6 Cara Mengatasi Kolik pada Bayi dan Pencegahannya

Ibu mana yang tidak panik, bingung, dan cemas melihat bayi menangis terus sepanjang malam karena kolik? Sudah disusui sampai kenyang, po...

Ditulis oleh : Tim Penulis

Ditinjau oleh : Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK

4 min
11 May 2022
Profile Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK


Ibu mana yang tidak panik, bingung, dan cemas melihat bayi menangis terus sepanjang malam karena kolik? Sudah disusui sampai kenyang, popok yang basah sudah diganti, sampai digendong pun tangisan si Kecil tak juga mereda. Tenang dulu, Bu. Ada berbagai cara mengatasi kolik pada bayi yang bisa Ibu lakukan di rumah, sekaligus tips mencegahnya agar kondisi ini tak terjadi lagi di kemudian hari. 

Yuk, simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini, Bu!

Seperti Apa Ciri-Ciri Kolik pada Bayi?

Wajar jika di tiga bulan pertamanya bayi suka menangis dan rewel. Terutama ketika si Kecil merasa kedinginan atau kepanasan, lapar, atau tidak nyaman karena popoknya basah, bosan, dan lain sebagainya. Sebab, menangis merupakan satu-satunya bentuk komunikasi bayi sebelum ia akhirnya bisa bicara nanti untuk mengekspresikan emosinya. 

Umumnya, tangisan bayi yang disebabkan oleh hal-hal di atas bisa cepat mereda begitu bayi dibuat kembali nyaman. Misalnya dengan disusui jika ia lapar, mengganti baju atau popoknya, atau diajak jalan-jalan ke taman untuk bermain. Namun jika berbagai cara ini sudah Ibu lakukan dan tangisannya tidak kunjung mereda, bisa jadi si Kecil mengalami kolik, Bu.

Kolik adalah kondisi ketika bayi menangis selama 3 jam atau lebih tanpa alasan yang jelas. Si Kecil mungkin menangis selama beberapa menit, kemudian menangis lagi dan susah ditenangkan. 

Tipe tangisannya juga sangat intens, Bu. Bahkan, sampai kedua kaki dan tangannya terangkat ke atas perut dengan tangan mengepal dan wajah kemerahan. Kondisi ini biasanya paling sering terjadi di malam hari jelang waktu tidur.1

Kolik akan membuat si Kecil merasa tidak nyaman. Tak hanya bayi Ibu, orang tua dan pengasuh mungkin akan dibuat frustasi akibat kerewelan dan tangisan bayi tiada henti, sehingga sulit untuk menenangkannya. 

Kolik umum terjadi pada bayi yang berusia 2 minggu sampai 4 bulan, sehingga sering juga disebut dengan sindrom 4 bulan. Kondisi ini umumnya akan memuncak di minggu ke-6, dan mulai menghilang sendiri setelah bayi berusia 3-4 bulan.

Baca Juga: Pahami Growth Spurt pada Bayi dan Cara Mengatasinya

Penyebab dan Cara Mengatasi Kolik pada Bayi

Hingga saat ini, penyebab kolik pada bayi masih belum dapat diketahui secara pasti.

Namun, beberapa penelitian menyatakan bahwa penyebab kolik adalah adanya rasa tidak nyaman di saluran cerna bayi yang disebut gangguan saluran cerna fungsional. Ini artinya secara fisik sebenarnya tidak ada kelainan apa pun pada saluran pencernaan bayi, tapi ia menunjukkan gejala seperti kesakitan karena sistem pencernaannya belum berkembang sempurna.

Selain itu, beberapa penyebab umum yang diduga memicu kondisi ini di antaranya alergi susu sapi, intoleransi laktosa, terlalu banyak makan, perut kembung (bergas), kurang makan, atau jarang bersendawa, orang tua yang cemas atau stres, hingga ketidakseimbangan mikrobiota di dalam saluran cerna.

