7 Penyebab Anak GTM dan Cara Ampuh Mengatasinya

Ada banyak penyebab anak jadi GTM (gerakan tutup mulut), dari kebiasaan hingga bosan. Yuk, buat suasana makan jadi ceria!

Ditulis oleh : Tim Penulis

4 min
10 Jan 2023
Anak GTM


Ibu pasti pusing sekali melihat anak GTM alias menutup mulutnya rapat-rapat saat disuapi makanan. Tidak jarang juga ia melepehkan kembali makanan yang sudah berhasil masuk ke mulut.

Lantas, apa yang harus dilakukan ketika anak GTM? Simak penyebab dan cara ampuh menangani GTM pada artikel berikut ini!

Apa Penyebab Anak GTM?

GTM atau gerakan tutup mulut adalah istilah yang digunakan untuk anak yang menolak makan dengan cara menutup mulut saat disuapi.

GTM cukup umum dialami oleh anak memasuki usia 1 tahun dan biasanya akan memuncak ketika ia berusia 2 tahun.  Pada usia ini, anak sudah mulai merasa lebih besar sehingga ingin menunjukkan kemandiriannya dengan sedikit “memberontak” seperti menutup mulut saat makan. 

Nah, di luar itu ternyata ada beberapa alasan lain mengapa anak tiba-tiba jadi mogok makan, termasuk menolak makanan kesukaannya. Berikut penyebab anak GTM yang perlu Ibu ketahui: 

1. Growth Spurt

Kecenderungan si Kecil untuk menolak pola makan dapat dipengaruhi oleh perubahan laju pertumbuhannya. 

Pada satu tahun pertama kehidupan, si Kecil akan mengalami beberapa kali fase lonjakan pertumbuhan secara pesat yang dinamakan growth spurt. 

Namun, fase growth spurt ini akan berhenti di tahun kedua. Setelah itu, laju pertumbuhan si Kecil akan terus stabil sampai akhirnya ia memasuki fase pubertas beberapa tahun lagi. 

Oleh karena itu, kebutuhan nutrisi anak umumnya lebih rendah daripada bulan-bulan sebelumnya dan nafsu makan si Kecil juga berkurang sehingga ia tampak makan lebih sedikit daripada sebelumnya.

2. Lebih Suka Bermain 

Jika Ibu sudah terbiasa memberikan anak makan sambil mengajaknya keliling komplek, sambil menonton TV atau memegang gadget, atau bahkan memberikan makan waktu anak masih bermain, bukan hal yang aneh jika anak jadi menolak makan.

Sebab distraksi juga bisa datang dari hal-hal lain, seperti terlalu banyak orang berlalu-lalang dan berisik di dalam ruangan sehingga membuyarkan keinginan anak untuk makan.

Anak-anak sangat suka berlari, bermain, dan menjelajah. Maka dengan begitu banyak hal lain yang lebih menarik perhatiannya, si Kecil mungkin tidak ingin meluangkan waktu untuk makan.

Pemberian makan yang benar tidak hanya mempertimbangkan jenis dan porsinya saja, Bu, tapi juga harus memperhatikan ketepatan waktunya. Jadi, supaya makannya tidak terganggu, jangan berikan makan saat anak masih sibuk beraktivitas. Seperti halnya waktu tidur, main, dan belajar, makan juga ada waktunya tersendiri.

Begitu banyak hal yang dapat menarik perhatian si Kecil sehingga ia mungkin tidak ingin meluangkan waktu untuk makan. Ia sibuk berlari, memanjat, berguling, atau melompat untuk menjawab rasa penasarannya. 

Ketika akhirnya mau makan pun fokus mereka pada makanan juga sangat sebentar atau cepat karena ingin segera kembali bermain dengan berbagai hal yang menarik perhatiannya. 

3. Bosan dengan Menu Makannya

Sama seperti orang dewasa, Bu, si Kecil bisa saja mengatupkan mulutnya erat-erat karena merasa bosan dengan makanan yang selama ini disajikan. Bahkan, ketika yang Ibu sajikan adalah makanan favoritnya. 

