10 Faktor yang Mempengaruhi Kenaikan Berat Badan Bayi

Berat badan bayi biasanya naik dua kali lipat pada usia 4–6 bulan dan mencapai tiga kali lipat saat berusia 1 tahun dibandingkan berat lahirnya.

Profile Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH
Faktor yang mempengaruhi kenaikan berat badan bayi - Bebeclub.


 

Kenaikan berat badan bayi bisa berbeda-beda, namun umumnya sekitar 800–900 gram per bulan pada tiga bulan pertama, lalu melambat menjadi kurang lebih 600 gram per bulan. Berat bayi biasanya mencapai dua kali lipat dari berat lahir saat usia 4 bulan dan menjadi tiga kali lipat pada usia 13–15 bulan, dengan rata-rata pertambahan sekitar 25–30 gram per hari. Tetap pantau melalui KMS dan konsultasikan ke dokter bila grafik tidak mengikuti kurva WHO.

Bagaimana Perkembangan Berat Badan Bayi di Tahun Pertama?

Perkembangan berat badan bayi selama tahun pertama berlangsung sangat cepat. Sebagian besar bayi biasanya turun berat badannya sekitar 10% dalam lima hari pertama setelah lahir. Tenang saja, karena ini normal.

Dalam lima hari berikutnya, berat badan si Kecil akan mulai naik lagi. Biasanya, di hari ke-10, beratnya sudah kembali seperti saat baru lahir. Rata-rata berat badan bayi bertambah sekitar 20–30 gram setiap hari.

Dengan kenaikan ini, biasanya berat badan bayi akan mencapai kurang lebih 4 kg saat usianya 1 bulan. Umumnya, berat lahir meningkat hingga 2 kali lipat pada usia 4–6 bulan dan mencapai 3 kali lipat memasuki umur 1 tahun.

Baca Juga: Berat Badan Ideal Bayi 0-12 Bulan Menurut WHO

Berapa Normalnya BB Bayi Naik Tiap Bulan?

Kenaikan berat badan bayi paling pesat adalah pada 6 bulan pertama. Pada usia 0–3 bulan, bayi naik 800–900 gram per bulan, lalu melambat menjadi sekitar 600 gram per bulan di usia 4–6 bulan.

Memasuki usia 6–12 bulan, kenaikannya melambat jadi sekitar 350–560 gram per bulan karena bayi mulai lebih aktif bergerak, duduk, merangkak, hingga berdiri.

Di bawah ini adalah pertumbuhan berat badan bayi yang ideal di setiap bulan beserta kisaran berat badan normal bayi berdasarkan Standar Antropometri Anak dari Kementerian Kesehatan RI:

Usia Bayi

Kenaikan Berat Badan per bulan

Berat Badan Bayi Laki-Laki

Berat Badan Bayi Perempuan

0 Bulan

30 gram/hari

2,5 kg - 3,9 kg

2,4 kg - 3,7 kg

1 Bulan

800–900 gram

3,4 kg - 5,1 kg

3,2 kg - 4,8 kg

2 Bulan

800–900 gram

4,3 kg - 6,3 kg

3,9 kg - 5,8 kg

3 Bulan

800–900 gram

5,0 kg - 7,2 kg

4,5 kg - 6,6 kg

4 Bulan

600 gram

5,6 kg - 7,8 kg

5,0 kg - 7,3 kg

5 Bulan

600 gram

6,0 kg - 8,4 kg

5,4 kg - 7,8 kg

6 Bulan

600 gram

6,4 kg - 8,8 kg

5,7 kg - 8,2 kg

7 Bulan

350–560 gram

6,7 kg - 9,2 kg

6,0 kg - 8,6 kg

8 Bulan

350–560 gram

6,9 kg - 9,6 kg

6,3 kg - 10,1 kg

9 Bulan

350–560 gram

7,1 kg - 9,9 kg

6,5 kg - 9,3 kg

10 Bulan

350–560 gram

7,4 kg - 10,2 kg

6,7 kg - 9,6 kg

11 Bulan

350–560 gram

7,6 kg - 10,5 kg

6,9 kg - 9,9 kg

12 Bulan

350 gram

7,7 kg - 10,8 kg

7,0 kg - 10,1 kg

Ingin tahu apakah pertumbuhan berat si Kecil sudah sesuai dengan standar WHO? Pantau terus pertambahan panjang dan berat badan bayi settiap bulan di AI Growth Tracker, gratis!

Kapan Kenaikan Berat Badan Bayi Disebut Normal?

