10 Cara Mengatasi Rasa Malas Belajar si Kecil Tanpa Marah-Marah

Setiap orang tua tentu ingin tahu bagaimana cara mengatasi malas belajar anak agar si Kecil selalu termotivasi dan semangat mempelajari ...

Ditulis oleh : Tim Penulis

Ditinjau oleh : Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH

4 min
11 Jun 2024
Profile Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH
cara mengatasi malas belajar


Setiap orang tua tentu ingin tahu bagaimana cara mengatasi malas belajar anak agar si Kecil selalu termotivasi dan semangat mempelajari hal baru. Apalagi saat si Kecil mulai bosan dengan pelajaran-pelajaran yang ia terima di preschool. Yuk, cari tahu dulu kenapa anak bisa ogah-ogahan belajar dan cara yang bisa Ibu lakukan untuk memotivasi anak agar rajin belajar!

Penyebab Anak Malas Belajar

Children are born learners, Bu! Sejak terlahir di dunia, anak secara alami memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk belajar banyak hal. Bahkan, pada periode 5 tahun pertama kehidupannya, otak si Kecil sangat responsif terhadap segala bentuk stimulasi dan pembelajaran baru. 

Setiap stimulus dan informasi yang didapatkan dari proses interaksi si Kecil dengan lingkungan maupun orang-orang di sekitarnya akan membantu membentuk koneksi antar sel saraf otak (sinapsis). Proses belajar yang berulang akan mendukung proses duplikasi dan penguatan koneksi antar sel saraf ini, sehingga lama kelamaan semua informasi baru yang ia dapatkan akan menjadi pengetahuan permanen.

Namun, proses pembelajaran yang terlalu sering diulang dengan cara yang sama juga dapat membuat si Kecil bosan sehingga akhirnya merasa malas untuk belajar.

Selain karena bosan, ada beberapa faktor lain yang dapat membuat si Kecil malas belajar, Bu. Berikut di antaranya: 

  • Cara mengajar yang digunakan kurang tepat sehingga si Kecil kehilangan minat belajar. Dikenal juga dengan istilah not-learning.  

  • Kegiatan belajar terlalu monoton sehingga anak bosan. 

  • Lingkungan tidak kondusif untuk belajar. 

  • Ada masalah sosial di lingkungan sekolah atau keluarga. Contohnya, di sekolah si Kecil merasa terintimidasi karena perundungan. Sedangkan, di rumah si Kecil sering melihat hubungan orang tua tidak harmonis. 

Cara Mengatasi Malas Belajar pada Anak 

Ibu tentu merasa sedih ketika si Kecil menunjukkan perilaku malas belajar. Namun hal yang paling pertama yang bisa Ibu perhatikan sebelum mengajaknya kembali belajar adalah kondisinya. Apakah si Kecil memang sudah siap belajar? Jika fisik dan psikisnya siap, ia tentu akan lebih semangat belajar. Siap di sini, Bu, artinya, anak tidak belajar dalam keadaan mengantuk, lapar, lelah, sedang sakit, atau merasa marah, apalagi sedih.

Setelah itu, Ibu bisa coba beberapa cara ini untuk memotivasi anak agar rajin belajar:  

1. Kenali Gaya Belajar Anak

Sebaiknya jangan langsung menganggap si Kecil malas jika ia tampak ogah-ogahan belajar. Bisa jadi ia tidak minat karena metode pembelajaran yang diterapkan di rumah atau di sekolahnya kurang sesuai dengan dirinya.

Setiap anak memiliki gaya belajar masing-masing, dan sebagai orang tua Ibu diharapkan mengenal dan memahaminya dengan baik untuk memudahkan Ibu ketika mendampinginya belajar di rumah.

Umumnya, gaya belajar anak terbagi atas tiga jenis, yaitu auditori, visual, dan kinestetik:

  • Auditori: anak dengan gaya belajar auditori biasanya lebih suka belajar dengan mendengar. Mendengar membantu si Kecil lebih mudah memahami konsep dan mengingat apa yang sudah dijelaskan.

  • Visual: Si Kecil dengan gaya belajar visual akan lebih mudah menyerap informasi dengan menonton atau menyaksikan, misalnya membaca buku cerita bergambar, menonton video tutorial di Youtube, atau melihat gambar ilustrasi. Saat mendengar penjelasan guru, anak visual umumnya senang mencoret-coret (doodling) untuk menekankan informasi yang dianggapnya penting.

