Panduan Perawatan Bayi Baru Lahir yang Ibu Perlu Tahu

Kelahiran anak memang memberi kebahagiaan untuk orangtuanya. Namun, bagi sebagian besar orang, rasa bahagia ini juga diiringi dengan keb...

Ditulis oleh : Tim Penulis

Ditinjau oleh : Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH

4 min
11 May 2022
Profile Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH


Kelahiran anak memang memberi kebahagiaan untuk orangtuanya. Namun, bagi sebagian besar orang, rasa bahagia ini juga diiringi dengan kebingungan untuk merawat bayi baru lahir. Apakah Ibu jadi salah satu yang mengalaminya?

Jangan khawatir, hal ini wajar terjadi. Dibutuhkan waktu dan pengalaman agar ibu bisa memahami berbagai kondisi yang dialami Si Kecil, seperti saat ia menangis, muntah atau gumoh, serta kolik. Biasanya, tiga hal itu yang paling sering membuat Ibu bingung, terlebih pada ibu baru.

Nah, untuk mengurangi rasa bingung dalam menangani kondisi yang dihadapi Si Kecil, berikut adalah panduan perawatan bayi baru lahir yang perlu ibu ketahui. 

Saat Si Kecil Menangis

Tangisan adalah cara bayi untuk berkomunikasi dengan orang yang merawatnya. Ada beberapa penyebab yang membuat bayi menangis, yaitu:

1. Haus atau lapar.1

Kebanyakan bayi baru lahir merasa lapar dan butuh minum ASI setiap 4 jam sekali, Menangis adalah jurus terakhir yang dikeluarkan Si Kecil bila merasa lapar. Agar hal ini tak terjadi, ibu bisa melihat tanda-tanda Si Kecil lapar seperti memasukkan tangan ke mulut dan mengeluarkan suara kecap. 

2. Si Kecil merasa kesepian.1

Untuk menenangkannya, ibu bisa menggendong dan memeluknya di dada serta menepuk lembut bagian punggungnya.

3. Kelelahan.1

Umumnya, bayi baru lahir memerlukan waktu tidur 16 jam atau lebih. Jika waktu tidurnya dirasa kurang, ia bisa merasa tak nyaman dan uring-uringan.

4. Popoknya basah.1

Popok basah bisa membuat si Kecil merasa tidak nyaman. Oleh karena itu, ibu bisa memeriksa dan mengganti popoknya.

5. Ingin digendong atau diayun lembut.1

Bayi merasa nyaman jika diayun-ayun atau diajak berjalan-jalan sebentar. Itu sebabnya mereka berhenti menangis dan tak jarang bisa sampai tertidur pulas. 

6. Si Kecil merasa kegerahan atau kedinginan.1

Ibu bisa memeriksa dan mengganti bajunya. Cek juga apakah kulitnya memiliki ruam karena kepanasan.

7. Terlalu banyak gangguan baik suara atau gerakan.1

Pindahkan bayi ke tempat yang lebih tenang untuk membuatnya kembali nyaman.

Jika tangisan Si Kecil berlangsung terus dan berulang di hari berikutnya, bahkan hingga berminggu-minggu, bisa jadi ia mengalami kolik. Ibu bisa berkonsultasi ke dokter untuk memeriksakan apakah ia mengalami sakit atau tidak.

Menghadapi bayi yang menangis tanpa henti, Ibu jangan ragu untuk meminta bantuan orang terdekat atau orang lain saat hal ini terjadi. Selain memperhatikan Si Kecil, ibu juga tetap perlu memperhatikan diri ibu sendiri. Itu sebabnya, ibu tetap perlu istirahat cukup dan makan teratur agar tubuh ibu tidak jatuh kelelahan dan stres. Jika memungkinkan, luangkan juga sedikit waktu untuk ibu melakukan hobi yang membuat hati merasa senang.2

Baca Juga: Rutinitas Bayi Baru Lahir yang Harus Ibu Ketahui

Saat Si Kecil Gumoh

Gumoh berbeda dengan muntah. Gumoh biasanya keluar usai bayi menyusu. Saat gumoh, Si Kecil tidak mengalami kontraksi seperti orang muntah, sehingga ia juga tidak merasa terganggu dengan keluarnya gumoh ini.3 

Gumoh terjadi secara pasif dan keluar dengan sendirinya. Untuk mencegah gumoh, ibu perlu menyendawakan bayi setelah ia menyusu. Agar bayi sendawa, ia perlu digendong dengan posisi tegak pada bahu ibu, lalu tepuk punggungnya perlahan-lahan.3

