Mengenal Tahapan Perkembangan Emosional Anak Usia Balita

5 Tahap Perkembangan Emosional Anak Balita 1-5 Tahun

detail-fb detail-wa detail-twitter

Fakta menarik: 90% perkembangan otak terjadi dalam 3 tahun pertama usia anak. Menariknya lagi, pengalaman emosi dan sosial si Kecil ternyata berperan sangat besar dalam membentuk struktur otak1. Ikatan kasih sayang antara Ibu dan si Kecil di awal masa kanak-kanak sangatlah krusial bagi perkembangan emosional anak, yang akan berdampak pada pembentukan struktur otaknya1.

Pahami Perkembangan Emosional Anak Balita Pada Tiap Tingkat Usia

Perkembangan emosional anak hingga usia tiga tahun adalah pondasi untuk perilaku, kemampuan belajar, dan kesehatan si Kecil nantinya1 . Perkembangan emosional adalah tahap perkembangan anak untuk memahami segala bentuk emosi. Pemahaman emosi serta kemampuannya mengatur emosi juga berdampak pada kesuksesan anak dalam bidang akademik. Untuk itu, Ibu perlu memahami dulu perkembangan emosional anak sedari balita, serta bagaimana cara mengatasi emosi yang berlebihan. Inilah beberapa tahap perkembangan emosional anak usia dini:

Tahap Perkembangan Emosi Anak Usia Dini: 12 Bulan

Tahap perkembangan emosi anak usia dini 12 bulan, umumnya anak usia dini sudah bisa berjalan. Ia pun mulai mandiri dan makin tertarik untuk mengeksplorasi lingkungannya2. Tantangannya, mereka bisa terjatuh karena keseimbangan tubuhnya belum terlalu baik3. Dan meski rasa mandiri membuat mereka bangga, di saat yang bersamaan mereka pun kadang merasa takut. Bagi mereka, dunia kadang terasa berbahaya dan tidak bisa diprediksi2,3. Untuk itu, buatlah ia merasa aman dan berhati-hati saat bereksplorasi3.

Tahap perkembangan emosi anak usia dini ini pun menandakan bahwa anak mulai menyadari eksistensi dirinya: ia seorang individu yang berbeda dengan orang lain3. Ia juga makin komunikatif, lho, Bu. Terbukti dengan kemampuannya yang sudah bisa meminta dengan cara menunjuk-nunjuk, protes, atau cari perhatian. Hal ini kadang dilakukan si Kecil untuk menguji konsistensi kita. Maka tetapkanlah aturan dan batas yang jelas2

Tahap Perkembangan Emosi pada Anak Usia 18 Bulan

Perkembangan emosi anak usia dini, tepatnya di usia 18 bulan, anak akan mulai menunjukkan perubahan perilaku yang bertolak belakang dalam waktu singkat2,3.  Dalam tahap perkembangan emosi pada anak usia 18 bulan, anak bisa tiba-tiba saja ia bisa menjadi sangat agresif, padahal mungkin 5 menit sebelumnya anteng bermain. Dari yang senang membantu, mendadak menunjukkan sikap keras kepala. Inilah cara mereka mengekspresikan perasaan dan belajar untuk mengendalikannya. Agar lebih ‘sukses’ dalam membantu mengendalikan emosinya, Ibu bisa  mengajarkan sebuah pemainan, lagu, atau membacakan sebuah cerita yang berkaitan dengan emosi dan perasaan3.

Di usia ini pula tantrum mulai muncul2,3. Ini memang sangat menguras emosi, tapi ternyata, tantrum membantu anak untuk melepaskan ketegangan. Bagaimana ya cara mengatasi emosi yang berlebihan pada anak? Kuncinya, tetaplah tenang, jangan terpancing emosi. Jangan selalu berikan anak apa yang ia minta, karena ia akan mengulangi pola yang sama. Saat si Kecil tantrum, ajaklah ia berbicara (ingat, jangan emosi ya, Bu). Bantu ia mengidentifikasikan perasaan yang tengah melandanya, sehingga ia bisa menerima perasaan negatif tersebut.

Tidur cukup, jadwal makan teratur, dan menghabiskan waktu hanya bersama si Kecil bisa mengurangi tantrum. Sebaliknya, rangsang sensorik yang berlebihan misalnya belanja ke supermarket, bisa memicu anak untuk lebih tantrum3.

