gerakan-tutup-mulut-si-kecil

Si Kecil GTM? Ini Trik Agar Anak Menyukai Makanan Sehat Bergizi

detail-fb detail-wa detail-twitter

Saat anak mulai GTM (gerakan tutup mulut), rasanya sangat khawatir ya, Bu? GTM bisa muncul dalam berbagai bentuk. Mulut ditutup rapat-rapat, makanan disembur, atau makanan yang sudah masuk mulut dilepeh lagi1. Kalau terus GTM, bagaimana ia bisa mendapatkan nutrisi untuk tumbuh kembangnya?

Penyebab GTM

Apa sih sebenarnya yang membuat anak jadi GTM? Ternyata, banyak penyebabnya Bu. Menurut penelitian oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yang paling sering yakni perilaku makan yang tidak benar atau pemberian makanan yang tidak sesuai usia.

Penyebab lain misalnya rasa bosan pada si Kecil, sakit, atau tidak lapar. Trauma terhadap makanan tertentu, atau terhadap proses makan, juga bisa menjadi pemicu GTM1. Ini mengapa dokter anak selalu mengingatkan untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan, serta tidak ada paksaan1.

Lalu, apa saja yang bisa dilakukan agar si Kecil tidak GTM dan mau menyantap makanan bernutrisi? Yang pasti, Ibu perlu banyak sabar, dan gigih mencoba berbagai cara. Trik berikut ini bisa Ibu coba di rumah.

Libatkan si Kecil di Dapur

Penelitian menemukan, anak yang menyiapkan makanannya sendiri akan memakan makanan tersebut lebih banyak, daripada bila disiapkan2. Untuk itu, Ibu bisa mengajak si Kecil ikut terlibat di dapur. Tentu sebatas aktivitas sederhana dan tidak membahayakan ya Bu. Anak balita misalnya, bisa membantu memetik daun bayam menggunakan tangan.

Ajaklah si Kecil mengamati perubahan makanan dari bahan mentah, lalu perlahan matang. Ibu bisa menggendongnya sebentar saat mengaduk sup, sambil mengatakan: “Tuh lihat, warna wortelnya makin oranye ya.” Atau, ajak ia menghirup aroma masakan, dan berkata: “Hmm harum sekali ya wangi bawang putih tumis.”

Ibu juga bisa mengajari si Kecil menyiapkan peralatan makannya sendiri. Setelah makanan matang, Ibu bisa mengajari si Kecil menyendok nasi sesuai porsinya di piringnya sendiri, lalu menyendok lauk, dan sayur.

Ajak Berkebun

Sebidang halaman bisa dimanfaatkan lho Bu untuk berkebun. Bila tidak ada halaman, Ibu bisa menanam sayuran yang mudah tumbuh seperti kangkung, bayam, dan tomat di pot-pot. Nah, ajaklah serta si Kecil berkebun. Ibu bisa memintanya membantu menyiram tanaman dengan gayung kecil, menyiangi rumput, dan tentunya yang paling menyenangkan: panen!

Sambil berkebun, Ibu bisa bercerita kepada si Kecil mengenai asal makanan, produksi makanan segar3, serta manfaat dari sayuran tersebut. Si Kecil mungkin tidak langsung paham atau ingat, tapi bila terus diulang, lama kelamaan ia bisa mengerti, mengapa sayur penting untuk tubuhnya. Menurut penelitian, intervensi berbasis kebun bisa memperbaiki konsumsi buah dan sayur, berat badan anak, status vitamin A, anemia akibat kekurangan zat besi, hingga performa akademik lho3. Si Kecil pun bisa lebih sehat karena beraktivitas di luar ruangan.

Gunakan Cerita

Si Kecil menyukai karakter Queen Elsa di Frozen? Nah, Ibu bisa menggunakan karakter favorit si Kecil untuk memancing ketertarikannya terhadap makanan sehat bergizi. Misalnya, Ibu bisa bercerita bahwa Queen Elsa dan adiknya Princess Anna, kuat menghadapi segala rintangan karena makan makanan sehat bergizi.

Segelas susu Bebelac 3 favorit si Kecil bisa menjadi teman yang menyenangkan di momen bercerita, terutama jika diberikan tiga kali sehari. Ibu juga bisa menceritakan bahwa susu yang diminumnya mengandung banyak nutrisi, seperti minyak ikan, omega 3, dan omega 6. Dan apa saja manfaat susu untuk otak dan pertumbuhannya. Pastinya, bonding Ibu dengan si Kecil pun akan makin kuat.

Makan Bersama

Ibu pasti paham, anak akan mencontoh orang tuanya. Untuk itu, biasakan dan sempatkan makan bersama di meja makan1. Bila si Kecil melihat ayah dan ibunya makan makanan sehat bergizi yang terhidang di meja, ia pun akan mengikuti. Meski mungkin tidak bisa dilakukan setiap waktu, tidak apa-apa, Bu. Yang penting usahakan selalu untuk makan bersama bila ada kesempatan.

Tentu perlu waktu ya Bu, hingga si Kecil mau mengonsumsi makanan sehat bergizi. Semua upaya yang Ibu lakukan, hasilnya tidak bisa instan. Namun jangan menyerah ya Bu. Mulailah dengan langkah kecil dan mudah, dan jadikan sebagai rutinitas agar si Kecil terbiasa.


Referensi

  1. Meta Herdiana Hanindita, dkk. (2015). Gerakan Tutup Mulut pada Balita. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/gerakan-tutup-mulut-gtm-pada-batita [Diakses 22 April 2021]
  2. Jasmine M. DeJEsus, dkk. (2019). Children Eat More Food when They Prepare It Themselves. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6768385/ [Diakses 4 Juni 2021]
  3. Kara R. Skelton, dkk. (2020). Garden-based interventions and early childhood health: an umbrella review. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7509938/ [Diakses 4 Juni 2021]