Apakah Bayi ASI Tidak BAB Berhari-hari itu Normal?
Cara untuk melancarkan BAB bayi bisa dengan mencukupi kebutuhan ASI, memijat perut dengan lembut, dan memandikan air hangat. Hindari asal memberikan obat dan air putih pada bayi.
Ditulis oleh :
Tim Penulis
Ditinjau oleh :
Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K)
Diterbitkan: 16 Desember 2024
Diperbarui: 29 September 2026
Bayi ASI tidak BAB selama beberapa hari masih bisa tetap dalam kondisi normal. Kondisi ini tidak selalu menandakan bayi mengalami sembelit. Namun, perhatikan juga kondisi feses dan keadaan bayi. Selama bayi tetap aktif, menyusu dengan baik, berat badan bertambah, perut tidak keras atau kembung, serta feses tetap lunak saat BAB, kondisi tersebut umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Berapa Hari Normalnya Bayi ASI Tidak BAB?
Tidak ada satu angka pasti tentang berapa hari bayi ASI boleh tidak BAB. Sebab, frekuensi BAB setiap bayi bisa berbeda-beda.
Di minggu-minggu awal setelah kelahiran, frekuensi BAB bayi biasanya cukup sering. Namun setelah usia 6 minggu, frekuensi BAB bayi bisa berkurang bahkan ada bayi yang tidak BAB dalam hitungan hari hingga seminggu.
Ini hal yang wajar dan bukan berarti bayi mengalami konstipasi. Patokannya bukan melihat berapa hari bayi tidak BAB, tapi perhatikan kondisi bayi dan bentuk fesesnya.
Jika feses tetap lunak, bayi tetap mau menyusu, dan tampak nyaman, maka frekuensi BAB yang jarang masih termasuk normal.
Baca Juga: Frekuensi BAB Bayi 3 Bulan per Hari dan Tanda Bahaya
Apakah Normal Bayi ASI Tidak BAB Seminggu tapi Kentut Terus?
Hal ini bisa saja normal. Bayi ASI yang tidak BAB selama beberapa hari tetapi masih kentut, aktif, menyusu dengan baik, dan ketika BAB fesesnya tetap lunak belum tentu mengalami sembelit. Berikut yang perlu Ibu perhatikan:
|
Masih Termasuk Normal |
Perlu Diperiksa |
|
Bayi masih bisa kentut |
Perut membesar dan terasa keras |
|
Tidak muntah |
Disertai muntah |
|
Perut tidak keras dan buncit |
Bayi menolak menyusu |
|
Tetap mau menyusu dengan baik |
Sangat rewel, tampak tidak nyaman, dan kesakitan |
|
Berat badan bertambah sesuai usia |
Feses keras atau kering |
|
Saat akhirnya BAB kembali, tekstur feses tetap lunak |
Ada darah pada feses |
|
Penambahan berat badan normal |
Berat badan tidak naik |
|
Tidak ada demam |
Mengalami demam |
Apakah Bayi Full ASI Bisa Sembelit?
Bisa, tetapi sembelit atau konstipasi pada bayi yang minum ASI eksklusif relatif jarang. Ini karena ASI relatif mudah dicerna dan memiliki komposisi yang bisa melunakkan feses.
Pada kondisi normal, bayi ASI yang jarang BAB akan menunjukkan ciri seperti:
- Frekuensi BAB berkurang.
- Bayi tetap sehat.
- Feses bayi tetap lunak.
- Tidak tampak kesakitan.
Sementara bila bayi minum ASI tapi jarang BAB karena mengalami konstipasi, cirinya akan berbeda yakni sebagai berikut:
- Feses kering dan keras, berbentuk bulat-bulat kecil.
- Bayi mengejan tapi BAB tidak keluar.
- Menangis sambil melengkungkan punggung karena sakit saat mengejan.
- Frekuensi BAB bayi tidak teratur atau lebih sedikit dari biasanya.
- Perut bayi teraba keras.
- Bayi jadi lebih jarang menyusu.
- Feses bayi tercium lebih bau daripada biasanya.
- Bayi terlihat lebih lemas.
- Bayi lebih rewel.
- Ada darah di anus.