Kenaikan berat badan bayi dianggap normal bila mengikuti pola WHO: turun 5–10% pada minggu pertama, lalu kembali ke berat lahir dalam 7–14 hari. Setelah itu, bayi memasuki fase kenaikan stabil sesuai kurva pertumbuhan.

Pada 3 bulan pertama, berat bayi biasanya naik sekitar 20–30 gram per hari. Kenaikan hingga sekitar 1.000 gram per bulan di tahap ini juga masih normal, terutama pada bayi yang mendapat ASI.

Pemantauan dilakukan melalui penimbangan rutin dan pencatatan pada kurva pertumbuhan WHO atau Kemenkes/IDAI. Pertumbuhan dinilai baik bila berat badan bayi tidak turun dua garis persentil dan berada dalam rentang −2 SD hingga +2 SD.

Berat rerata bayi laki-laki usia 3 bulan adalah 6,4 kg. Jika berat bayi 3 bulan 7 kg, itu masih termasuk kisaran normal (sedikit di atas rata-rata namun tetap di bawah +1 SD).

Apa Faktor yang Mempengaruhi Kenaikan Berat Badan Bayi?

Ada beberapa hal yang memengaruhi kenaikan berat badan bayi di usia 0-12 bulan, antara lain: 

1. Kelahiran Prematur

Berat badan bayi dipengaruhi oleh seberapa cepat ia lahir. Karena lahir lebih cepat, bayi prematur belum mendapat waktu tumbuh yang cukup di dalam kandungan. 

Akibatnya, bayi prematur umumnya lebih kecil dan lebih ringan dibanding bayi yang lahir cukup bulan.

Untuk mengejar berat badan dan memastikan organ lainnya berfungsi dengan baik, bayi prematur biasanya akan mendapatkan perawatan khusus di NICU. 

2. Jenis Kelamin

Jenis kelamin juga bisa menjadi faktor yang mempengaruhi kenaikan berat badan bayi.

Studi dari American Journal of Human Biology menyebutkan, bayi laki-laki dalam kandungan memiliki respons yang lebih cepat terhadap perubahan pola makan Ibu dibandingkan bayi perempuan.

Jadi, bayi laki-laki bisa tumbuh lebih besar dibanding bayi perempuan sejak dalam kandungan. Laju pertumbuhan berat badan anak akan hampir setara di usia 1-3 tahun nanti. 

3. Jumlah dan Kualitas ASI

Berat badan bayi sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak ASI yang ia dapatkan setiap hari. 

Jika kebutuhan tercukupi, bayi biasanya terlihat lebih puas setelah menyusu dan naik berat badannya secara perlahan tapi stabil.

Kualitas ASI juga ikut berperan karena setiap tetesnya mengandung nutrisi lengkap yang mengikuti kebutuhan tumbuh kembang si Kecil. Itulah kenapa ASI eksklusif sampai 6 bulan direkomendasikan untuk membantu bayi tumbuh optimal.

Baca Juga: 17 Makanan untuk Meningkatkan Kualitas dan Melancarkan ASI

4. Frekuensi & Durasi Menyusu 

Pemberian ASI eksklusif minimal selama 6 bulan direkomendasikan untuk mencapai kenaikan berat badan bayi yang optimal.

Di bulan-bulan pertama, Ibu disarankan menyusui sekitar 8–12 kali dalam 24 jam atau mengikuti sinyal lapar bayi (menyusui “on demand”). Susui bayi selama 10-15 menit setiap kali menyusu, atau sampai terlihat tanda bayi kenyang.

Menyusu sering dan lama membantu bayi mendapatkan cukup kalori dan nutrisi untuk tumbuh, yang berpengaruh pada kenaikan berat badan secara konsisten sesuai kurva pertumbuhan.

5. Posisi Perlekatan Bayi

Seberapa tepat posisi perlekatan bayi pada puting payudara juga berperan besar sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kenaikan berat badan bayi. 

Posisi yang kurang tepat membuat bayi kesulitan memerah dan menelan ASI, sehingga besar kemungkinannya ia masih merasa lapar setelah menyusu. 

Hal tersebut akan membuat si Kecil kekurangan asupan ASI dan pertambahan berat badannya kurang optimal. 

6. Nutrisi dalam MPASI

Setelah berusia 6 bulan, Ibu perlu memberikan MPASI untuk memenuhi kebutuhan kalori dan nutrisi harian si Kecil. Dalam memberikan MPASI, ada banyak hal yang perlu diperhatikan. 

