bintik merah pada bayi

5 Penyebab Bintik Merah pada Bayi, Tak Selalu Alergi

detail-fb detail-wa detail-twitter

Bintik merah pada bayi sering kali selalu dianggap karena alergi. Namun ternyata, tidak selalu, lho, Bu, karena ada banyak penyebab lainnya. Mulai dari yang ringan, hingga yang berpotensi menjadi berat. Yuk, kita kupas lebih dalam!

5 Penyebab Bintik Merah pada Bayi

Gangguan kulit seperti bintik merah pada bayi, termasuk kondisi yang sering terjadi. Umumnya ringan, tapi ada juga yang berat. Untuk mengetahui penyebab bintik merah pada bayi, tentu harus ke dokter. Namun Ibu bisa mengenali tanda, gejala, dan kondisi lain yang menyertai bintik merah pada bayi, sehingga bisa memberi si Kecil pertolongan pertama yang tepat.

Ruam Susu

Ruam susu, eksim susu, atau dermatitis atopi adalah gangguan kulit yang paling sering dialami bayi dan anak. Bintik merah pada bayi akibat eksim susu biasanya muncul di kedua pipi, lipatan siku, dan lipatan lutut. Ruam merah disertai gatal, kulit menebal, kering bahkan bisa sampai bersisik, lecet karena sering digaruk, dan akhirnya menjadi gelap kehitaman1. Penyakit ini bersifat kronis; artinya akan berlangsung dalam jangka panjang.

Eksim susu bukanlah disebabkan oleh bekas susu yang menempel di pipi si Kecil, melainkan karena ia memiliki gangguan pada lapisan pelindung kulit. Alhasil kulitnya cenderung kering, mudah gatal, dan sensitif. Gesekan dengan bahan tertentu seperti wol dan renda, bisa memicu eksim kambuh. Demikian pula paparan suhu yang terlalu dingin atau panas. Bila si Kecil memiliki eksim susu, Ibu perlu menjaga kelembapan kulitnya dengan mengoleskan pelembap segera setelah mandi1.

Ruam Popok

Lain ruam susu, lain pula ruam popok. Ruam popok juga termasuk gangguan kulit yang paling sering dialami bayi. Ruam popok umumnya terjadi karena meningkatnya kelembapan di area popok, dan kulit bayi bersentuhan dengan urin atau feses dalam waktu lama, sehingga kulit meradang. Bintil merah pada bayi akibat ruam popok bisa disertai bentol, sisik, dan lecet pada kulit di sekitar paha, selangkangan, dan pantat2.

Untuk mengatasi ruam popok, tentu saja kebersihan area popok si Kecil harus selalu dijaga ya Bu. Disarankan menggunakan pembersih yang tidak mengandung sabun. Setelahnya, jangan lupa mengoleskan krim untuk ruam popok. Krim bekerja sebagai emolien, yang membantu memperbaiki fungsi lapisan pelindung kulit, melapisi kulit sehingga tidak langsung bersentuhan dengan permukaan popok, mengatasi iritasi, serta mencegah kulit menjadi terlalu lembap2. Bawa si Kecil ke dokter bila ruam popok tak kunjung sembuh ya Bu. Bisa jadi ada infeksi bakteri atau jamur, yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Alergi

Alergi adalah hal yang paling sering dicurigai sebagai penyebab bintik merah pada bayi. Ibu mungkin bingung, apa bedanya alergi dengan ruam susu. Pada ruam susu (dermatitis atopik), bintik merah terjadi karena reaksi hipersensitivitas (reaksi berlebihan dari daya tahan tubuh pada kulit, yang diperantarai oleh salah satu komponen daya tahan tubuh yaitu immunoglobulin E (IgE). Sedangkan alergi merupakan reaksi hipersensitivitas tapi tidak selalu diperantarai oleh IgE3.

Alergi bisa berupa alergi makanan, debu, bulu binatang, dan lain-lain. Bintik merah akibat biasa disebut biduran, gejalanya ruam tampak merah, gatal, dan bengkak atau bentol. Selain pada kulit, reaksi alergi ini bisa muncul dengan gejala yang berbeda, misalnya si Kecil jadi pilek, bersin-bersin, batuk-batuk, atau diare. 

Pada alergi, ruam muncul bila si Kecil terpapar alergen atau pemicu alergi. Penting memeriksakan si Kecil ke dokter untuk mengetahui penyebab alerginya. Untuk mencegah alergi kambuh, tentu penyebabnya harus dihindari.

