Cara Menenangkan Bayi Menangis, Penyebab, dan Tanda Harus ke Dokter
Bayi menangis untuk berkomunikasi. Kenali cara menenangkannya, penyebab tangisan, serta tanda yang perlu diperiksa dokter.
Ditulis oleh :
Tim Penulis
Ditinjau oleh :
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH
Diterbitkan: 04 Maret 2022
Diperbarui: 10 September 2026
Cara menenangkan bayi menangis dimulai dengan memeriksa kebutuhan paling dasar yaitu apakah bayi lapar, popoknya basah, mengantuk, kepanasan, kedinginan, atau sedang tidak nyaman. Setelah penyebab yang paling mungkin diperiksa, Ibu dan Bapak bisa mencoba satu cara menenangkan secara perlahan. Tangisan adalah cara bayi berkomunikasi, jadi bukan berarti Ibu melakukan sesuatu yang salah.
Kenapa Bayi Menangis Terus?
Menurut Alder Hey Children’s Hospital, bayi paling sering menangis karena lapar atau perlu mengganti popok. Penyebab lain dapat berupa rasa tidak nyaman, kolik, refluks, konstipasi, atau infeksi.
1. Lapar atau Haus
Pada bayi yang masih kecil, tangisan sering menjadi tanda ingin menyusu. Coba tawarkan ASI saat terlihat tanda lapar seperti membuka mulut, mencari puting, atau mengisap tangan.
Bayi di bawah 6 bulan hanya membutuhkan ASI dan tidak memerlukan air putih kecuali dokter menyarankan karena kondisi tertentu.
2. Popok Basah atau Kotor
Periksa popok dan area kulitnya, ya, Bu. Popok yang penuh atau kulit yang mulai iritasi dan ruam dapat membuat bayi tidak nyaman.
Bersihkan dengan lembut, keringkan, lalu gunakan popok bersih dengan ukuran yang pas.
3. Mengantuk Tetapi Sulit Tidur
Bayi yang mengantuk dapat menguap, memalingkan wajah, mengepalkan tangan, atau makin rewel. Redupkan cahaya, kurangi suara, lalu bantu ia tidur sebelum terlalu lelah.
4. Terlalu Panas atau Kedinginan
Raba dada atau tengkuk bayi, bukan hanya tangan dan kakinya. Barangkali ia merasa kepanasan atau malah kedinginan.
Sesuaikan pakaian dan suhu ruangan bila tubuhnya terasa terlalu hangat, berkeringat, atau justru dingin. Hindari membungkus bayi terlalu tebal.
5. Ingin Digendong atau Dipeluk
Kedekatan fisik membuat banyak bayi merasa aman. Ibu atau Bapak bisa memeluk, melakukan kontak kulit ke kulit, atau menggendong dengan menopang kepala dan leher.
Memberi respons pada tangisan kecil bayi bukan berarti memanjakannya. Agar posisi tetap aman dan nyaman, pelajari cara menggendong bayi yang benar.
6. Kolik
Kolik biasanya digambarkan sebagai episode tangisan panjang pada bayi yang tampak sehat dan sulit ditenangkan. Penyebabnya tidak selalu jelas.
Bila tangisan berulang atau tidak berhenti lebih dari 3 jam sehari, diskusikan dengan dokter untuk memastikan tidak ada masalah medis lain.
Ibu dapat membaca lebih lanjut tentang penyebab kolik pada bayi tanpa langsung menyimpulkan bahwa setiap tangisan berasal dari perut.
7. Gumoh atau Perut Tidak Nyaman
Gumoh sedikit setelah menyusu cukup umum. Namun, bayi dapat menangis bila terlalu banyak menelan udara, terlalu kenyang, mengalami refluks yang mengganggu, atau sulit buang air besar.
Amati apakah tangisan berkaitan dengan waktu menyusu dan apakah berat badannya bertambah baik.
8. Sedang Sakit
Waspadai bila tangisan terdengar berbeda dan bernada tinggi, atau disertai demam, muntah, ruam, napas cepat, lemas, dan minum lebih sedikit. Ingat, Ibu paling mengenali pola normal bayi.
Bila terasa ada yang tidak beres, jangan ragu meminta bantuan medis. Mengenali pola arti tangisan bayi dapat membantu Ibu membandingkan tangisan hari ini dengan kebiasaan si Kecil.
Kenapa Bayi Menangis Terus dan Susah Tidur?
Bayi yang terlalu lelah justru dapat lebih sulit mulai tidur dan bertahan tidur. Karena itu, menahan bayi tetap bangun agar malamnya tidur lebih lama sering kali tidak membantu.
Beberapa penyebab yang perlu Ibu dan Bapak periksa adalah di bawah ini:
- Overtired: bayi melewati waktu tidur, sehingga makin rewel dan sulit menenangkan diri.