Porsi, tekstur, dan bahan makanan, semua harus disesuaikan dengan usia si Kecil. Contohnya, bayi 9 bulan perlu MPASI setengah mangkuk ukuran 250 ml dengan tekstur cincang halus. 

Jika Ibu memberikan MPASI dengan porsi yang sama namun teksturnya bubur halus (puree), maka kandungan nutrisi di dalamnya lebih sedikit dari yang dibutuhkan si Kecil di usia 9 bulan. 

Baca Juga: Apa Boleh Memberikan Makanan pada Bayi 0-3 Bulan?

 7. Alergi Makanan 

Alergi makanan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kenaikan berat badan bayi karena reaksi tubuh terhadap alergen bisa menyebabkan berbagai masalah pencernaan. 

Diantaranya adalah muntah atau diare sehingga mengganggu penyerapan nutrisi. Alergi yang tidak segera diketahui juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan saat makan. 

Hal itu bisa mengurangi selera makan. Kadang bayi yang alergi juga tidak mendapatkan makanan alternatif yang dibutuhkan, sehingga asupan nutrisi pentingnya terhambat. 

8. Intoleransi Makanan

Intoleransi makanan dapat menghambat kenaikan berat badan bayi karena tubuh mereka sulit mencerna nutrisi tertentu, seperti laktosa (dari susu) atau gluten (dari gandum). 

Gejala intoleransi makanan seperti diare dan kembung juga mengganggu penyerapan nutrisi dan menurunkan nafsu makan bayi.

Hal tersebut dapat mengurangi asupan kalori yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Akibatnya, berat badan si Kecil lebih susah naik.

9. Kondisi Kesehatan

Bayi yang sering sakit (terkena infeksi berulang atau kronis) akan menggunakan lebih banyak kalori dan nutrisi penting yang masuk ke dalam tubuhnya untuk melawan kuman. 

Sebuah penelitian juga menunjukkan bayi yang memiliki kondisi jantung tertentu menghabiskan sekitar 40% dari asupan energi yang masuk. 

Maka, kondisi kesehatan tertentu yang diiringi dengan rendahnya nafsu makan dapat menjadi faktor yang mempengaruhi kenaikan berat badan bayi.

10. Kebiasaan Mengisap Empeng 

Empeng (pacifier) memang memberikan rasa nyaman dan puas pada bayi sehingga ia lebih tidak rewel. Namun, penggunaannya bisa membuat bayi bingung puting dan menolak menyusu. 

Jika empeng membuat bayi tidak mau menyusu, lebih baik Ibu hentikan penggunaannya, ya. Selain itu, empeng juga tidak disarankan bagi bayi di atas 6 bulan. 

Penggunaan empeng di usia ini dapat membuat bayi lebih mudah kembung, terkena penyakit infeksi, ketergantungan, gigi tumbuh tidak rapi, dan cenderung menolak makan MPASI. 

Penyebab Berat Badan Bayi Tidak Naik

Jika berat badan si Kecil tidak naik, beberapa kemungkinan penyebabnya adalah asupan nutrisi kurang, masalah menyusu, atau kondisi medis tertentu. 

Berikut penyebab yang paling umum:

  • Kurang asupan (ASI tidak cukup atau MPASI rendah kalori): Studi dalam BMC Pediatrics (2019) menunjukkan kecukupan kalori sangat berperan pada peningkatan berat badan bayi usia 6–24 bulan.
  • Masalah menyusu (tongue-tie atau perlekatan kurang optimal) American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa masalah pelekatan sering membuat transfer ASI berkurang sehingga berat badan tidak bertambah sesuai target.
  • Masalah pencernaan: Menurut Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition, kondisi seperti ini dapat menghambat kenaikan berat badan meski asupan sudah cukup.
  • Bayi mengeluarkan lebih banyak energi, misalnya sangat aktif atau sering sakit. CDC menyebutkan bahwa infeksi berulang dapat meningkatkan kebutuhan energi sekaligus menurunkan nafsu makan.
  • Stres pada ibu atau bayi: perubahan rutinitas, overstimulasi, atau naik-turun kondisi emosional dapat memengaruhi frekuensi dan efektivitas menyusu.

Cara Menaikkan Berat Badan Bayi dengan Aman

Menjaga berat badan bayi tetap sesuai kurva pertumbuhan penting untuk mendukung tumbuh kembang optimal. 

