Kembali ke Resep & Nutrisi

Penyebab Anak GTM dan 5 Cara Ampuh Mengatasinya

GTM atau Gerakan Tutup Mulut adalah istilah untuk menggambarkan anak yang menolak makan dengan cara menutup mulut. GTM sebetulnya merupa...

4 min
10 Jan 2023

Artikel ini belum diulas

GTM atau Gerakan Tutup Mulut adalah istilah untuk menggambarkan anak yang menolak makan dengan cara menutup mulut. GTM sebetulnya merupakan fase yang cukup umum dialami setiap anak. Namun, melihat anak yang sama sekali tidak mau makan pasti rasanya sedih dan khawatir, ya, Bu? Apalagi kalau berat badannya juga tidak kunjung naik.

Nah untuk memahami lebih dalam tentang masalah ini, yuk simak apa penyebab anak GTM dan cara mengatasinya.

Penyebab Anak GTM

GTM biasanya terjadi ketika nafsu makan anak sebelumnya baik-baik saja, tapi sekarang justru menolak untuk makan apa pun, bahkan makanan favoritnya. Fase ini biasanya terjadi paling sering di usia 2 tahun ketika anak sudah mulai merasa lebih besar sehingga ingin menunjukkan kemandiriannya dengan sedikit “memberontak”, seperti menutup mulut saat makan.

Selain itu, kecenderungan si Kecil untuk menolak makan juga dipengaruhi oleh laju pertumbuhannya. Pada satu tahun pertamanya, anak dapat mengalami fase lonjakan pertumbuhan pesat (growth spurt) yang membuat berat badannya naik sangat drastis hingga tiga kali lipat dibanding berat kelahirannya.

Namun, fase percepatan tumbuh ini akan berhenti di tahun kedua. Setelah itu, laju pertumbuhannya akan terus stabil sampai akhirnya anak masuk fase pubertas beberapa tahun lagi. Oleh karena itu, kebutuhan nutrisi anak umumnya lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya dan nafsu makan mereka juga berkurang sehingga si Kecil tampak makan jauh lebih sedikit daripada sebelumnya. 

Nah, di luar itu ternyata ada beberapa alasan lain mengapa anak tiba-tiba jadi mogok makan, termasuk menolak makanan kesukaannya. Berikut penjelasannya:

1. Pemberian Makanan yang Tidak Tepat

Menurut IDAI, perilaku makan yang tak benar atau pemberian makanan yang tidak sesuai usia menjadi penyebab GTM paling sering.

Ini biasanya disebabkan oleh kekeliruan orang tua mengenai pemilihan jenis makanan, seberapa banyak porsinya, dan kapan harus anak diberikan makan. Seringkali, hal ini terjadi sejak fase penyapihan dari makanan MPASI ke makanan keluarga. 

Sebagai contoh, masih memberikan anak yang berusia 2 tahun makanan lembek seperti nasi tim lumat atau puree daging dan sayur diblender halus. Padahal, seharusnya anak di usia ini sudah boleh diberikan makanan yang sama seperti orang dewasa. Misalnya nasi putih, sayur, dan potongan daging yang diolah seperti menu makanan rumahan biasanya dan bukan lagi diolah menjadi makanan cair.

Idealnya, pemberian makanan untuk anak konsistensinya harus semakin padat seiring pertambahan usia untuk melatihnya mengunyah. Selain itu, pemberian makanan dengan tekstur yang tidak tepat tentu membuat anak jadi menolak makan.

Baca Juga: 3 Cara Mengatasi Anak yang Susah Makan Sayur

2. Enggan Mencoba Makanan Baru

Anak-anak di usia ini biasanya sudah memiliki makanan kesukaannya sendiri. Jadi, si Kecil bisa melancarkan aksi GTM ketika melihat Ibu menyajikan makanan baru yang belum pernah ia lihat dan cicipi sebelumnya. Bahkan setelah Ibu coba rayu dan bujuk sekalipun, anak tetap tidak mau mencobanya walau sesuap saja.

Tahukah Ibu bahwa reaksi seperti sebenarnya merupakan insting alami yang dimiliki setiap anak? Respon menolak makanan baru dianggap oleh para ahli tumbuh kembang sebagai mekanisme perlindungan primitif dari alam bawah sadar anak untuk mencegahnya memasukkan sesuatu ke dalam mulut dan secara tidak sengaja meracuni diri sendiri.

Anak kecil juga masih memiliki selera rasa yang cenderung manis dan asin karena indera perasa pahit, pedas, dan asamnya belum berkembang matang. Oleh karena itu, anak kecil umumnya lebih suka mengonsumsi roti, mie, dan susu. Sebaliknya, sayuran umumnya memiliki rasa pahit dan tawar sehingga anak harus “mempelajari” rasa baru ini dan tidak bisa langsung otomatis suka.

