Kembali ke Belajar Di Rumah

Mandiri Sejak Kecil, Inilah 4 Cara Membentuk Karakteristik Anak Usia Dini yang Perlu Ibu Ketahui

Si Kecil hebat, ya, Bu, meski masih kecil, tetapi sudah menunjukkan sisi kemandiriannya. Bisa makan sendiri meskipun sesekali masih bera...

3 min
16 Feb 2022
Anak mandiri merupakan hasil didikan ibu dan ayah yang hebat

Artikel ini belum diulas

Si Kecil hebat, ya, Bu, meski masih kecil, tetapi sudah menunjukkan sisi kemandiriannya. Bisa makan sendiri meskipun sesekali masih berantakan, dan merapikan mainannya sendiri. Hebatnya lagi, si kecil juga tumbuh menjadi anak yang tidak manja. Ini pasti hasil dari usaha Ibu dan Ayah dalam mengembangkan karakteristik anak usia dini, sehingga si Kecil tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Ya, antara usia 1-3 tahun, memang mulai terjadi perkembangan penting dalam kemampuan sosial emosional anak. Salah satunya perkembangan otonomi dan kemandirian.1 Itu sebabnya, usia ini merupakan saat yang tepat untuk mulai mengajarkan kemandirian pada anak. Namun sebelumnya, simak karakteristik khas mereka yuk, Bu!

Mengenal Karakteristik Anak Usia Dini

Ajarkan si kecil tugas sederhana seperti memakai sepatu sendiri untuk melatih kemandiriannya

Sama halnya dengan orang dewasa, anak pun memiliki karakteristik tersendiri. Dengan mengetahui karakteristik anak usia dini, Ibu akan dimudahkan dalam mendidik si Kecil, termasuk melatih kemandiriannya.1

Meski karakteristik setiap anak mungkin berbeda-beda, tapi anak memiliki kecenderungan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan suka melakukan segala sesuatu dengan spontan. Nah, dua karakteristik ini bisa Ibu manfaatkan untuk melatih kemandirian si Kecil.1

Lalu, bagaimana caranya mengembangkan karakteristik anak usia dini ini agar Ibu dapat membentuk anak yang mandiri? Simak beberapa caranya di bawah ini, ya, Bu. 

1. Buat rutinitas

Karena anak sangat menyukai hal-hal yang spontanitas, maka penting bagi Ibu untuk membentuk rutinitas, yaitu melakukan aktivitas yang dilakukan terus menerus.2 Misal, rutinitas di pagi hari adalah bangun tidur dilanjutkan dengan pergi ke kamar mandi, berpakaian, dan sarapan. Di siang hari, ada rutinitas makan siang dan dilanjutkan tidur siang. Sedangkan rutinitas di waktu malam bisa dengan mengajak si Kecil sikat gigi dan membaca buku sebelum tidur. 

2. Beri tanggung jawab

Ketika si Kecil sudah bisa melakukan hal-hal sederhana yang berkaitan dengan dirinya, seperti berpakaian, menyikat gigi, atau makan sendiri, perlahan Ibu bisa mulai memberinya tanggung jawab. Misalnya, membawa piring kotor ke tempat cuci piring, atau membereskan mainannya sendiri.2 Dengan begini, si Kecil pun akan terbiasa untuk tidak mengandalkan orang lain untuk melakukan hal-hal sederhana yang berkaitan dengan dirinya. 

3. Beri pujian

Jangan lupa untuk selalu memberikan pujian setelah si Kecil berhasil melakukan tugas ‘ hebat’. Tapi, fokuskan memuji pada usaha yang dilakukan si Kecil, ya, Bu. Misalkan, "Wah, mainannya jadi rapi setelah kamu atur." Memuji usahanya akan meningkatkan motivasi si Kecil untuk melakukan hal yang sama di kemudian hari dengan lebih baik, lho.3

Sebaliknya, ketika si Kecil ‘mogok’ dan tidak melakukan kegiatan rutin yang diharapkan walaupun sudah dibujuk dengan berbagai cara, jangan dimarahi, ya, Bu!  Ibu bisa mengajaknya melakukan kegiatan tersebut bersama-sama dan berikan semangat agar anak dapat melakukannya lagi keesokan harinya, dan ibu akan selalu ada di sampingnya dan membantu bila diperlukan.2

4. Beri bantuan

Ibu, kemampuan si Kecil masih terbatas untuk melakukan berbagai hal. Itu sebabnya, pastikan Ibu selalu siap membantu saat ia mendapat kesulitan dalam melakukan tugasnya, ya.4,5 Misalnya, saat ia sikat gigi. Si Kecil mungkin tidak bisa menjangkau kran wastafel untuk mengambil air. Nah, Ibu bisa membantu dengan menyiapkan tangga kecil, atau kursi, untuk memudahkannya menjangkau kran.  

