9 Penyebab Ruam Popok pada Bayi dan Cara Menanganinya

Pemakaian popok yang terlalu ketat dan terlalu lama bisa menyebabkan ruam. Jika tidak diobati, ruam popok bisa menyebabkan bayi demam dan muncul luka luka bernanah di bokong.

Ditulis oleh : Tim Penulis

Ditinjau oleh : Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK

4 min
11 Jun 2024
Profile Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK
Ruam popok pada bayi - Bebeclub


Sebanyak 7%-35% bayi berusia 9-12 bulan pernah mengalami ruam popok. Akan tetapi, ruam popok pada bayi mudah diatasi dan sangat mungkin dihindari. Simak informasi selengkapnya dalam artikel ini.

Penyebab Ruam Popok pada Bayi

Ruam popok paling umum disebabkan oleh iritasi akibat kontak dengan kain popok atau kontak dengan residu urin serta feses. 

Lalu, apa lagi penyebab ruam popok?

1. Popok Lembap dan Kotor

Popok yang basah, kotor, dan lembap karena jarang diganti adalah penyebab utama munculnya ruam popok. 

Semakin lama si Kecil memakai popok yang lembap, jamur dan bakteri bisa berkembang biak untuk memicu infeksi.

2. Pakai Popok Terlalu Ketat

Popok yang kekecilan atau dipasangkan terlalu ketat dapat menyebabkan gesekan antara bahan popok dan kulit.

Jika terjadi terus-terusan dan dalam waktu lama, gesekan ini bisa menimbulkan iritasi berupa ruam hingga luka lecet pada kulit bokong.

3. Infeksi Kulit Akibat Jamur

Memakai popok yang basah terlalu lama dapat menyebabkan pH kulit bayi naik akibat tumbuhnya jamur Candida albicans. Pertumbuhan jamur ini dapat menimbulkan infeksi.

Baca Juga: Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat pada Bayi

4. Kulit Bayi Sensitif

Bayi yang mengalami penyakit kulit, seperti eksim atau dermatitis atopik, akan memiliki kulit yang lebih sensitif dan rentan mengalami ruam di area bokong. 

5. Reaksi Alergi (Dermatitis)

Bayi yang memiliki alergi terhadap bahan pakaian atau zat tertentu yang berasal dari popok lebih cenderung mudah mengalami ruam popok.

Oleh karena itu, penting mengenali pencetus reaksi alergi pada bayi untuk menghindari kekambuhannya sewaktu-waktu.

6. Reaksi Bahan Skincare Bayi

Si Kecil juga bisa memiliki alergi terhadap penggunaan produk perawatan kulit tertentu seperti sabun, bedak, losion, tisu basah, sabun detergen, produk pemutih atau pelembut kain.

Paparan dari zat-zat kimia ini yang terjadi pada area bokong mungkin bisa mengiritasi dan menimbulkan ruam.

7. Hawa Panas

Hawa panas di lingkungan cenderung terasa lebih lembap sehingga dapat membuat bayi berkeringan lebih banyak, termasuk di area bokong.

Kelembapan berlebih ini dapat merusak lapisan pelindung kulit bayi dan meningkatkan risiko iritasi.

8. Bayi Mulai Makanan Padat

Pemberian MPASI pertama rupanya dapat memengaruhi konsistensi feses bayi. Pada beberapa kasus, memulai MPASI bisa menyebabkan diare pada bayi.

Jika bayi sedang diare tapi popoknya jarang diganti, bakteri dan kotorannya dapat menyebabkan iritasi kulit di daerah bokong. 

9. Efek Obat Antibiotik

Tahukah Ibu? Konsumsi obat antibiotik yang tidak sesuai anjuran bisa membunuh bakteri baik yang ada di kulit bayi.

Padahal, bakteri baik pada kulit mampu mencegah pertumbuhan jamur. Jadi, kalau bakteri ini mati, bayi akan lebih berisiko mengalami ruam popok akibat infeksi jamur.

