Kembali ke Ibu Perlu Tahu

4 Contoh Empati Anak yang Perlu Ibu Ajarkan Setiap Hari

Empati tak hanya penting dimiliki oleh orang dewasa. Menumbuhkan dan mengajarkan rasa empati pada anak sejak dini juga sangatlah penting...

4 min
27 Oct 2022
Melakukan pekerjaan rumah tangga bisa mengajarkan si Kecil apa arti empati.

1 ibu tandai artikel ini bermanfaat

Empati tak hanya penting dimiliki oleh orang dewasa. Menumbuhkan dan mengajarkan rasa empati pada anak sejak dini juga sangatlah penting, Bu. Dan caranya pun tak sulit, kok. Ibu bisa menumbuhkannya dengan cara memberi contoh empati anak yang bisa ditiru dan dilakukan sehari-hari. 

Mungkin Ibu bertanya-tanya, apa pentingnya si Kecil belajar berempati sejak dini. Usia 1-2 tahun, adalah pondasi dan awal terbentuknya emosi pada anak, dan empati merupakan bagian penting dari perkembangan sosial emosional anak. Mengasah rasa empati, akan membuat si Kecil tumbuh menjadi anak yang memiliki rasa toleransi pada sesamanya, Bu.1

Contoh Empati Anak yang Bisa Diajarkan Oleh Ibu 

Empati adalah kemampuan merasakan atau memahami secara emosional apa yang dirasakan oleh orang lain. Kemampuan untuk berempati pada anak dapat membuat si Kecil mampu menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami emosi dari perasaan orang tersebut.1

Karena empati merupakan bagian dari perkembangan sosial emosional anak, memiliki rasa empati dapat membantu si Kecil membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat dan bahagia dengan orang lain.1

Ibu tentu ingin, kan, si Kecil mampu mengembangkan hubungan yang sehat dan positif dengan sesamanya? Tak sulit, kok, menumbuhkan rasa empati pada diri si Kecil, karena kuncinya ada pada contoh dan pembiasaan, Bu. Apa saja contoh empati yang bisa Ibu ajarkan padanya?

1. Mengajak anak melakukan pekerjaan rumah tangga

Menumbuhkan empati pada si Kecil bisa dimulai dari rumah. Ibu bisa mengajak si Kecil untuk terlibat dalam berbagai pekerjaan rumah tangga yang sesuai dengan usianya. Misal, bisa dimulai ketika si Kecil berusia 1-2 tahun, dengan mengajaknya membereskan mainan bersama-sama.2 

Tak hanya melatih kemandirian, membiasakan si Kecil melakukan pekerjaan rumah juga bermanfaat untuk mengasah kepeduliannya pada Ibu ataupun asisten rumah tangga di rumah, lho. Penelitian menunjukkan bahwa semakin sering Ibu mengajak si Kecil membantu pekerjaan rumah tangga, semakin mungkin ia akan tumbuh menjadi orang yang suka membantu kelak.2

2. Mengajarkan anak untuk meminjamkan mainan pada teman

Meminjamkan mainan dapat mengasah rasa empati pada si Kecil.

Mau berbagi adalah salah satu contoh empati yang juga penting Ibu ajarkan pada anak. Beberapa anak mungkin akan berbagi mainan atau makanan dengan sukarela pada temannya. Tapi, banyak juga anak yang masih membutuhkan campur tangan orang dewasa agar ia mau berbagi mainan atau makanan yang dimilikinya.3 

Nah, adalah tugas Ibu untuk mengajarkan si Kecil agar mau sukarela meminjamkan mainan atau berbagi makanan pada temannya. Saat si Kecil bermain bersama tetangga atau saudara, misalnya, Ibu bisa pilih kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama, misalnya mewarnai sebuah gambar besar. Sediakan satu set pensil berwarna atau crayon yang akan mereka pakai secara bergantian.3 Cara ini akan memberi contoh nyata pada si Kecil tentang apa itu berbagi, Bu.