  • Kinestetik: anak yang gaya belajarnya kinestetik akan lebih peka menerima informasi baru melalui gerakan ataupun aktivitas, misalnya dengan menyentuh atau melakukan eksperimen langsung. Anak kinestetik juga cenderung menggunakan bahasa tubuh untuk menjelaskan sesuatu. Ia senang bergerak ke sana kemari ketika sedang berbicara, mendengar, bahkan menghafal.

Baca juga: 10 Cara Seru Ajak Anak Belajar Mengenal Warna

2. Tumbuhkan Semangat Belajar Lewat Bermain

Belajar sambil bermain bisa jadi satu cara untuk membuat anak termotivasi, Bu, karena si Kecil bisa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya. Ada begitu banyak jenis permainan yang bisa Ibu lakukan bersama si Kecil sesuai dengan gaya belajarnya.

Misalkan, si Kecil memiliki gaya belajar kinestetik akan lebih suka ketika diberi kesempatan “learning by doing”. Oleh karena itu, Ibu dapat mengajak si Kecil melakukan eksperimen nyata, dengan bermain peran, mencoba mencampurkan dua warna berbeda untuk menghasilkan sebuah warna baru, atau bahkan bermain balok susun dan mainan bongkar pasang lainnya. Permainan-permainan ini bisa merangsang si Kecil berpikir kreatif saat belajar. 

Sementara untuk anak yang gaya belajarnya auditori, Ibu bisa mengajaknya belajar dengan membacakan buku, menghafal dengan nada lagu, atau mendengarkan podcast. Ketika bercerita, Ibu bisa melakukannya seperti sedang mendongeng, lengkap dengan permainan mimik dan intonasi suara. 

Namun, jangan berhenti di sekadar mendengarkan saja. Ibu bisa mengajak si Kecil berdiskusi mengenai materi yang dipelajarinya setelah selesai bercerita. Coba ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetes apakah si Kecil sudah memahami apa yang dijelaskan sebelumnya. 

3. Pancing Rasa Penasaran Anak

Ketika si Kecil terlihat ogah-ogahan diajak belajar, Ibu bisa coba pancing rasa penasarannya. Rasa penasaran adalah pondasi yang dapat Ibu gunakan untuk membuat si Kecil tertarik mempelajari sesuatu yang baru. 

Misalnya dengan tiba-tiba bertanya, “Kenapa, ya, bunglon warnanya bisa berubah-ubah?” atau “Dik, tahu nggak sih kenapa pelangi itu munculnya cuma setelah hujan?”

Tunjukkanlah ekspresi “penasaran” atau “bertanya-tanya” dengan jelas dan antusias ketika berhadapan dengan si Kecil. 

Baca Juga: 10 Cara Belajar Membaca lewat Lagu untuk si Kecil

4. Manfaatkan Hal-Hal di Sekitar

Materi pembelajaran bisa Ibu dapat dari mana saja. Ada begitu banyak sumber ilmu yang bisa diakses Ibu dan si Kecil untuk memperkaya pengetahuan, misalnya lewat alam sekitar ataupun kejadian sehari-hari.

Saat cuaca sedang mendung, misalnya, coba ajak si Kecil keluar rumah memperhatikan tanda-tanda akan turun hujan, penyebab turunnya hujan, hingga penyebab petir yang muncul saat hujan. 

Atau, Ibu juga bisa mengajak si Kecil memperhatikan daun-daun serta rerumputan di taman. Perlihatkan setiap bentuk dan warna rumput bisa berbeda dan tak ada yang sama persis satu sama lain.

Kemudian ajak si Kecil mencari tahu lebih lanjut lewat video di YouTube, apa yang menyebabkan daun-daunan itu berubah warna, kering, dan kemudian gugur.

Tak ada salahnya Ibu menstimulasi kognitif, fisik, sosial emosional si Kecil agar semakin tumbuh hebat lewat flash card eksklusif Belajar di Rumah secara gratis! 

5. Sesuaikan dengan Kelompok Usia Anak 

Belajar penjumlahan mungkin masih terlalu sulit untuk anak usia 1 tahun, sedangkan belajar menyelesaikan potongan puzzle berpotongan besar mungkin terlalu mudah bagi anak usia 4 tahun. 

Ibu, materi yang terlalu sulit dan tidak dapat dimengerti dapat menurunkan motivasi dan kepercayaan diri si Kecil untuk belajar. Sedangkan materi yang terlalu mudah dapat membuat mereka merasa bosan. 