Akan tetapi, semua mekanisme ini perlahan akan menghilang seiring waktu dengan sering melihat orang tuanya makan makanan yang sama. Jadi, si Kecil akan belajar memahami bahwa makanan itu aman untuk ia konsumsi.

3. Bosan dengan Makanan yang Itu-Itu Saja

Sangat wajar jika Ibu merasa bingung dan frustasi mau menyajikan makanan apa lagi untuk anak yang sedang GTM. Jadi pada akhirnya Ibu lebih permisif dengan terus-terus memberikan mie goreng dan chicken nugget favoritnya, misalnya, atau mengijinkan anak makan roti dan junk food saja tanpa variasi lain.

Akan tetapi, Bu, anak kecil sebenarnya sama saja seperti orang dewasa yang bisa merasa bosan makan itu-itu saja setiap hari. Bahkan jika yang disajikan adalah makanan favoritnya.

Baca Juga: Cara Menyiasati Anak Picky Eater yang Cuma Mau Makan Itu-Itu Saja

4. Lebih Suka Bermain

Jika Ibu sudah terbiasa memberikan anak makan sambil mengajaknya keliling kompleks, sambil menonton TV atau memegang gadget, atau bahkan memberikan makan waktu anak masih bermain, bukan hal yang aneh jika anak jadi menolak makan.

Distraksi juga bisa datang dari hal-hal lain seperti terlalu banyak orang berlalu-lalang dan berisik di dalam ruangan sehingga membuyarkan keinginan anak untuk makan.

Anak-anak sangat suka berlari, bermain, dan menjelajah. Maka dengan begitu banyak hal lain yang lebih menarik perhatiannya, si Kecil mungkin tidak ingin meluangkan waktu untuk makan.

Pemberian makan yang benar tidak hanya mempertimbangkan jenis dan porsinya saja, Bu, tapi juga harus memperhatikan ketepatan waktunya. Jadi, supaya makannya tidak terganggu, jangan berikan makan saat anak masih sibuk beraktivitas. Seperti halnya waktu tidur, main, dan belajar, makan juga ada waktunya tersendiri.

5. Merasa Tertekan

Melihat anak yang berkali-kali menutup mulut atau bahkan berlari menjauh saat disuapi makan tidak ayal membuat banyak orang tua merasa jengkel dan frustasi. Kekesalan ini sangat wajar dialami, kok, karena Ibu mungkin khawatir si Kecil tidak akan mendapatkan gizi yang cukup.

Jika Ibu sudah merasa kesal, coba berhenti sejenak untuk mengatur napas dan menenangkan diri. Jangan tampilkan emosi Ibu di depan anak sambil menekan dan memaksa anak untuk menghabiskan makanannya. Ini tentu akan membuatnya makin giat GTM, karena si Kecil jadi mengaitkan waktu makan dengan pengalaman yang tidak mengenakkan baginya.

Itu dia beberapa penyebab paling umum dari GTM yang dilancarkan anak. Selain karena hal-hal di atas, penolakan makan juga mungkin terjadi ketika anak masih kenyang setelah makan cemilan yang terlalu banyak atau karena si Kecil sedang sakit.

Cara Mengatasi GTM pada Anak

Gerakan Tutup Mulut tidak hanya bisa berakibat pada berat badan anak yang stagnan atau sulit naik. Jika dibiarkan berkepanjangan, GTM dapat berakibat pada menurunnya asupan kalori yang anak butuhkan sehari-hari sehingga dapat memengaruhi status gizi dan proses tumbuh kembangnya juga. 

Jadi, apa yang bisa Ibu lakukan untuk mengatasi GTM pada anak? Jawabannya adalah dengan menerapkan feeding rules untuk melatih anak memiliki perilaku makan yang benar. Berikut adalah tips memberikan makan pada anak berdasarkan feeding rules dari IDAI:

  1. Beri anak makanan yang sama dengan anggota keluarga lainnya. Cara terbaik bagi anak untuk mau belajar menikmati makanan baru adalah dengan meniru orang tuanya. Jadi, cobalah makan bersama mereka sesering mungkin.

  2. Buat jadwal makanan utama dan makan snack yang teratur. Dalam sehari anak perlu makan 3 kali sehari, 1-2 kali makanan selingan (snack) dan ASI/susu 2-3 kali.