Ibu menyusui yang mengonsumsi antibiotik juga dapat meningkatkan risiko bayinya terkena ruam popok.

Bagaimana Jika Ruam Popok Tidak Kunjung Sembuh?

Ruam popok umumnya dapat sembuh dalam waktu 3-4 hari. Namun, apabila ruam popok tidak kunjung membaik lebih dari 4 hari atau justru bertambah parah, segera berobat ke dokter.

Ruam popok yang tidak kunjung sembuh dapat menyebabkan masalah seperti: 

  • Ruam menyebar sampai ke area wajah dan kulit kepala bayi. 

  • Ruam disertai dengan munculnya darah, lepuhan, atau luka bernanah. 

  • Bayi demam. 

  • Ruam membuat si Kecil merasa nyeri yang hebat atau kesakitan. 

  • Ruam merah terang dengan bintik kemerahan di area tepinya.

  • Gejala ruam popok mirip dengan tanda-tanda infeksi jamur dan bakteri. 

Jika tidak diatasi, ruam dapat semakin memburuk dan memicu infeksi yang dapat menyebar.

Baca Juga: Cara Mengatasi Demam pada Bayi yang Aman dan Efektif

Cara Mengatasi Ruam Popok pada Bayi

Ruam popok bisa membuat bayi tidak nyaman dan susah tidur nyenyak. 

Sebagai perawatan bayi baru lahir, ada beberapa cara mengatasi ruam popok yang bisa Bunda lakukan di rumah. Apa yang harus dilakukan jika bayi ruam popok?

1. Bilas dengan Air Dingin

Membersihkan area bokong dan kelamin bayi yang terkena ruam sebaiknya dengan air dingin atau suhu ruang.

Hindari menggunakan air hangat terlalu sering saat bayi Ibu sedang mengalami ruam popok karena justru dapat memperparah kondisi kulit si Kecil. 

2. Bersihkan Bokong Bayi dengan Benar

Setiap kali akan mengganti popok, bersihkan dulu area bokong dan kemaluan bayi dengan benar agar tidak tersisa residu urin atau feses.

Bersihkan area bokong bayi dengan kapas yang dibasahi dengan air bersih, handuk basah berbahan lembut, atau tisu basah non-alkohol dan non-parfum. 

Bersihkan area vital bayi dari depan (kemaluan) ke belakang (anus), jangan sebaliknya. . Sebab, kotoran dan kuman dari anus bisa berpindah ke saluran kemih dan menimbulkan infeksi.

Setelahnya, keringkan kulit bokong bayi dengan tisu lembut.

3. Oleskan Krim Pereda Ruam

Setelah mandi atau saat mengganti popok, Ibu dapat mengoleskan krim atau salep yang mengandung zinc untuk meredakan ruam iritasi pada kulit bayi. 

American Academy of Dermatology menyarankan pakai salep zinc oxide sebagai salah satu obat ruam popok pada bayi.

Zinc oxide bekerja dengan membentuk lapisan pelindung kulit bagian atas bayi untuk mengurangi risiko terpapar zat iritan yang menyebabkan iritasi.

4. Tepuk-Tepuk Bokong Bayi Perlahan

Setelah membersihkan bokong si Kecil, keringkan dengan benar.

Ibu hanya perlu menepuk-nepuk lembut bokong si Kecil dengan handuk bersih yang kering. Jangan digosok terlalu kencang

5. Angin-anginkan Bokong Bayi

Selanjutnya, cara mengatasi ruam popok pada bayi yang tak kalah penting adalah angin-anginkan dulu bokong bayi sebentar (sekitar 10-15 menit) sebelum memakaikan popok yang baru. 

6. Ganti Popok Secara Rutin

Ingatlah untuk selalu rutin mengganti popok baru setiap 2-3 jam sekali agar ruam popok si Kecil tidak bertambah parah.

Lebih baik lagi segera mengganti popok setiap kali bayi habis buang air kecil atau BAB tanpa menunggu waktu maksimal pemakaiannya.

