sistem pencernaan bayi, gangguan pencernaan pada bayi, bayi sakit perut, pencernaan bayi, masalah pencernaan pada bayi

Tak Perlu Panik, Kenali Tanda-Tanda Gangguan Sistem Pencernaan Pada Bayi

detail-fb detail-wa detail-twitter

Bayi terkadang mengalami gejala seperti muntah, sembelit, atau diare. Ini bisa menjadi tanda bahwa ada gangguan pada sistem pencernaan bayi. Namun jangan langsung panik, Bu karena di awal kehidupannya, saluran pencernaan bayi memang belum matang,
dimana organ-organnya belum bekerja secara optimal sebagaimana mestinya1.  Cari tahu tanda-tanda masalah pencernaan pada bayi dan berikan pertolongan awal yang dibutuhkan.

Gangguan Pencernaan Fungsional

Gangguan pencernaan pada bayi bisa disebabkan oleh gangguan pencernaan fungsional (GPF). Diperkirakan 1 dari 2 bayi usia satu hingga enam bulan mengalami setidaknya satu GPF1. Gangguan fungsional berarti keluhan yang muncul disebabkan oleh fungsi organ pencernaan yang kurang baik, tapi tidak disebabkan oleh kelainan anatomi, peradangan, atau kerusakan jaringan2.

GPF sering muncul pada bayi adalah gumoh, kolik, dan konstipasi fungsional1. Sedangkan GPF pada batita, yang umum terjadi adalah diare dan konstipasi2. Meski umumnya tidak membahayakan, GPF akan membuat bayi merasa sangat tidak nyaman sehingga ia menjadi rewel. Ibu dan Ayah pun bisa stres, karena mencemaskan kondisi si Kecil. Tenang Bu, umumnya, GPF cukup diatasi dengan memperbaiki cara memberi makan pada bayi. Baik teknik, jumlah, serta frekuensi menyusui/memberi susu1, atau ada kemungkinan si Kecil tidak cocok dengan susu yang dikonsumsinya.

Gejala Gangguan Sistem Pencernaan Pada Bayi

Kesehatan pencernaan si Kecil memang harus jadi perhatian Ibu. Namun tidak perlu panik
berlebihan bila bayi sakit perut atau mengalami gangguan pencernaan lain, seperti muntah atau diare. Yang penting Ibu bisa mengenali tanda adanya masalah pada sistem pencernaan bayi. Untuk lebih memudahkan, Ibu bisa cek gejala terjadinya masalah pada sistem pencernaan si Kecil di sini.

Gumoh, refluks dan muntah

Ketiga kondisi ini mirip. Gumoh (regurgitasi) adalah keluarnya isi lambung dari perut dengan sendirinya, tanpa ada dorongan atau paksaan dan rasa tidak nyaman. Pada refluks, isi lambung naik ke kerongkongan, tapi tidak sampai keluar dari mulut3. Sedangkan pada muntah, terjadi paksaan atau dorongan saat isi lambung keluar, dan ada rasa tidak nyaman seperti mual3,4.

Memang umumnya gumoh, refluks, dan muntah tidak membahayakan bayi. Namun bukan berarti bisa diabaikan. Ibu tetap harus memperhatikan dengan cermat ketika anak mengalami masalah pencernaan, karena berpotensi mengganggu tumbuh kembang optimalnya.

Untuk mencegah gumoh, sendawakan bayi, lalu posisikan bayi tegak selama 30 menit
setelah minum susu, dan perutnya tidak tertekan apapun5. Durasi menyusui juga perlu diatur, jangan terlalu lama dan jangan terlalu cepat. Selain itu, jangan paksa bayi terus minum susu saat ia sudah tampak kenyang ya, Bu1,5.

Waspadai adanya tanda bahaya jika muntah berwarna hijau, ada darah, terjadi terus menerus atau bayi menyemprot saat muntah. Gejala lain yang perlu diperhatikan adalah jika pertumbuhannya terhambat, demam, lemas, leher kaku atau sensitif terhadap cahaya4.

Segeralah bawa bayi ke dokter bila ia mengalami gejala-gejala tadi. Untuk mencegah si Kecil dehidrasi karena muntah-muntah, berikan ia ASI atau oralit dengan porsi yang sedikit, tapi sering5.

Kolik

Bayi yang mengalami kolik bisa menangis atau mengamuk hingga berjam-jam tanpa sebab yang jelas dan sulit dibujuk. Kolik biasanya muncul di usia 2 minggu hingga 4 bulan. Setelah itu, akan hilang dengan sendirinya6,7.

Ada beberapa dugaan penyebab kolik. Antara lain alergi susu sapi, intoleransi laktosa, refluks, hingga hubungan yang kurang harmonis antara Ibu dengan bayi6,7. Coba Ibu cermati, apakah mungkin si Kecil memiliki kondisi-kondisi tersebut. Kolik memang tidak berbahaya, tapi bisa membuat Ibu frustasi7 karena anak bisa menangis dalam durasi lama yang umumnya terjadi di malam hari sehingga sulit tidur.

Sayangnya, tidak ada obat untuk kolik. Untuk itu, Ibu bisa terus berikan ASI untuk si Kecil. Selain itu, perhatikan posisi bayi setelah minum susu, sebaiknya tidurkan bayi dengan posisi kepala agak tinggi yaitu sekitar 30-45 derajat7. Yang pasti, Ibu sangat membutuhkan bantuan dan dukungan dari suami dan keluarga agar tidak frustasi menghadapi anak kolik7.