Perkembangan Emosi Anak Usia 2 Tahun

Di usia ini, tantangan pun makin bertambah. Mungkin Ibu menyadari, si Kecil mulai tidak menurut, bersikap agresif, dan sering berkata “tidak”. Jika anak sering mengucapkannya, pahamilah perasaan, tujuan, dan pikiran anak tersebut. Jangan terpancing, respons saja sikap negatif ini dengan tanggapan positif, seperti memberikan kata-kata yang menenangkan. Ini merupakan sebuah ‘penghargaan’ di mata anak6.  Setelahnya, ajak bicara si Kecil mengapa ia berperilaku kurang baik. Tenang Bu, pujian tidak akan membuat anak menjadi manja.

Baca Juga: Cara Mengendalikan Emosi Anak dengan Tepat

Tahap Perkembangan Emosional Usia 3 – 4 Tahun

Usia 3 tahun, si Kecil makin senang bermain dengan teman sebaya, dan makin merasa nyaman dengan dirinya3. Di sisi lain, ia juga bisa bersikap agresif ke teman sepermainannya, misalnya dengan merebut mainan. Tanyalah si Kecil mengapa ia melakukan hal itu, dan ajarkan dia untuk berbagi mainan, sambil meyakinkannya bahwa ia akan mendapatkan mainan itu kembali nanti2.

Saat si Kecil bersikap agresif, perintahkan dengan singkat untuk berhenti melakukan tindakannya. Tunggu 5 detik, bila anak tidak menurut, minta ia untuk time out dan menenangkan diri. Waktu time out untuk anak usia 3 tahun adalah sekitar 3 menit, dan 4 menit untuk usia 4 tahun. Yang pasti, time out tidak selesai sebelum ia tenang. Setelah selesai, pujilah ia karena berhasil menenangkan diri, dan ulangi perintah kita2.

Beri konsekuensi bila anak berperilaku negatif, apalagi bila sudah berulang. Misalnya jika ia bermain bola di dalam rumah hingga perabotan berantakan, maka beritahukan mengapa itu salah dan ajaklah untuk bermain di taman. Tidak perlu mengatakannya dengan emosi karena bisa membuat si Kecil merasa sedih. Itu akan terlihat dari responnya saat  saat ia menuruti perintah kita2.

Tahapan Perkembangan Emosi Masa Pra Sekolah

Usia 5 tahun adalah masa pra sekolah sebelum ia masuk SD. Maka, Ibu perlu membantu kesiapan si Kecil untuk bersekolah. Ibu bisa membimbingnya untuk mengembangkan kemampuan emosional, serta menumbuhkan motivasi belajar dan kemampuan intelektualnya. Ajarkan ia untuk bersabar menunggu giliran, tekankan pentingnya menaati aturan, dan ajaklah si Kecil untuk memahami pendapat orang lain sehingga sikap agresifnya bisa berkurang2.

Itulah tahap perkembangan emosi anak usia dini. Mendidik anak untuk memiliki sikap positif memang cukup menantang. Tapi jangan menyerah dan buatlah proses ini menjadi lebih menyenangkan dengan selalu menyuguhkan segelas susu favorit si Kecil. Ibu bisa memberikan susu  Bebelac 3 , yang diperkaya DHA, omega 3 dan 6 untuk mendukung pertumbuhan sel-sel otaknya.


Referensi

 

1.       Donna K Housman. (2017). The importance of emotional competence and self-regulation from birth: a case for the evidence-based emotional cognitive social early learning approach. Retrieved from:  https://link.springer.com/article/10.1186/s40723-017-0038-6 [Diakses 22 November 2020].

2.       Cara Dosman dan Debbi Andrews. (2012). Anticipatory guidance for cognitive and social-emotional development: Birth to five years. Retrieved from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3299350/ [Diakses 22 November 2020].

3.       Northamptonshire. Emotional Milestones in the Early Years from birth - 5 years. Retrieved from: https://www.northamptonshire.gov.uk/councilservices/children-families-education/early-years/Documents/Emotional%20Milestone%20in%20the%20early%20years.pdf [Diakses 22 November 2020].

4.       White, L., Delaney, R., Pacifici, C., Nelson, C., Dickinson, S. L., & Golzarri-Arroyo, L. (2019). Understanding and Parenting Children's Noncompliant Behavior: The Efficacy of an Online Training Workshop for Resource Parents. Children and youth services review, 99, 246–256. Retrieved from:  https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2019.01.045 [Diakses 22 November 2020].

Tag