Kapan Bayi Mulai Babbling, Arti Ocehan Bayi, dan Stimulasinya
Babbling artinya ocehan atau celotehan bayi mengulang bunyi suku kata sama, misalnya "ma-ma," "da-da," atau "pa-pa". Fase babbling mulai di usia 4–6 bulan. Ada bayi yang mulai babbling lebih cepat, dan lainnya sedikit lebih lambat.
Ditulis oleh :
Tim Penulis
Ditinjau oleh :
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH
Diterbitkan: 20 Maret 2023
Diperbarui: 15 Januari 2026
Bayi yang baru lahir berkomunikasi dengan tangisan. Seiring usianya bertambah, bayi mulai memasuki fase babbling yang artinya “mengoceh" atau "berceloteh". Babbling adalah tahap perkembangan bicara bayi yang ditandai dengan pengulangan bunyi konsonan-vokal.
Apa Itu Babbling pada Bayi?
Babbling adalah fase pralinguistik ketika bayi mulai berceloteh dengan mengulang bunyi suku kata yang sama, misalnya "ma-ma," "da-da," atau "pa-pa".
Seiring bertambahnya usia, bayi akan mulai menggabungkan beberapa bunyi berbeda, seperti "ma-ba" atau "ba-da", dan lambat laun menjadi lebih panjang, misal “mamama”, “bababa”, “dadada”, atau “um-um-um”.
Kapan Bayi Mulai Mengoceh (Babbling)?
Tahap perkembangan bicara bayi dimulai dari fase cooing (suara seperti “ooo” atau “uuu”) di usia 2-4 bulan. Lalu, fase babbling mulai di usia 4–6 bulan.
Beberapa bayi mungkin mulai babbling lebih cepat, sedangkan lainnya sedikit lebih lambat, dan ini masih dalam batas normal, Bu. Setiap bayi akan berkembang dengan kecepatannya sendiri.
Fase babbling menjadi latihan penting untuk bayi mulai membiasakan menggunakan mulut, mempelajari suara, mengeluarkan bunyi, mempelajari pola suara percakapan, dan mencoba berkomunikasi.
Baca Juga: Perkembangan Bayi 4 Bulan dan Cara Tepat Stimulasinya
Apa Arti Ocehan Bayi?
Dalam perkembangan bahasa bayi, arti ocehan bayi adalah caranya untuk “berdialog” dengan Ibu. Kata-kata yang diocehkan bayi saat babbling memang sudah lebih mirip kata, seperti “ma-ma” atau “pa-pa”.
Namun jika ditelaah lebih lanjut, kata-kata tersebut sebenarnya belum memiliki arti. Bayi juga belum memahami ocehan mereka sepenuhnya
Bayi akan meniru bahasa yang paling sering ia dengar, sehingga jenis suara yang ia keluarkan dipengaruhi oleh lingkungan. Maka itu, celoteh tiap bayi bisa berbeda-beda sesuai suara yang mereka dengar setiap hari.
Jenis-Jenis Babbling Pada Bayi
Fase babbling adalah saat si Kecil mulai bereksperimen dengan berbagai jenis suara. Setiap bentuk babbling adalah caranya belajar menggerakkan otot-otot mulutnya untuk meniru bahasa orang dewasa.
1. Reduplicated / Canonical Babbling
Canonical babbling adalah jenis babbling dengan mengulang suku kata yang sama, misalnya “ba-ba-ba” atau “ma-ma-ma”. Tahap ini penting karena menandai kemampuan bayi menghasilkan kombinasi konsonan-vokal yang stabil.
2. Variegated Babbling
Pada tahap ini, si Kecil mulai mengombinasikan bunyi berbeda, seperti “ma-da”, “ba-go”, atau “da-ga”. Variegated babbling menunjukkan kemampuan koordinasi yang lebih kompleks.
3. Jargon Babbling
Jargon babbling adalah fase bayi yang mulai mengoceh dengan intonasi dan ritme seperti orang berbicara, seolah-olah sedang mengajak Ibu mengobrol meski belum ada kata bermakna.
Dengan mengenali berbagai jenis babbling, Ibu bisa memahami bahwa si Kecil sedang belajar meniru pola bahasa dan mempersiapkan diri untuk mengucapkan kata pertamanya.
Tabel Tahapan Perkembangan Suara Bayi (0–12 Bulan)
Babbling adalah satu dari sekian tahapan perkembangan suara bayi. Lebih lengkapnya, berikut gambaran umum perkembangan suara bayi dari lahir sampai usia 12 bulan.
|
Usia |
Tahap Suara |
Contoh Perilaku |
|
0–2 bulan |
Menangis, cooing awal |
“Ooo”, “Aaa”, refleks menangis |
|
2–4 bulan |
Cooing berkembang |
Tertawa, bersuara senang |
|
4–6 bulan |
Canonical babbling |
“Ba-ba”, “Da-da”, “Ma-ma” |
|
6–9 bulan |
Variegated babbling |
“Ba-da”, “Ma-ga”, intonasi naik-turun |
|
9–12 bulan |
Jargon, upaya kata pertama |
“Eeeh ma?”, “Mama”, “Papa” |
Ingin tahu apakah pertumbuhan si Kecil sudah sesuai dengan standar WHO? Pantau pertambahan panjang dan berat badan si Kecil tiap bulan langsung di BebeJourney! Plus, ada AI Poop Tracker untuk bantu Ibu monitor kesehatan pencernaannya serta panduan tumbuh kembang eksklusif yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan Ibu dan si Kecil.