Sangat wajar jika Ibu merasa bingung dan frustasi bagaimana mau menyajikan makanan untuk anak GTM

Jadi pada akhirnya, Ibu lebih permisif dengan terus-terusan memberikan mie instan atau chicken nugget favoritnya, misalnya, atau mengizinkan anak makan roti dan makanan cepat saji saja tanpa variasi lain.

4. Belum Terbiasa dengan Makanan Baru

Ketika diperkenalkan dengan makanan baru yang belum pernah dicicipi sebelumnya, si Kecil umumnya akan melakukan penolakan sehingga terjadilah GTM. Bahkan setelah Ibu coba rayu dan bujuk sekalipun, anak tetap tidak mau mencobanya walau sesuap saja.

Tahukah Ibu bahwa reaksi seperti sebenarnya merupakan insting alami yang dimiliki setiap anak? 

Respon menolak makanan baru dianggap oleh para ahli tumbuh kembang sebagai mekanisme perlindungan primitif dari alam bawah sadar anak untuk mencegahnya memasukkan sesuatu ke dalam mulut dan secara tidak sengaja meracuni diri sendiri.

Akan tetapi, semua mekanisme ini perlahan akan menghilang seiring waktu dengan sering melihat orang tuanya makan makanan yang sama. 

Jadi, si Kecil akan belajar memahami bahwa makanan itu aman untuk dikonsumsi walaupun makanan memiliki bentuk, tekstur, atau rasa yang berbeda. 

Baca Juga: Trik Mengatasi Balita Susah Makan Agar Nutrisinya Tercukupi

5. Trauma pada Waktu Makan

Ada banyak tingkah laku anak GTM ketika waktunya makan. Dari menutup mulut atau bahkan berlari menjauh saat disuapi makan. Kondisi ini tidak ayal membuat banyak orang tua merasa jengkel dan frustasi. 

Kekesalan ini sangat wajar dialami, karena Ibu mungkin khawatir si Kecil tidak akan mendapatkan gizi yang cukup.

Jika Ibu sudah merasa kesal, coba berhenti sejenak untuk mengatur napas dan menenangkan diri, ya. Jangan tampilkan emosi Ibu di depan anak sambil menekan dan memaksa anak untuk menghabiskan makanannya, apalagi memarahinya. 

Paksaan untuk menghabiskan isi piring tentu akan membuat si Kecil semakin giat GTM karena si Kecil jadi mengaitkan waktu makan dengan pengalaman yang tidak mengenakkan baginya.

6. Anak Belum Lapar

Tahukah Ibu bahwa salah satu kunci utama anak lahap makan adalah rasa lapar? Jadi sangat wajar jika anak melakukan GTM ketika ia belum merasa lapar. 

Bagaimana cara mengetahui kapan anak lapar? Rasa lapar sangat bergantung pada waktu pengosongan lambung, Bu. Umumnya, makanan padat akan tercerna sebanyak 50% dalam waktu 100 menit dan makanan cair dalam waktu 75 menit.

Nah, agar dapat memberi makan pada waktu yang tepat, sebaiknya Ibu mengatur jadwal makan si Kecil yang dikaitkan dengan waktu pengosongan lambung. 

7. Pemberian Makan yang Tidak Tepat

Menurut IDAI, anak GTM dapat muncul karena inappropriate feeding practice alias praktek pemberian makan yang tidak tepat.  

Ini biasanya disebabkan oleh kekeliruan orang tua mengenai pemilihan jenis makanan, seberapa banyak porsinya, dan kapan anak harus diberikan makan. Sering kali, hal ini terjadi sejak fase transisi dari MPASI ke makanan keluarga. 

Sebagai contoh, masih memberikan anak yang berusia 2 tahun makanan lembek seperti nasi tim lumat atau puree daging dan sayur diblender halus. 

Padahal, seharusnya anak di usia ini sudah boleh diberikan makanan yang sama seperti orang dewasa. Misalnya nasi putih, sayur, dan potongan daging yang diolah seperti menu makanan rumahan biasanya dan bukan lagi diolah menjadi makanan cair.

Idealnya, pemberian makanan untuk anak konsistensinya harus semakin padat seiring pertambahan usia untuk melatihnya mengunyah. Selain itu, pemberian makanan dengan tekstur yang tidak tepat tentu membuat anak jadi menolak makan.