- Overstimulasi: terlalu banyak cahaya, suara, sentuhan, atau perpindahan cara menenangkan dapat membuat bayi kewalahan.
- Lapar di malam hari: perut bayi masih kecil, sehingga terbangun untuk menyusu adalah hal yang umum, terutama pada bulan-bulan awal.
- Growth spurt: pada masa pertumbuhan cepat, sebagian bayi meminta menyusu lebih sering dan tampak lebih rewel untuk sementara.
- Kolik: episode tangisan panjang sering muncul pada sore atau malam dan dapat mengganggu proses tidur.
- Refluks: gumoh fisiologis termasuk normal, tetapi refluks yang menimbulkan nyeri, gangguan menyusu, atau pertumbuhan terhambat perlu diperiksa.
- Lingkungan terlalu bising: suara keras, layar menyala, dan lampu terang dapat membuat bayi lebih terjaga. Ciptakan suasana redup, nyaman, dan tenang.
- Sleep regression: perubahan tidur sering dilaporkan sekitar usia 4 bulan, 6 bulan, 8–10 bulan, 12 bulan, dan 18 bulan.
Sleep regression tidak terjadi seperti jadwal yang pasti pada setiap bayi. Perubahan tidur juga dapat disebabkan lapar, sakit, popok kotor, atau perubahan rutinitas. Jadi, periksa kebutuhan dasar terlebih dahulu.
Baca Juga: Mengatasi Growth Spurt Penyebab Bayi Rewel
Cara Menenangkan Bayi Menangis
Tidak ada satu cara yang selalu berhasil untuk semua bayi. Cobalah satu metode selama beberapa menit sambil memperhatikan responsnya. Mengganti terlalu banyak strategi dengan cepat justru dapat membuat bayi overstimulasi.
1. Susui Bayi Bila Lapar
Selama tiga bulan pertama, ASI adalah sumber nutrisi utama si Kecil. Kalau tangisannya menandakan lapar, segera susui dengan posisi pelekatan yang tepat agar ia tenang dan tidak banyak menelan udara.
2. Gendong Bayi dengan Posisi Nyaman
Dekap bayi dekat dada dengan kepala, leher, dan punggung tersangga. Pastikan wajahnya terlihat dan jalan napas tidak tertutup. Bila menggunakan gendongan kain atau carrier, ikuti petunjuk usia dan batas berat dari produk.
3. Ayun Perlahan
Gerakkan tubuh dengan lembut atau berjalan pelan sambil menggendong. Hindari gerakan memantul kuat atau mengayun cepat. Jika bayi tertidur, pindahkan ke tempat tidur yang aman dengan posisi telentang di permukaan datar dan kokoh.
4. Bedong Bayi (untuk Usia yang Sesuai)
Bedong dapat membantu menenangkan bayi bila dilakukan dengan benar. Gunakan kain tipis, beri ruang bagi pinggul dan kaki, selalu tidurkan bayi telentang, serta hentikan segera saat ia menunjukkan tanda mencoba berguling, sebagian bayi mulai melakukannya sejak sekitar usia 2 bulan.
5. Tepuk atau Usap Punggung Bayi
Saat menggendong, tepuk perlahan dengan ritme stabil atau usap punggung dari atas ke bawah. Sentuhan lembut dan berulang sering terasa lebih menenangkan daripada gerakan yang cepat dan berubah-ubah.
6. Sendawakan Bayi
Kalau bayi rewel setelah menyusu, coba sendawakan untuk mengeluarkan udara yang terperangkap. Gendong tegak dengan dagunya bersandar di pundak Ibu, lalu tepuk punggungnya perlahan.
7. Gunakan White Noise atau Suara Lembut
Suara berirama yang stabil seperti white noise, suara kipas, atau senandung pelan bisa membantu bayi merasa tenang. Menurut Nationwide Children’s Hospital, sebagian bayi lebih tenang dengan latar suara yang lembut dan konsisten.
8. Bernyanyi atau Bersenandung
Suara Ibu atau Bapak yang pelan dan berulang dapat memberi rasa familiar. Pilih lagu sederhana, kurangi kontak mata bila bayi tampak mengantuk, dan jangan bernyanyi terlalu keras.
Baca Juga: 15 Lagu Pengantar Tidur Bayi Terbaik agar si Kecil Tenang
9. Berikan Pijatan Lembut
Dengan bayi dalam keadaan terjaga dan nyaman, usap punggung, lengan, atau kaki secara perlahan. Hentikan bila ia menegang, memalingkan wajah, atau menangis lebih keras. Tidak perlu membalurkan minyak hangat atau bahan racikan untuk menenangkannya.
10. Mandi Air Hangat
Mandi air hangat dapat menenangkan sebagian bayi, tetapi ada juga yang justru makin rewel. Pastikan air hanya hangat suam-suam kuku, pegang bayi sepanjang waktu, dan siapkan handuk sebelum mulai.
