7 Tanda Bayi Kurang ASI dan Cara Memastikan Kebutuhan ASI Tercukupi
Tanda bayi kurang ASI dapat dilihat dari jumlah popok basah, kenaikan berat badan, dan efektivitas menyusu. Kenali juga cara mengatasi dan kapan ke dokter.
Ditulis oleh :
Tim Penulis
Ditinjau oleh :
dr. Attila Dewanti, SpA (K)
Diterbitkan: 11 Mei 2022
Diperbarui: 29 Oktober 2026
Tanda bayi kurang ASI yang paling perlu diperhatikan adalah BAK kurang dari 6 kali sehari setelah hari kelima, berat badan tidak bertambah sesuai pola pertumbuhan, bayi sulit menyusu secara efektif, serta munculnya tanda dehidrasi seperti mulut kering atau bayi tampak sangat lemas. Bayi yang sering menyusu atau menangis belum tentu kekurangan ASI, sehingga kecukupan ASI perlu dilihat dari beberapa tanda sekaligus.
Bagaimana Cara Mengetahui Bayi Kurang ASI?
Cara paling praktis adalah memantau beberapa indikator sekaligus, bukan hanya satu tanda. Tabel tanda bayi kurang ASI berikut bisa Ibu jadikan panduan cepat.
|
Hal yang Dipantau |
Tanda yang Perlu Diwaspadai |
|
Buang air kecil (BAK) |
Setelah hari ke-5, kurang dari sekitar 6 popok basah/24 jam |
|
Tidak kembali ke berat lahir pada hari ke 10 atau kenaikannya tidak sesuai pola pertumbuhan |
|
|
Menyusu |
Tidak terdengar/terlihat menelan, pelekatan tidak efektif |
|
Kondisi bayi |
Sangat lemas, sulit dibangunkan untuk menyusu |
|
Dehidrasi |
Mulut kering, urine sangat pekat, tanda dehidrasi lain |
|
BAB |
Pola/feses tidak sesuai transisi normal pada hari-hari awal |
|
Jaundice |
Kuning pada kulit dan mata disertai tanda kurang asupan |
Perlu diingat, satu kondisi saja tidak selalu menjadi tanda bayi kurang ASI. Penilaian sebaiknya melihat beberapa indikator sekaligus dan, bila perlu, dilakukan oleh dokter atau konselor laktasi.
Apa Saja Tanda Bayi Kurang ASI yang Perlu Diperhatikan?
Berikut tujuh Tanda bayi kurang ASI yang paling perlu Ibu perhatikan, diurutkan dari yang paling penting.
1. BAK Kurang dari 6 Kali Sehari Setelah Hari Kelima
Jumlah popok basah menjadi petunjuk penting karena ASI ikut memenuhi kebutuhan cairan bayi. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi umumnya BAK 6–8 kali per hari setelah usia lima hari.
Bila popoknya tetap kering dalam waktu lama atau BAK kurang dari sekitar enam kali sehari, Ibu sebaiknya segera mengevaluasi proses menyusu bersama tenaga kesehatan.
2. Berat Badan Tidak Bertambah Sesuai Pola Pertumbuhan
Pada hari-hari awal, berat badan bayi memang dapat turun hingga 7% dari berat lahir. Namun, berat badan ini biasanya kembali ke berat lahir pada hari ke 10 dan akan terus naik mengikuti kurva pertumbuhan.
Ibu tidak perlu terpaku pada angka bayi lain karena pola setiap bayi bisa berbeda. Yang lebih penting adalah hasil penimbangan berkala menunjukkan arah pertumbuhan yang sesuai.
Baca Juga: Berat Badan Bayi Naik Lambat? Ini Faktor Penyebabnya
3. Bayi Tidak Menelan ASI Secara Efektif
Perhatikan pola isapan dan suara menelan saat menyusu. Bayi yang menyusu efektif melekat dengan baik, dan pipinya tidak tampak cekung saat mengisap.
Bila si Kecil tidak menyusu secara efektif, itu bisa jadi tanda bayi kurang ASI.
4. Bayi Tidak Tampak Puas Setelah Menyusu
Bayi yang masih gelisah setelah menyusu mungkin bisa jadi tanda bayi kurang ASI. Meski begitu, ciri ini tidak bisa berdiri sendiri karena bayi juga dapat mencari payudara untuk merasa nyaman.
Ibu bisa melihatnya bersama tanda lain, seperti jumlah popok basah, suara menelan, dan kenaikan berat badan.
5. Urine Sangat Pekat atau Masih Ada Brick Dust Setelah Hari Kelima
Pada beberapa hari pertama, urine yang sangat pekat bisa meninggalkan endapan merah bata (brick dust) di popok, dan ini masih normal.
Namun, bila urine tetap sangat pekat setelah hari kelima, itu bisa menandakan asupan cairan dari ASI belum cukup.
6. Bayi Tampak Lemas atau Sulit Dibangunkan untuk Menyusu
Bayi baru lahir memang banyak tidur, tetapi biasanya tetap dapat dibangunkan untuk menyusu.