Bagaimana Cara Mengatasi Anak GTM?

GTM tidak hanya membuat berat badan anak yang stagnan atau sulit naik. Apabila dibiarkan berkepanjangan, GTM dapat memengaruhi status gizi dan proses tumbuh kembangnya juga. 

Jadi, apa yang harus dilakukan jika si Kecil GTM? Jawabannya adalah dengan menerapkan feeding rules untuk melatih anak memiliki perilaku makan yang benar.

Berikut cara mengatasi anak yang GTM menggunakan feeding rules yang perlu Ibu ketahui: 

1. Membuat Jadwal Makan

Sebelumnya sudah disebutkan bahwa lambung anak memiliki waktu pengosongan yang bisa diprediksi. Oleh karena itu, Ibu dapat membuat jadwal makan dengan mengacu pada waktu pengosongan lambung si Kecil. 

Buat jadwal makanan utama dan makan snack yang teratur. Dalam sehari anak perlu makan 3 kali sehari, 1-2 kali makanan selingan (snack) dan ASI/susu 2-3 kali.

Dengan mengatur jadwal makan secara konsisten, Ibu membantu si Kecil membangun kesadaran akan rasa lapar dan kenyang. Sehingga, di masa depan ia akan makan ketika merasa lapar dan berhenti ketika sudah merasa kenyang. 

2. Membuat Suasana Makan Menyenangkan

Agar si Kecil mengasosiasikan makan sebagai aktivitas yang positif, Ibu perlu menyiapkan lingkungan yang menyenangkan untuk makan. 

Ibu dapat membiasakan keluarga untuk makan bersama si Kecil di meja makan kapan pun ada waktu luang. Tunjukkan pada si Kecil betapa Ibu, Ayah, dan anggota keluarga lainnya menikmati makanan yang telah disiapkan, terutama makanan sehat. 

Apabila, tidak memungkinkan untuk makan bersama, sebaiknya tetap latih anak makan di meja makan dan baru bangkit setelah selesai makan.

3. Kreasikan Makanan Ibu

Untuk menghindari rasa bosan anak, Ibu dapat membuat kreasi resep baru dari bahan makanan penambah nafsu makan dan mengkreasikan penyajiannya agar lebih menarik. 

Ibu dapat memotong wortel dengan pisau cetakan berbentuk bunga, membentuk brokoli menjadi rambut, atau menggambar wajah di nasi dengan saus tomat. 

Selain itu Ibu juga dapat menggunakan alat makan dengan warna yang terang agar lebih menarik untuk si Kecil. 

Baca Juga: 5 Nutrisi Anak yang Perlu Ibu Berikan Agar Ia Tumbuh Optimal

4. Memberikan Makanan dalam Porsi Kecil

Solusi untuk menghadapi anak GTM selanjutnya adalah dengan berikan makanan porsi kecil kepadanya. 

Ibu perlu mengingat bahwa perut anak ukurannya masih sangat kecil. Oleh karena itu, jangan memberikan porsi makan yang terlalu besar. Porsi makan yang terlalu besar malah bisa menakuti si Kecil. 

Tidak perlu khawatir si Kecil akan kelaparan dan makan terlalu sedikit sebab ia akan secara otomatis meminta makanan tambahan ketika masih merasa lapar. 

Selama ia tetap bergerak aktif, bertambah berat badannya, dan mau makan beberapa makanan pokok (buah, sayur, protein, dan karbohidrat) dapat dikatakan ia baik-baik saja. 

Selain itu, Ibu bisa mengakalinya dengan memberikan camilan sehat kaya akan kalori dan nutrisi. Sehingga kebutuhan gizi si Kecil bisa terpenuhi dengan baik.

5. Jangan Memaksa Anak Makan

Bila anak tidak mau makan, misalnya dengan mengatupkan mulut, memalingkan kepala, menangis), coba sekali lagi tawarkan makanan tanpa memaksa. 

Bila setelah 10-15 menit anak tetap tidak mau makan, angkat piringnya dan akhiri proses makan. 

Jangan tawarkan makanan alternatif atau camilan untuk mengganti makanan utama, Ibu cukup menawarkan air putih secukupnya.

