
- berat badan tidak bertambah sesuai harapan;
- tampak lemas.
Jika kondisi tersebut terjadi, konsultasikan dengan dokter agar penyebabnya dapat dievaluasi lebih lanjut.
5. Perubahan Pola Makan
Setelah usia 6 bulan, bayi mulai mengenal MPASI. Perubahan jenis makanan sering membuat pola BAB ikut berubah. Sebagian bayi jadi lebih jarang BAB karena masih beradaptasi dengan makanan padat.
MPASI rendah serat atau kurang cairan juga dapat menyebabkan feses menjadi lebih keras sehingga bayi lebih sering mengejan.
6. Kondisi Medis Tertentu
Walaupun lebih jarang, bayi mengejan tanpa BAB juga dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu, misalnya:
- penyakit Hirschsprung;
- hipotiroid kongenital;
- kelainan anatomi anus atau rektum;
- gangguan sistem saraf tertentu.
Kemungkinan ini perlu dipertimbangkan terutama bila bayi mengalami konstipasi berat sejak lahir atau disertai tanda bahaya lainnya.
Baca Juga: Kenali Ciri dan Warna Feses Bayi Tidak Cocok Susu Formula
Dukung kesehatan pencernaan si Kecil dengan pemantauan yang lebih mudah. Gunakan AI Poop Tracker dari Bebeclub untuk bantu mengenali kondisi pup si Kecil. Cukup upload foto pup di atas popoknya dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik. Ibu juga bisa mencoba fitur AI Poop Tracker di Aplikasi Bebeclub Mobile untuk bantu mengecek kesehatan pencernaan si Kecil dengan lebih mudah.
Penyebab Bayi Mengejan tapi Tidak BAB Berdasarkan Usia
Sesuai perkembangan usianya, bayi mengejan tanpa BAB dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:
1. Bayi Baru Lahir
Di hari-hari pertama kehidupan, bayi akan mengeluarkan mekonium, yaitu feses pertama berwarna hijau kehitaman. Sebagian besar bayi mengeluarkan mekonium dalam 24-48 jam pertama setelah lahir.
Bila mekonium terlambat keluar, dokter perlu mengevaluasi kemungkinan adanya gangguan pada usus. Setelah itu, pola BAB bayi akan menyesuaikan dengan asupan ASI.
2. Bayi 1-3 Bulan
Pada usia ini, penyebab paling sering bayi mengejan tapi BAB tidak keluar adalah infant dyschezia.
Bayi tampak mengejan cukup kuat, wajah memerah, bahkan menangis beberapa menit sebelum berhasil BAB. Namun, feses yang keluar tetap lunak.
Selama bayi masih menyusu dengan baik, berat badan bertambah, dan feses tidak keras, kondisi ini umumnya tidak berbahaya.
Baca Juga: Normalkah Perut Bayi Besar? Simak Penyebab dan Gejala
3. Bayi 4-6 Bulan
Di usia 4-6 bulan, koordinasi otot saat BAB biasanya mulai membaik. Namun, sebagian bayi masih dapat mengalami diskezia.
Selain itu, pola BAB juga dapat berubah karena aktivitas bayi semakin meningkat dan sistem pencernaannya terus berkembang. Namun, Ibu tetap perlu memperhatikan konsistensi fesesnya, ya.
4. Bayi 6 Bulan ke Atas
Setelah mulai MPASI, penyebab bayi mengejan tapi BAB tidak keluar lebih sering berkaitan dengan perubahan pola makan.
MPASI yang rendah serat, kurang cairan, atau perubahan menu secara mendadak dapat membuat feses lebih keras.
Baca Juga: 10 Penyebab BAB Bayi Berwarna Hijau dan Cara Menanganinya
Bagaimana Membedakan Bayi Mengejan Normal dan Sembelit?
Tidak semua bayi mengejan mengalami sembelit. Cara mudah membedakannya adalah melihat konsistensi feses, kondisi bayi, dan gejala yang menyertainya, bukan hanya seberapa sering bayi BAB. Berikut perbedaannya:
|
Kondisi |
Mengejan Normal (Infant Dyschezia) |
Sembelit (Konstipasi) |
|
Konsistensi feses |
Lunak atau lembek |
Keras, kering, atau berbentuk butiran kecil |
|
Saat BAB |
Bayi mengejan, mendengus, atau menangis beberapa menit sebelum BAB |
Bayi tampak kesakitan saat BAB |
|
Perut |
Umumnya tetap lembut |
Dapat terasa keras atau kembung |
|
Hasil BAB |
Feses akhirnya keluar |
Feses sulit keluar atau hanya sedikit |
|
Kondisi bayi |
Tetap aktif, menyusu baik, berat badan bertambah |
Dapat lebih rewel, kurang mau menyusu, atau tampak tidak nyaman |
Jika bayi mengejan tetapi fesesnya tetap lunak, biasanya kondisi ini tidak memerlukan pengobatan khusus. Sebaliknya, bila feses bayi keras dan tampak kesakitan, kemungkinan penyebabnya adalah konstipasi yang perlu dievaluasi lebih lanjut.