Berikut cara aman yang disarankan banyak ahli tumbuh kembang anak untuk membantu menaikkan berat badan bayi

1. Tingkatkan Frekuensi dan Kualitas Menyusu

Meningkatkan frekuensi menyusu membantu bayi mendapat lebih banyak kalori serta menjaga produksi ASI tetap optimal. WHO menganjurkan Ibu selalu susui bayi sesuai permintaan, termasuk pada malam hari.

Pastikan sesi menyusu berlangsung efektif, karena hisapan dalam dan ritmis membantu bayi mendapatkan foremilk dan hindmilk secara seimbang. 

Hindmilk mengandung lebih banyak lemak yang berperan besar dalam peningkatan berat badan.

Baca Juga: 10 Cara Membangunkan Bayi untuk Menyusu agar Tidak Rewel

2. Evaluasi Perlekatan & Hentikan Empeng jika Mengganggu Menyusu

IDAI menekankan perlekatan yang benar akan meningkatkan transfer ASI dan membantu kenaikan berat badan bayi lebih stabil.

Penggunaan empeng dapat mengurangi frekuensi menyusu pada sebagian bayi. Jika pemakaian empeng membuat bayi jarang menyusu, hentikan sementara agar kebutuhan energinya tetap tercukupi.

Ibu dapat berkonsultasi dengan konselor laktasi apabila merasa perlekatan masih kurang efektif atau bayi tampak cepat lelah saat menyusu.

3. Berikan MPASI Bergizi Seimbang Mulai Usia 6 Bulan

Ketika bayi berusia 6 bulan, MPASI menjadi sumber utama energi dan zat gizi tambahan. WHO menekankan MPASI harus cukup energi, protein, serta mikronutrien untuk mendukung kenaikan berat badan.

Berikan makanan bertekstur lembut tetapi kaya zat gizi seperti daging, ikan, telur, sayur, dan buah. Usahakan variasi bahan makanan setiap hari untuk memastikan bayi mendapat nutrisi lengkap dan tidak bosan dengan menu. 

Perubahan tekstur makanan juga perlu disesuaikan dengan kemampuan makan bayi agar ia terus lahap makan.

4. Tambahkan Makanan Tinggi Energi

Makanan berenergi tinggi membantu menambah kalori harian secara sehat, seperti telur, alpukat, dan ikan. 

Alpukat kaya lemak sehat, sementara telur dan ikan mengandung protein yang penting untuk pertumbuhan jaringan tubuh bayi.

Menambahkan sedikit minyak zaitun atau butter tanpa garam pada MPASI dapat meningkatkan energi tanpa menambah volume makanan. Pendekatan ini bermanfaat bagi bayi yang cepat kenyang.

Hasil studi BMC Pediatrics tahun 2020 menunjukkan bahwa intervensi peningkatan energi pada MPASI dapat membantu memperbaiki kenaikan berat badan secara signifikan pada bayi dengan risiko undernutrition.

5. Atur Jadwal Makan yang Konsisten

Jadwal makan yang teratur membantu bayi belajar mengenali rasa lapar dan kenyang serta mendorong asupan harian yang cukup. Umumnya, bayi membutuhkan 3 kali makan utama dan 2 kali camilan bergizi.

Konsistensi jadwal juga memudahkan orang tua memantau pola makan dan respons bayi terhadap setiap pemberian makanan.

Ciptakan suasana makan yang positif agar bayi lebih fokus dan mau makan lebih banyak.

6. Periksa Kemungkinan Alergi atau Intoleransi Makanan

Menurut Mayo Clinic, alergi makanan dan intoleransi dapat mengganggu penyerapan nutrisi sehingga berdampak pada kenaikan berat badan bayi. 

Evaluasi dini penting untuk mencegah risiko pertumbuhan terhambat. Gejala seperti muntah, diare, ruam, atau feses berdarah perlu diwaspadai.

Jika diduga terkait alergi, konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lanjutan seperti elimination diet atau tes alergi.

Kapan Harus Membawa Bayi ke Dokter Jika Berat Badannya Tidak Ada Perubahan?

Bayi yang berat badannya tidak bertambah bisa menjadi tanda bahwa kebutuhan nutrisinya belum terpenuhi dengan optimal.

Kondisi ini perlu dicermati karena pertumbuhan di 1000 hari pertama sangat menentukan perkembangannya dalam jangka panjang. Berikut beberapa tanda yang perlu Ibu waspadai:

  • Berat tidak naik 2 bulan berturut-turut (mengarah pada weight faltering).
  • Tren pertumbuhan bayi turun lebih dari dua garis centile pada kurva WHO di buku KMS.
  • Bayi tampak lemas atau kurang minum.
  • Muncul gejala alergi atau gangguan pencernaan seperti muntah berulang, diare kronis, atau feses berdarah.