Dukung kesehatan pencernaan si Kecil dengan pemantauan yang lebih mudah. Gunakan AI Poop Tracker dari Bebeclub untuk membantu mengenali kondisi pup si Kecil. Cukup upload foto pup di atas popoknya dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik. Ibu juga bisa mencoba fitur AI Poop Tracker di Aplikasi Bebeclub Mobile untuk bantu memantau kesehatan pencernaan si Kecil dengan lebih mudah.
Baca Juga: Bayi 1 Bulan Susah BAB: 8 Cara Mengatasi
Kenapa Bayi ASI Tidak BAB?
Ada beberapa alasan mengapa frekuensi BAB bayi berkurang bahkan hingga tidak BAB selama beberapa hari. Berikut kemungkinan penyebab bayi ASI tidak BAB:
1. Sistem Pencernaan Masih Berkembang
Di beberapa bulan pertama setelah lahir, sistem pencernaan bayi masih berkembang dan refleks gastrokolika mulai berkurang.
Tubuh bayi juga mulai mampu mencerna gula susu (laktosa) sehingga tekstur feses jadi lebih padat.
Namun, koordinasi gerak otot di sekitar anus memang belum sempurna sehingga si Kecil masih kesulitan mengeluarkan feses yang teksturnya mulai memadat. Itu kenapa frekuensi BAB bayi ASI tidak sesering dulu.
2. ASI Diserap dengan Baik oleh Tubuh
Penyebab lain kenapa bayi ASI tidak BAB, meski sesekali tetap kentut, bisa karena ASI telah diserap sepenuhnya oleh tubuh.
Sisa makanan yang perlu dikeluarkan sebagai feses lebih sedikit dibanding yang terserap. Alhasil, bayi ASI jarang atau tidak BAB. Namun, ini tidak menandakan bayi sembelit.
3. Koordinasi Otot untuk BAB Belum Sempurna
Kadang bayi terlihat mengejan, wajah memerah, atau menangis sebelum BAB keluar.
Hal ini bisa terjadi karena bayi masih belajar mengoordinasikan otot perut untuk mengejan menggunakan otot di sekitar anus agar feses bisa keluar.
Jika feses yang keluar tetap lunak, kondisi tersebut bisa disebut infant dyschezia dan umumnya merupakan bagian dari proses perkembangan bayi.
Jadi, bayi bisa mengejan, menangis, atau tampak kesulitan sebelum BAB, meskipun fesesnya tetap lunak.
4. Konstipasi
Konstipasi bisa saja terjadi pada bayi yang mendapat ASI, tetapi frekuensinya relatif jarang. Biasanya muncul saat MPASI mulai diperkenalkan yaitu usia 6 bulan.
Sembelit atau konstipasi pada bayi bisa membuat feses keras dan perut sakit, sehingga membuat bayi tidak nyaman.
5. Kondisi Medis Tertentu
Pada kasus yang lebih jarang, bayi tidak BAB dapat berkaitan dengan kondisi medis seperti Hirschsprung maupun gangguan saluran cerna lainnya.
Hirschsprung adalah kelainan bawaan lahir ketika saraf di usus besar yang seharusnya bertugas mendorong tinja, justru tidak berkembang dengan baik. Kondisi ini membuat BAB sulit dan feses menumpuk di usus.
Cara Membedakan Bayi ASI Jarang BAB dan Sembelit
Frekuensi BAB bayi ASI bisa berbeda-beda, sehingga jarang BAB saja tidak cukup untuk menunjukkan sembelit. Berikut perbedaan bayi yang memang jarang BAB dan mengalami konstipasi:
|
Kondisi |
Jarang BAB tapi Normal |
Konstipasi |
|
Frekuensi BAB |
Bisa beberapa hari sekali |
Lebih jarang dari biasanya dan disertai tanda lain |
|
Tekstur feses |
Lunak atau lembek |
Keras atau kering |
|
Saat BAB |
Tidak tampak sangat kesakitan |
Tampak tidak nyaman dan kesakitan |
|
Perut |
Tidak keras atau membuncit |
Bisa terasa keras atau membuncit |
|
Menyusu |
Tetap menyusu dengan baik |
Bisa berkurang atau sulit menyusu |
|
Kondisi bayi |
Tetap aktif dan nyaman |
Bisa lebih rewel atau lemas |
|
Berat badan |
Bertambah sesuai usia |
Penambahan berat badan tidak optimal |
Bagaimana Cara agar Bayi ASI Lancar BAB?
