Cara Menilai Status Gizi Anak, Arti Hasilnya, dan Kapan Harus ke Dokter

Status gizi anak penting untuk memantau tumbuh kembang anak. Statusnya terdiri dari gizi kurang (wasting), tubuh pendek akibat kurang gizi kronis (stunting), dan overweight.

status gizi anak-bebeclub


Status gizi anak merupakan aspek penting untuk memantau tumbuh kembang si Kecil. Ini merupakan langkah awal dalam mendeteksi potensi masalah kesehatan, seperti stunting, wasting, dan overweight.

Anak Tampak Sehat, Tapi Apakah Status Gizinya Benar-Benar Normal?

Tidak selalu. Status gizi hanya bisa diukur dengan pengukuran baku dari Kartu Menuju Sehat (KMS) yang mengacu pada grafik pertumbuhan WHO.

Anak dengan masalah gizi biasanya menunjukkan beberapa masalah kesehatan, seperti rentan sakit, susah fokus saat belajar, atau tinggi badannya di bawah rata-rata anak seusianya.

Untuk itu, orang tua perlu mengetahui bahwa kurus bukan berarti kurang gizi dan gemuk bukan berarti sehat. Ada berbagai indikator yang memengaruhi kondisi gizi anak, seperti usia, jenis kelamin, dan tinggi badan.

Apa Itu Status Gizi Anak?

Status gizi anak adalah indikator pertumbuhan anak dan kecukupan gizi yang dinilai berdasarkan standar antropometri WHO.

Penilaian ini membandingkan tinggi badan, berat badan, usia, dan jenis kelamin dengan kurva pertumbuhan WHO.

Pengecekan status gizi dilakukan di posyandu atau oleh dokter anak secara rutin, biasanya setiap bulan hingga anak berusia 2 tahun.

Mengapa Status Gizi Anak Penting untuk Dipantau?

Status gizi perlu diperhatikan secara rutin karena penting untuk menentukan pertumbuhan fisik anak yang optimal. Asupan gizi yang mencukupi juga mendukung perkembangan fungsi otak.

Asupan nutrisi harian juga membantu memperkuat daya tahan tubuh sehingga anak terlindungi dari berbagai penyakit, terutama akibat infeksi.

Jika asupan gizi si Kecil tidak terpenuhi, anak rentan mengalami:

  • Stunting: anak lebih pendek daripada anak lain di usia sebayanya akibat kekurangan gizi kronis.
  • Wasting: anak kurus akibat kurang gizi dalam waktu singkat.

Status gizi yang tak terpenuhi secara terus-menerus pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) bisa memberikan efek permanen yang sulit diperbaiki bila melewati usia 2 tahun.

Baca Juga: Tips Menerapkan Pola Hidup Sehat dan Makanan Sehat Bergizi untuk Anak 

Cara Menilai Status Gizi Anak (Standar WHO)

Status gizi dinilai menggunakan standar antropometri WHO. Metode ini digunakan dengan membandingkan hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan.

Berikut ini cara menghitung status gizi berdasarkan metode antropometri.

1. Berat Badan Menurut Usia (BB/U)

Status gizi bisa dilihat dari berat badan anak dari bulan ke bulan menggunakan grafik pertumbuhan WHO bernama berat badan sesuai usia.

Hasil perbandingan yang menunjukkan angka jauh dari standar mengindikasikan bahwa anak mengalami masalah gizi. Berikut indikator sesuai dengan standar WHO pengukuran BB/U.

  • Berat badan sangat kurang: <-3 SD (Standar Deviasi).
  • Berat badan kurang: -3 SD sampai dengan <-2 SD.
  • Berat badan normal: -2 SD sampai dengan +1 SD.
  • Risiko berat badan lebih > +1 SD.

Pengukuran ini bisa dilakukan dengan mudah, tetapi cenderung sulit menentukan apakah anak mengalami stunting atau wasting.

2. Tinggi Badan Menurut Usia (TB/U)

Indikator mengukur pertumbuhan tinggi badan anak sesuai dengan usianya (0–60 bulan). Hasil pengukuran TB/U anak mencerminkan pertumbuhan massa tulang yang dipengaruhi oleh asupan gizi.

Cara menghitungnya dengan mengukur panjang atau tinggi badan dibagi dengan usia si Kecil saat ini. Berikut indikator status gizi menurut WHO pengukuran TB/U.

  • Sangat pendek: <-3 SD.
  • Pendek: -3 SD sampai dengan <-2 SD.
  • Normal: -2 SD sampai dengan +3 SD.
  • Tinggi: > +3 SD.

Pengukuran ini memang membantu mendeteksi stunting, tetapi sulit digunakan untuk mendeteksi kondisi malnutrisi dalam waktu singkat, seperti wasting.

3. Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB atau BB/PB)

Indikator berikut dapat memperlihatkan apakah berat badan anak sebanding dengan pertumbuhan panjang atau tingginya. Ini penting untuk mengukur wasting, dan obesitas.

Pengukuran dilakukan dengan menghitung berat badan dibagi tinggi badan (BB/TB) atau panjang badan (BB/PB) si Kecil. Berikut indikator status gizi menurut WHO.

