Penyebab Anak Tantrum dan Ciri-Cirinya yang Perlu Ibu Tahu

Mengatasi tantrum pada anak memang tidak mudah, ya, Bu. Selain butuh kesabaran ekstra, diperlukan waktu dan perhatian lebih agar Ib...

Ditulis oleh : Tim Penulis

4 min
25 Feb 2022


Mengatasi tantrum pada anak memang tidak mudah, ya, Bu. Selain butuh kesabaran ekstra, diperlukan waktu dan perhatian lebih agar Ibu dan Ayah dapat mencermati berbagai kemungkinan penyebabnya.

Yuk, cari tahu bersama penyebab anak tantrum agar Ibu dan Ayah dapat mencari cara yang tepat untuk menenangkan si Kecil.

Anak Sering Tantrum Apakah Normal? 

Tantrum adalah ledakan emosi yang sangat kuat pada anak usia dini. 

Biasanya tantrum disertai dengan beberapa perilaku agresif sebagai representasi dari rasa sedih, tidak nyaman, marah, jengkel, tidak dimengerti, hingga frustasi.

Walaupun merupakan perilaku yang sering membuat Ibu kewalahan dan harus menarik napas panjang, namun tantrum termasuk perilaku normal yang umumnya ditemui pada anak usia 1-3 tahun. 

Jadi, Ibu tidak perlu khawatir atau merasa malu berlebihan ketika si Kecil mengalami tantrum. Tantrum adalah perilaku yang normal dan bukan cerminan dari parenting yang buruk. 

Kemudian, perlu Ibu ketahui bahwa frekuensi dan durasi tantrum setiap anak berbeda-beda. Ada anak yang sering tantrum dan ada anak yang jarang tantrum. Namun, wajarnya anak mengalami tantrum 1 kali dalam sehari dengan durasi 2-15 menit. 

Nah, tantrum sendiri bukan sesuatu yang permanen, Bu. Memasuki usia 4 tahun atau ketika anak mulai sekolah, secara bertahap tantrum akan hilang. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan bahasa dan keterampilan emosional anak yang semakin baik. 

Baca juga: Anak 3 Tahun Harus Sudah Bisa Apa Secara Sosio-Emosional?

Penyebab Anak Tantrum 

Sebagian besar tantrum disebabkan oleh keunikan personaliti masing-masing anak dan situasi saat itu. Kedua faktor tersebut bertemu dan memicu timbulnya emosi yang begitu besar di dalam diri si Kecil.  

Ketika hal itu terjadi, timbullah konflik di dalam diri anak, namun ia belum memiliki kapasitas untuk menghadapi dan mengkomunikasikannya. 

Belum lagi ditambah munculnya ego anak untuk lebih mandiri dan memiliki kontrol terhadap lingkungannya. 

Nah, saat anak menyadari ia belum bisa mendapatkan keinginannya tanpa bantuan atau keinginannya tidak terpenuhi, emosi si Kecil akan meluap-luap. Maka terjadilah tantrum. 

Selain itu, ada beberapa kondisi lain yang umumnya dapat memicu tantrum pada anak, seperti: 

1. Anak Belum Bisa Mengutarakan Perasaan

Kemampuan berbahasa anak di bawah usia 3 tahun baru mencapai 75%, sehingga sangat wajar jika ia belum mampu menyampaikan apa yang dirasakan dan diinginkan dengan baik kepada Ibu. 

Jika sudah merasa frustasi, tidak heran jika ia mengekspresikan apa yang dirasakan dengan tangisan yang menjadi-jadi. 

2. Merasa Tidak Nyaman

Saat menangis si Kecil seolah sedang memberitahu orang-orang sekitarnya, “Tolong, aku sedang merasa tidak nyaman dengan tubuhku.”

Untuk bantu si Kecil menghadapi hal tersebut, Ibu dapat mengecek dengan seksama hal-hal yang sekiranya membuat ia merasa tidak nyaman seperti gigitan nyamuk, suhu ruangan yang terlalu panas, lapar, demam, atau popoknya basah. 

3. Tidak Mendapatkan Apa yang Diinginkan

Tantrum dapat dipicu oleh keinginan anak yang tidak terpenuhi. Misalkan si Kecil sedang ikut Ibu berbelanja bulanan ke toko dan ia melihat mainan yang menurutnya bagus sekali. Mainan tokoh kartun kesukaannya!

Tentu saja timbul keinginan kuat di dalam diri si Kecil untuk membawa pulang mainan tersebut. Sayangnya, Ibu belum bisa memenuhi permintaan si Kecil karena memang belum waktunya ia membeli mainan baru.