Tips yang bisa ibu lakukan jika Si Kecil terlalu sering gumoh, yaitu:

  1. Hindari overfeeding. Ibu bisa memberikan ASI dengan jumlah lebih sedikit namun dengan frekuensi lebih sering.4
  2. Sendawakan bayi lebih sering untuk membantunya melepaskan gas dari perutnya.4
  3. Hindari aktivitas yang menekan perutnya usai menyusu. Berikan jeda beberapa waktu sebelum ia melakukan tummy time.4
  4. Hal terpenting untuk mencegah gumoh yang ibu perlu lakukan adalah dengan menyusui Si Kecil ketika tanda-tanda lapar sudah terlihat, jangan menunggu ia menangis dan merasa sangat lapar.4

Gumoh akan berkurang dan menghilang ketika lambung bayi lebih besar dan katup perut bayi lebih kuat. Lalu kapan ibu harus membawa Si Kecil ke dokter?

Jawabannya adalah ketika gumoh disertai gangguan pernapasan, seperti batuk, tersedak atau bunyi napas yang tidak biasa. Juga ketika jumlah gumoh lebih banyak dari 2 sendok makan dan berat badan bayi sulit naik.

Baca Juga: Peralatan Makan Bayi

Saat Si Kecil Kolik

Kolik adalah kondisi di mana bayi terus menerus dan berulang tanpa alasan yang jelas. Kolik bisa terjadi berhari-hari, berminggu-minggu bahkan hingga hitungan bulan. Biasanya, tangisan ini terjadi di sore atau malam hari.6

Tanda-tanda kolik yang dialami bayi bisa berupa:

  • Bayi sulit ditenangkan saat menangis walau sudah dicek apa penyebabnya.7
  • Tangannya mengepal.7
  • Wajahnya memerah saat menangis.7
  • Punggungnya membungkuk, bayi mendekatkan lututnya ke arah perut.7
  • Perutnya berbunyi seperti ada angin.7

Meski sulit ditenangkan, ada beberapa cara yang bisa ibu coba untuk membuat bayi kembali nyaman saat mengalami kolik.

  • Gendong atau peluk Si Kecil dalam dekapan ibu.7
  • Posisikan kepala Si Kecil lebih tinggi dari perut saat menyusu.7
  • Sendawakan Si Kecil usai menyusu.7
  • Ayun bayi dengan lembut di bahu (seperti saat posisi Si Kecil sedang disendawakan).7
  • Mandikan ia dengan air hangat.7
  • Gunakan bantuan aplikasi yang mengeluarkan white noise.7
  • Tetap susui seperti biasa.7

Jadi sekarang Ibu tidak perlu bingung lagi dalam melakukan perawatan bayi baru lahir, terutama ketika menghadapi bayi menangis, muntah atau gumoh, serta kolik. Tetap hadapi dengan tenang dan rawat si Kecil dengan baik agar kondisinya tidak beranjak memburuk.

Baca Juga: Tips dan Waktu yang Tepat untuk Mencukur Rambut Bayi


 

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Ibu


Temukan Topik Lainnya

  1. Mayo Clinics. (2021). Crying Baby: What to do when your newborn cries. Diambil dari https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/healthy-baby/art-20043859 [Diakses 6 Desember 2021]
  2. Mayo Clinics. (2021). Crying Baby? How to Keep Your Cool . Diambil dari  https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/crying-baby/art-20046995 [Diakses 6 Desember 2021]
  3. Nina Dwi Putri, Amanda Seobadi. (2014). Perawatan Bayi Baru Lahir. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perawatan-bayi-baru-lahir [Diakses 6 Desember 2021]
  4. American Academy of Pediatrics. (2019). Why Babies Spit Up. Diambil dari https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/feeding-nutrition/Pages/Why-Babies-Spit-Up.aspx [Diakses 6 Desember 2021]
  5. Natharina Yolanda. (2016). Bedanya 'Gumoh' dan Muntah Pada Bayi. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/bedanya-‘gumoh’-dan-muntah-pada-bayi [Diakses 6 Desember 2021]
  6. Mayo Clinics. (2020). Colic. Diambil dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/colic/symptoms-causes/syc-20371074 [Diakses 6 Desember 2021]
  7. NHS. (2018). Colic. Diambil dari https://www.nhs.uk/conditions/colic/ [Diakses 6 Desember 2021]


Artikel Terkait