  • Gizi buruk: <-3 SD.
  • Gizi kurang: -3 SD sampai dengan <-2 SD.
  • Gizi baik: -2 SD sampai dengan +1 SD.
  • Berisiko gizi lebih >+1 SD sampai dengan +2 SD.
  • Gizi lebih >+2 SD sampai dengan +3 SD
  • Obesitas >+3 SD

Karena mengukur berat badan normal anak, maka metode pengukuran ini tidak cocok untuk mengetahui kekurangan gizi kronis pada anak stunting.

4. Indeks Massa Tubuh Menurut Usia (IMT/U) 

Menilai status gizi anak juga dapat menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh yang disesuaikan dengan usia (IMT/U).

Dalam bentuk grafis, IMT/U cenderung memberikan hasil yang serupa, tetapi indikator ini lebih sensitif dalam mendeteksi anak yang mengalami masalah gizi berlebih atau obesitas.

Anak-anak dengan IMT/U di ambang batas +1 SD atau lebih berada pada risiko gizi berlebih dan perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut untuk mencegah terjadinya obesitas. 

Baca Juga: 15 Cara agar Anak Mau Makan Tanpa Drama 

bebe 3

Tanda Status Gizi Anak Perlu Diwaspadai

Segera bawa anak ke posyandu atau dokter anak bila Bapak Ibu menemukan tanda-tanda berikut:

  • Berat badan anak tidak kunjung naik setiap bulan.
  • Berat badan anak turun di bulan berikutnya.
  • Kenaikan berat badan kurang dari kenaikan berat badan minimal yang ditentukan KMS.
  • Anak sering sakit dan lama sembuh, terutama infeksi seperti diare dan batuk-pilek.
  • Nafsu makan turun drastis berkepanjangan.
  • Tinggi badan anak jauh berada di bawah rata-rata anak seusianya.

Baca Juga: 10 Nutrisi yang Penting untuk Menjaga Pencernaan Anak

Cara Menjaga Status Gizi Anak Tetap Optimal

Agar gizi anak tetap optimal, berikan ASI eksklusif minimal selama 6 bulan. Sebab, ASI menjadi sumber utama nutrisi bagi si Kecil sejak lahir. Lalu, lanjutkan dengan pemberian MPASI.

MPASI harian perlu mengandung zat gizi penting untuk tumbuh kembang, seperti:

  • Protein hewani dan nabati.
  • Zat besi.
  • Serat dan prebiotik.
  • Lemak sehat.
  • Karbohidrat. 
  • Vitamin dan mineral.

Bebelac 1 NutriGreat+ adalah Nutrisi Terbaik dari Bebelac yang diperkaya dengan 3 serat penting FOS:GOS dan Inulin, DHA 2x ​lebih tinggi, dan 0gr sukrosa. Bantu dukung tumbuh kembang optimalnya agar si Kecil tumbuh bersinar dari dalam.

Selain itu, lengkapi imunisasi anak sesuai jadwal Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) agar terhindar dari berbagai penyakit infeksi yang mengganggu status gizi si Kecil.

Rutin jaga kebersihan lingkungan sekitar dan ajarkan anak mencuci tangan. Lingkungan dan tangan yang kotor memicu si Kecil terkena penyakit. Terakhir, rutin pantau kurva pertumbuhan untuk mencegah stunting.

Daftar jadi member Bebeclub untuk baca ratusan artikel parenting dan pemenuhan gizi anak terlengkap dan terverifikasi ahli. Dengan jadi member, Ibu juga bisa dapatkan akses eksklusif ke berbagai fitur monitor kesehatan pencernaan anak, hingga kesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk Bebelac. Daftar gratis, sekarang!

Informasi yang Wajib Ibu Ketahui

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Ibu

  1. Editorial Team. (2018). Malnutrition in children. WHO. https://www.who.int/data/nutrition/nlis/info/malnutrition-in-children
  2. Editorial Team. (2026). Weight-for-age. WHO. https://www.who.int/tools/child-growth-standards/standards/weight-for-age
  3. Tim Penulis. Petunjuk Teknis Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita. (2021). Kementerian Kesehatan RI. https://repository.kemkes.go.id/book/96
  4. Editorial Team. (2023). Children aged under 5 years who are underweight — MEASURE Evaluation. https://www.measureevaluation.org/rbf/indicator-collections/health-outcome-impact-indicators/children-aged-under-5-years-who-are-underweight.html
  5. Cogill, B. (2001). Anthropometric Indicators Measurement Guide. Food and Nutrition Technical Assistance. https://eprints.ulbi.ac.id/1685/1/Athropometric%20Indicators%20Measurement%20Guide.pdf
  6. Editorial Team.(2015, November 19). Stunting in a nutshell. WHO. https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell
  7. Standar Antropometri Anak Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 - TP2S. (2020). Stunting.go.id. https://stunting.go.id/standar-antropometri-anak-peraturan-menteri-kesehatan-nomor-2-tahun-2020/


Artikel Terkait