Anak Kurus Apakah Selalu Tanda Kurang Gizi? Ini Penjelasan Lengkapnya
Anak kurus bisa disebabkan oleh faktor genetik, metabolisme tubuh, asupan gizi kurang optimal, hingga punya penyakit kronis. Namun, kurus tidak selalu berarti kurang gizi.
Ditulis oleh :
Tim Penulis
Ditinjau oleh :
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH
Diterbitkan: 20 September 2023
Diperbarui: 18 April 2026
Anak kurus identik dengan kurang gizi. Padahal, kesehatan si Kecil tidak hanya diukur dari berat badan, tetapi juga melibatkan aspek lain. Lantas, apakah kurus pada anak itu normal?
Anak Kurus Itu Normal atau Tanda Masalah Kesehatan?
Anak dapat dikatakan kurus tapi sehat bila rutin beraktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga tinggi selama 60 menit dan tidak menunjukkan masalah hambatan pada pencapaian perkembangannya.
Anak kurus tapi sehat juga tampak bila berat badannya menunjukkan kenaikan setiap bulan berdasarkan pertumbuhan dari WHO. Namun, ada juga kurus karena kurang gizi.
Anak dengan kurus ekstrem memiliki berat badan di bawah -2 SD pada kurva pertumbuhan. Kurus hanya merupakan tampilan fisik, berbeda dengan malnutrisi yang bisa berdampak ke badan kurus, rentan sakit, hingga masalah kognitif.
Perbedaan Anak Kurus tapi Sehat vs Anak Kurus Kurang Gizi
Ada perbedaan signifikan antara anak yang kurus tapi sehat dengan anak kurus kurang gizi, yakni:
|
Aspek Perbandingan |
Kurus tapi Sehat |
Kurus Kurang Gizi |
|
Berat badan & tinggi |
Mengikuti kurva pertumbuhan meski di bawah garis hijau kurva WHO |
Berat badan tidak naik, bahkan turun |
|
Nafsu makan |
Baik dan konsisten |
Rendah, sering menolak makan |
|
Asupan gizi |
Cukup dan relatif seimbang |
Kurang zat gizi penting (protein, lemak, zat besi) |
|
Energi & aktivitas |
Aktif, lincah, suka bermain |
Mudah lelah, tampak lesu |
|
Perkembangan motorik & kognitif |
Sesuai usia |
Terlambat atau stagnan |
|
Daya tahan tubuh |
Jarang sakit |
Sering sakit dan lama sembuh |
|
Kondisi fisik |
Kulit dan rambut tampak sehat |
Kulit kering, rambut rapuh dan kemerahan, mata cekung |
|
BAB & pencernaan |
BAB normal |
BAB bermasalah (seringnya diare) |
|
Respons terhadap lingkungan |
Responsif dan ceria |
Kurang responsif, mudah rewel |
|
Risiko jangka panjang |
Rendah |
Berisiko gangguan tumbuh kembang |
Baca Juga: Anak Sering BAB Tapi Bukan Diare, Apa Sebabnya?
Penyebab Anak Kurus
Sebelum mencari cara menggemukkan anak yang kurus, perlu diketahui dulu penyebabnya, yaitu:
1. Faktor Genetik
Berat badan anak dipengaruhi faktor genetik. Studi terbitan PLoS Genetic (2019) menemukan, anak yang relatif kurus memiliki beban gen pemicu obesitas yang lebih rendah.
Hal ini bisa dilihat, salah satu faktor terkuat anak relatif kurus adalah berat badan orang tua. Bila kedua orang tua kurus, anak juga sangat mungkin memiliki badan kurus.
Gen ini ternyata juga berpeluang membuat anak makan banyak tapi tetap kurus.
2. Metabolisme Tubuh Tinggi
Anak juga bisa kurus karena metabolismenya tinggi. Tubuhnya aktif menggunakan asupan kalori dari makanan untuk diubah menjadi energi.
Kondisi ini biasanya terjadi ketika anak aktif bergerak dengan intensitas tinggi, seperti berlari-larian tanpa henti. Tak jarang, anak doyan makan tapi tetap kurus.
3. Asupan Gizi Tidak Seimbang
Anak juga bisa kurus karena asupan gizinya tak seimbang. Anak mungkin banyak makan, tapi kualitas kandungan gizinya relatif rendah.
Biasanya, asupan gizi ini rendah protein, lemak sehat, zat besi, dan zinc. Protein dan lemak sehat memberikan asupan kalori untuk menambah berat badan.
Sementara itu, zat besi dan zinc penting untuk meningkatkan nafsu makan anak.
4. Gangguan Penyerapan Nutrisi (Malabsorpsi)
Malabsorption adalah kondisi yang membuat saluran cerna tidak bisa memecah atau menyerap kandungan gizi dengan baik. Tubuh akhirnya kekurangan gizi agar sehingga akhirnya tampak kurus.
Gejala malabsorpsi yang paling umum, yaitu:
- Diare.
- BAB berminyak dan bau busuk.
- Masalah pertumbuhan.
- Perut kembung dan membesar.
- Nyeri perut.
5. Masalah Nafsu Makan
Salah satu penyebab anak kurus dan susah makan adalah tidak nafsu makan. Kondisi ini bisa dipicu oleh GTM, bahkan trauma dengan rasa atau tekstur makanan tertentu.
Nafsu makan juga bergantung pada lingkungan sekitar pada waktu makan. Bila makan penuh dengan paksaan atau pertengkaran orang tua, terjadilah anak kurus dan susah makan.
Padahal, makanan merupakan asupan kalori utama agar berat badan si Kecil bisa bertambah.