Jadi setiap kali popok sudah mulai terasa terasa berat, lembap, hangat, atau mulai berbau, sebaiknya langsung ganti. 

7. Jangan Pakaikan Popok Terlalu Ketat

Saat memakaikan popok bayi, jangan memakaikannya terlalu ketat agar kulit bisa bernapas lega dan tidak mendapat banyak gesekan dari popoknya. 

Baca Juga: 7 Cara Menghilangkan Bentol Merah pada Kulit Bayi

Cara Mencegah Ruam Popok pada Bayi

Setelah si Kecil sembuh dari iritasi dan kulitnya kembali sehat, Ibu perlu mencegah ruam popok terjadi lagi agar ia bisa nyaman bermain.

Berikut adalah beberapa cara mencegah ruam popok : 

  • Angin-anginkan area bokong bayi di udara terbuka selama beberapa waktu sebelum dipakaikan popok atau celana. 

  • Oleskan krim yang mengandung zinc oxide atau petroleum jelly di area bokong sebagai barrier alias pelindung kulit. 

  • Jaga area popok selalu bersih dengan segera mengganti popok yang kotor. 

  • Selama bayi mengalami ruam popok, Ibu disarankan untuk memakaikannya popok sekali pakai.

  • Hindari menggunakan bedak bayi saat si Kecil mengalami ruam popok karena ini dapat memperparah iritasi kulit. 

  • Jangan pakai sabun atau tisu basah mengandung alkohol dan pewangi, karena kandungan bahan kimia di dalamnya dapat memicu iritasi dan memperparah kondisi ruam. 

  • Gunakan sabun deterjen yang mild untuk mencuci popok kain atau pakaian bayi. 

Nah, itu dia berbagai informasi seputar penyebab dan cara mengatasi ruam popok pada bayi yang perlu Ibu ketahui.

Jika masih punya pertanyaan seputar cara perawatan bayi, Ibu bisa bertanya langsung dengan tim BebeCare yang hadir 24 jam untuk menjawab permasalahan si Kecil. 

 

Temukan Topik Lainnya

Referensi tambahan:

  1. Sahana M. Srinivas, Sandipan Dhar. (2016). Advances in Diaper Technology. Retrieved from https://www.researchgate.net 
  2. Henny Adriani Puspitasari. (2017). 5 Langkah Mengatasi Ruam Popok pada Bayi. Retrieved from http://www.idai.or.id
  3. Jennie Dianita Sutianto. (2014). Popok Bayi, Apa yang Anda perlu Ketahui. Retrieved from: http://www.idai.or.id 
  4. Swatee Dey, et al. (2016). Exposure Factor considerations for safety evaluation of modern disposable diapers. Retrieved from https://www.researchgate.net.
  5. Nina Dwi Putri, Amanda Soebadi. (2014). Perawatan Bayi Baru Lahir. Retrieved from http://www.idai.or.id 
  6. Admin Website. (2022, December 22). Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. https://promkes.kemkes.go.id/cara-tepat-merawat-ruam-popok-agar-si-kecil-kembali-nyaman
  7. How to treat diaper rash. (2023). Aad.org. https://www.aad.org/public/everyday-care/itchy-skin/rash/treat-diaper-rash
  8. IDAI | 5 Langkah Mengatasi Ruam Popok pada Bayi. (2017). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/5-langkah-mengatasi-ruam-popok-pada-bayi
  9. Diaper Rash. (2023). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/11037-diaper-rash-diaper-dermatitis
  10. Diaper rash - Diagnosis and treatment - Mayo Clinic. (2022). Mayoclinic.org; https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diaper-rash/diagnosis-treatment/drc-20371641
  11. Ruam Popok Pada Bayi – RSUP Dr. Sardjito. (2022). Sardjito.co.id. https://sardjito.co.id/2022/10/31/ruam-popok-pada-bayi/
  12. Jerome, S. (2006, March 14). Diaper Rash: Causes, Symptoms, and Treatment. WebMD; WebMD. https://www.webmd.com/parenting/diaper-rash-treatment


Artikel Terkait