Diare

Diare umumnya disebabkan oleh infeksi, terutama Rotavirus (60- 70%)8. Rotavirus adalah virus yang paling sering menyebabkan diare pada anak. Bisa pula disebabkan oleh infeksi bakteri, atau penyebab lainnya. Saat diare, si Kecil akan kehilangan cairan dan elektrolit, sehingga bisa mengalami dehidrasi. Inilah yang dikhawatirkan.

Kencing berkurang, air mata tidak keluar saat menangis, mulut dan lidah kering, berat badan badan berkurang, dan selalu terlihat sangat haus adalah tanda-tanda dehidrasi. Jika Ibu melihat gejala-gejala ini, segera bawa si Kecil ke dokter, karena cairan dan elektrolit harus segera diberikan melalui infus. Juga bila ditemukan darah di tinja, bayi sering muntah, sakit perut, demam tinggi, dan tidak mau minum9.

Pertolongan pertama diare adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Untuk itu,
berikan si Kecil oralit, atau minuman yang ada di rumah. Bisa air mineral, kuah sup, ASI,  atau susu. Bila ada muntah, berikan cairan sedikit sedikit dengan sendok9. Ibu juga bisa memberinya  zinc, dengan dosis 10 mg (bayi <6 bulan), dan 20 mg (bayi >6 bulan), selama 10-14 hari8.

Penyebab utama diare adalah infeksi, untuk itu selalu perhatikan kebersihan makanan dan minuman untuk si Kecil. Pastikan pula ia mendapat cukup serat sesuai kebutuhannya ya Bu, karena kurang serat juga bisa memicu diare10.

Konstipasi

Konstipasi atau susah buang air besar (BAB) adalah kondisi di mana frekuensi BAB si Kecil berkurang, tinja lebih keras, lebih besar, dan nyeri saat dikeluarkan9.  Sebagian besar konstipasi (95%) adalah gangguan fungsional11. Pada anak usia <2 tahun, konstipasi biasanya muncul akibat kurang minum, kurang serat yang pada umumnya si Kecil menolak makan buah dan sayur, dan susu yang terlalu kental9.

Untuk mengatasi konstipasi pada bayi 6 bulan ke atas, tambahkan asupan air putih 15-20 ml sebanyak 3-4x sehari. Selain itu, berikan juga asupan serat yang cukup, dan beri susu sesuai takaran9,11. Sedangkan untuk anak yang telah berusia lebih dari 12 bulan, Ibu bisa memperbanyak serat untuk  penanganan sembelit, baik dari biji-bijian, sayur, atau buah. Ibu bisa memberi si Kecil susu Bebelac Gold 3 yang diperkaya dengan serat Advansfibre berupa pati jagung (corn starch) dan prebiotik FOS GOS dengan rasio 1:9, serta dilengkapi dengan 13 vitamin dan 7 mineral. Bebelac Gold 3 juga diperkaya dengan minyak ikan, omega 3, dan omega 6. Ibu bisa berikan sebanyak tiga gelas dalam sehari untuk si Kecil.

Nah, Ibu juga bisa lho mengecek asupan nutrisi si Kecil di Tummypedia. Halaman ini menyajikan banyak informasi penting seputar kesehatan pencernaan anak. Dengan begitu, Ibu bisa memastikan nutrisi si Kecil dengan tepat dan lengkap, sehingga saluran pencernaannya tetap baik. Penasaran dengan informasi lain tentang kesehatan pencernaan anak? Ibu bisa cek di sini.

 


Sumber sitasi:

  1. Yvan Vandenplas. (2019). Functional Gastrointestinal Disorders in Infancy: Impact on the Health of the Infant and Family. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6506429/ [Diakses 5 Maret 2021]
  2. Ana Paula Ferreira-Maia, et al. (2016). Epidemiology of functional gastrointestinal disorders in infants and toddlers: A systematic review. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4968134/ [Diakses 5 Maret 2021]
  3. International Foundation for Gastrointestinal Disorder. (2016). Infant Regurgitation. Diambil dari https://www.aboutkidsgi.org/infant-regurgitation.html [Diakses 5 Maret 2021]
  4. Jennifer Whinney, et al. (2013). Clinical Update: Vomiting in Infants. Diambl dari https://www.thefreelibrary.com/Clinical+update%3A+vomiting+in+infants.-a0345073196 [Diakses 5 Maret 2021]
  5. Natharina Yolanda. (2016). Bedanya ‘Gumoh’ dan Muntah pada Bayi. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/bedanya-%E2%80%98gumoh%E2%80%99-dan-muntah-pada-bayi [Diakses 5 Maret 2021]
  6.  
  7. Agus Firmansyah. (2015). Kolik pada Bayi (Bagian 1). Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kolik-pada-bayi-bagian-1 [Diakses 5 Maret 2021]
  8. Agus Firmansyah. (2015). Kolik pada Bayi (Bagian 2). Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kolik-pada-bayi-bagian-2 [Diakses 5 Maret 2021]
  9. Badriul Hegar. (2012). Masalah Saluran Cerna Anak: Penyebab dan Mengatasinya. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/masalah-saluran-cerna-anak-penyebab-dan-mengatasinya [Diakses 5 Maret 2021]
  10. Muzal Kadim. (2017). Gangguan Pencernaan pada Bayi (2). Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/gangguan-pencernaan-pada-bayi-2 [Diakses 5 Maret 2021]
  11. (2016). Dietary Management of Toddler Diarrhoea. Diambil dari https://www.swft.nhs.uk/application/files/2414/7626/8750/Dietary_Management_of_Toddler_Diarrhoea.pdf [Diakses 24 Maret 2021]
  12.  
  13. I Xinias, A MAvroudi. (2015). Constipation in Childhood. An update on evaluation and management. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4574579/ [Diakses 5 Maret 2021]