Cara Mengatasi Bayi Mengejan tapi BAB Tidak Keluar
Cara mengatasi bayi mengejan perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Bayi yang masih mengalami infant dyschezia memerlukan pendekatan yang berbeda dengan bayi yang mengalami konstipasi. Simak penjelasannya:
1. Cara Mengatasi Jika Feses Bayi Lunak
Jika bayi mengejan tapi akhirnya mengeluarkan feses yang lunak, umumnya bayi sedang belajar mengoordinasikan otot saat BAB.
Kondisi ini biasanya akan membaik sendiri seiring bertambahnya usia sehingga tidak memerlukan obat maupun tindakan khusus. Hindari stimulasi anus karena justru dapat mengganggu proses belajar alami tersebut.
Beberapa hal yang dapat Ibu lakukan antara lain:
- tetap berikan ASI atau susu sesuai kebutuhan bayi;
- pastikan posisi menyusu nyaman sehingga bayi mendapat asupan yang cukup;
- lakukan tummy time sesuai usia ketika bayi terjaga;
- gerakkan kaki bayi seperti mengayuh sepeda secara perlahan untuk bantu mengurangi rasa tidak nyaman akibat penumpukan gas di perut.
2. Cara Mengatasi Jika Feses Bayi Keras
Apabila bayi konstipasi, penanganan fokus pada penyebabnya. Pada bayi yang masih mendapat ASI eksklusif, pastikan frekuensi menyusu cukup agar kebutuhan cairannya terpenuhi.
Sementara itu, pada bayi usia 6 bulan ke atas, Ibu dapat melakukan beberapa langkah berikut.
- Berikan MPASI kaya serat, seperti buah dan sayuran sesuai usia, sebagai makanan pelancar BAB.
- Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi sesuai usia bayi.
- Berikan makanan dengan tekstur yang sesuai tahap perkembangan bayi.
- Dorong bayi tetap aktif bergerak melalui permainan sesuai usianya.
Apabila sembelit berlangsung terus-menerus, segera konsultasikan dengan dokter. Hindari memberikan obat pencahar tanpa anjuran dari dokter..
Baca Juga: Makanan Penyebab Sembelit pada Bayi + Solusinya
3. Hindari Memberikan Obat atau Memasukkan Benda ke Anus Sembarangan
Saat bayi sulit BAB, Ibu mungkin ingin coba menggunakan alat atau benda tertentu untuk merangsang anus bayi.
Cara tersebut tidak dianjurkan ya, Bu, karena dapat menyebabkan iritasi, luka, infeksi, bahkan membuat bayi bergantung pada stimulasi tersebut untuk BAB.
Begitu pula dengan pemberian obat pencahar, supositoria, atau enema. Semua tindakan tersebut sebaiknya hanya dilakukan atas rekomendasi dokter.
Kapan Bayi Mengejan tapi Tidak BAB Harus Dibawa ke Dokter?
Segera bawa si Kecil ke dokter apabila bayi mengejan tapi BAB tidak keluar disertai salah satu atau beberapa kondisi berikut:
- Perut membuncit atau terasa keras.
- Muntah, terutama muntah berwarna hijau.
- Tidak mau menyusu atau makan.
- Tampak sangat lemas atau sulit dibangunkan.
- Mengalami demam.
- Terdapat darah pada feses.
- Berat badan tidak bertambah sesuai usia.
- Menunjukkan tanda dehidrasi, seperti pipis berkurang, mulut kering, atau menangis tanpa air mata.
- Mengalami konstipasi yang berulang atau berlangsung lama.
- Mengalami kesulitan BAB sejak lahir.
Penting diingat, Bu, kalau masalah pencernaan bisa memengaruhi kenyamanan si Kecil. Yuk, daftar sebagai member Bebeclub sekarang untuk akses lengkap ke panduan menjaga kesehatan saluran cerna anak yang terverifikasi ahli.
_IFFO_MICROMOMENT.png)
_GUM_AI POOP TRACKER.png)
_GUM_CARELINE.png)