Baca Juga: Stimulasi Rasa Ingin Tahu Si Kecil
Cara Menstimulasi Babbling dan Kemampuan Bicara Bayi (0–12 Bulan)
Setiap bayi mulai mengoceh (babbling) dan bicara di usia yang berbeda-beda, tetapi babbling adalah kemampuan yang bisa distimulasi sejak dini. Berikut berbagai cara sederhana yang terbukti efektif:
1. Ajak Bayi Ngobrol Sepanjang Hari
Marianella Casasola, peneliti dari Universitas Cornell, mengatakan bahwa seberapa sering Ibu bicara kepada anak berhubungan langsung dengan jumlah kata yang mereka pelajari.
Jadi, yuk, Bu, ajak si Kecil berbicara sepanjang hari untuk membantu membangun pemahaman bahasa sejak dini, termasuk menstimulasi babbling pada bayi.
Gunakan bahasa yang hangat, jelas, dan sederhana agar bayi lebih mudah mengenali pola suara.
Ibu bisa mengajaknya bicara dengan menjelaskan apa yang sedang Ibu lakukan, misalnya, “Ibu sedang menyiapkan susu ya, Nak.”
2. Tiru Suara Bayi
Ketika bayi mengoceh, ulangilah suaranya seolah-olah Ibu sedang berbicara kepada si Kecil. Cara ini membuat bayi belajar bahwa suaranya punya arti dan mendapatkan balasan.
Menirukan suara atau ocehan bayi juga merupakan bentuk komunikasi dua arah yang memperkuat bonding sekaligus mengajarkan konsep percakapan.
Jadi, jika bayi berkata “ma-ma” atau “ba-ba”, ulangi kembali suara tersebut sambil tersenyum atau memberi kontak mata padanya, ya, Bu.
3. Bernyanyi Bersama
Babbling adalah tanda bayi mau bisa bicara dan kemampuan vokalnya berkembang. Nah, supaya kemampuan babbling dan bicaranya meningkat, coba nyanyikan lagu untuk si Kecil secara rutin.
Lagu dengan nada sederhana, ritme berulang, dan pengulangan kata membantu bayi meniru suara dan mengenali pola bahasa.
Ibu bisa menyanyikan lagu sederhana seperti “Cicak-cicak di Dinding” atau membuat lagu spontan dengan menyebut benda-benda di sekitar.
4. Bacakan Buku Cerita
Komunikasi pada bayi dimulai sejak ia lahir, salah satunya dengan baca buku. Membacakan buku cerita sejak bayi membantu memperkaya kosakata, meski ia belum mampu berbicara.
Pilih buku dengan gambar besar dan warna terang, lalu sebutkan nama benda atau hewan sambil menunjukkannya.
Selain melatih kemampuan bicara, aktivitas ini membantu bayi menghubungkan gambar dan kata serta melatih fokus visual dan auditori.
5. Responsif Saat Bayi Mengoceh
Ketika bayi mulai mengoceh, memberikan respons langsung membantunya memahami bahwa komunikasi itu bermakna.
Ia belajar bahwa setiap suara yang ia keluarkan mendapatkan reaksi dari Ibu, sehingga ia termotivasi untuk lebih banyak bersuara.
Contohnya, ketika si Kecil melihat kuda dan berkata “da!”, Ibu dapat merespons, “Iya, itu kuda ya, Nak. Besar ya kudanya?”
Respons hangat seperti ini membantu bayi menghubungkan bunyi dengan makna dan mempercepat perkembangan bahasanya. Saat Ibu merespons ocehannya, koneksi sosialnya juga ikut terbangun.
Baca Juga: 15 Ide Stimulasi Bayi 4 Bulan agar Cerdas
Tanda-Tanda Keterlambatan Bicara yang Perlu Diwaspadai
Perkembangan bicara bayi berbeda-beda. Namun, sebaiknya Ibu segera konsultasikan kepada dokter jika bayi menunjukkan salah satu kondisi berikut:
- Tidak babbling di usia 7 bulan.
- Tidak merespons suara keras hingga perkembangan bayi 5 bulan.
- Tidak menoleh saat namanya dipanggil.
- Tidak meniru suara sama sekali.
- Belum mengucapkan kata bermakna hingga usia 18 bulan.
- Belum mampu menggabungkan dua kata di usia 2 tahun, seperti “mau susu”, “mama sini”.
- Bayi tidak menunjukkan perkembangan suara sama sekali.
- Tidak melakukan kontak mata.
Kondisi- kondisi di atas bisa menjadi tanda speech delay pada bayi yang perlu diwaspadai.
Jika Ibu butuh saran atau punya pertanyaan seputar kesehatan, tumbuh kembang, dan nutrisi anak, yuk langsung hubungi BebeCare.
Tim careline kami terdiri dari para ahli berlatar belakang keperawatan dan pendidikan gizi yang siap menjadi teman berbagi dan sumber informasi terpercaya untuk Ibu, 24 jam gratis tanpa perlu buat janji!
