Anak Susah Diatur? Ini Cara Menghadapinya Tanpa Marah
Cara mengatasi anak yang susah diatur dimulai dengan memahami bahwa anak tak selalu nakal. Berikan instruksi jelas, aturan konsisten, dan bantu kelola emosi.
Ditulis oleh :
Tim Penulis
Ditinjau oleh :
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH
Diterbitkan: 16 Agustus 2023
Diperbarui: 04 November 2026
Cara mengatasi anak yang susah diatur membutuhkan pendekatan yang tenang, konsisten, dan penuh empati. Orang tua dapat memahami penyebab perilaku anak, memberikan instruksi yang jelas, serta membantu si Kecil mengelola emosi agar belajar mengikuti aturan tanpa harus dibentak atau dihukum.
Mengapa Anak Susah Diatur?
Anak yang susah diatur tidak selalu berarti nakal atau sengaja melawan, namun kemampuannya untuk mengendalikan emosi, menunda keinginan, dan memahami konsekuensi masih berkembang.
Sebelum mengetahui cara mengatasi anak yang susah diatur, berikut beberapa penyebab kondisi ini:
1. Kemampuan Mengelola Emosi Masih Berkembang
Kemampuan mengelola emosi atau emotional regulation adalah keterampilan untuk mengenali, merespons, dan mengendalikan emosi yang kuat. Pada usia anak-anak, kemampuan ini masih berkembang.
Si Kecil mungkin kesulitan menghadapi marah, kecewa, atau frustrasi hingga menangis, berteriak, atau menolak saat diatur.
Perilaku tersebut bisa saja menunjukkan si Kecil masih membutuhkan bantuan untuk menenangkan diri, menghadapi perubahan, dan merespons emosi dengan tepat..
2. Sedang Belajar Mandiri dan Menguji Batas
Seiring bertambahnya usia, rasa penasaran anak bisa meningkat. Ini bisa membuat anak ingin melakukan banyak hal sendiri dan memiliki keinginan yang lebih kuat.
Alhasil, saat diminta melakukan sesuatu, si Kecil bisa saja menolak arahan, mengatakan “tidak”, atau sekadar ingin melihat sejauh mana aturan yang diberikan Ibu dan Bapak.
Meski menjadi bagian dari proses belajar mandiri, tapi anak tetap membutuhkan batasan yang jelas dan sesuai usianya untuk memahami perilaku apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
3. Lapar, Lelah, Bosan, atau Terlalu Banyak Stimulasi
Kondisi fisik dan lingkungan juga bisa memengaruhi perilaku anak. Ketika anak sedang susah diatur, coba perhatikan; apakah ia lapar, lelah, bosan, atau terlalu banyak menerima stimulasi sebelumnya?
Tanpa sadar, hal-hal tersebut bisa membuat anak lebih mudah rewel, sulit berkonsentrasi, dan sulit mengikuti arahan.
4. Ingin Mendapatkan Perhatian
Anak membutuhkan perhatian, interaksi positif, dan pengasuhan dari orang tua sebagai bagian dari perkembangannya.
Ketika kebutuhan ini belum terpenuhi, anak mungkin menunjukkan perilaku tertentu untuk mendapatkan respons dari orang di sekitarnya.
Bukan berarti anak sengaja berperilaku buruk demi mendapatkan perhatian. Perilaku tersebut bisa menjadi cara yang ia gunakan untuk menyampaikan kebutuhan atau menarik perhatian Ibu Bapak.
5. Meniru Perilaku Orang Terdekat
Anak adalah peniru yang hebat. Ia banyak belajar dengan mengamati dan meniru orang-orang terdekatnya, termasuk orang tua.
Ketika si Kecil melihat dan mengamati perilaku dari figur penting dalam hidupnya, mereka dapat meniru tindakan atau sikap tersebut sebagai bagian dari proses belajar dan sosialisasi.
Cara Ibu dan Bapak berbicara, merespons emosi, serta menghadapi masalah bisa menjadi contoh bagi anak yang sadar atau tidak akan diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: 10 Cara Mengatasi Anak Tantrum yang Efektif, Tanpa Drama
6. Aturan atau Respons Orang Tua Belum Konsisten
Aturan sebaiknya diterapkan secara konsisten oleh kedua orang tua agar si Kecil lebih mudah memahami batasan. Jika aturan sering berubah atau Ibu dan Bapak memberikan respons berbeda, anak bisa merasa bingung.
Karena itu, buat aturan yang sederhana, sesuai usia, dan konsisten dalam penerapannya. Dengan begitu, si Kecil dapat memahami perilaku yang diharapkan serta konsekuensi dari tindakannya.
Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang Susah Diatur?
Mendidik anak agar menurut dan patuh adalah harapan banyak orang tua, tetapi setiap anak memiliki kepribadian, temperamen, dan keunikan sendiri. Berikut ini cara mendidik anak yang susah diatur agar lebih penurut:
1. Tetap Tenang Sebelum Menegur Anak
Sebelum menegur si Kecil, pastikan Ibu Bapak mengatur emosi diri terlebih dahulu. Sebab anak belajar banyak dari apa yang ia lihat, termasuk cara orang tua menghadapi situasi yang sulit.
Mendukung hal ini, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, selaku psikolog Klinis Anak dan Remaja menyampaikan, “Ibu zaman sekarang saya rasa pengetahuan tentang pengasuhan, tumbuh kembang anak, itu udah di kepala. Tapi itu nggak ada artinya kalau kita emosi [yang habis sabarnya].”
Karena itu, hindari membentak, mengancam, atau menggunakan kekerasan. Beri diri sendiri waktu untuk menenangkan emosi agar si Kecil belajar menghadapi perasaan dengan lebih baik.
2. Cari Tahu Penyebab Anak Menolak Arahan
Jangan langsung mengatakan anak tidak mau menurut. Coba perhatikan kondisi si Kecil terlebih dahulu.
Apakah anak sedang lapar, mengantuk, lelah, frustrasi, ingin melakukan sesuatu sendiri, atau belum memahami perubahan aturan, sehingga membuatnya tidak mau diatur?
Ibu juga bisa mengecek apakah instruksi yang diberikan terlalu panjang atau sulit dipahami. Memahami alasan di balik sikap anak bisa membantu orang tua menentukan respons yang lebih tepat, bukan sekadar menganggap anak sedang sengaja membangkang.
3. Berikan Instruksi yang Singkat, Jelas, dan Spesifik
Anak lebih mudah mengikuti arahan jika ia tahu dengan jelas apa yang perlu dilakukan. Supaya lebih mudah dipahami anak, coba gunakan kalimat sederhana dan fokus pada satu tindakan dalam satu waktu.
Misalnya, daripada mengatakan, “Kenapa kalau main selalu dibiarkan berantakan? Ibu udah bilang tadi kalau main langsung dibereskan lagi!”, lebih baik katakan, “Tolong rapikan mainannya lagi, ya.”
Prinsipnya, sampaikan satu instruksi untuk satu tindakan, sehingga si Kecil tidak bingung dengan banyak arahan sekaligus. Saat berbicara, beri juga kesempatan anak untuk merespons.
4. Berikan Pilihan Terbatas, Bukan Paksaan
Memberikan pilihan sederhana kepada anak bisa membantu menumbuhkan kemandirian dan melatih anak mengambil keputusan.
Anak juga jadi merasa punya kendali atas dirinya dan merasa dihargai. Ini bisa jadi salah satu cara mengatasi anak yang susah diatur.
Contohnya, Ibu bisa bertanya, “Mau pakai baju biru atau kuning?” atau “Mau membereskan mainan sekarang atau setelah mandi?”
Namun, sebaiknya tetap berikan pilihan yang terbatas agar apa yang dipilih si Kecil masih dalam batasan yang sudah ditentukan.
5. Tetapkan Aturan dan Konsekuensi yang Konsisten
Menetapkan aturan yang jelas dan konsisten bisa jadi cara mengatasi anak yang susah diatur. Konsekuensi juga sebaiknya berkaitan langsung dengan perilaku anak dan disampaikan sebagai bagian dari aturan, bukan sebagai ancaman atau hukuman.
|
Aturan |
Konsekuensi Logis |
|
Mainan selesai digunakan |
Mainan dibereskan sebelum mengambil mainan lain |
|
Memakai gadget sesuai waktu |
Gadget disimpan setelah waktunya selesai |
|
Menumpahkan makanan/minuman |
Anak diajak membantu membersihkan |
Sebagai contoh, ketika waktu bermain selesai, coba sampaikan, “Sekarang waktunya beres-beres, setelah itu kita lanjut aktivitas lain.”
6. Dengarkan Perasaan Anak Tanpa Selalu Menuruti Keinginannya
Mendengarkan perasaan anak bukan berarti Ibu harus selalu menuruti keinginannya. Orang tua bisa mengakui dan memahami emosi anak sambil tetap mempertahankan batasan yang sudah dibuat.
