perkembangan-kognitif-anak-usia-dini

Perhatikan Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini agar Sukses

detail-fb detail-wa detail-twitter

Seorang anak memiliki tahapan perkembangan yang pesat mulai dari fisik maupun kognitifnya. Sama pentingnya dengan perkembangan fisik yang kasat mata, perkembangan kognitif anak usia dini juga patut menjadi fokus Ibu dan Ayah. Kemampuan kognitif ini berkembang begitu cepat di tahun-tahun awal kehidupan si Kecil, antara usia 1–5 tahun.

Perkembangan kognitif bisa diartikan sebagai perkembangan kemampuan berpikir, serta perubahan kemampuan mental/intelektual. Perkembangan ini antara lain meliputi kemampuan untuk memahami sesuatu, memecahkan masalah, membuat pertimbangan, menciptakan, membuat kategori, mengingat, dan merencanakan1,2. Kemampuan kognitif yang baik bisa menjadi fondasi dari kemampuan belajar si Kecil yang nantinya dukung ia meraih kesuksesan.

Manfaat Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

Kemampuan kognitif pada masa kanak-kanak turut berperan dalam pencapaian pendidikan hingga pekerjaan pekerjaan di masa mendatang3. Namun, tentu saja, kemampuan kognitif bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kesuksesan anak kelak. Kemampuan ini juga harus didukung dengan pendidikan yang baik untuk si Kecil3.

Menurut psikolog asal Swiss Jean Piaget, perkembangan kognitif anak terdiri dari beberapa tahap yang berbeda4. Itu sebabnya kita perlu mendukung perkembangan kognitif anak usia dini hingga ia besar. Berikut beberapa tahapan tersebut.

1. Perkembangan Otak Anak Usia 1–2 tahun

Ini adalah tahap perkembangan sensorimotor, saat si Kecil belajar mengenai sebab-akibat, dan keabadian objek. Perkembangan otak anak usia 2 tahun dapat dilihat melalui panca indra dan kemampuan motoriknya, anak belajar mengenai lingkungan sekitar dan cara mendapatkan sesuatu melalui tindakan. Misalnya, si Kecil belajar bahwa menangis akan membuat Ibu segera menggendongnya.

Agar perkembangan kognitif di usia ini maksimal, Ibu bisa melakukan berbagai stimulasi yang merangsang panca indra dan kemampuan motorik si Kecil. Sebagai contoh, Ibu dapat memberinya mainan dengan warna mencolok7. Biarkan ia menyelidiki mainannya, dengan cara menggoyang-goyangkan kerincingan sehingga muncul bunyi. Ini akan membuat anak belajar mengenai proses sebab-akibat5.

Selain itu, si Kecil juga antusias mencari benda yang disembunyikan6. Permainan ini masih berhubungan dengan konsep keabadian benda. Ibu bisa mengajak si Kecil mencari bola merah yang disembunyikan di sebuah keranjang. Seiring bertambahnya usia anak, Ibu dapat melakukan stimulasi yang lebih beragam. Misalnya, dengan memberinya buku cerita bergambar, musik, alat gambar, serta permainan pura-pura seperti boneka6.

Baca Juga: Perkembangan Motorik Anak Usia 3 Tahun

2. Usia 3–4 tahun

Tahap praoperasional ini adalah tahap perkembangan kognitif dengan rentang waktu yang sangat panjang, yaitu sejak usia balita menuju usia prasekolah. Pada tahap ini, si Kecil mulai bisa mengembangkan bahasa dan pola pikir simbolik5. Saat yang tepat untuk mengenalkan konsep menyayangi dengan kata-kata dan tindakan seperti memeluk.

Baca Juga: Perkembangan Anak 4 Tahun dan Stimulasi yang Tepat

Di tahap usia ini, si Kecil juga mulai belajar meniru dan berpura-pura5. Nah, Ibu dapat melakukan stimulasi melalui permainan seperti lego, puzzle, mainan alat transportasi, boneka, dan bermain pasir6. Untuk merangsang imajinasinya, ajak si Kecil untuk bermain membangunrumah dengan mainan alat konstruksi seperti buldoser.