Jika bayi ASI tidak BAB sesering biasanya, Ibu bisa lakukan beberapa cara ini untuk membantu melancarkan pencernaannya:
1. Pastikan Bayi Mendapat ASI yang Cukup
Pastikan bayi menyusu sesuai kebutuhannya dan mendapatkan ASI dengan baik. Salah satu tandanya adalah bayi tampak puas setelah menyusu, berat badan bertambah sesuai usia, dan frekuensi pipis cukup.
Jika bayi sulit menyusu, pipis jauh berkurang, atau tampak lemas, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memastikan kebutuhan ASI dan cairannya terpenuhi.
Baca Juga: Diare pada Bayi: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi
2. Lakukan Pijat Bayi dengan Lembut
Pijat bayi dengan gerakan lembut pada area perut untuk membantu bayi lebih rileks dan nyaman.
Lakukan secara perlahan dan searah jarum jam. Hentikan jika bayi tampak tidak nyaman.
3. Gerakkan Kaki seperti Mengayuh Sepeda
Sembari memijat perut bayi, Ibu bisa menggerakkan kedua kaki bayi secara perlahan seperti sedang mengayuh sepeda.
Cara ini bisa membantu membuat perut bayi terasa lebih nyaman, sehingga memancing BAB agar lebih lancar.
4. Mandi Air Hangat
Mandi dengan air hangat dapat membantu bayi lebih rileks ketika perutnya sedang terasa tidak nyaman.
Namun sebelumnya, pastikan air tidak terlalu panas dan bayi selalu berada dalam pengawasan Ibu selama mandi.
5. Jangan Memberikan Air Putih pada Bayi di Bawah 6 Bulan
Bayi yang mendapat ASI eksklusif tidak perlu diberi air putih hanya karena belum BAB.
Selama dokter tidak menyarankan, sebaiknya Ibu tidak inisiatif memberikan air putih untuk bayi karena ginjal bayi belum berkembang sempurna, sehingga berisiko mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit.
Sementara ASI bisa mengenyangkan bayi lengkap dengan kalori dan berbagai nutrisi di dalamnya.
6. Jangan Memberikan Obat Pencahar Tanpa Anjuran Dokter
Bila bayi ASI tidak BAB, hindari memberikan obat pencahar atau pelancar BAB tanpa saran dari dokter. Pemberian obat perlu dipertimbangkan berdasarkan penyebab, tekstur feses, dan kondisi bayi.
Jika memang diperlukan, dokter yang akan menentukan berdasarkan kondisi bayi dan memberikan obat yang aman sesuai usianya.
Kapan Bayi ASI Tidak BAB Harus Dibawa ke Dokter?
Meski masih termasuk normal, bayi ASI yang tidak BAB selama beberapa hari perlu dibawa ke dokter bila menunjukkan gejala berikut:
- Sangat rewel dan tampak kesakitan.
- Menolak menyusu.
- Demam.
- Muntah-muntah.
- Perut terasa membesar dan keras saat disentuh.
- Bayi tampak lemas.
- Berat badan tidak bertambah.
- Jika pada akhirnya BAB, feses sangat keras dan terdapat darah.
Pada bayi baru lahir, waspadai dan segera periksakan dengan dokter bila si Kecil belum mengeluarkan mekonium dalam 24-48 jam pertama karena dapat menjadi tanda adanya sumbatan pada saluran cerna, salah satunya ileus mekonium.
Kondisi ini terjadi ketika mekonium atau feses pertama bayi yang sangat kental dan lengket menyumbat usus halus bayi.
Pada intinya, bayi ASI tidak BAB setiap hari termasuk normal dan belum tentu sembelit. Frekuensi BAB bayi bisa berubah seiring bertambahnya usia.
Namun, jangan sepelekan bila bayi mengalami BAB keras, perut membesar, muntah, sulit menyusu, sangat rewel, dan tanda-tanda lainnya yang tidak biasa. Segera periksakan ke dokter ya, Bu!
Masalah pencernaan bisa memengaruhi kenyamanan si Kecil. Daftar sebagai member Bebeclub sekarang untuk akses lengkap ke panduan menjaga kesehatan saluran cerna anak yang terverifikasi ahli.

_IFFO_MICROMOMENT.png)
_GUM_CARELINE.png)