  3. Batasi waktu makan tidak boleh lebih dari 30 menit.

  4. Siapkan lingkungan yang menyenangkan untuk makan. Biasakan makan bersama keluarga di meja makan. Jika tidak memungkinkan untuk makan bersama, sebaiknya tetap latih anak makan di meja makan dan baru bangkit setelah selesai makan.

  5. Jangan ada distraksi di waktu makan, seperti mainan, TV, dan gadget. Jangan pula memberikan hadiah sebagai iming-iming agar anak mau makan.

  6. Jangan menawarkan camilan yang lain saat makan kecuali minum air putih.

  7. Jangan membiasakan anak makan sambil melakukan aktivitas lain seperti berjalan-jalan atau naik sepeda.

  8. Berikan makanan dalam porsi kecil.

  9. Berikan makanan utama dulu, baru diakhiri dengan minum. Jangan memberikan minuman lain selain air putih di antara waktu makan.

  10. Dorong anak untuk mencoba makan sendiri.

  11. Bila anak menunjukkan tanda tidak mau makan (mengatupkan mulut, memalingkan kepala, menangis), coba sekali lagi tawarkan makanan tanpa memaksa. Bila setelah 10-15 menit anak tetap tidak mau makan, angkat piringnya dan akhiri proses makan. Ibu bisa coba lagi di lain waktu.

  12. Kreasikan cara Ibu menyajikan makanan untuk membuat piring makan anak tampak lebih menarik. Misalnya, si Kecil mungkin tidak suka wortel dalam potongan dadu, jadi Ibu bisa iris tipis memanjang seperti mie.

Dengan menerapkan feeding rules ini, diharapkan anak akan mulai terbiasa untuk mau makan dengan teratur sehingga tumbuh kembangnya juga bisa berjalan optimal. Sebab di tiga tahun pertama usianya, asupan nutrisi yang berimbang sangatlah penting bagi tumbuh kembang anak.

Namun, apabila anak tetap sulit makan, Ibu jangan ragu untuk segera berkonsultasi langsung kepada ahli gizi atau dokter spesialis anak terdekat, ya! Karena seperti yang sudah disebutkan di atas, tidak menutup kemungkinan anak yang GTM sebenarnya sedang sakit.

Sakit memang membuat nafsu makan menurun, Bu. Malas makan saat sakit tidak hanya bisa dialami orang dewasa, tapi justru lebih sering dirasakan anak-anak. Jadi jika Ibu curiga sakit adalah penyebabnya, jangan sungkan untuk membawa si Kecil ke dokter untuk berobat. Dokter mungkin juga dapat memberikan saran terbaik supaya Ibu tetap bisa terus memberikan makan saat anak sakit.

Baca Juga: Pilihan Cemilan Sehat Untuk Anak 1 Tahun yang Susah Makan

Nah, supaya si Kecil semakin bersemangat makan, ada satu cara lagi, nih, yang bisa Ibu terapkan, yaitu melengkapi gizi harian si Kecil lewat dua gelas susu Bebelac 3 setiap hari, di pagi hari dan malam sebelum tidur. 

Susu Bebelac 3 GroGreat+ menjadi partner Ibu Hebat tumbuhkan Anak Hebat karena memiliki keunggulan kombinasi serat FOS dan GOS dengan rasio 1:9 yang satu-satunya teruji klinis untuk mendukung saluran cerna si Kecil (happy tummy). Ketika pencernaannya baik, anak juga akan lebih lahap makan juga lebih aktif, ceria, dan bersemangat untuk bermain (happy heart). 

Tertarik mencoba? Jangan lupa mendaftar jadi member Bebeclub untuk menikmati promo dan fitur menarik lainnya ya, Bu!


Referensi:

  1. IDAI | SULIT MAKAN PADA BAYI DAN ANAK. (2016). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/sulit-makan-pada-bayi-dan-anak
     
  2. IDAI | Pentingnya Mengatur Jadwal Makan Anak. (2015). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pentingnya-mengatur-jadwal-makan-anak
     
  3. IDAI | Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Batita. (2015). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/gerakan-tutup-mulut-gtm-pada-batita
     
  4. NHS Choices. (2022). Fussy eaters. https://www.nhs.uk/conditions/baby/weaning-and-feeding/fussy-eaters/
     
  5. Bushell, S. (2022, June 20). What’s the deal with toddlers refusing to eat? Here’s 14 reasons why | The Children’s Nutritionist. The Children’s Nutritionist. https://childrensnutrition.co.uk/full-blog/toddlers-wont-eat/
     


 
alt

Kenali apa itu

Kalkulator Nutrisi

Cek nutrisi si Kecil yuk! Sudah sesuaikah dengan kebutuhannya?

Artikel Terkait