Ada Bercak Merah Di Kulit Si Kecil Coba Perhatikan Seputar Popok Bayi Ini

Cara Mengatasi Ruam di Kulit karena Popok Bayi

detail-fb detail-wa detail-twitter

Saat si Kecil hadir pertama kali di dunia, memilih popok bayi yang tepat mungkin menjadi salah satu hal yang membuat sang Ibu dan Ayah gundah. Pasalnya, popok yang akan digunakan setiap hari ini dapat memengaruhi kesehatan kulit bayi. Salah memilih popok dapat berakhir pada kulit si Kecil yang teriritasi hingga timbul bercak merah dan gatal, atau biasa disebut dengan ruam popok.

Jangan kuatir, karena ini sebenarnya bisa kita cegah, Bu. Intinya, popok harus bisa menjaga kulit si Kecil tetap kering, memelihara keseimbangan pH kulitnya, dan tidak mengiritasi kulit3.

Popok bayi terus berevolusi sepanjang zaman. Jika Ibu kita dulu mengandalkan popok kain yang harus segera diganti bila bayi pipis atau buang air besar (BAB), kini ada begitu banyak pilihan popok sekali pakai, serta popok kain modern yang lucu di pasaran. Hmm, mana yang sebaiknya dipilih untuk mencegah ruam popok? Sebelumnya, yuk sama-sama cari tahu lebih lanjut mengenai ruam popok.

Penyebab Munculnya Ruam Popok Bayi

Ruam popok adalah peradangan kulit (dermatitis) yang muncul akibat kontak dengan bahan iritan1. Sebanyak 7%-35% bayi berusia 9-12 bulan pernah mengalami ruam popok2. Melihat angka ini, Ibu tak perlu terlalu kuatir, sebab ruam popok sangat mungkin untuk dihindari. Untuk bisa mencegah terjadinya ruam popok, cari tahu dulu, yuk, tiga hal yang bisa membuat ruam popok muncul:

1. Iritasi kulit

Banyak faktor yang bisa memicu timbulnya iritasi pada kulit bayi hingga akhirnya muncul ruam popok. Popok yang sudah basah akan meningkatkan gesekan antara kulit bayi dengan permukaan popok. Apalagi bila popok dipasang terlalu ketat. Gesekan bisa merusak kulit si Kecil yang lembut, sehingga bahan iritan pada popok lebih mudah masuk1, 3.

Feses dan urin akan meningkatkan pH sehingga kulit bayi menjadi lebih basa. Nah, kondisi yang basa tersebut bisa memperparah iritasi1, 3. Berbagai zat dalam feses juga sangat iritatif pada kulit. Selain itu, beberapa enzim pada feses membuat zat-zat iritan lain lebih mudah masuk ke lapisan kulit1.

2. Infeksi

Naiknya pH kulit akibat paparan urin/feses pada popok, tidak hanya menimbulkan iritasi. Sayangnya, hal ini juga bisa memicu pertumbuhan jamur Candida albicans secara berlebihan, sehingga bisa timbul infeksi. Bila terjadi infeksi, ruam popok pun menjadi lebih berat3.

3. Reaksi alergi

Reaksi alergi bisa muncul bila bayi memiliki alergi terhadap bahan atau zat tertentu yang terdapat pada popok. Selain itu, si Kecil juga bisa memiliki alergi terhadap bahan pewangi atau kandungan alkohol pada tisu basah, yang kerap digunakan untuk membersihkan area popok bayi2. Oleh karena itu, Bu, kenali pencetus reaksi alergi pada bayi, sehingga hal ini bisa dihindari di kemudian hari. 

Pilih popok bayi berbahan lembut dan bisa menyerap cairan dengan baik untuk membantu menjaga kesehatan kulit si Kecil. (Foto: Shutterstock)

Serba-serbi Popok Bayi

Popok kain tradisional hanya terdiri dari satu lapisan. Sedangkan popok sekali pakai dan popok kain modern memiliki tiga lapisan, yaitu lapisan dalam yang bersentuhan dengan kulit bayi, lapisan inti yang berfungsi sebagai penyerap, serta lapisan luar yang tidak bisa ditembus cairan1, 3.

Karena bersentuhan dengan kulit, lapisan dalam popok bayi dibuat dengan bahan yang lembut, serta berpori agar urin dan feses bisa segera masuk ke lapisan di bawahnya. Beberapa popok sekali pakai ditambahkan formula khusus berupa bahan pelembap (emolien) – misalnya aloe vera, dan petroleum jelly3, 4 – untuk mencegah kulit Si Kecil menjadi terlalu basah dan teriritasi.

Pada lapisan inti popok, terdapat bahan bisa menyerap cairan dengan cepat, serta menyimpan cairan dan menguncinya – misalnya  bahan selulosa, atau yang berubah jadi gel saat kena cairan3. Sementara itu, lapisan luar berfungsi menjaga cairan pada lapisan inti tidak bocor keluar, sehingga biasanya terbuat dari bahan waterproof alias tahan air. Ada juga yang terbuat dari bahan berpori, untuk mengurangi kelembapan pada area popok. Meski berpori, bukan lantas cairan pada popok bisa bocor keluar. Bahan berpori yang digunakan hanya memungkinkan kelembapan menguap, tapi tetap menahan cairan di lapisan ini sehingga tidak merembes keluar1, 3.