Tapi anak belum bisa mengelola rasa kecewa yang muncul ketika ia tidak boleh membeli mainan tersebut. Maka timbullah tantrum sebagai cara mengekspresikan kekecewaan dan usaha memahami apa yang terjadi. 

4. Menghindari Hal yang Tidak Disukai

Ketika harus melakukan hal yang tidak disukai, anak usia dini sangat mungkin mengalami tantrum. Contohnya saat Ibu memberitahu waktu bermain sudah habis dan ia harus pulang ke rumah untuk tidur siang. Si Kecil kemungkinan besar akan menangis dan memberontak saat di gendong. 

Baca juga: Memahami Si Kecil Berkemauan Keras

5. Kurangnya Waktu Tidur

Tahukah Ibu bahwa waktu tidur kurang ternyata dapat membuat anak berisiko rewel hingga tantrum? 

Jadi, pastikan si Kecil mendapatkan waktu tidur yang cukup dan berkualitas, ya, Bu. Balita kurang dari 1 tahun membutuhkan waktu tidur 14-17 jam tidur, termasuk tidur siang. 

Sementara itu, balita usia 1-2 tahun membutuhkan waktu tidur 11-14 jam dan balita usia 3-4 tahun membutuhkan waktu tidur 10-13 jam.

6. Durasi Screen Time yang Tidak Sesuai Usianya

Durasi screen time yang berlebihan dapat membuat anak lebih berisiko tantrum menjelang waktu tidur. Anak di usia 1-4 tahun sebaiknya tidak menggunakan gawai lebih dari 1 jam. Makin singkat durasinya akan lebih baik.

7. Gangguan Cemas

Tak hanya orang dewasa, balita juga bisa mengalami kecemasan. Beberapa di antaranya bisa saja mengalami kecemasan akibat stres atau trauma.

Kondisi ini biasanya ditandai dengan sulit tidur atau terbangun di tengah malam akibat night terror (gangguan tidur), hingga sering mengamuk. Jika si Kecil menunjukkan tanda ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter ya, Bu.

8. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan perilaku yang membuat anak sulit fokus dan konsentrasi. Beberapa gejala ADHD yang paling umum terlihat di antaranya adalah anak menjadi hiperaktif, impulsif, dan kurangnya perhatian.

Seorang anak dengan ADHD akan sering merasa frustrasi saat menghadapi situasi yang memicu gejala kondisinya. Hal inilah yang dapat menyebabkan tantrum.

9. Autisme

Gangguan spektrum autisme juga bisa menjadi penyebab anak tantrum. Autisme adalah kelainan perkembangan saraf yang memengaruhi perilaku dan komunikasi anak. 

Akibatnya, saat mereka mengalami overstimulation (stimulasi berlebih) atau tidak dapat mengomunikasikan hal yang diinginkan, ia akan bereaksi dengan rasa kesal, marah, dan frustrasi.

10. Gangguan Mood

Beberapa anak balita ada yang lebih berisiko mengalami disruptive mood dysregulation disorder (DMDD) atau gangguan mood sehingga sangat rentan mengalami tantrum.

Baca Juga: Cara Tepat Menghadapi Anak Moody yang Perlu Ibu Ketahui

Ciri-ciri Anak Tantrum 

Saat mengalami tantrum si Kecil umumnya akan menunjukkan beberapa perilaku agresif. Berikut perilaku agresif yang umumnya menjadi ciri anak tantrum: 

  • Merengek.
  • Menangis.
  • Berteriak.
  • Menendang.
  • Memukul.
  • Mencubit.
  • Menggigit. 
  • Mendorong.
  • Menahan napas.
  • Mengayunkan tangan dan kaki
  • Mengencangkan tubuh sehingga Ibu kesulitan memindahkan posisi si Kecil.
  • Melemaskan tubuh sehingga Ibu juga kesulitan untuk memindahkan posisi si Kecil. 

Itulah ciri-ciri yang umumnya ditunjukkan oleh anak yang mengalami tantrum. Perilaku di atas akan berangsur menghilang seiring bertambahnya usia si Kecil dan tingkat kematangan regulasi emosinya. 

Tanda Tantrum yang Berbahaya

Namun, ada juga beberapa ciri tantrum yang harus lebih Ibu waspadai, antara lain: 

  • Tantrum lebih dari 15 menit. 
  • Menunjukkan perilaku kekerasan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Contohnya melukai diri atau melempar benda-benda keras yang ke arah orang lain. 
  • Tantrum menimbulkan banyak perasaan dan situasi buruk antara Ibu dengan si Kecil maupun antara Ibu dengan Ayah. 