Misalnya, jika si Kecil menolak mendengarkan omongan Ibu Bapak saat waktu bermainnya sudah selesai, coba katakan, “Ibu Bapak tahu Kakak masih ingin bermain, ya? Tapi sekarang sudah waktunya mandi.”
Harapannya, anak akan belajar bahwa perasaannya dipahami, tetapi tidak semua keinginan harus dipenuhi.
Baca Juga: Panduan Metode Time Out, Disiplinkan Anak Tanpa Marah
7. Berikan Pujian pada Perilaku yang Ingin Diulang
Jangan hanya merespons saat si Kecil menolak diatur. Berikan juga pujian ketika ia menunjukkan perilaku yang baik atau berusaha mengikuti aturan.
Coba berikan senyuman, pelukan, atau bahkan ucapan secara langsung dengan mengatakan, “Terima kasih sudah membereskan mainan setelah bermain.”
Pujian seperti ini membantu anak memahami bahwa perilakunya inilah yang diharapkan oleh orangtuanya.
8. Berikan Contoh Perilaku yang Ingin Anak Tiru
Anak mudah sekali meniru perilaku orang-orang terdekatnya, termasuk cara orang tua berbicara dan menghadapi masalah. Karena itu, tunjukkan perilaku yang ingin Ibu Bapak lihat dari si Kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari menggunakan kata-kata yang sopan saat meminta sesuatu, berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan tetap berusaha tenang saat menghadapi masalah.
Ketika ada konflik, tunjukkan bagaimana menyampaikan masalah dan mencari penyelesaian tanpa berteriak-teriak atau menyakiti orang lain.
9. Luangkan Waktu Khusus untuk Membangun Kedekatan
Kedekatan dengan anak tidak selalu membutuhkan waktu yang lama atau aktivitas khusus. Coba luangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama si Kecil, misalnya dengan membaca buku, mengobrol sebelum tidur, atau melakukan aktivitas tanpa gadget.
Ibu juga bisa mengikuti minat si Kecil, seperti bermain dengan mainan favoritnya atau mendengarkan cerita tentang hal yang sedang ia sukai.
Momen sederhana ini dapat membantu anak merasa diperhatikan dan didengarkan, sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat dengan orang tua.
Selain senantiasa mendampingi keseharian si Kecil, dukung juga perkembangan anak setiap harinya dengan asupan nutrisi yang tepat. Ibu bisa memberikan Bebelac 1 NutriGreat+ sebagai Nutrisi Terbaik dari Bebelac yang diperkaya dengan 3 serat penting FOS:GOS dan Inulin, DHA 2x lebih tinggi, dan 0gr sukrosa. Bantu dukung tumbuh kembang optimalnya agar si Kecil tumbuh bersinar dari dalam.
Apa yang Sebaiknya Tidak Dilakukan saat Anak Susah Diatur?
Bukannya menurut, perilaku-perilaku tertentu justru bisa membuat anak semakin susah diatur. Agar ini tidak terjadi, berikut yang perlu orang tua lakukan:
1. Jangan Membentak atau Mempermalukan Anak
Membentak atau mempermalukan anak mungkin membuatnya berhenti melakukan sesuatu yang kurang baik untuk sementara, tetapi tidak membuat anak memahami perilakunya yang dilakukannya salah.
Cara ini juga dapat membuat anak merasa takut, malu, atau enggan menyampaikan perasaan kepada orang tua. Sebaiknya sampaikan batasan dengan suara yang tenang dan jelaskan perilaku yang perlu dilakukan.
2. Jangan Memberi Label “Nakal”, “Bandel”, atau “Keras Kepala”
Hindari memberikan label pada anak berdasarkan perilakunya. Sebutan seperti “nakal”, “bandel”, atau “keras kepala” karena bisa membuat anak merasa dirinya adalah sumber masalah.
Padahal yang perlu diperbaiki adalah perilakunya. Lebih baik fokus pada perilakunya dan sampaikan apa yang diharapkan.
3. Jangan Mengancam atau Memberikan Hukuman Fisik
Ancaman dan hukuman fisik bukan cara yang tepat untuk mengajarkan anak mengikuti aturan. Rasa takut mungkin membuat si Kecil berhenti, tetapi belum tentu membantunya memahami alasan aturan atau mengelola perilaku.
Saat anak melanggar aturan, berikan konsekuensi yang masuk akal dan berkaitan dengan perilakunya. Misalnya, minta si Kecil membereskan mainan sebelum beralih ke aktivitas berikutnya setelah waktu bermain selesai.
