Kembali ke Tumbuh Kembang

Perkembangan Kognitif Anak Usia 3 Tahun

Pada usia 3 tahun si Kecil sudah sudah bisa apa saja ya, Bu? Sebagai panduan, perkembangan kognitif anak usia 3 tahun biasanya ditandai ...

4 min
11 May 2022

Artikel ini belum diulas

Pada usia 3 tahun si Kecil sudah sudah bisa apa saja ya, Bu? Sebagai panduan, perkembangan kognitif anak usia 3 tahun biasanya ditandai dengan kelancaran bicara. Orang yang mengajak si Kecil bicara, meskipun baru dikenalnya, sudah paham 75% apa yang ia ungkapkan. Ia juga dapat melakukan pekerjaan sederhana, seperti membalik buku, menekan tombol, atau membuka pintu.1,2

Nah, agar lebih jelas, yuk Bu, simak 4 contoh perkembangan kognitif anak usia 3 tahun berikut ini. 

1. Sudah Mengenal Konsep Angka dan Berhitung

Anak usia 2—3 tahun umumnya sudah bisa berkomunikasi dengan baik. Kemampuan bahasanya ini menunjang kemampuannya berhitung. Alasannya, untuk mengenal konsep berhitung atau matematika, anak sudah harus memiliki kosakata yang luas. Selain itu, anak sudah mengenal konsep dasar matematika seperti banyak-sedikit, besar-kecil, dan juga memahami bentuk dan pola.3

Pada usia 3 tahun, si Kecil sudah mengenal angka meskipun baru 1 digit, yaitu angka 1 sampai 9. Bahkan, beberapa anak juga sudah dapat menulis angka selama perkembangan motorik halusnya juga berkembang dengan baik.3

Tips stimulasi si Kecil:

Nah, agar kemampuan si Kecil dalam berhitung makin terasah, Ibu dan Ayah dapat mengajaknya menghitung benda, terutama jika jumlah benda tidak lebih dari lima. Bahkan, Ibu juga dapat memperkenalkan konsep matematika yang lebih rumit, seperti tentang deret.2,3

Ibu dan Ayah bisa mengajarkan cara membuat deret berurutan yang sederhana. Misalnya, buku – pensil – buku – pensil. Kemudian, minta si Kecil membuat deret yang lebih kompleks, seperti jeruk– pisang – apel – jeruk – pisang – apel, dan seterusnya.3

2. Mengenal Warna

Selain sudah paham angka dan berhitung sederhana, di usia 3 tahun si Kecil juga sudah mengenal dan membedakan warna.3 Kadang, bisa saja si Kecil belum tahu nama warna, tapi ia tahu bahwa warna bunga melati sama seperti warna baju yang sedang dipakainya.

Tips stimulasi si Kecil:

Ibu bisa memberikan permainan mengelompokkan benda menjadi dua atau tiga kelompok menurut warna.3 Misalnya, minta si Kecil membagi mainannya menjadi 3 kelompok, masing-masing berwarna hijau, merah, dan coklat. Contoh lain, saat si Kecil akan berganti baju, minta ia memilih bajunya sendiri yang berwarna biru atau kuning.3,5

Permainan mengelompokkan benda ini juga bisa diterapkan dengan memilih bentuk, ukuran, atau sifat lain yang dapat dikenalnya. Contohnya, si Kecil dapat diajak mengelompokkan mainannya yang keras dan empuk, atau mainan baloknya yang kotak dan bulat.3

3. Mengenal Huruf Tertentu

Anak usia 3 tahun sedang senang sekali bercerita, Bu. Perkembangan bahasa ini nantinya akan berkaitan erat dengan kemampuan membacanya di kemudian hari.3 Jadi, jangan heran kalau si Kecil akan mulai tertarik dengan buku yang sedang Ibu pegang, dan ingin ikut membacanya. 