Ketika ketiga hal tersebut terjadi, Ibu sebaiknya segera menghubungi dokter atau psikolog spesialis anak untuk mendapatkan konsultasi dan skrining lebih lanjut. 

Apabila ditemukan hal yang tidak diinginkan, intervensi dini akan sangat membantu si Kecil untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, Bu. 

Baca juga: Melatih Kesehatan Emosi Si Kecil

Cara Menghadapi Anak Tantrum 

Tantrum memang merupakan perilaku normal pada anak usia dini. Walau begitu, Ibu perlu menghadapi tantrum dengan sikap yang tepat untuk bantu si Kecil mengelola emosinya. 

Apabila Ibu hanya membiarkan anak begitu saja atau malah menuruti keinginan anak, tantrum dapat menjadi kebiasaan yang buruk dan mempengaruhi tumbuh kembang anak secara negatif. 

Ia bisa menggunakan tantrum untuk memanipulasi keadaan dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Berikut beberapa cara mengatasi anak tantrum yang dapat Ibu lakukan: 

  • Menenangkan diri sendiri terlebih dahulu. 
  • Membawa anak ke tempat sepi. 
  • Memberikan waktu pada anak untuk menenangkan diri. Cara ini kadang disebut sebagai metode time out.
  • Mencari tahu penyebab anak tantrum.
  • Membiarkan anak meluapkan kemarahannya. 
  • Mengalihkan perhatian anak.
  • Memberikan pelukan.
  • Mendengarkan pendapat dan perasaan anak. 
  • Memvalidasi perasaan anak. 
  • Memberikan pengertian pada anak 
  • Tidak memberikan hukuman fisik untuk membuat anak diam. 

Baca Juga: Cara Disiplinkan Anak Tanpa Marah-Marah Lewat Metode Time Out

Tips Mencegah Anak Tantrum

Ada banyak cara yang dapat orang tua lakukan untuk mencegah tantrum dan mendorong terciptanya perilaku baik. 

Ibu dapat bantu anak mengurangi tantrum dengan membiasakan komunikasi yang baik di rumah agar si Kecil merasa didengarkan dan dicintai oleh orang-orang terdekatnya serta terbiasa mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan kalimat yang runut. 

Selain itu, Ibu juga perlu penuhi kebutuhan fisik si Kecil. Mencukupi kebutuhan tidur dan pola makan teratur si Kecil juga dapat mengurangi dan mencegah risiko tantrum pada anak. Ibu dapat menyediakan makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam menu makan harian si Kecil.

Tak lupa, Ibu juga bisa Dukung Awal Semua Kehebatan si Kecil dengan memberikan susu Bebelac 3 GroGreat+. Karena, Bebelac dilengkapi kandungan FOS:GOS 1:9 yang teruji klinis serta Triple A (DHA, LA, ALA) agar si Kecil tumbuh hebat dengan pencernaan yang sehat, akal kreatif dan hati yang besar!

Ketika pencernaannya sehat, anak juga akan lebih aktif, ceria, dan bersemangat untuk menjalani berbagai aktivitas yang menunjang perkembangannya (happy heart). 

Nah, Bu, itulah tadi informasi seputar tantrum, mulai dari penyebab anak tantrum hingga tips mencegah tantrum pada anak. Terus semangat ya, Ibu dan Ayah dalam mendampingi tumbuh kembang si Kecil. 

Jangan lupa gabung di Bebeclub untuk dapatkan lebih banyak tips dan informasi parenting terbaru!

 

Temukan Topik Lainnya

Referensi tambahan:

  1. Clinic, C. (2021). Temper Tantrums: What They Are, How To Handle & Possibly Prevent Them - Cleveland Clinic. Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/14406-temper-tantrums#:~:text=Tantrums%20usually%20last%20between%20two,talk%20to%20your%20healthcare%20provider.
  2. Temper Tantrums (for Parents) - Nemours KidsHealth. (2022). Kidshealth.org. https://kidshealth.org/en/parents/tantrums.html
  3. Tantrums: why they happen and how to respond. (2022, February 25). Raising Children Network. https://raisingchildren.net.au/toddlers/behaviour/crying-tantrums/tantrums
  4. NHS Choices. (2023). Temper tantrums. https://www.nhs.uk/conditions/baby/babys-development/behaviour/temper-tantrums/#:~:text=Temper%20tantrums%20usually%20start%20at,comes%20out%20as%20a%20tantrum.
  5. How to communicate effectively with your young child. (2022). Unicef.org. https://www.unicef.org/parenting/child-care/9-tips-for-better-communication


Artikel Terkait