Ada popok sekali pakai yang memiliki lapisan akuisisi, yang terletak antara lapisan dalam dengan lapisan inti. Fungsinya adalah untuk menyerap cairan dan menahannya sementara, selagi diserap oleh lapisan inti. Dengan demikian, cairan tidak kontak lama dengan kulit bayi. Lapisan ini juga berfungsi mengalirkan cairan secara merata ke lapisan inti1, 4.

Jadi, Popok Sekali Pakai atau Popok Kain?

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan bahan katun untuk popok kain, agar ventilasi kulit terpelihara dengan baik3. Meski demikian, pilihan tetap jatuh ke tangan Ibu sendiri.

Popok kain dan popok sekali pakai memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Misalnya, popok sekali pakai lebih praktis, namun kurang ramah lingkungan karena sampah yang ditimbulkannya. Popok kain tentu lebih ramah lingkungan karena bisa dipakai berkali-kali, juga cukup merepotkan karena harus langsung diganti setelah bayi buang air. Bisa dibayangkan, kan berapa lembar popok yang harus dicuci setiap malam.

Popok kain modern ramah lingkungan, dan bisa menampung pipis bayi hingga beberapa kali, seperti popok sekali pakai. Di malam hari, popok yang harus dicuci jadi tidak sebanyak popok kain biasa. Namun, harganya sudah pasti lebih mahal.

Sebagian orang tua merasa popok kain tradisional membuat kulit bayi lebih bebas bernapas. Namun, sebenarnya kemampuan menyerap popok kain sangatlah rendah bila dibandingkan dengan popok sekali pakai atau popok kain modern. Selain isi popok bisa bocor keluar, hal ini juga meningkatkan risiko terjadinya iritasi kulit1.

Untuk menghindari ruam popok, studi menunjukkan kecenderungan tertentu. Bahan selulosa pada popok sekali pakai lebih baik ketimbang popok kain, lapisan dalam dengan tambahan formula khusus lebih baik daripada yang tanpa formula, dan lapisan luar menggunakan bahan berpori3.

Selain bahan pertimbangan di atas, coba kalkulasikan hal lain seperti perhitungan biaya, dampak pada lingkungan, limbah popok, hingga tenaga

orang tua atau kerabat yang ikut merawat dan mengganti popok bayi.

Segera ganti popok tiap 2-3 jam, untuk mencegah ruam popok. (Foto: Shutterstock)

Perawatan Kulit Bayi yang Tepat dapat Menghindarkan Ruam Popok

Langkah agar bayi terhindar dari ruam popok akibat infeksi dan alergi adalah dengan menjaga kebersihan kulit bayi. Segera ganti popok setelah bayi buang air besar (BAB). Tidak perlu terburu-buru mengganti popok saat si Kecil hanya buang air kecil (BAK). Sebab, popok sekali pakai dan popok kain modern bisa dipakai hingga beberapa kali berkemih (pipis). Namun, selalu usahakan untuk menggantinya tiap 2-3 jam sekali, atau cek perubahan warna popok, untuk melihat apakah sudah waktunya diganti3.

Setiap kali mengganti popok, bersihkan kemaluan bayi menggunakan kapas yang dibasahi dengan air bersih, atau handuk basah berbahan lembut. Bersihkan dari arah depan (kemaluan) ke belakang (anus) 5. Hindari membersihkan alat kelamin bayi dengan arah sebaliknya, karena kotoran dan kuman dari feses bisa masuk ke saluran kemih dan menimbulkan infeksi.

Saat mandi, bersihkan area kelamin dan anus dengan air hangat dan sabun mandi. Setelah mandi atau saat mengganti popok, Ibu dapat mengoleskan krim khusus3. Cara ini dapat melindungi kulit bayi dan mencegah iritasi kulit akibat gesekan dan kelembapan berlebih.

Agar lebih mudah, ibu dapat menerapkan rumus ABCD2 dari beberapa ahli untuk mencegah dan mengatasi ruam popok. A (air out): membiarkan area popok kering di udara terbuka selama mungkin. B (barrier): oleskan krim yang mengandung zink oksida atau petroleum jelly di area popok sebaga barrier alias pelindung kulit. C (clean): jaga area popok bersih dengan segera mengganti popok yang kotor. D (disposable diapers): selama bayi mengalami ruam popok, disarankan menggunakan popok sekali pakai.

 


Sumber referensi:

  1. Sahana M. Srinivas, Sandipan Dhar. (2016). Advances in Diaper Technology. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/299510002_Advances_in_Diaper_technology/link/56fcc9fd08ae8239f6dc4ddf/download [Accessed March 28, 2020]
  2. Henny Adriani Puspitasari. (2017). 5 Langkah Mengatasi Ruam Popok pada Bayi. Retrieved from http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/5-langkah-mengatasi-ruam-popok-pada-bayi [Accessed March 21, 2020]
  3. Jennie Dianita Sutianto. (2014). Popok Bayi, Apa yang Anda perlu Ketahui. Retrieved from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/popok-bayi-apa-yang-anda-perlu-ketahui [Accessed March 21, 2020]
  4. Swatee Dey, et al. (2016). Exposure Factor considerations for safety evaluation of modern disposable diapers. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/307576387_Exposure_Factor_considerations_for_safety_evaluation_of_modern_disposable_diapers/download. [Accessed March 28, 2020]
  5. Nina Dwi Putri, Amanda Soebadi. (2014). Perawatan Bayi Baru Lahir. Retrieved from http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perawatan-bayi-baru-lahir [Accessed March 21, 2020]