Biang Keringat

Penyebab lain yang sering menyebabkan bintik merah pada bayi, apa lagi kalau bukan biang keringat (miliaria). Biang keringat terjadi akibat keringat yang berlebihan, tapi pori-pori kulit tersumbat oleh lapisan kulit ari yang sudah mati tapi tidak lepas sebagaimana mestinya. Keringat yang tidak bisa keluar akhirnya berkumpul, dan terbentuklah lepuhan kecil-kecil di kulit. Kadang, muncul pula bintil merah yang gatal. Biang keringat biasanya muncul di dahi, leher, dada, bahu, punggung, dan daerah lipatan pada kulit4.

Mengobati biang keringat, tubuh si Kecil harus dijaga selalu bersih dan kering. Segera ganti baju si Kecil bila ia berkeringat. Keringkan buang keringat dengan waslap yang dibasahi air hangat. Setelah itu, biarkan si Kecil tidak memakai baju dulu sebentar, hingga kulit dan lipatan tubuhnya kering sendiri. Ibu bisa memberi sedikit bedak pada punggung dan dada si Kecil. Pakaikan si Kecil baju berbahan adem dan nyaman4.

Meningitis

Meningitis atau radang selaput otak bisa menimbulkan gejala bintik merah di kulit. Ruam terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di bawah kulit. Umumnya diawali di pergelangan tangan, dan kaki, lalu menyebar ke wajah dan badan6.

Gejala meningitis lainnya yang khas yaitu demam, nyeri atau kaku leher, dan tidak tahan terhadap cahaya. Umumnya juga disertai sakit kepala, pusing, kebingungan, mengigau, cepat marah, dan mual atau muntah. Pada bayi, gejalanya lebih samar. Bisa ada atau tidak ada demam, hipotermia, penurunan nafsu makan atau minum, atau rewel7.

Meningitis jika tidak ditangani segera bisa mengancam nyawa si Kecil. Perhatikan dengan seksama tanda dan gejalanya ya, Bu. Terlebih bila si Kecil tidak mendapat vaksin untuk penyakit yang juga bisa menyebabkan meningitis seperti HiB (Haemophilus influenza type B), PCV (pneumokokus), campak, dan cacar7.

Kini Ibu sudah bisa mengenali penyebab dari bintik merah pada bayi, kan? Tidak perlu langsung panik, tapi tetap harus waspada. Lakukan langkah pertolongan pertama dengan tepat. Jika gejalanya tidak membaik, segera konsultasikan ke dokter, ya, Bu! Tidak lupa lengkapi nutrisi anak yang tepat dan lengkap. Dengan demikian, Ibu bisa membantu si Kecil memiliki saluran cerna yang hebat serta daya pikir dan pertumbuhan yang optimal. Informasi lain tentang kesehatan anak, Ibu bisa baca di sini.

 


Referensi:

  1. Zakiudin Munasir, Karina Komala. (2014). Pentingnya Perawatan Kulit pada Anak dengan Dermatitis Atopik. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-perawatan-kulit-pada-anak-dengan-dermatitis-atopik [Diakses 21 Februari 2021]
  2. Anthonella B. Benitez Ojeda, Magda D. Mendez. (2020). Diaper Dermatitis. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559067/ [Diakses 21 Februari 2021]
  3. Cassim Motala, Alessandro Fiocci. (2011). Cow’s Milk Allergy in Children. Diambil dari https://www.worldallergy.org/education-and-programs/education/allergic-disease-resource-center/professionals/cows-milk-allergy-in-children#:~:text=It%20is%20primarily%20because%20of,linked%20to%20a%20food%20allergy.&text=Cow's%20milk%2C%20hen's%20egg%2C%20and,the%20foods%20most%20frequently%20involved. [Diakses 10 Maret 2021]
  4. Carlos Lifschitz, Hanida Szajewska. (2015). Cow’s milk allergy: evidence-based diagnosis and management for the practitioner. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4298661/ [Diakses 19 Februari 2021]
  5. Arianna Giannetti, et al. (2019). Influence of Atopic Dermatitis on Cow’s Milk Allergy in Children. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6723735/ [Diakses 10 Maret 2021]
  6. Rini Sekartini. (2012). Miliaria, Mengenal dan Mencegahnya. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/miliaria-mengenal-dan-mencegahnya [Diakses 21 Februari 2021]
  7. Jean Tsai, et al. (2013). Skin Rash in Meningitis and Meningoencephalitis. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3719428/ [Diakses 21 Februari 2021]
  8. 8.     Kenadeed Hersi, et al. (2020). Meningitis. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459360/#:~:text=Symptoms%20typically%20include%20fever%2C%20neck,seizures)%20portend%20a%20poor%20prognosis. [Diakses 21 Februari 2021]