Jika kenaikan berat badan bayi tidak sesuai harapan, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Evaluasi medis penting untuk mengetahui penyebabnya apakah gangguan pencernaan, infeksi, atau masalah nutrisi.

Penanganan sedini mungkin juga membantu mencegah risiko malnutrisi dan memastikan tumbuh kembang bayi tetap optimal.

Jika Ibu masih butuh saran atau punya pertanyaan seputar kesehatan, tumbuh kembang, dan nutrisi anak, yuk langsung hubungi BebeCare.

Tim careline kami terdiri dari para ahli berlatar belakang keperawatan dan pendidikan gizi yang siap menjadi teman berbagi dan sumber informasi terpercaya untuk Ibu, 24 jam gratis tanpa perlu buat janji!

Informasi yang Wajib Ibu Ketahui

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Ibu

  1. ‌Weight-for-age. (2024). Who.int. https://www.who.int/tools/child-growth-standards/standards/weight-for-age
  2. Boys Live Dangerously in the Womb | OHSU. (2024). Ohsu.edu. https://www.ohsu.edu/school-of-medicine/moore-institute/boys-live-dangerously-womb
  3. ‌Kelly, J. (2021, December 15). Developmental Differences Between Boys and Girls. What to Expect; WhattoExpect. https://www.whattoexpect.com/first-year/development-and-milestones/differences-boys-girls
  4. IDAI | Bagaimana menyusui dengan benar? (2019). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/bagaimana-menyusui-dengan-benar
  5. Brown, M. (2015, September 24). Your Newborn’s Weight: What the Average Baby Weighs and Normal Gains and Losses. What to Expect; WhattoExpect. https://www.whattoexpect.com/first-year/health-and-safety/newborn-weight-average-gains-loss/
  6. Crider, C. (2020, October 27). Breastfed Baby Gas: What Causes It and What Doesn’t, Plus How to Deal. Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/baby/breastfed-baby-gas#causes
  7. IDAI | Manajemen Laktasi. (2019). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/manajemen-laktasi
  8. SEXTON, S., & NATALE, R. (2009). Risks and Benefits of Pacifiers. American Family Physician, 79(8), 681–685. https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2009/0415/p681.html
  9. ‌WebMD Editorial Contributor. (2021, March 9). Pros and Cons of Using a Pacifier. WebMD. https://www.webmd.com/baby/pros-and-cons-of-using-a-pacifier
  10. IDAI | Memberi Makan pada Bayi: Kapan, Apa, dan Bagaimana? (2016). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memberi-makan-pada-bayi-kapan-apa-dan-bagaimana
  11. IDAI | Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). (2018). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-makanan-pendamping-air-susu-ibu-mpasi
  12. https://www.facebook.com/nhswebsite. (2020, December). Food allergies in babies and young children. Nhs.uk. https://www.nhs.uk/conditions/baby/weaning-and-feeding/food-allergies-in-babies-and-young-children/
  13. Lewis, R. (2020, October 23). Why Is My Baby Not Gaining Weight? Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/baby/baby-not-gaining-weight#healthy-weight-gain


Temukan Topik Lainnya

Artikel Terkait

Keuntungan Daftar Bebeclub

Keuntungan Daftar Bebeclub

Icon Info Tumbuh Kembang di WA
 Desktop

Info Tumbuh Kembang di WA

Panduan bulanan untuk si Kecil, langsung kami kirim ke Ibu!

Icon Bantuan untuk Ibu & si Kecil
 Desktop

Bantuan untuk Ibu & si Kecil

Punya pertanyaan? Tenang Bu, BebeCare siap bantu 24 jam, khusus untuk Ibu!

Icon Info Tumbuh Kembang di WA
 Mobile

Info Tumbuh Kembang di WA

Panduan bulanan untuk si Kecil, langsung kami kirim ke Ibu!

Icon Bantuan untuk Ibu & si Kecil
 Mobile

Bantuan untuk Ibu & si Kecil

Punya pertanyaan? Tenang Bu, BebeCare siap bantu 24 jam, khusus untuk Ibu!

Gabung Bebeclub

Minimal 8 karakter, memiliki 1 angka (0-9), dan karakter spesial (@#$%^&)

Tidak
Ya

*Usia si Kecil Maksimal 12 Tahun