Apabila hal ini terjadi secara terus-menerus bukan tidak mungkin ia jadi malas-malasan saat diajak belajar. Oleh karena itu, pastikan Ibu memberikan materi belajar sesuai dengan kelompok usia dan kemampuan anak. 

Baca juga: Ini Dia 3 Tahapan Belajar Baca Anak Sesuai Usia

6. Mengatur Waktu Belajar yang Efektif

Tahukah Ibu? Anak usia dini masih memiliki rentang fokus yang pendek. Jadi, si Kecil tidak bisa fokus pada hal dalam waktu yang terlalu lama. Jadi, wajar jika setelah itu ia merasa malas untuk belajar.

Untuk menyiasati hal ini, Ibu perlu menyesuaikan waktu belajar si Kecil dengan rentang fokus kelompok usianya. Berikut adalah rata-rata rentang fokus anak sesuai kelompok usianya:

  • Usia 2 tahun : 4-6 menit

  • Usia 3 tahun : 6-8 menit

  • Usia 4 tahun : 8-12 menit

  • Usia 5-6 tahun : 12-18 menit

Dengan memperhatikan rentang fokus si Kecil, Ibu dapat menyusun kegiatan belajar yang lebih efektif. Misalkan, untuk anak usia 2 tahun, Ibu dapat mengajaknya belajar menggambar selama 5 menit. 

Apabila durasi fokusnya sudah habis, selingi waktu belajar si Kecil dengan aktivitas lain seperti makan camilan, peregangan badan, bernyanyi, menari, tidur siang, quiet time, atau biarkan ia melakukan hal-hal yang disukai selama kurang lebih 10 menit.

Kemudian, Ibu bisa melanjutkan dengan proses pembelajaran selanjutnya seperti mengenal warna, mengenal bentuk, dan lain sebagainya. 

Untuk anak-anak yang lebih besar dan sudah mulai masuk sekolah, idealnya mereka memiliki waktu istirahat sekitar 30 menit sebelum melanjutkan proses belajar. 

7. Kenali Minat Anak 

Tidak semua bidang harus dikuasai oleh si Kecil. Apabila Ibu memaksa si Kecil untuk mempelajari sesuatu yang tidak ia sukai, tentu saja ia akan terlihat malas-malasan bahkan merasa tertekan. 

Oleh karena itu, Ibu perlu mengenali minat si Kecil. Kalau si Kecil lebih suka menggambar, Ibu dapat memfasilitasi kegiatan menggambar dengan frekuensi yang lebih banyak daripada berhitung maupun menari. 

Kalau si Kecil memiliki minat baca lebih besar daripada menyanyi, ajak si Kecil belajar sambil jalan-jalan ke perpustakaan atau toko buku daripada sering-sering mengajaknya ke studio musik. Sementara kalau si Kecil suka menari, Ibu bisa mengajaknya mengikuti kelas tari.

8. Menyediakan Ruang Belajar yang Kondusif 

Ibu sebaiknya mencari tahu suasana belajar seperti apa yang disukai oleh si Kecil. Sebab sebagian anak lebih menyukai ruangan yang sunyi, sedangkan ada anak yang lebih suka belajar sambil mendengarkan musik. 

Selain itu, pastikan ruang belajar si Kecil aman, nyaman, memiliki penerangan yang cukup, memiliki sirkulasi udara yang baik, sejuk, bersih, dan memiliki desain yang menarik. 

Ibu dapat mengatur desain ruangan sesuai dengan preferensi dan gaya belajar masing-masing anak agar ia semakin semangat belajar. 

9. Belajar Bersama Teman

Jika si Kecil masih terlihat tidak semangat belajar, coba ajak si Kecil ikut les dengan anak-anak sepantar usianya. Dengan bersosialisasi, si Kecil mungkin akan lebih cepat beradaptasi dan siap untuk belajar bersama-sama. Jadi, Bu, beri kesempatan si Kecil untuk bersosialisasi seluas-luasnya, ya.

Selain mendaftarkannya ke tempat les yang seru, cobalah sesekali menjadwalkan playdate dengan teman-temannya untuk belajar sambil bermain. Misalnya, bersama-sama melakukan eksperimen membuat lava lamp, atau eksperimen “larut dan tidak larut”.

Ajak si Kecil dan teman-temannya coba melarutkan benda-benda seperti gula, garam, pasir, dan minyak di dalam air. Ibu kemudian bisa jelaskan kenapa ada anak yang eksperimennya tidak larut sedangkan yang lainnya larut. 