Hindari juga membujuk anak makan sehat menggunakan camilan seperti biskuit atau coklat karena bisa membuat si Kecil lebih tertarik pada camilan dan beranggapan bahwa makan makanan sehat hanyalah sebuah tugas tidak menyenangkan. 

Selain itu, Ibu perlu membatasi waktu makan maksimal 30 menit. Habis tidak habis Ibu perlu menyingkirkan piring si kecil. 

6. Jangan Menyerah Mengenalkan Makanan Baru

Penolakan terhadap makanan baru merupakan hal yang sangat wajar, Bu. Mungkin menurut si Kecil tekstur, bentuk, atau rasa makanan baru aneh. 

Agar anak bisa menerima makanan baru dengan baik tanpa GTM, Ibu perlu menawarkan makanan baru sebanyak 10-15 kali atau bahkan lebih. 

Misalnya saja, Ibu mau memperkenalkan wortel pada si Kecil. Ibu bisa memberikan beberapa kali menu olahan wortel, tentu dengan tekstur dan rasa yang berbeda-beda. Lalu, Ibu bisa bercerita pada si Kecil tentang manfaat wortel untuk tubuhnya, sehingga lama-kelamaan ia akan tertarik mencoba.

Ibu juga bisa memotivasi anak untuk mencoba makanan baru dengan menyajikannya saat makan bersama anggota keluarga lain. Melihat anggota keluarga lain makan, ia akan cenderung memiliki keinginan yang lebih besar untuk mencobanya. 

Selain itu, Ibu juga bisa menyajikan jenis makanan baru dengan makanan favorit si Kecil atau jenis makanan lain yang ia sudah familiar. 

Walau begitu, Ibu perlu mengingat bahwa si Kecil adalah individu yang memiliki rasa suka dan tidak suka pada suatu hal. 

Ibu perlu mengenali mana makanan yang benar-benar tidak bisa disukai oleh si Kecil. Jangan memaksa anak untuk memakan makanan yang memang tidak bisa ia terima. 

7. Jauhkan Distraksi saat Makan

Karena fokus anak masih sangat lemah, Ibu perlu menjauhkan segala macam distraksi di waktu makan, seperti mainan, TV, dan gadget. 

Selain itu, jangan juga membiasakan anak makan sambil melakukan aktivitas lain seperti berjalan-jalan keliling komplek, main ayunan, atau bersepeda. 

Meski anak GTM, Ibu tetap harus membiasakan si Kecil duduk di meja makan. Kebiasaan seperti ini bisa Ibu dan Ayah praktekkan di rumah, sehingga si Kecil akan meniru. 

Lama-kelamaan, anak pun akan tergerak dan ingin makan bersama Ibu dan Ayah di meja makan.

8. Batasi Asupan Susu si Kecil

Beberapa anak ada yang lebih memilih untuk minum susu sampai kenyang daripada makan. Ibu jangan menuruti keinginan anak minum susu begitu saja, ya. Agar ia mau makan dengan baik, pastikan maksimal memberikan susu sebanyak 568 ml setiap harinya. 

Berikan susu hanya di pagi hari dan di malam hari sebelum tidur. Di antara jadwal makan hanya boleh mengonsumsi air putih. 

Selain itu, pastikan si Kecil tidak minum air putih terlalu banyak saat makan. Tawarkan air putih hanya saat ia membutuhkan. Terlalu banyak air saat makan akan membuat si Kecil cepat kenyang.

Baca Juga: 5 Ide Camilan dari Sayuran Tinggi Serat yang Disukai Anak

9. Motivasi Anak untuk Makan Sendiri

Biarkan si Kecil makan menyentuh, menjilat, dan makan sambil bermain dengan makanannya. Ruang makan Ibu mungkin akan sangat berantakan dengan makanan yang berceceran di lantai. Namun ini adalah salah satu cara jitu untuk mengatasi anak GTM. 

Berikan alat makan plastik dengan gagang yang ergonomis agar mudah di pengang. Di sini, Ibu cukup mengawasi dan membantu si Kecil ketika ia terlihat kesulitan. 

