Kembali ke Ibu Perlu Tahu

10 Tanda Bayi Kurang ASI dan Cara Menanganinya

Bagi Ibu yang baru melahirkan, memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan adalah fokus utama yang Ibu ingin lakukan semaksimal mungkin. Buk...

4 min
11 May 2022

1 ibu tandai artikel ini bermanfaat

Bagi Ibu yang baru melahirkan, memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan adalah fokus utama yang Ibu ingin lakukan semaksimal mungkin. Bukan tanpa alasan, pemberian ASI selama 6 bulan pertama di awal kehidupan si Kecil terbukti mendukung tumbuh kembangnya yang optimal, sehingga sangat penting mengenali tanda bayi kurang ASI agar segera dapat mengambil solusi.

Tak hanya itu, penelitian juga menunjukkan bayi yang menerima ASI eksklusif selama 6 bulan dapat mencegah risiko kematian bayi.1

Jumlah ASI yang diproduksi oleh setiap ibu mungkin berbeda-beda. Begitu juga jumlah ASI yang diminum oleh si Kecil. Pada si Kecil yang minum ASI sedikit, hal ini dapat memunculkan kekhawatiran pada Ibu apakah ia mendapatkan ASI yang cukup. Terlebih, sulit mengukur volume ASI yang keluar ketika menyusui secara langsung. 

Nah, supaya Ibu tidak lagi kebingungan, berikut beberapa tanda bayi kurang ASI yang bisa dikenali.

1. Frekuensi Buang Air Kecil dan Konsistensi Buang Air Besar

Frekuensi buang air si Kecil dalam sehari dapat menjadi indikator atau tanda bayi kurang ASI yang bisa Ibu amati. Bayi yang baru lahir akan buang air kecil 1-2 kali per hari dalam 12-24 jam pertama kehidupannya.2

Setelah hari ke-5, frekuensi buang air kecilnya menjadi 6-8 kali per hari. Nah, di masa ini, jika si Kecil buang air kecil kurang dari  kali sehari, itu bisa jadi indikator ia kurang ASI.2  

Bayi yang mengonsumsi cukup ASI, tinja pertamanya yang disebut mekonium, akan keluar dalam 24 jam pertama. Kolostrum dalam ASI akan membantu pengeluaran mekonium lebih cepat.2

Mekonium ini akan semakin sedikit dan berubah warna menjadi hijau kecoklatan/hijau kekuningan dalam 3-6 hari. Lebih dari 6 hari, tinja ASI normalnya sudah terbentuk (cair, bau asam, bergas). Tapi, Ibu perlu curiga si Kecil tidak mendapat cukup ASI jika sampai hari ke-5, mekoniumnya masih keluar.

2. Berat Badannya Tak Kunjung Naik

Setelah menginjak umur sekitar 2 minggu dan berat badan si Kecil tidak kembali seperti berat lahir atau tidak naik secara konsisten, Ibu perlu curiga kalau ini pertanda bayi kurang ASI.2 

Di beberapa hari setelah lahir, si Kecil akan kehilangan sebagian berat badannya karena membuang urin dan feses pertama bayi yang berwarna hijau atau dikenal sebagai mekonium. Setelah beberapa hari, feses bayi ini warnanya akan semakin terang hingga berwarna kuning karena minum ASI secara rutin.2

Baca Juga: Mengenal Growth Spurt pada Bayi

Sebagian besar bayi akan kembali ke berat badan awal setelah 2 minggu. Bayi seharusnya tidak kehilangan lebih dari 10% berat lahirnya.2 Jika setelah 3 minggu si Kecil tidak kembali ke berat badan lahirnya, jangan ragu untuk membawa si Kecil ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ya, Bu.

3. Menunjukkan Gejala Dehidrasi

Ibu juga perlu mewaspadai gejala dehidrasi sebagai tanda bayi kurang ASI. Beberapa contoh gejala dehidrasi pada bayi adalah tidak buang air kecil selama beberapa jam, ketika menangis air matanya tidak keluar, terdapat titik cekung pada kepala, lemas, bibir kering, terdapat lingkar hitam di sekitar mata, dan banyak tidur.3

Bayi yang kurang ASI dan dehidrasi akan mengalami waktu tidur yang lebih panjang dan terlihat lesu. Umumnya, bayi baru lahir akan tidur selama 4 jam.3

Jika Ibu mendapati gejala dehidrasi pada bayi, segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya agar dapat segera diatasi.

4. Waktu Menyusui Relatif Singkat atau Terlalu Panjang

Tak ada waktu ideal berapa lama seorang bayi menghabiskan waktu untuk menyusu langsung pada payudara ibu. Rata-rata menghabiskan waktu 30-40 menit, namun ada pula yang lebih sebentar atau lebih lama dari itu. Nah, waktu menyusui ini bisa dipengaruhi oleh pelekatan mulut si Kecil pada payudara ibu, apakah menempel dan mengisap dengan baik pada payudara saat menyusui.4 

Bayi yang posisi mulutnya tidak menempel dengan baik tidak dapat mengisap ASI secara maksimal, alhasil asupan ASI-nya pun berkurang. Tak hanya itu, Ibu pun mungkin akan merasa kesakitan saat menyusui akibat pelekatan yang tidak benar.