Karena penyebabnya juga belum pasti, solusi untuk mengatasi kolik juga ada bermacam-macam, Bu. Namun, tujuannya tetap satu, yaitu untuk menenangkan bayi yang sedang merasa tidak nyaman.

Berikut adalah beberapa cara menenangkan bayi kolik: 

1. Menggendong Bayi

Secara naluriah, Ibu mungkin akan segera menggendong si Kecil saat ia menangis terus tanpa sebab. Langkah ini juga bisa dilakukan sebagai salah satu cara mengatasi kolik pada bayi. 

Menggendong memang akan membuat si Kecil merasa nyaman karena ada kontak dekat dengan ibunya. Saat menggendong, si Kecil juga bisa mendengar detak jantung Ibu yang biasa ia dengar saat berada di rahim. Dengan demikian, ia akan merasa lebih tenang.

2. Membedong Bayi

Membedong bayi pasti sudah biasa Ibu lakukan sejak si Kecil lahir. Ternyata, membedong bayi dipercaya bisa memberi efek hangat dan nyaman seolah-olah bayi sedang berada di dalam kandungan Mama. 

Selain mampu menghangatkan, membedong bayi juga dapat menenangkan si Kecil yang rewel karena kolik, Bu.2,6 Tapi, pastikan Ibu tahu bagaimana cara membedong bayi yang benar, ya. Jangan terlalu erat membedong bayi sampai membuatnya sulit bernapas. 

Cukup membedong bayi secara longgar, sehingga ia merasa hangat dan aman. Ibu bisa membedong bayi saat menyusui si Kecil, atau sebelum bayi tidur di sore atau malam hari.

3. Menyetel White Noise

Cara mengatasi kolik pada bayi berikutnya bisa dengan memperdengarkan suara menenangkan atau dikenal dengan white noise.

Saat Ddi dalam rahim, bayi terbiasa mendengar detak jantung Ibu yang suaranya konstan terus-menerus. Detak jantung Ibu akan terdengar dengan iramanya yang sama dan hal ini membuat bayi merasa tenang.

Untuk itu, saat menggendong dan membedong bayi, cobalah menempelkan bayi di dada Ibu. Kemudian, dengarkan musik klasik yang lembut, menggunakan irama dengan suara alam, seperti gemericik air, suara angin, jangkrik, ombak, kicauan burung, rintik hujan, suara kipas angin, dan lain sebagainya.

Ibu juga bisa menepuk-nepuk tubuh si Kecil secara lembut sambil membisikkan suara “shush… shush”, suara gumaman, atau bersenandung. 

Lagu nina bobo yang biasa dinyanyikan Ibu untuk menenangkan atau menidurkan si Kecil, juga bisa dilakukan sebagai salah satu cara mengatasi bayi kolik.

4. Menimang Bayi

Ketika bayi menangis, Ibu bisa coba mengayun-ayunkan bayi secara lembut dan perlahan, sambil menyanyikan lagu atau mendengarkan suara menenangkan. Tak ada salahnya menaruh bayi di dalam boks tidur dan ayun-ayunkan sekitar 5-10 menit.

Ibu juga bisa menerapkan cara orang tua zaman dulu. Misalnya, dengan membuat ayunan dengan mengikat kain lebar di antara dua tiang. Letakkan si Kecil di atas kain, goyangkan pelan-pelan sambil nyanyikan lagu nina bobo.7 Namun, tentu Ibu harus memastikan kain sudah terikat sangat kuat, ya.

5. Mengajak Bayi Jalan-Jalan

Cara selanjutnya, Ibu bisa membawa bayi berjalan-jalan di dalam atau luar rumah menggunakan stroller untuk mengatasi kolik pada bayi. Stroller dapat memberikan pengalaman baru bagi si Kecil untuk merasakan ketenangan dengan gerakan maju atau mundur. 

Tak hanya itu, gerakan ritmik lainnya, seperti naik mobil berkeliling komplek perumahan, juga bisa orang tua lakukan. Suasana atau lingkungan yang baru dianggap bisa membuat bayi teralihkan sehingga si Kecil bisa lebih tenang dan mudah tertidur. 