Tips stimulasi si Kecil:

Inilah saat yang tepat bagi Ibu untuk membacakan buku sesering mungkin untuk menumbuhkan minat baca dan memperluas kosa katanya. Pada usia ini, si Kecil sudah dapat mulai mempelajari keterampilan motorik halus dasar yang diperlukan untuk belajar menulis (pre-writing skills).3

Misalnya, menghubungkan titik-titik pada buku yang berbentuk huruf sederhana, menarik garis, atau membentuk lingkaran. Latihan ini juga memungkinkan anak mulai mengenal huruf tertentu.3

4. Membaca Buku lewat Gambar

Sebelum bisa membaca, si Kecil sudah bisa menikmati membaca buku hanya dengan mengamati gambarnya. Nah, membacakan cerita lewat gambar dapat melatih kemampuan bahasanya. Jika stimulasi dilakukan dengan tepat, jangan heran jika tidak terasa di usia 3 tahun ini si Kecil udah bisa memahami dan mengucapkan 800—1000 kata!4 Hebat, ya!

Tips stimulasi si Kecil:

Saat Ibu membacakan cerita bergambar, si Kecil akan mendengarkan sehingga secara tidak langsung  ia sedang membangun keterampilan bahasa.4 Nah, untuk membantunya menguasai lebih banyak kosakata, Ibu dan Ayah dapat meminta si Kecil menceritakan apa yang dilihatnya di buku cerita.

Saat ia bercerita, Ibu bisa mengajukan pertanyaan atau menunjukkan bahwa Ibu antusias dengan apa yang ia ceritakan. Respons ini akan membuat si Kecil bersemangat untuk mencari kata-kata dan ide baru!4

Ibu dan Ayah dapat menjadikan kegiatan membaca ini sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari, seperti membaca buku bersama si Kecil menjelang tidur atau saat dalam perjalanan.

Nah, sebagai ibu yang bangga akan pencapain anak, jangan lupakan beri hadiah si Kecil. Hadiahnya adalah makanan sehat dan bergizi. Pastikan asupan harian si kecil sudah mengandung gizi seimbang yang terdiri dari zat gizi makro berupa karbohidrat, protein, dan lemak, serta zat gizi mikro yaitu aneka vitamin dan mineral.

Untuk melengkapi kebutuhan nutrisinya, Ibu dapat memberikan Bebelac Gold yang mengandung  kombinasi 4 jenis serat: FOS GOS, inulin, dan pati jagung, serta 13 vitamin dan 7 mineral, termasuk vitamin A, C, D, K, dan Zinc yang mendukung daya tahan tubuh anak.

Kandungan Bebelac Gold semakin lengkap dengan minyak ikan yang di dalamnya terdapat kandungan DHA (14,5 mg/saji), omega 3 (114 mg/saji), dan omega 6 (1273 mg/saji)  yang mendukung perkembangan kognitif dan daya pikir si Kecil.

Dengan nutrisi lengkap yang didapat si Kecil dari makanan sehari-hari dan ditambah 3 gelas Bebelac Gold sehari, Ibu dapat membantu mendukung perkembangan kognitif anak usia 3 tahun sehingga tumbuh kembangnya berlangsung optimal.
 


Referensi

  1. Sevan S. Misirliyan, Annie P. Huynh. (update terakhir 2021). Developmental Milestones. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557518/ [Diakses 14 Desember 2021]
  2. Bernie Endyarni Medise. (2017). Pemilihan Mainan Anak sesuai Fase Perkembangan. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/cerdas-memilih-mainan-anak [Diakses 14 Desember 2021]
  3. Amanda Soebadi. (2013). Perkembangan Literasi Anak. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perkembangan-literasi-anak [14 Desember 2021]
  4. Mary Tamer, Bari Walsh (2016). Raising Strong Readers. Diambil dari https://www.gse.harvard.edu/news/uk/16/03/raising-strong-readers [Diakses 14 Desember 2021]
  5. Soedjatmiko. (Update terakhir 2-15) Pentingnya Stimulasi Bermain untuk Merangsang Kecerdasan Multipel. Diambil dari https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-stimulasi-bermain-untuk-merangsang-kecerdasan-multipel. Diakses pada 14 Desember 2021.


Artikel Terkait