Jika bayi sangat lemas, tidak merespons seperti biasanya, atau tidur terus hingga sulit menyusu, jangan tunggu tanda lain muncul. Kondisi ini perlu segera diperiksa oleh tenaga kesehatan.
7. Muncul Tanda Dehidrasi
Mulut yang kering, urine semakin sedikit, tidak ada air mata saat menangis, mata atau ubun-ubun tampak cekung, dan tubuh sangat lemas termasuk tanda bayi dehidrasi.
Bila Ibu melihat salah satunya, terutama disertai bayi sulit menyusu, segera bawa si Kecil ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.
Tanda Bayi Cukup ASI yang Bisa Ibu Pantau
Supaya tidak cemas berlebihan, Ibu bisa mengenali tanda bayi cukup ASI berikut ini.
- BAK cukup (popok basah sesuai usia).
- Bayi tampak aktif saat terjaga.
- Menyusu efektif dan terdengar menelan.
- Tampak puas dan tenang setelah menyusu.
- Berat badan mengikuti pola pertumbuhan.
Sebagai patokan, American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut setelah 4–5 hari pertama bayi biasanya memiliki setidaknya 5–6 popok basah per hari, menyusu sekitar 8–12 kali, tampak puas setelah menyusu, dan berat badannya bertambah stabil.
Baca Juga: 4 Tanda Bayi Cukup ASI yang Mudah Ibu Kenali
Apa Penyebab Bayi Kurang ASI?
Istilah “bayi kurang ASI” lebih tepat dipahami sebagai kondisi ketika ASI yang masuk ke tubuh bayi belum optimal.
Penyebabnya tidak selalu karena tubuh Ibu memproduksi sedikit ASI. Sering kali, masalah justru terjadi pada pelekatan atau perpindahan ASI dari payudara ke mulut bayi.
1. Pelekatan Kurang Tepat
Pelekatan yang kurang pas membuat bayi sulit mengosongkan payudara, sehingga ASI yang didapat jadi kurang maksimal.
2. Posisi Menyusui Kurang Optimal
Posisi menyusui yang kurang nyaman bisa mengganggu pelekatan dan efektivitas transfer ASI.
3. Bayi Sulit Mengisap atau Transfer ASI Kurang Efektif
Pada sebagian bayi, kemampuan mengisap belum optimal, sehingga ASI yang berpindah ke bayi lebih sedikit meski produksi Ibu cukup.
4. Frekuensi Menyusui Kurang
Semakin jarang disusui, semakin sedikit rangsangan untuk produksi ASI. Menyusu sesuai permintaan bayi bantu menjaga produksi tetap cukup.
5. Kondisi Ibu atau Bayi yang Memengaruhi Menyusui
Kondisi tertentu pada Ibu atau bayi dapat memengaruhi proses menyusui. Bila Ibu merasa ada hambatan, konsultasi ke konselor laktasi bisa sangat membantu.
6. Bayi Prematur atau Memiliki Kondisi Medis Tertentu
Bayi prematur atau dengan kondisi medis tertentu kadang membutuhkan dukungan menyusui ekstra, termasuk pemantauan oleh tenaga kesehatan.
Memantau pup si Kecil bisa membantu Ibu menilai kecukupan asupannya sejak dini. Gunakan AI Poop Tracker dari Bebeclub untuk membantu mengenali kondisi pup si Kecil. Cukup upload foto pup di atas popoknya dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik. Ibu juga bisa mencoba fitur ini di Aplikasi Bebeclub Mobile untuk memantau kesehatan pencernaan si Kecil setiap hari.
Cara Mengatasi Bayi Kurang ASI
Kabar baiknya, sebagian besar kasus bisa diperbaiki dengan dukungan menyusui yang tepat. Berikut langkah-langkah yang bisa Ibu lakukan.
1. Susui Bayi Sesuai Tanda Lapar
Tawarkan menyusu ketika si Kecil mulai membuka mulut, mencari-cari payudara, mengecap, atau memasukkan tangan ke mulut. Menangis merupakan tanda lapar yang lebih akhir.
Pada masa awal, sebagian besar bayi menyusu sekitar 8–12 kali dalam 24 jam, tetapi kebutuhan setiap bayi dapat berbeda.
2. Perbaiki Posisi dan Pelekatan
Posisikan tubuh bayi menghadap tubuh Ibu dengan kepala dan badan segaris. Saat mulutnya terbuka lebar, dekatkan bayi ke payudara agar puting dan sebagian besar areola masuk ke mulut.
Bila menyusui masih terasa sakit atau puting lecet, konselor laktasi dapat membantu memeriksa pelekatannya secara langsung.
3. Pastikan Sesi Menyusu Berjalan Efektif
Ibu dapat memperhatikan pola isap-telan, bentuk pipi, dan kondisi payudara setelah menyusui.
Bila si Kecil hanya mengisap cepat tanpa terdengar menelan, tertidur beberapa menit setelah mulai, atau terus terlepas, coba bangunkan dengan sentuhan lembut dan perbaiki pelekatannya.
4. Lakukan Kontak Kulit ke Kulit
Kontak kulit ke kulit dapat membantu bayi lebih tenang dan lebih mudah menunjukkan tanda lapar.