11. Alihkan Perhatian Bayi
Ajak bayi melihat cahaya lembut, wajah Ibu, mainan kontras, atau pemandangan di luar rumah. Bila ia tampak menguap, memalingkan muka, atau makin rewel, kurangi rangsangan dan kembali ke suasana tenang.
Jangan lewatkan momen penting tumbuh kembang si Kecil. Yuk, bergabung sebagai member Bebeclub dan akses panduan lengkap serta tips stimulasi sesuai tahap usia si Kecil.
Baca Juga: Cara Menenangkan Bayi yang Rewel di Malam Hari
Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Saat Bayi Menangis
Tangisan yang panjang memang melelahkan. Agar Ibu, Bapak, dan bayi tetap aman, hindari beberapa hal berikut:
- Jangan mengguncang atau memukul bayi. Guncangan keras dapat menyebabkan kebutaan, cedera otak, bahkan kematian.
- Jangan membiarkan bayi menangis lama tanpa memeriksa penyebabnya. Cek kebutuhan dasar dan tanda sakit, lalu berikan respons sesuai usianya.
- Jangan langsung memberi obat, jamu, gripe water, atau produk kolik tanpa arahan dokter. Bukti manfaatnya terbatas dan sebagian produk dapat menimbulkan risiko.
- Jangan panik. Bila emosi mulai memuncak, letakkan bayi telentang di boks yang aman dan kosong, menjauh sebentar untuk menenangkan diri, lalu minta bantuan orang tepercaya.
Kalau Ibu mulai merasa sangat lelah atau frustrasi, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak. Menenangkan diri lebih dulu justru membantu Ibu menenangkan si Kecil, ya, Bu.
Kapan Tangisan Bayi Termasuk Normal?
Menangis dalam batas tertentu adalah bagian normal dari perkembangan bayi. Umumnya bayi menangis 1–3 jam per hari, dan cenderung lebih sering di sore atau malam hari.
Ada juga istilah Period of PURPLE Crying, yaitu fase menangis normal yang dimulai sekitar usia 2 minggu. Kata "period" menekankan bahwa fase ini sementara dan akan berakhir. PURPLE adalah singkatan dari:
- P (Peak of crying): tangisan meningkat dan memuncak sekitar usia 2 bulan.
- U (Unexpected): tangisan bisa datang dan berhenti tanpa sebab jelas.
- R (Resists soothing): bayi mungkin sulit ditenangkan meski sudah dicoba berbagai cara.
- P (Pain-like face): wajahnya tampak kesakitan padahal ia tidak sedang sakit.
- L (Long-lasting): tangisan bisa berlangsung lama, bahkan sampai beberapa jam.
- E (Evening): tangisan sering lebih hebat pada sore dan malam hari.
Kabar baiknya, tangisan ini biasanya mulai berkurang setelah usia 3–5 bulan. Jadi kalau si Kecil sehat, tumbuh baik, tapi sering menangis di sore hari, kemungkinan ini bagian normal dari fase tersebut, Bu.
Kapan Bayi Menangis Harus Dibawa ke Dokter?
Segera cari pertolongan medis bila tangisan disertai salah satu dari tanda-tanda berikut:
- Demam, terutama suhu 38°C atau lebih pada bayi berusia di bawah 3 bulan.
- Muntah berulang atau muntah menyemprot.
- Sesak napas, napas sangat cepat, dada tertarik ke dalam, atau bibir tampak kebiruan.
- Tidak mau menyusu, minum sangat sedikit, atau popok basah berkurang.
- Lemas, sulit dibangunkan, tidak merespons seperti biasa, atau tubuh terasa lunglai.
- Tangisan bernada tinggi atau terdengar sangat berbeda dari biasanya.
- Tangisan tidak berhenti selama berjam-jam dan bayi tidak dapat ditenangkan, terutama bila berlangsung lebih dari 2 jam.
- Kejang, tubuh kaku, gerakan menghentak berulang, atau bayi tidak sadar.
Untuk sesak berat, bibir kebiruan, kejang, atau bayi tidak sadar, hubungi layanan gawat darurat. Bila naluri Ibu mengatakan ada sesuatu yang tidak wajar, lebih baik bayi diperiksa daripada menunggu.
Jika tangisan berkaitan dengan perut tidak nyaman atau perubahan pup, Ibu dapat mencatatnya menggunakan AI Poop Tracker. Cukup dengan upload foto pup di atas popoknya dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik. Hasilnya bukan diagnosis dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Butuh tempat bertanya saat merawat bayi? Ibu dan Bapak dapat mengakses aplikasi Bebeclub Mobile dan BebeCare untuk dukungan yang mudah dijangkau.
_IFFO_MICROMOMENT.png)
_GUM_CARELINE.png)