6. Penyakit atau Infeksi Kronis
Masalah pencernaan, seperti sembelit dan GERD pada anak bisa menimbulkan nyeri. Kondisi ini membuatnya tak nafsu makan.
Alergi makanan membuat ia punya pantangan sehingga sulit memilih makanan tinggi kalori. Gejala alergi juga membuat anak tidak nyaman dan malas makan.
Infeksi bakteri, virus, atau cacing meningkatkan metabolisme untuk melawan penyakit. Infeksi pun menyebabkan diare dan muntah sehingga asupan gizi terbuang. Gejala infeksi pun menurunkan nafsu makan.
Baca Juga: Ketahui Tinggi Badan Ideal Anak Usia 2 Tahun dan Cara Mencapainya
Anak Makan Banyak tapi Tetap Kurus, Kenapa Bisa Terjadi?
Anak sudah makan banyak tapi tetap kurus, terjadi karena tubuh si Kecil mengalami defisit kalori, yaitu jumlah asupan kalori dari makanan dan minuman lebih rendah daripada kalori yang digunakan.
Kondisi ini biasa terjadi pada anak dengan aktivitas fisik tinggi atau infeksi kronis. Penyebab anak kurus padahal makan banyak juga karena makanannya tidak bergizi seimbang.
Ketika anak makan makanan rendah protein dan lemak sehat, asupan kalorinya akan rendah sehingga berat badan sulit naik.
Cara Mengatasi Anak Kurus agar Berat Badan Naik Sehat
Ada beberapa cara menaikkan berat badan anak dengan sehat. Ingat, cara ini tidak hanya fokus ke porsi makannya saja, ada berbagai hal yang perlu diperhatikan. Apa saja?
1. Evaluasi Pola Makan Anak
Berikan jadwal makan yang teratur, idealnya 3 kali sehari dengan selingan camilan sehat sebanyak 2 kali. Jadwal makan teratur ini penting agar anak tidak melewatkan waktu makan.
Melewatkan porsi makan hanya membuat asupan gizi dan kalorinya berkurang sehingga berat badannya stagnan, bahkan turun.
2. Tingkatkan Kualitas Gizi
Seporsi makanan si Kecil harus bergizi seimbang. Prioritaskan asupan protein hewani, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks sebagai makanan pokok.
Jangan lupakan berbagai vitamin dan mineral. Meski dikonsumsi dalam jumlah kecil, kekurangan vitamin dan mineral bisa menurunkan nafsu makan dan kesehatan secara umum.
Bila bingung menentukan porsi makan bergizi seimbang, cek lah Isi Piringku Balita yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI.
Pemberian susu pertumbuhan juga bisa dilakukan untuk melengkapi kebutuhan gizi harian anak. Bebelac 1 NutriGreat+ adalah Nutrisi Terbaik dari Bebelac yang diperkaya dengan 3 serat penting FOS:GOS dan Inulin, DHA 2x lebih tinggi, dan 0gr sukrosa. Bantu dukung tumbuh kembang optimalnya agar si Kecil tumbuh bersinar dari dalam.
3. Ciptakan Pengalaman Makan yang Positif
Agar anak yang bertubuh kurus bisa naik berat badan, buatlah waktu makan semenyenangkan dan seaman mungkin. Hindari memaksa makanan untuk menghindari trauma makan di kemudian hari.
Pastikan si Kecil hanya fokus dengan makanannya, tidak ada distraksi dari TV, gadget, atau mainan. Kehilangan fokus dengan makanan justru membuatnya malas makan.
Biarkan si Kecil bereksplorasi dengan makanannya, jaga waktu dan lingkungan makan tetap aman agar ia selalu bersemangat saat makan.
4. Pantau Pertumbuhan Secara Rutin
Idealnya, berat badan perlu dipantau setiap bulan sejak baru lahir hingga usia 2 tahun. Dalam Kartu Menuju Sehat (KMS), berat badan anak harus menunjukkan grafik naik setiap bulan.
Hindarilah membandingkan berat badan dengan anak lain karena faktor penentu berat badan setiap anak berbeda-beda.
Kini, Ibu bisa memantau berat dan tinggi badan si Kecil dengan lebih praktis menggunakan AI Growth Tracker. Cukup dari foto handphone, Ibu sudah bisa mendapatkan gambaran tumbuh kembang si Kecil kapan saja tanpa perlu alat khusus.
Baca Juga: 4 Manfaat Memantau Berat Badan Ideal Anak
Kapan Anak Kurus Perlu Dibawa ke Dokter?
Waspada dan segera bawa ke dokter bila anak mengalami tanda-tanda berikut:
- Berat badan di bulan selanjutnya stagnan atau bahkan turun.
- Anak lemas dan tidak aktif.
- Mudah sakit dan lama sembuh.
- Perkembangannya terlambat.
- Menolak makan dan minum secara ekstrem.
Anak kurus bisa dikatakan sehat atau tidak bila kesehatannya dipantau secara rutin. Pastikan asupan gizi si Kecil bergizi seimbang agar tumbuh kembangnya tidak terganggu ya, Bu.
Daftar jadi member Bebeclub untuk baca ratusan artikel parenting dan pemenuhan gizi anak terlengkap dan terverifikasi ahli. Dengan jadi member, Ibu juga bisa dapatkan akses eksklusif ke berbagai fitur monitor kesehatan pencernaan anak, hingga kesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk Bebelac. Daftar gratis, sekarang!
_GUM_KATALOG (2).png)
_GUM_AI POOP TRACKER.png)
_GUM_CARELINE.png)