10. Puji Proses Belajarnya 

Apakah Ibu sering memuji si Kecil seperti ini? “Aduh pintarnya anak Ibu si Juara Kelas!” atau “Hebat sekali Adik dapat nilai 100!” Jika iya, yuk, ubah cara memuji si Kecil agar tidak selalu berfokus pada hasil akhirnya! 

Pujian yang hanya berfokus pada hasil akhir dapat membuat anak menghindari proses belajar hal-hal yang belum ia kuasai karena takut tidak mendapat pujian. 

Sebagai cara mengatasi malas belajar anak, yuk puji proses dan kemauannya untuk terus berusaha! Alhasil, ia akan lebih termotivasi untuk bekerja keras dan kembali menemukan rasa gembira saat belajar. 

Contoh pujian pada proses yang dapat Ibu sampaikan pada si Kecil: 

  • Adik keren sekali berani belajar naik sepeda walaupun jatuh berkali-kali. Sekarang sudah pintar ya naik sepedanya! Bisa melewati rintangan juga! Besok mau belajar apa lagi? 

  • Wah, Adik mewarnainya sudah lebih rapi, lho, daripada waktu pertama kali belajar pakai cat air. Hebat sekali! 

  • Ibu tahu Adik sering belajar menggambar dengan Kakak. Sekarang gambar Adik dapat piagam penghargaan! Terima kasih, ya, Kakak sudah membantu Adik dengan sabar. Kalian berdua hebat sekali!

Itulah beberapa cara mengatasi malas belajar anak yang dapat Ibu coba untuk terapkan di rumah. Terus semangat dalam mendampingi si Kecil belajar ya, Ibu, supaya ia tumbuh menjadi anak Hebat yang kreatif dan banyak inisiatif.

Baca juga: Tanda-Tanda Si Kecil Memiliki Kecerdasan Emosional yang Baik, Apa Saja?

Nah, sambil mendampingi proses belajar anak, jangan lupa juga Dukung Awal Semua Kehebatan si Kecil dengan susu Bebelac 3 GreGreat+ yang dilengkapi kandungan FOS:GOS 1:9 yang teruji klinis serta Triple A (DHA, LA, ALA) agar si Kecil tumbuh hebat dengan pencernaan yang sehat (happy tummy), akal kreatif (happy brain), dan hati yang besar (happy heart)! 

Untuk dapatkan lebih banyak informasi tentang pola asuh anak dan tips tumbuh kembang lainnya, yuk daftar di Bebeclub. Ibu juga bisa dapatkan promo serta penawaran eksklusif seputar susu Bebelac dengan jadi member!

Temukan Topik Lainnya

  1. Gao, P. (2014, May 5). I Love to Learn, but I Hate to be Taught. ResearchGate; Redfame Publishing. https://www.researchgate.net/publication/275481074_I_Love_to_Learn_but_I_Hate_to_be_Taught

  2. Children Are Born Learning - Child Care Council of Westchester. (2023). Childcarewestchester.org. https://www.childcarewestchester.org/quality-matters/born-learning

  3. What’s their learning style? Part 2: Kinesthetic learners. (2016, August 17). MSU Extension. https://www.canr.msu.edu/news/whats_their_learning_style_part_2_kinesthetic_learners

  4. Developing curiosity in the young child’s brain. (2017, December 14). MSU Extension. https://www.canr.msu.edu/news/developing_curiosity_in_the_young_childs_brain

  5. CNLD Testing & Therapy. (2022, April 28). CNLD Testing & Therapy. CNLD Testing & Therapy. https://www.cnld.org/how-long-should-a-childs-attention-span-be/#:~:text=9%E2%80%9310%20years%20old%3A%2020,old%3A%2032%2D50%2B%20minutes

  6. Pickett, T. (2021, March 15). Use Brain Breaks to Help Your Kids Recharge and Refocus. Our Children. https://ptaourchildren.org/use-brain-breaks-to-help-your-kids-recharge-and-refocus/#:~:text=Younger%20children%20have%20a%20shorter,teacher%2Ddriven%20in%20the%20classroom.

  7. How to Motivate Children: Science-Based Approaches for Parents, Caregivers, and Teachers. (2019, February 25). Center on the Developing Child at Harvard University. https://developingchild.harvard.edu/resources/how-to-motivate-children-science-based-approaches-for-parents-caregivers-and-teachers/

  8. Obaki, S. O. (2017). Impact of classroom environment on children’s social behavior. International Journal of Education and Practice, 5(1), 1–7. https://doi.org/10.18488/journal.61/2017.5.1/61.1.1.7



Artikel Terkait