Baca Juga: Cara Jitu Mengatasi Anak yang Susah Makan

10. Ajak Anak Menyiapkan Makanan

Agar anak lebih termotivasi untuk makan, Ibu dapat memberikan kesempatan anak untuk memilih menu makanan dan ajak anak untuk menyiapkannya.

Beri si Kecil maksimal 2 pilihan dan ketika mereka sudah memilih jangan pernah menawarkan pilihan lain.

Ibu dapat memberikan kesempatan pada si Kecil untuk melakukan tugas sederhana seperti:

  • Mengambil bahan makanan dari kulkas.
  • Mencuci buah dan sayur.
  • Mengambilkan alat masak. 
  • Mengocok telur. 

Dengan menerapkan feeding rules ini, diharapkan anak akan mulai terbiasa untuk mau makan dengan teratur sehingga tumbuh kembangnya juga bisa berjalan optimal. Sebab di tiga tahun pertama usianya, asupan nutrisi yang berimbang sangatlah penting bagi tumbuh kembang anak.

Namun, apabila anak tetap sulit makan, Ibu jangan ragu untuk segera berkonsultasi langsung kepada ahli gizi atau dokter spesialis anak terdekat, ya! Karena seperti yang sudah disebutkan di atas, tidak menutup kemungkinan anak GTM sebenarnya sedang sakit.

Sakit memang membuat nafsu makan menurun, Bu. Malas makan saat sakit tidak hanya bisa dialami orang dewasa, tapi justru lebih sering dirasakan anak-anak. Jadi, jika Ibu curiga sakit adalah penyebabnya, jangan sungkan untuk membawa si Kecil ke dokter untuk berobat. Dokter mungkin juga dapat memberikan saran terbaik supaya Ibu tetap bisa terus memberikan makan saat anak sakit.

Nah, supaya si Kecil semakin bersemangat makan, ada satu cara lagi yang bisa Ibu terapkan, yaitu melengkapi gizi harian si Kecil lewat dua gelas susu Bebelac 3 GroGreat+ setiap hari, di pagi hari dan malam sebelum tidur. 

Ayo Dukung Awal Semua Kehebatan si Kecil dengan susu Bebelac 3 GroGreat+ yang dilengkapi kandungan FOS:GOS 1:9 yang teruji klinis serta Triple A (DHA, LA, ALA) agar si Kecil tumbuh hebat dengan pencernaan yang sehat (happy tummy), akal kreatif (happy brain), dan hati yang besar (happy heart).

Ingin dapatkan lebih banyak tips dan informasi parenting terbaru menyambut masa prasekolah si Kecil? Yuk, daftarkan diri Ibu di Bebeclub. Ibu juga bisa dapatkan beragam promo dan penawaran menarik seputar susu Bebelac, lho!

 


Referensi:

  1. ‌Toddler not eating? Ideas and tips. (2022, November 23). Raising Children Network. https://raisingchildren.net.au/toddlers/nutrition-fitness/common-concerns/toddler-not-eating

  2. Toddler Food Refusal. (2022, June 9). NHS Foundation Trust. https://www.wsh.nhs.uk/CMS-Documents/Patient-leaflets/PaediatricDepartment/6336-1-Toddler-food-refusal.pdf

  3. IDAI | SULIT MAKAN PADA BAYI DAN ANAK. (2016). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/sulit-makan-pada-bayi-dan-anak

  4. IDAI | Pentingnya Mengatur Jadwal Makan Anak. (2015). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pentingnya-mengatur-jadwal-makan-anak

  5. IDAI | Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Batita. (2015). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/gerakan-tutup-mulut-gtm-pada-batita

  6. NHS Choices. (2022). Fussy eaters. https://www.nhs.uk/conditions/baby/weaning-and-feeding/fussy-eaters/

  7. Bushell, S. (2022, June 20). What’s the deal with toddlers refusing to eat? Here’s 14 reasons why | The Children’s Nutritionist. The Children’s Nutritionist. https://childrensnutrition.co.uk/full-blog/toddlers-wont-eat/



 
alt

Kenali apa itu

Kalkulator Nutrisi

Cek nutrisi si Kecil yuk! Sudah sesuaikah dengan kebutuhannya?

Artikel Terkait