Keunggulan Susu Pertumbuhan Dibandingkan Susu UHT

Kelebihan Susu Bubuk Dibandingkan dengan Susu UHT

detail-fb detail-wa detail-twitter

Idealnya, Si Kecil memang hanya diberi asupan berupa Air Susu Ibu (ASI) minimal selama 6 bulan, dan jika bisa, berkelanjutan hingga dia berusia 2 tahun. Namun, terkadang penggunaan susu alternatif lain tak dapat dielakkan karena berbagai faktor, seperti medis, lingkungan dan sebagainya.

Ada beberapa susu alternatif lain untuk ASI. Yang umum ditemui, adalah susu bubuk formula (susu pertumbuhan) maupun susu cair UHT (Ultra High Temperature). Nah, sebetulnya, jenis susu mana yang lebih baik dan ideal untuk kesehatan pencernaan dan pertumbuhan bayi? Simak penjelasan berikut ini ya, Bu.

Membandingkan susu pertumbuhan vs susu UHT

Susu formula atau pertumbuhan, adalah susu yang telah diolah sedemikian rupa sehingga bisa berbentuk bubuk maupun cair. Sementara susu UHT adalah varian susu yang diolah lewat pemanasan hingga 140 derajat selama 2 detik agar menghasilkan susu cair yang lebih cepat kedaluwarsa meski tidak menggunakan pengawet.

Baik susu pertumbuhan maupun susu UHT biasanya diolah dari susu sapi. Hanya saja, pengolahan susu pertumbuhan membuatnya lebih aman dikonsumsi oleh bayi sejak lahir, sedangkan susu UHT sebaiknya baru diberikan kepada bayi paling dini sejak usianya di atas 1 tahun.

Dibanding susu UHT, susu pertumbuhan memiliki beberapa kelebihan. Berikut manfaat susu formula:

  1. Dapat menjadi sebagai pengganti ASI

    Bicara nutrisi, memang tidak ada susu apapun yang dapat menandingi kehebatan ASI. Namun jika Ibu tidak bisa menyusui langsung bayinya karena berbagai faktor, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan susu pertumbuhan pertama (susu formula) sebagai pengganti peran ASI.

    Ketidakmampuan dalam menyusui Si Kecil yang dimaksud oleh WHO tersebut bisa datang dari faktor ibu maupun bayinya. Faktor ibu, misalnya adalah jika dia tengah menjalani pengobatan penyakit tertentu atau positif mengidap virus HIV sehingga dikhawatirkan akan menularkan kondisi tersebut pada Si Kecil.

    Sementara beberapa kondisi Si Kecil yang mengharuskan ia mengonsumsi susu formula sebagai pengganti ASI misalnya, jika dia memiliki berat lahir rendah. Selain itu, bayi yang tidak bisa menyusu langsung atau mengalami breastmilk jaundice juga dapat diberikan susu formula khusus bayi, bukan susu UHT.

  2. Susu pertumbuhan lebih tinggi nutrisi dibanding susu UHT

    Susu UHT dan susu formula memang merupakan susu yang biasanya berbahan dasar susu sapi. Namun, susu UHT adalah jenis susu yang sepenuhnya terbuat dari susu sapi (whole cow milk), sedangkan susu pertumbuhan biasanya sudah dicampur bahan lain, terutama untuk menambah kadar gizinya.

    Hal ini membuat Akademi Dokter Anak Amerika (AAP) tidak merekomendasikan pemberian susu UHT kepada anak di bawah usia 1 tahun. Pasalnya, whole cow milk tidak banyak mengandung zat besi sehingga berpotensi menyebabkan Si Kecil terkena anemia.

    Oleh karena itu, pilihlah susu formula yang sudah memiliki beberapa zat fortifikasi, terutama zat besi. Untuk melengkapi kebutuhan gizinya yang lain, Ibu juga bisa memilih susu formula kaya manfaat yang mengandung asam linoleat dan vitamin E.

  3. Susu formula lebih ramah pada pencernaan Si Kecil

    Dibanding susu UHT, susu formula ternyata bermanfaat bagi saluran cerna Si Kecil yang belum berkembang sempurna dibanding susu UHT. Lagi-lagi, hal ini disebabkan oleh sifat susu UHT yang merupakan susu sapi utuh tadi.

    Susu sapi utuh berpotensi menimbulkan masalah pencernaan pada Si Kecil, salah satu yang parah adalah munculnya pendarahan di saluran pencernaan. Selain itu, susu pertumbuhan juga lebih tidak rentan menimbulkan alergi susu sapi dibanding susu UHT.

    Tetapi ingat ya, Bu, kondisi masing-masing anak berbeda-beda. Tetap ada kemungkinan Si Kecil akan mengalami masalah di saluran cerna atau alergi saat mengonsumsi susu pertumbuhan.

    Jika hal tersebut terjadi, hentikan sejenak pemberian susu formula pada anak dan ganti dengan merk lainnya. Bila Ibu khawatir, konsultasikan masalah tersebut ke dokter anak ya.