Namun, jika mulut bayi menempel dengan benar, selain Ibu merasa nyaman, bibir bayi akan terlipat keluar seperti bibir ikan, serta tidak terdengar suara mendecak hanya bunyi menelan.4

Kalau Ibu masih belum bisa menemukan teknik pelekatan yang sempurna, tak perlu malu untuk berkonsultasi dengan ahli laktasi ya, Bu!

5. Tubuh Bayi Terlihat Kuning

Dalam 1-2 minggu pertama, si Kecil bisa mengalami kuning akibat kadar bilirubin dalam darah meningkat. Bayi kuning umumnya perlu penanganan khusus seperti terapi sinar biru (blue light  therapy).5

6. Mulut dan Mata Bayi Nampak Kering

Salah satu tanda bayi kurang ASI adalah mulut dan mata bayi kering. Jika bayi mengalami hal ini, sebaiknya Ibu segera memberikan ASI yang cukup.

7. Urin Bayi Berwarna Kuning Tua

Tanda bayi kurang ASI selanjutnya bisa dilihat dari warna urin bayi. Umumnya, bayi yang kurang ASI akan mengeluarkan urin berwarna kuning gelap.

8. Feses Bayi Berwarna Gelap

Setelah berusia lima hari, Ibu perlu khawatir jika bayi mengeluarkan feses berwarna gelap. Feses gelap pada bayi bisa menjadi tanda kebutuhan ASI bayi belum tercukupi.

Tetapi Ibu tenang saja, karena bilirubin dapat terbuang dengan sendirinya melalui urin dan kotoran. Normalnya, fase ini hanya berlangsung selama 2-4 hari setelah bayi lahir dan hilang dengan sendirinya setelah umur bayi 2 minggu.5

Jika si Kecil banyak minum ASI, otomatis ia juga akan buang air lebih sering. Hal ini akan mempercepat keluarnya bilirubin keluar dari tubuh dan warna kulitnya terlihat normal dengan segera.

9. Bayi Sulit Menelan

Salah satu tanda bahwa bayi kurang ASI adalah bayi sulit menelan. Hal ini bisa Ibu perhatikan dari leher bayi. Jika bayi meneguk susu, artinya ia dapat menelan dengan baik.

10. Bayi Terlihat Murung

Salah satu tanda bayi kurang ASI adalah bayi terlihat sedih dan murung. Umumnya, bayi yang kurang asupan ASI tidak akan terlihat lebih ceria dibandingkan bayi lainnya.

Bayi kuning bisa disebabkan oleh produksi ASI yang belum banyak pada hari hari pertama. Kurangnya asupan ASI bisa membuat bayi menjadi kuning sampai usianya 2 minggu.6 Ibu bisa langsung membawa si Kecil pergi konsultasi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Nah, jika Ibu merasa ASI yang keluar sedikit, ada beberapa tips yang bisa diterapkan untuk Ibu coba.7:

  • Selalu mengosongkan payudara sesering mungkin. Ibu bisa lebih memaksimalkan produksi ASI dengan rajin memijat, memeras, atau memompa payudara.
  • Mengelola stres dan mengusahakan suasana hati positif untuk memicu hormon oksitosin.7 Misalnya dengan mengonsumsi makanan minuman kesukaan, melakukan hobi, dan lain-lain.7
  • Cukup istirahat.7
  • Konsumsi makanan bergizi.7

Melihat si Kecil tumbuh dengan sehat dan optimal adalah keinginan setiap orang tua. Dengan mendeteksi tanda bayi kurang ASI sedini mungkin, Ibu juga dapat menangani masalahnya sesegera mungkin agar si Kecil dapat menerima nutrisi yang dibutuhkannya. Tetap semangat memberikan ASI untuk si Kecil, ya Bu.


Referensi

  1. Eidelman, Arthur et al. 2012. Breastfeeding and the Use of Human Milk. Diambil dari: https://pediatrics.aappublications.org/content/129/3/e827#sec-23  [Diakses 2 Oktober 2021]
  2. Eveline. 2017. ASI SAYA KURANG? Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/asi-saya-kurang  [Diakses 2 Oktober 2021]
  3. Hoxha, Teuta et al. 2015. Performance of Clinical Signs in the Diagnosis of Dehydration in Children with Acute Gastroenteritis. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4384849/#sec1-3title  [Diakses 2 Oktober 2021]
  4. Suradi, Rulina. 2013. Posisi dan Perlekatan Menyusui dan Menyusu yang Benar. Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/posisi-dan-perlekatan-menyusui-dan-menyusu-yang-benar  [Diakses 2 Oktober 2021]
  5. Eveline. 2017. BAYI SAYA KUNING, BERAT BADANNYA TURUN. APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN?. Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/bayi-saya-kuning-berat-badannya-turun-apa-yang-harus-saya-lakukan  [Diakses 2 Oktober 2021]
  6. Rulina Suradi dan Debby Letupeirissa. 2013. Air Susu Ibu dan Ikterus. Diambil dari: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/air-susu-ibu-dan-ikterus. [Diakses 29 Oktober 2021]
  7. Prawindarti, Lianita. 2016. LOW MILK SUPPLY – Bagaimana Memahami dan Menyikapinya?. Diambil dari: https://aimi-asi.org/layanan/lihat/low-milk-supply-bagaimana-memahami-dan-menyikapinya  [Diakses 2 Oktober 2021]


Artikel Terkait