Jadi, jangan terlalu berharap si Kecil dapat melakukan segalanya dengan sempurna, ya, Bu. Dan agar si Kecil mampu mandiri, diperlukan kesempatan dan waktu yang cukup untuk berlatih.4 Jadi, bersabar, ya, Bu. 

Aktivitas yang Membantu Melatih Kemandirian Anak

Belajar makan sendiri adalah cara pertama mengajarkan si Kecil mandiri

Melatih anak mandiri dapat dimulai melalui kegiatan rutin sehari-hari, seperti makan, berpakaian, menyikat gigi, membereskan mainan, dan mengatur meja makan.4  Yuk, simak kegiatan apa saja yang bisa membantu melatih kemandirian anak di usia dini.

Usia 1 tahun

  • Ajarkan cara melepas pakaian, melepas sepatu dan kaus kaki, atau menarik baju kaus melewati kepala.4 

  • Tunjukkan cara menggunakan sendok dan minum sendiri melalui kegiatan makan bersama.4 

  • Mulai bantu anak untuk belajar menyikat gigi.4 

  • Bantu si kecil merawat boneka mereka, misal dengan menunjukkannya cara memberi makan, menggendong, memandikan, dan meninabobokan boneka.4 

  • Perkenalkan tempat untuk menaruh pakaian kotornya sendiri. Lakukan hal yang sama untuk menaruh sepatu.4 

Usia 2 tahun

  • Belajar memakai baju, makan, mengelap mulut, mencuci tangan, dan mengeringkannya sendiri.4 

  • Ibu mulai dapat mulai melatih toilet training pada usia ini.4 

  • Perkenalkan satu atau dua aturan rumah yang sederhana, seperti cuci tangan sebelum makan. Ingatkan anak untuk melakukannya sendiri agar hal tersebut menjadi kebiasaan.1

Usia 3 tahun

  • Bagi kegiatan rutin yang rumit menjadi beberapa langkah. Misal, “Sekarang setelah cuci tangan, mari tutup krannya. Setelah aliran air berhenti, lanjutkan dengan “Setelah itu, kita keringkan tangan, ya.” 5

  • Menawarkan pilihan dalam melakukan kegiatan rutin. Sebagai contoh, ketika akan memakai baju, tawarkan pilihan baju dengan warna yang berbeda.5

 

Nah, sebagai penyemangat buat si Kecil yang sedang belajar untuk menjadi mandiri, Ibu bisa mendukungnya dengan memberikan nutrisi terbaik. Berikan si kecil Bebelac 3 yang selain memiliki rasa yang lezat, juga dilengkapi kandungan nutrisi yang lengkap. Bebelac 3 mengandung minyak ikan yang di dalamnya terdapat Omega-3, Omega-6, FOS dan GOS 1:9, serta 13 vitamin dan 9 mineral. Kandungan di dalam Bebelac 3 dapat membantu ibu menstimulasi tumbuh kembang si Kecil agar tumbuh menjadi anak hebat dengan happy tummy, happy brain, dan happy heart. Selamat mencoba membentuk karakteristik anak usia dini!


Referensi:

  1. Anat Shoshani and Lior Shwartz. 2018. From Character Strengths to Children’s Well-Being: Development and Validation of the Character Strengths Inventory for Elementary School Children. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov  Diakses pada 8 Februari 2022.

  2. Patient education by American Academy of Pediatric. Growing Independence: Tips for Parents of Young Children. https://publications.aap.org Diakses pada 5 Februari 2022.

  3. Lisa Firestone. 2022. The Problem with Overpraising Children. Diambil dari: https://www.psychalive.org Diakses pada 5 Februari 2022.

  4. Catharine Mayung Sambo. 2016. Memupuk Kemandirian Batita (Bagian I) https://www.idai.or.id  Diakses pada 3 Februari 2022.

  5. Catharine Mayung Sambo. 2016. Memupuk Kemandirian Batita (Bagian II https://www.idai.or.id  Diakses pada 3 Februari 2022.



Artikel Terkait