Letakkan si Kecil yang hanya memakai popok di dada telanjang sambil tetap menjaga suhu tubuh dan mengawasinya. Momen ini bisa jadi waktu istirahat dan membangun kedekatan untuk Ibu dan bayi.
5. Perah ASI Bila Bayi Belum Bisa Menyusu Efektif
Jika bayi terlalu mengantuk, prematur, atau belum dapat mengosongkan payudara dengan baik, dokter atau konselor laktasi mungkin menyarankan Ibu memerah ASI.
Cara dan frekuensi menyusui serta metode pemberiannya perlu disesuaikan dengan kondisi si Kecil agar proses menyusu tetap aman.
6. Pantau Berat Badan dan Popok
Catatan sederhana dapat sangat membantu. Ibu bisa menuliskan waktu menyusu, jumlah popok basah, perubahan feses, dan hasil penimbangan.
Informasi ini membuat dokter atau konselor laktasi lebih mudah menilai apakah asupan sudah membaik atau diperlukan bantuan tambahan.
7. Konsultasikan ke Dokter atau Konselor Laktasi
Bila tanda bayi kurang ASI menetap, pemeriksaan langsung penting untuk melihat pelekatan, cara bayi mengisap, kondisi mulut, serta pertumbuhan.
Tenaga kesehatan juga dapat menilai apakah Ibu atau bayi memiliki kondisi tertentu yang memengaruhi proses menyusui. Makanan atau minuman tertentu bukan solusi utama bila masalahnya ada pada transfer ASI.
Baca Juga: 10 Cara Menaikkan Berat Badan Bayi ASI & MPASI dengan Aman
Apakah Bayi yang Sering Menyusu Berarti Kurang ASI?
Tidak selalu, Bu. Bayi bisa menyusu lebih sering karena cluster feeding, growth spurt, atau kebutuhan menyusu yang memang berbeda-beda.
Jadi, frekuensi menyusu sebaiknya dinilai bersama tanda lain, seperti jumlah popok basah, efektivitas menelan, kondisi bayi, dan kenaikan berat badannya.
Apakah Payudara yang Tidak Terasa Penuh Berarti ASI Kurang?
Tidak selalu. Setelah tubuh menyesuaikan produksi ASI dengan kebutuhan bayi, payudara dapat terasa lebih lunak daripada minggu-minggu pertama.
Perasaan penuh atau tidak penuh bukan alat ukur jumlah ASI. Ibu tetap perlu melihat efektivitas menyusu, popok basah, kondisi bayi, dan pola pertumbuhannya.
Efek Bayi Kurang ASI
Asupan yang benar-benar tidak cukup dan dibiarkan dapat berdampak pada kesehatan bayi. Karena itu, segera cari bantuan bila beberapa tanda berikut muncul atau terus berlanjut.
1. Dehidrasi
Selain sebagai tanda bayi kurang ASI, kurangnya asupan cairan dari ASI bisa membuat bayi dehidrasi. Kondisi ini bisa memburuk dengan cepat.
2. Berat Badan Sulit Naik
Asupan energi yang kurang membuat berat badan bayi sulit naik sesuai pola pertumbuhannya.
3. Asupan Energi dan Nutrisi Tidak Mencukupi
ASI adalah sumber utama energi dan nutrisi di awal kehidupan, sehingga kekurangannya memengaruhi pemenuhan gizi harian bayi.
4. Jaundice Terkait Asupan yang Tidak Optimal
Pada bayi baru lahir, asupan ASI yang kurang optimal dapat berkaitan dengan kondisi kuning (jaundice) yang perlu dipantau.
5. Risiko Gangguan Pertumbuhan Jika Berlangsung
Kekurangan asupan yang berlangsung lama dan tidak ditangani dapat menyebabkan masalah pertumbuhan dan status gizi si Kecil.
Kapan Bayi Kurang ASI Harus Dibawa ke Dokter?
Segera cari pertolongan medis bila si Kecil menunjukkan salah satu tanda berikut, ya, Bu.
- Bayi sangat lemas atau sulit dibangunkan.
- BAK sangat sedikit.
- Muncul tanda dehidrasi.
- Berat badan turun berlebihan.
- Bayi tidak dapat menyusu secara efektif.
- Bayi tampak semakin kuning disertai tanda kurang asupan.
- Bayi mengalami kondisi yang membuatnya sulit menyusu.
Untuk bayi baru lahir dengan penurunan berat badan berlebihan, disarankan evaluasi menyusui secara cermat, terutama bila penurunannya mencapai lebih dari 10% berat lahir.
Itulah informasi lengkap seputar tanda bayi kurang ASI, penyebab, hingga penanganannya. Semoga artikel ini bermanfaat, ya, Bu!
Perjalanan menyusui memang penuh tanya, tapi Ibu tidak sendirian. Daftar sebagai member Bebeclub untuk mendapatkan panduan menyusui dan perawatan bayi yang telah ditinjau para ahli, lengkap dengan dukungan dari tim careline.
_IFFO_MICROMOMENT.png)
_GUM_CARELINE.png)