Disebut juga sebagai usia prasekolah, Ibu bisa mulai mengajari si Kecil membaca dan berhitung. Belajar membaca bisa diawali dengan mengenalkan huruf dengan media seperti flash card secara rutin. Sementara keterampilan berhitung bisa dimulai dengan mengenalkan angka 1 digit, dan mengelompokkan benda menurut warna atau bentuknya. Nah, untuk pre-writing skill, Ibu bisa mengajaknya melakukan aktivitas seperti menarik garis lurus, menghubungkan titik-titik, dan mewarnai7.

Kemudian di usia 4-5 tahun, Ibu bisa mengajak si Kecil berhitung sampai 20 menggunakan alat bantu seperti kancing, menghitung loncat, meneruskan deret yang makin rumit, dan mengelompokkan benda menjadi tiga kelompok atau lebih dengan lebih dari satu sifat. Misalnya lingkaran merah kecil, balok kuning besar, dan sebagainya7.

3. Usia 5–6 tahun

Masih di tahap praoperasional, anak mulai dapat menggunakan pemikiran logis untuk menyelesaikan masalah. Penalarannya pun makin berkembang5. Di tahap ini, Ibu bisa merangsang perkembangan kognitifnya dengan permainan yang banyak menggunakan nalar, usaha berpikir, dan kreativitas. Misalnya board games berupa monopoli, ular tangga, congklak, bekel, hingga catur6. Asyiknya, permainan-permainan ini bisa dilakukan kapan saja di rumah bersama keluarga dan saudara.

Di usia ini juga, kemampuan membaca si Kecil sudah sangat baik. Ibu bisa mendukungnya dengan menyediakan buku bacaan yang bervariasi, baik fiksi maupun non-fiksi. Ajak anak untuk memilih dan membaca buku dengan suara nyaring disertai ekspresi, serta mendiskusikan isi buku, tokoh, latar belakang, dan peristiwa dalam buku7.

Setelah mengetahui beberapa tahap perkembangan kognitif anak di atas, saatnya Ibu dan Ayah mendampingi si Kecil di setiap tahapan tersebut. Dampingi anak dengan sabar dan beri kesempatan kepadanya untuk bertanya dan eksplor tentang berbagai hal. Dengan pendampingan dari Ibu dan Ayah, perkembangan kognitif anak bisa optimal.

Selain dukungan dari orang tua, perkembangan kognitif anak usia dini hingga remaja bisa Ibu lengkapi dengan memenuhi kebutuhan nutrisinya. Berikan asupan bergizi baik makanan utama maupun camilan hariannya.

Tidak lupa, berikan Bebelac 5 sebagai susu favoritnya setiap hari. Bebelac 5 dilengkapi minyak ikan yang kaya akan omega-3 dan omega-6, serat pangan inulin, serta berbagai vitamin dan mineral. Nutrisi-nutrisi yang baik ini bisa mendukung saluran cerna baik (happy tummy), sehingga suasana hatinya terjaga (happy heart), dan bisa berpikir optimal saat menjalani setiap tahap perkembangan kognitif yang akan menjadi bekalnya meraih kesuksesan di masa depan.


Referensi

  1. Siegler, R. (2021). Cognitive Development in Childhood. Diambil dari  https://nobaproject.com/modules/cognitive-development-in-childhood [Diakses 26 Agustus 2021]
  2. California Department of Education. (diulas terakhir 2021). Cognitive Development Domain. Diambil dari https://www.cde.ca.gov/sp/cd/re/itf09cogdev.asp [Diakses 26 Agustus 2021]
  3. Scott M. Hofer, Sean Clouston. (2014). Commentary: On the Importance of Early Life Cognitive Abilities in Shaping Later Life Outcomes. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4188394/
  4. [Diakses 26 Agustus 2021]
  5. University of Minnesota. (2015). Introduction to Psychology. Diambil dari  https://open.lib.umn.edu/intropsyc/chapter/6-2-infancy-and-childhood-exploring-and-learning/ [Diakses 27 Agustus 2021]
  6. Fatima Malik, Raman Marwaha. (2021). Cognitive Development.  Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537095/ [Diakses 26 Agustus 2021]
  7. Bernie Endyarni Medise. (2017). Pemilihan Mainan Anak sesuai Fase Perkembangan. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/cerdas-memilih-mainan-anak [Diakses 26 Agustus 2021]
  8. Amanda Soebadi. (2013). Perkembangan Literasi Anak. Diambil dari  https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perkembangan-literasi-anak [Diakses 26 Agustus 2021]
Tag