3. Menghibur teman yang sakit

Ada teman si Kecil yang baru saja jatuh dari ayunan? Ajak si Kecil menghampirinya dan bertanya apakah temannya itu baik-baik saja, atau minta si Kecil mengusap bagian tubuh temannya yang sakit atau terluka. Perilaku ini sama efektifnya dengan mengajak si Kecil berkunjung ke rumah temannya yang sedang sakit, Bu, di mana ia dapat belajar untuk ikut merasakan rasa sakit yang dialami temannya.3 

Menghibur teman yang sedang sakit juga bisa dilakukan dengan mengirim pesan ‘Semoga cepat sembuh’, atau menghubungi mereka lewat panggilan video. Atau jika memungkinkan, kirimkan makanan atau buah-buahan ke rumah orang yang sedang sakit. Tak hanya menghibur mereka yang sedang sakit, kegiatan ini juga akan mengasah kepedulian si Kecil sekaligus membuatnya belajar bahwa berbagi tak hanya dalam bentuk barang, tetapi juga bisa dalam bentuk perhatian, emosi, saran, bahkan penghiburan.4

4. Mengenali emosi orang di sekitarnya

Ajari si Kecil agar dapat memahami emosi orang lain di sekitarnya.

Ibu, salah satu contoh empati lainnya adalah ketika si Kecil dapat memahami emosi orang lain di sekitarnya. Setidaknya, ada empat emosi dasar yang harus sudah dikenali anak ketika usianya 3 tahun, yaitu kegembiraan, ketakutan, kesedihan, dan kemarahan.5

Nah, Ibu dapat mengajarkan si Kecil untuk mengenali emosi orang lain melalui ekspresi wajah. Memiliki kemampuan ini akan membuat si Kecil kelak mampu berperilaku sesuai dengan situasi sosial yang berbeda-beda, Bu.5

Misal, ketika si Kecil mendapati adik atau kakaknya sedang menangis, ajak ia untuk menghibur dan bertanya penyebab sang adik atau kakak menangis. Tunjukkan pada si Kecil bahwa kadang kesedihan bisa sedikit diredakan dengan memeluk, menepuk bahu, atau membelai kepala.

Bagaimana, Bu, apakah salah satu dari empat contoh empati di atas sudah Ibu ajarkan pada si Kecil? Agar kemampuannya untuk berempati semakin terasah, jangan lupa lengkapi nutrisi si Kecil dengan Bebelac 3, nutrisi optimal yang dukung si Kecil tumbuh hebat, berkat kandungan triple A dengan Asam Dokosaheksaenoat (DHA) lebih tinggi dibandingkan produk sejenis, juga dilengkapi dengan Asam Alfa Linolenat (ALA) dan Asam Linoleat (LA). 

Bebelac 3 juga dilengkapi dengan serat FOS dan GOS 1:9 yang mendukung saluran cerna si Kecil (happy tummy), sehingga ia akan tumbuh menjadi anak yang berhati besar (happy heart) terhadap orang di sekitarnya, dan memiliki perkembangan akal kreatif (happy brain). 

Jangan lelah mengajarkan si Kecil contoh empati yang akan membuatnya tumbuh menjadi anak dengan kecerdasan emosional yang baik, ya, Bu!


Reference:

  1. Kucirkova N (2019). How Could Children’s Storybooks Promote Empathy? A Conceptual Framework Based on Developmental Psychology and Literary Theory. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6370723/. [Diakses 18 Agustus 2022]
  2. Waugh W, et al (2015). Early socialization of prosocial behavior: Patterns in parents’ encouragement of toddlers’ helping in an everyday household task. Diambil dari:  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4417400/. [Diakses 18 Agustus 2022] 
  3. Mega Permata Sari dan Delfi Eliza. 2021. Pelaksanaan Penanaman Sharing Behaviour Terhadap Karakter Peduli Sosial Anak. Diambil dari: https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/tunascendekia/article/download/1984/1480 [Diakses 18 Agustus 2022]
  4. Celia A. Brownell, et al. 2013. Mine or Yours? Development of Sharing in Toddlers in Relation to Ownership Understanding. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3578097/   [Diakses 18 Agustus 2022]
  5. Elisabet Serrat, et al. 2020. Identifying Emotional Expressions: Children’s Reasoning About Pretend Emotions of Sadness and Anger. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7734329/  [Diakses 18 Agustus 2022]

 



 
alt

Kenali apa itu

Kalkulator Nutrisi

Cek nutrisi si Kecil yuk! Sudah sesuaikah dengan kebutuhannya?

Artikel Terkait