Suasana atau lingkungan yang baru dianggap bisa membuat bayi teralihkan sehingga si Kecil bisa lebih tenang dan mudah tertidur.

6. Menyusui Bayi

Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan merupakan metode terbaik pengasuhan bayi, termasuk sebagai cara mengatasi kolik pada bayi. Untuk itu, Ibu bisa segera menyusui si Kecil yang rewel agar kembali tenang.

Menjadi ibu baru mungkin memang melelahkan. Tapi, usahakanlah supaya tekanan mental yang Ibu alami tidak juga ikut dirasakan si Kecil. Pasalnya, orang tua yang stres bisa jadi salah satu alasan si Kecil sering menangis dan rewel di malam hari.

Maka, sebaiknya Ibu coba untuk menenangkan diri lebih dulu. Jika bayi sedang kolik, Ibu bisa meminta bantuan Ayah atau anggota keluarga lainnya untuk menemani si Kecil sebentar sementara Ibu mencoba mengatur napas atau minum sedikit untuk mengatur emosi.

Yang perlu diperhatikan, jangan sampai Ibu ikut terbawa emosi sampai mengguncang badan bayi terlalu keras. Apalagi sampai menyakiti si Kecil. Mengguncang bayi terlalu kencang dapat menyebabkan kerusakan serius pada otaknya dan bahkan kematian, sebagai akibat dari kondisi yang disebut shaken baby syndrome.

Tips Mencegah Bayi Kolik agar Tak Berulang

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, kolik biasanya akan berlangsung sampai si Kecil berusia 4 bulan.1 Meski begitu, Ibu dan Ayah tak perlu khawatir, karena ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kolik pada bayi berulang setiap malam. Bagaimana caranya?

1. Perbaiki Posisi Menyusui

Penyebab bayi kolik bisa terjadi karena adanya gas di dalam perut si Kecil. Hal ini karena kemungkinan bayi Ibu menelan banyak udara saat tengah menyusu.

Oleh karena itu, coba Ibu perhatikan kembali posisi menyusuinya. Pastikan apakah posisi pelekatan mulut bayi saat menyusu sudah tepat atau belum. 

Caranya adalah posisikan kepala si Kecil sedikit lebih tinggi dari perutnya untuk memudahkan ASI masuk ke dalam perut dengan lancar sehingga tidak banyak udara yang masuk. 

Selain itu, pastikan mulut bayi melekat tidak hanya pada puting, tapi juga pada bagian kulit berwarna lebih gelap yang melingkari puting payudara (areola), diikuti perut bayi berhadapan langsung dengan perut Ibu. 

Posisi tersebut dapat membantu bayi menerima ASI secara baik, sehingga bayi tidak akan menelan banyak udara saat menyusu, yang berisiko menyebabkan kolik.

Pastikan si Kecil menyusu selama minimal 15 menit di tiap payudara, sehingga ia mendapatkan semua zat gizi yang terkandung di dalam ASI ya, Bu.

2. Sendawakan Bayi Setelah Menyusu

Bayi seringkali kolik karena perutnya kembung, lapar, atau justru terlalu kenyang. Jadi, Ibu bisa coba sering-sering membuat bayi sendawa ketika dan setelah menyusui untuk mengeluarkan udara atau gas berlebih yang mungkin menumpuk di lambungnya. 

Ada beberapa posisi yang bisa dicoba agar bayi bersendawa. Berikut caranya:

  • Pertama, gendong dan dekap si Kecil di atas bahu Ibu. Kemudian, tepuk dan usap-usap punggung bayi dengan perlahan.

  • Kedua, dudukkan bayi di pangkuan Ibu, lalu tepuk-tepuk punggungnya, hadapkan bayi ke luar atau ke samping dan tepuk-tepuk punggungnya dengan lembut.