Baca Juga: 7 Permainan Sosial Emosional untuk Anak Usia Dini
4. Jangan Memberikan Aturan yang Berubah-Ubah
Anak akan lebih mudah memahami batasan jika aturan diterapkan secara konsisten. Jika perilaku yang sama kadang diperbolehkan tetapi di lain waktu dimarahi, si Kecil bisa bingung tentang apa yang sebenarnya boleh dan tidak boleh dilakukan.
Usahakan orang dewasa yang merawat anak memiliki aturan yang sama dan menerapkannya dengan cara yang serupa. Jika aturan perlu berubah, jelaskan kepada anak dengan bahasa sederhana agar ia memahami alasannya.
5. Jangan Berdebat Panjang saat Anak Sedang Sangat Emosional
Pendekatan connect dan redirect dari Daniel J. Siegel, M.D dapat membawa anak beralih dari kondisi reaktif menjadi lebih terbuka.
Prinsip ini juga penting dalam memahami apa yang sebaiknya tidak dilakukan saat anak susah diatur, seperti memberi banyak nasihat ketika emosinya masih memuncak
Saat si Kecil marah, menangis, atau frustrasi, validasi perasaannya dan bantu ia menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah emosinya lebih terkendali, Ibu bisa mengajaknya membicarakan masalah dan menjelaskan perilaku yang lebih tepat.
Masa 1-5 tahun adalah periode penting saat si Kecil aktif belajar dan mengeksplorasi banyak hal baru. Bergabunglah sebagai member Bebeclub untuk mendapatkan panduan tumbuh kembang sesuai usia dan tips dari para ahli. Selain mendapatkan akses ke berbagai artikel dan panduan dari para ahli, Ibu juga dapat mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan berbagai hadiah menarik sebagai member Bebeclub.
Contoh Kalimat untuk Menghadapi Anak yang Susah Diatur
Cara mengatasi anak yang susah diatur perlu trik bicara khusus. Pada situasi tertentu, berikut hal yang perlu disampaikan dan dihindari:
|
Situasi |
Hindari Mengatakan |
Coba Katakan |
|
Anak tidak mau mandi |
“Kamu memang susah dibilangin!” |
“Kamu masih ingin bermain, ya. Setelah ini waktunya mandi.” |
|
Anak tidak mau membereskan mainan |
“Kalau nggak dibereskan, Ibu buang semua!” |
“Setelah bermain, mainannya kita simpan kembali.” |
|
Anak marah karena dilarang |
“Jangan nangis!” |
“Kamu kecewa karena tidak boleh, ya. Ibu paham.” |
|
Anak menolak memakai sepatu |
“Ayo pakai sekarang!” |
“Mau pakai sepatu sendiri atau Ibu bantu?” |
Kapan Anak yang Susah Diatur Perlu Dikonsultasikan?
Anak yang sesekali menolak arahan, marah, atau sulit diatur sebenarnya normal dari proses tumbuh kembang. Namun, penting untuk konsultasi lebih lanjut dengan dokter atau psikolog bila anak menunjukkan perilaku berikut:
- Perilakunya sangat mengganggu aktivitas di rumah atau sekolah.
- Sulit diatur secara terus-menerus dan tidak membaik.
- Sering menunjukkan perilaku agresif yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
- Mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman, guru, atau anggota keluarga.
- Mengalami perubahan perilaku atau emosi yang cukup drastis.
- Memiliki tantrum yang sangat sering atau berlangsung lama.
- Sulit berkonsentrasi dibandingkan anak seusianya.
- Mengalami gangguan tidur atau perubahan pola makan yang signifikan.
- Emosi anak mudah berubah, seperti tiba-tiba merasa cemas dan sedih, yang bertahan cukup lama sampai mengganggu aktivitasnya.
Jika Ibu dan Bapak memiliki kekhawatiran mengenai perilaku atau perkembangan emosi si Kecil, jangan ragu untuk mengonsultasikan perilaku si Kecil dan mendapatkan solusi serta dukungan yang tepat.
Tumbuh kembang anak yang optimal juga didukung oleh kesehatan pencernaan yang baik. Gunakan AI Poop Tracker dari Bebeclub untuk membantu mengenali kondisi pup si Kecil. Cukup upload foto pup di atas popok atau toilet dan hasil analisisnya bisa Ibu dapatkan secara real time dalam 60 detik. Ibu juga bisa mengakses fitur ini melalui Aplikasi Bebeclub Mobile agar pemantauan kesehatan pencernaan si Kecil lebih mudah dilakukan setiap hari.
_GUM_KATALOG (2).png)
_GUM_AI POOP TRACKER.png)
_GUM_CARELINE.png)