Sendawa juga bisa mengurangi gumoh atau refluks, yaitu keluarnya cairan ASI atau makanan dari lambung ke kerongkongan. Bayi kerap mengalami gumoh karena katup antara lambung dan kerongkongan yang belum bekerja sempurna.

3. Pijat Bayi dengan Lembut

Tahukah Ibu? Bayi masih sangat membutuhkan rangsangan dan sentuhan fisik untuk membuatnya merasa nyaman. Ini karena ia tengah beradaptasi dengan lingkungan baru, setelah selama 9 bulan berada di dalam rahim Ibu.

Nah, memijat bayi bisa menjadi salah satu bentuk stimulasi yang bisa dilakukan bersamaan dengan pemberian stimulasi lainnya, misalnya stimulasi suara, stimulasi visual, dan lain-lain.

4. Mandikan Bayi dengan Air Hangat

Cara mencegah kolik pada bayi bisa dengan memandikannya dengan air hangat. Mandi dengan air hangat sebelum tidur bisa membuat bayi merasa nyaman. Langkah ini juga dapat mengalihkan tangisannya dan membuat si Kecil merasa rileks.

Selanjutnya, pakaikan si Kecil pakaian yang lembut dan nyaman, atur suhu kamar pada suhu menjadi sejuk agar ia tidak kegerahan ataupun kedinginan. Setelah mandi, si Kecil biasanya akan mengantuk. Nah, Ibu bisa segera menyusui si Kecil agar ia bisa segera tertidur.

Baca Juga: 20 Cara Mengatasi Perut Kembung Pada Bayi

Ingat, Bu. Kolik pada bayi pada dasarnya tidak berbahaya, jadi Ibu tidak perlu memberikan obat apa pun pada bayi.2 Reaksi berlebihan kemungkinan dilakukan orang tua yang tidak memiliki informasi cukup tentang bagaimana cara mengatasi kolik pada bayi. 

Untungnya, lewat artikel ini Ibu sudah mendapatkan penjelasan yang cukup tentang cara mengatasi kolik pada bayi, serta langkah mencegahnya agar kondisi ini bisa dihindari dan tidak terjadi berulang. Semoga artikel ini dapat membantu, ya, Bu!

Jangan lupa, pantau terus tumbuh kembang si Kecil bersama Bebeclub sebagai partner Ibu Hebat lewat BebeJourney. Ada berbagai fitur edukatif dan menarik untuk mendukung si Kecil tumbuh hebat. Coba sekarang yuk, Bu!

 

Temukan Topik Lainnya

Referensi:

  1. Agus Firmansyah. 2015. Kolik pada Bayi (Bagian 1). Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kolik-pada-bayi-bagian-1. Diakses pada 17 Oktober 2021.
  2. Agus Firmansyah. 2015. Kolik pada Bayi (Bagian 2). Diambil dari:  https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kolik-pada-bayi-bagian-2. Diakses pada 17 Oktober 2021.
  3. Siel Daelemans, et al. (Update 7 September 2018). Recent advances in understanding and managing infantile colic. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6134333/. Diakses pada 16 Oktober 2021
  4. Bernie Endyarni Medise.Update 30 April 2014. Stimulasi pijat: Keamanan dan Manfaat. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/stimulasi-pijat-keamanan-dan-manfaat. Diakses pada 20 Oktober 2021
  5. Teck Meng Lawrence Lam, et al. 2019. Approach to infantile colic in primary care. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6351691/.  Diakses Oktober 2021
  6. Eline L. Moller. 2019. Infant crying and the calming response: Parental versus mechanical soothing using swaddling, sound, and movement. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6481793/. Diakses November 2021
  7. Baby Center. https://www.babycenter.com/baby/crying-colic/colic-in-babies-what-it-is-how-long-it-lasts-and-what-you-ca_77. Diakses pada 23 November 2022.
  8. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/colic/symptoms-causes/syc-20371074. Diakses pada 23 November 2022.
  9. Web MD. https://www.webmd.com/parenting/baby/colic-remedies. Diakses pada 23 November 2022.


Artikel Terkait